“Bintang ...? Kamu sedang apa?” Ia melihat Bintang tertunduk. “Bin. Ayo, bangun. Malu dilihat banyak orang.” Perlahan, langkahnya mendekati Bintang, memastikan apa yang sedang dilakukannya. Namun, Bintang masih diam di posisinya. Tak lama, terdengar suara isak tangis. “Sea, aku ....” Ia mendongak pelan. “Bintang, bangun dulu, ya.” Ia membujuk Bintang sambil memperhatikan pandangan semua orang. “Sea, aku itu sayang kamu. Terlalu sakit mendengar kenyataan kalau kamu udah jadi istri orang. Padahal, aku yang lebih lama kenal kamu daripada suamimu itu.” Bintang menepuk-nepuk dadanya. Matanya memerah dan menggenangkan cairan yang hampir terjatuh. “Aku cuma suka kamu, Se. Aku mau perjodohan kita berlanjut. Aku cuma sayang kamu.” Wanita dengan rambut panjang dikuncir setengah itu mengerutkan kening. Tak dapat dipungkiri jika ia merasa terharu dengan ungkapan yang dinyatakan Bintang. Ia memang mengenal Bintang jauh lebih lama daripada Rain. Itu karena Bintang adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka sering bertemu karena kepentingan yang dijalankan orang tua mereka sampai akhirnya, sebuah perjodohan diungkapkan dan disetujui kedua belah pihak. Semenjak perjodohan itu terdengar, Bintang menaruh hati kepada Sea. Ia sering menjaga Sea ke mana pun gadis polos itu pergi. Karena itu, Bintang merasa hatinya hancur ketika gadis yang diidamkannya tahu-tahu sudah dimiliki pria lain. “Bintang ....? Bisa berdiri dulu? Kita bicara di tempat lain, oke?” “Boleh bicara di kafe situ?” Bintang menunjuk sebuah tempat dekat kampusnya. Sea mengangguk dengan senyum tergelincir. Senyum terpaksa karena ia malu dilihat banyak orang. “Ayo!” Ia mengulurkan tangan. Sebuah seringai terlukis di wajah Bintang. Ia mengambil uluran tangan Sea. Namun, sebelum bangkit berdiri, ia memegang tangan halus itu sedikit lebih lama. Tangannya yang lain menyeka air mata yang sempat menetes. Lantas, mereka berjalan menuju kafe dengan posisi Sea di depannya. Langkah Sea berubah pelan saat semua tatapan di kampus tiba-tiba mencekam. Mereka saling berbisik satu sama lain dan menunjukkan ponsel masing-masing kepada rekan-rekan di sekitarnya. “Liat, deh! Gak nyangka, yah?” “Hah, serius dia udah menikah? Terus mereka sedang apa?” “Wah, gak main-main suaminya. Tapi, hubungan mereka apa, ya?” “Mereka beneran selingkuh?” Berbagai macam celotehan pedas dan rasa ingin tahu berlebih banyak terdengar dari semua yang hadir di sana. Langkah Sea pun terhenti sejenak. Bintang tersenyum memiringkan kepala memandang Sea yang terheran-heran akan situasi dan kondisi saat itu. Tak lama sebuah notifikasi muncul di aplikasi pesan berwarna hijau. “Sea, coba lihat berita ini. Apa ini benar?” Emil mengirimkan dua buah lampiran. Sebelum membalas pesan, Sea mengunduhnya terlebih dahulu. Butuh tiga detik hingga matanya terbelalak saat melihat gambar berisi foto dan satunya berupa tangkapan layar sebuah artikel berita online. Matanya memelotot ketika melihat foto berisikan gambar Bintang yang sedang berlutut di hadapan Sea. Itu memang benar. Namun, jika dilihat dari sisi lain, foto itu tampak seperti wanita yang sedang menerima lamaran seorang lelaki. Ini gak benar! pikirnya. Wajah Sea berubah mengeras dengan otot-otot yang menegang di wajah. Di dalam dadanya terasa panas seperti terbakar bara api. "Seorang wanita—istri dari pemilik Grand William Hotel—berselingkuh." Membaca judul berita yang ditulis tebal dengan huruf kapital itu membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia melanjutkan ke isi cerita untuk mengetahui intinya. Namun, baru tiga kalimat dibaca, urat-urat di seluruh tubuhnya mendadak membuatnya lemas. Tangannya memegang ponsel sambil bergetar. Lidahnya menjadi kelu terutama saat melihat pandangan orang lain berubah menjadi tatapan kebencian. Ia merinding. “A-apa ini?” Ia menutup mulutnya yang menganga. Tubuhnya berbalik ke arah Bintang. Bintang masih menyeringai. Kali ini lebih lebar dan terlihat gigi-giginya. Senyuman Bintang membuat Sea makin ketakutan. Air mata yang tadi membuat Sea terharu sudah tak terlihat lagi. “Bi-bintang ... kamu tahu berita ini?” Bukannya menjawab, Bintang malah meninggikan alisnya. Isyarat itu sudah bisa dipahami oleh Sea. Namun, apa maksudnya ia membuat berita itu? Ia celingak-celinguk ke berbagai arah mencari seseorang yang sudah mengambil gambar mereka berdua dan membuat berita palsu secepat membalikkan telapak tangan. “Tolong jelasin, Bin! Apa maksud berita ini?!” Wajahnya mendekat. “Aku cuma mau kamu, Sea. Itu aja.” “Kamu udah gak waras ya, Bin? Enggak gini caranya! Dengan berita ini kamu bukannya menghancurkanku, tapi menghancurkan keluarga dan perusahaan suamiku, Bintang!” Bintang tersenyum puas. “Kamu pintar, Sea.” Jemarinya hendak menyentuh kepala Sea. Namun Sea lebih cepat menangkis tangan Bintang. Pandangannya melihat ke sembarang arah. Karena tak juga menemukan orangnya, Sea memutuskan untuk segera pergi meninggalkan situasi memalukan itu. “Aku gak nyangka kamu sejahat ini, Bintang!” Ia menggampar tepat di pipi kanan Bintang dua kali, tetapi Bintang tak merespon apa pun. Lelaki berkemeja kotak-kotak itu berubah menjadi gila hanya dalam beberapa saat. Ia mencengkeram lengan Sea dengan erat saat Sea melangkah mundur. Dengan sekuat tenaga Sea berusaha lepas dari genggamannya. “Lepas, Bintang! Jangan gila!” Dengan sekejap Bintang melepas tangannya hingga Sea terhempas ke belakang sampai terjerembab. Sea pun cepat-cepat berdiri. Sea menggeleng-geleng tak percaya. Lantas, ia segera berlari cepat. Tak sedikit pun ia menoleh karena tak ingin melihat tatapan-tatapan aneh itu lagi. Di depan gerbang ia berlari menjauhi kampus. Ke mana aku harus pergi? Aku gak mungkin pulang sekarang. Air matanya berjatuhan seiring langkahnya yang cepat. Ia tak berani melihat ke arah lain selain pandangan lurus ke depan. Akhirnya, terlintas di pikirannya sebuah taman yang tak terlalu jauh dari kampus. Di taman itu cukup sepi. Hanya ada beberapa anak muda dan orang yang lalu-lalang. Wanita yang sedang hancur perasaannya itu melangkah pelan di antara tanaman teh-tehan yang terbentuk rapi. Tangannya memegangi dada karena sesak dengan apa yang baru saja ia alami. Saat itu sinar matahari sudah tergelincir sehingga langit dipenuhi awan hitam. Sementara itu, orang-orang di taman sudah bersiap pulang karena khawatir awan-awan itu akan mengguyurkan ratusan juta tetes airnya ke bumi. Sea baru sampai di tempat yang cocok untuk beristirahat, lalu mendudukkan diri di kursi besi panjang. Begitu duduk, air matanya makin mengalir lagi. Ia tak peduli kepada orang-orang yang lalu lalang memperhatikannya. Dadanya serasa terhimpit karena terlalu menyakitkan dipermalukan seperti tadi. Perbuatan Bintang itu seperti menelanjangi dan memperkosanya di depan banyak orang. Entah bagaimana nanti Sea bisa memasang wajahnya kembali di kampus barunya itu. Nada dering terdengar dari tasnya. Foto pria tampan bersama sang putri muncul. Melihat nama penelepon itu, Sea makin sesenggukan. Ia tak berani bicara dengan Rain karena terlalu takut mendengar suaranya, apalagi kalau Rain sudah tahu akan berita itu. Apa yang harus kulakukan? Sudah tujuh kali panggilan dari suaminya itu tak dijawab, sedangkan nada terus berdering kencang. Di panggilan kedelapan, akhirnya, Sea memberanikan diri menjawab telepon walaupun dengan tangan dan bibir bergetar. “Ha— “Di mana kamu!” Suaranya membuat Sea kaget. Ia memejamkan mata, mencoba melegakan hatinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
06/09/2025
0mantap
29/08/2025
0keren
05/06/2025
0Lihat Semua