Love, Miss and Faith

Kim Seol berdiri di tepi pantai seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat kesal setelah Baek Ho sukses merusak moodnya. Bahkan suara deburan ombak yg sahut-menyahut dan hembusan angin yg menerpa dirinya dengan lembut tak bisa menghibur gadis cantik itu.
Kim Seol yg kesal itu menghela napas. Entah sudah berapa kali dia menghelakan napas selagi menunggu pujaan hatinya itu . Hingga tiba-tiba saja setangkai bunga lotus biru muncul di hadapannya dan menangkap semua perhatiannya. Kemudian senyumnya mengembang karena dia bisa menebak siapa yg sedang berdiri di belakangnya dan memberikan bunga lotus biru itu untuknya.
" Apa yg membuat nona cantik ini begitu cemberut?" ucap Taehyung yg berdiri di belakang Kim Seol seraya bebisik  di telinga Kim Seol dengan suara lembut
Mendengar itu Kim Seol   pun mengambil bunga itu lalu berbalik dan memeluk Taehyung dengan erat. Dia sangat senang hingga dia tidak bisa menahan dirinya untuk semakin mempererat pelukannya dan membuat Taehyung sedikit terkejut.
" Ada apa ini tiba-tiba?" tanya Taehyung seraya tersenyum bahagia
" Hanya saja aku sangat senang. Rasanya ini mimpi yg sangat indah dan aku tak mau bangun dari tidurku." ucap Kim Seol seraya mempererat pelukannya
" Tenang saja, aku akan pastikan kau tidak akan bangun dan tetap bermimpi indah." ucap Taehyung seraya membalas pelukan Kim Seol
 Kim Seol pun melonggarkan pelukannya lalu mengecup kilas bibir Taehyung kemudian kembali membenamkan wajahnya yg tersipu malu ke dalam dekapan malaikat tampan itu. Taehyung pun tersenyum malu serta semakin mempererat pelukannya. Mata mereka saling menatap dalam seakan mencurahkan cinta mereka. Tanpa kata-kata dan hanya melalui tatapan, tapi mereka bisa merasakan perasaan mereka yg saling memenuhi hati mereka.
Pasangan muda yg dimabuk asmara itu pun menikmati kebersamaan mereka seraya menggenggam erat tangan satu sama lain. Menikmati kebersamaan tanpa perlu mencemaskan hal lainnya, hanya mereka berdua.
***
Sementara itu suasana di istana menjadi semakin tidak menyenangkan. Yang Mulia semakin hari semakin tercekam rasa takut dan curiga akan orang-orang yg ingin menyakiti dan melengserkannya dari tahta. Ia bahkan mencurigai semua orang termasuk isterinya sendiri. Ketakutannya itu semakin buruk hari demi hari.
Yang Mulia Raja yg ketakutan itu pun mulai mengalami penurunan kesehatan. Dia yg terlalu takut bahkan tak bisa tidur serta makan. Tubuh nya pun semakin lemah dan wajahnya pucat pasi. Dibanding seorang Raja yg berwibawa, dia kini terlihat seperti mayat hidup yg paranoid.
" Yang Mulia, sebaiknya anda istirahat saja. Pertemuan hari ini biar dibatalkan saja." ucap Wang Jung yg mengkhawatirkan kesehatan Kakak tertuanya.
" Tidak. Jika aku membatalkan pertemuan hari ini, aku tidak akan bisa melakukan kewajiban ku terhadap rakyat." ucap Yang Mulia diselingi batuk.
" Tapi kesehatan anda juga penting. Anda harus istirahat, aku dengar Yang Mulia sudah tidak tidur beberapa hari ini. Anda harus menjaga kesehatan anda agar kerajaan ini tetap kuat." ucap Wang Jung khawatir.
" Antarkan saja aku, aku akan istirahat setelah pertemuan ini." ucap Raja bersikeras.
Wang Jung pun tak ada pilihan selain mengikuti keinginan kakaknya itu. Dengan hati-hati Wang Jung menggiring Raja hingga ia duduk di atas singgasana. Lalu Wang Jung turun beberapa anak tangga lalu berdiri di sisi kanan bersama deretan pangeran lainnya.
" Lapor Yang Mulia, kondisi perbatasan utara semakin gawat. Bangsa Khitan masih terus menyerang selama 2 tahun ini. Kita memang bisa menahan mereka sementara, tapi kondisi pasukan semakin lemah. Hamba khawatir jika kita tidak bisa menahan pasukan Khitan lebih lama lagi." ucap Menteri perang memberikan laporan.
" Lalu, apa ada solusi untuk masalah ini?" tanya Raja
" Raja khitan mau berdamai ... asalkan dengan syarat Yang Mulia mau memberikan tuan putri Jonghye untuk menikah dengan putranya." ucap Menteri perang dengan perasaan terbebani
" Apa?! Itu tidak bisa, Yang Mulia!" sela Wang Jung tegas hingga semua orang memperhatikannya
" Tuan Putri baru berumur 10 tahun selain itu dia juga satu-satunya putri Yang Mulia. Dengan memberikan tuan Putri untuk menikah dengan pangeran Khitan sama juga kita memberikan jalan lain bagi Khitan untuk menguasai kerajaan kita. Aku mohon Yang Mulia jangan menerima tawaran itu." lanjut Wang Jung seraya memberikan sujud hormat
" Mohon jangan menerima tawaran itu Yang Mulia." sahut semua pangeran lainnya
" Kita tidak bisa melakukan cara damai, lalu apa yg  harus kita lakukan?" ucap Raja khawatir
Wang Yo pun maju dan berdiri ke tengah kemudian memberi salam hormat sebelum ia mengucapkan sarannya.
" Yang Mulia, menurutku kita sebaiknya menyerang dan mengalahkan Khitan dengan telak untuk menghentikan peperangan ini. Kita semua tahu kalau Khitan tidak akan pernah menyerah sebelum kita menghancurkan mereka.  Karena itu aku menyarankan Yang Mulia mengirim pasukan dan yg memimpin dalam peperangan ini adalah Pangeran ke-4 Wang Jung. Aku yakin dengan kemampuannya Wang Jung adalah orang yg tepat dan pasti akan memenangkan perang ini." ucap Wang Yo dengan meyakinkan
" Aku pikir itu juga ide yg bagus. Bagaimana Wang Jung, apa kau mau menerima tugas ini?" tanya Raja pada adiknya itu
" Jika itu perintah Yang Mulia, aku pasti akan menjalankannya dengan sepenuh hati." ucap Wang Jung
" Apa kau benar-benar tidak keberatan meski itu artinya pernikahan mu akan kembali di undur hingga kau kembali?" tanya Raja lagi
" Aku tidak keberatan. Kerajaan ini lebih penting dari pernikahan ku. Aku pasti akan kembali dengan membawa kemenangan." ucap Wang Jung lantang.
" Ya, aku percaya padamu." ucap Raja seraya tersenyum senang.
***
Malam itu Wang Jung mempersiapkan beberapa barang untuk dia bawa ke perbatasan. Dia pun memasukan beberapa pakaian ke dalam sebuah peti. Tiba-tiba matanya bergetar saat ia melihat sebuah kalung berliontin giok. Wang Jung mengambil dan melihat kalung itu dengan tatapan penuh makna.
 Ia pun kembali mengingat kala ia masih berumur 7 tahun. Saat itu Wang Hyuk yg merupakan Pangeran kedua sekaligus kakak pertamanya dari ibu yg sama baru saja meninggal. Di hari berkabung itu, politik dalam keluarga kerajaan semakin tidak stabil. Apalagi selir Kang juga kehilangan putranya di hari yg sama karena kedua pangeran mengalami kecelakaan saat bermain.
Pihak Hubaekjae yg merupakan kerajaan bagian menjadikan kematian Pangeran sebagai alasan untuk memisahkan diri dari Goryeo. Untuk mencegah hal itu Raja Taejo pun mengirim Wang Jung untuk diadopsi selir Kang dan membiarkannya tinggal di luar istana bersama selir Kang hingga ia dewasa.
Wang Jung yg baru berusia 7 tahun masih merupakan anak kecil polos yg tidak tahu apa-apa tentang politik. Meninggalkan istana berarti meninggalkan keluarganya. Ibu, Ayah, kakak serta adiknya.  Hari itu ia sangat sedih hingga di hari keberangkatannya ia bersembunyi di sebuah pavilun tua di dalam istana. Ia duduk di bawah pohon cherry dan menangis tersedu-sedu.
Semua orang terus mencarinya namun tak ada yg bisa menemukannya hingga seorang gadis kecil yg sangat manis berjalan mendekatinya. Gadis itu tersenyum dengan ramah lalu ikut duduk di sampingnya. Gadis itu adalah Kim Seol, Putri Perdana Mentri yg kebetulan mengikuti Ayahnya ke Istana.
" Seorang Pangeran apa boleh menangis sendirian seperti ini?" ucap Kim Seol seraya menatap Wang Jung
" Ini karena aku sedang sedih. Memangnya kau tidak sedih jika aku pergi ke Hubaekjae?" ujar Wang Jung
" Tentu aku akan sedih. Jika kau pergi itu artinya tidak ada teman yg akan bermain denganku dan tidak ada yg akan melihat tarian ku lagi. Tapi Pangeran, kau pergi sekarang bukan artinya kau tidak akan kembali, kan? Pergilah dan pastikan kau kembali lagi. Aku akan menunggu mu." ucap Kim Seol
" Kau benar akan menunggu ku? Janji?" tanya Wang Jung seraya tangannya menyeka air matanya
"Ehm! Sebagai buktinya  ini untuk mu. Berjanjilah kau akan menjaganya dengan baik." ucap Kim Seol memberikan kalung itu.
*Flashback Off*
" Seperti hari itu, kali ini aku pasti akan kembali lagi meski aku tidak tahu kapan itu. Kali ini juga maukah kau menungguku? Kim Seol yg ku cintai setulus hati." benak Wang Jung dengan mata berbinar.
Baru saja fajar menampakan dirinya dan pasukan yg akan dikirim ke perbatasan telah memenuhi halaman istana. Para prajurit yg gagah mengenakan baju zirah besinya berdiri menunggu kata penyemangat dari jendral mereka Pangeran ke-4 Wang Jung sebelum mereka berangkat ke Medan pertempuran.
Wang Jung yg telah mengenakan baju Zirahnya keluar dari kamarnya berdiri di tengah podium. Dengan gagah ia menatap satu per satu pasukan yg akan berjuang bersamanya Wajah-wajah yg akan mempertaruhkan nyawa dalam peperangan panjang bersamanya.
"Kali ini kita akan berjuang dalam peperangan panjang. Aku tahu kalian pasti takut. Takut akan mati di medan perang, takut tidak akan bisa bertemu dengan keluarga yg kalian cintai. Aku juga takut akan hal itu, tapi kita harus ingat satu hal. Jika kita tidak berhasil memenangkan perang ini, tidak hanya kita akan mati di medan perang tapi keluarga, teman dan semua orang yg kita cintai akan menderita. Tanah kita akan direnggut dan rakyat ini akan menjadi budak di bawah penguasaan Khitan. Kita semua tidak mau itu, karena itu apa pun yg terjadi kita harus berjuang bertahan dan mengalahkan bangsa Khitan. Kita tidak boleh mati sebelum membunuh 10 pasukan Khitan. Orang yg mati sebelum itu akan dianggap pengkhianat!!" seru Wang Jung
" Tidak boleh mati sebelum membunuh 10!!" seru seluruh pasukan dengan penuh semangat
Wang Jung pun memberi salam perpisahan dengan membungkuk tiga kali kepada kakaknya tercinta, Yang Mulia Raja. Raja pun merangkul lalu memeluk adik yg sangat ia sayangi itu.
" Pastikan kau kembali dengan selamat, Wang Jung." ucap Raja
" Aku pasti akan membawakan kemenangan, sampai saat itu tolong tetaplah sehat Yang Mulia." ucap Wang Jung
mendengar itu Yang Mulia Raja pun menganggukan kepalanya serta menepuk punggung Wang Jung lalu melepaskan pelukannya. Wang Jung pun beralih pada Ibu suri Yoo ( Ibu kandung Wang Jung) serta Wang Yo ( Kakak Wang Jung dari ibu yg sama) dan membungkuk memberikan penghormatan. Tapi seperti seorang anak yg tak dianggap dan dibuang, Wang Jung malah mendapat reaksi dingin dari ibu yg bahkan tak menatapnya sama sekali juga Wang Yo yg tersenyum meremehkan seakan ia menghina Wang Jung dengan senyumannya itu.
Seolah mengabaikan semuanya Wang Jung kembali beralih pada Ibu suri Soo ( Ibu Putri Sunhwa), Putri Sunhwa serta Wang Bin ( Kakak Putri Sunhwa, lahir di hari yg sama dengan Wang Jung). Sunhwa yg merasa paling sedih menghampiri Wang Jung dengan mata berkaca-kaca. Ia pun menyematkan sebuah kalung ke leher Wang Jung.
" Kalung ini aku dapatkan dari kuil. Kalung ini akan menjaga kakak di medan perang, ku mohon kembalilah dengan selamat..." ucap Sunhwa dan air matanya mulai mengalir
" Aku pasti akan kembali." ucap Wang Jung seraya menghapus air mata adiknya itu
Wang Jung pun menaiki kuda perangnya dan memimpin pasukan meninggalkan istana lalu berjalan menuju gerbang kota. Di tengah perjalanan ia pun berhenti di depan rumah Perdana Menteri. Ia ingin memberikan salam kepada calon mertuanya dan yg lebih penting, dia ingin menemui gadis yg ia cintai.
Wang Jung dan Kim Seol pun bertemu di taman belakang rumah tepatnya di bawah pohon cherry yg sedang mekar. Kim Seol yg berdiri diam terlihat canggung dan sulit untuk bertingkah. Di satu sisi dia ingin memberikan sikap dingin agar Wang Jung tidak lagi berharap padanya, tapi di sisi lain dia juga merasa sedih karena Wang Jung merupakan teman terdekatnya sejak kecil. Dan temannya itu sekarang akan pergi ke medan perang.
" Seol, aku akan pergi dan kali ini aku tidak tahu apa aku akan bisa kembali. Karena itu, bisakah kau bertindak sebagai tunangan ku hanya untuk hari ini, saat ini." pinta Wang Jung dengan tatapan yg tak bisa Kim Seol tolak.
Wang Jung pun memeluk Kim Seol dengan erat. Kim Seol ingin melepaskan diri dari pelukan Wang Jung namun ia akhirnya mengurungkan niat itu. Karena dia bisa merasakan dengan jelas tubuh Wang Jung yg gemetar. Meski Wang Jung selalu terlihat gagah berani dan tak kenal takut sebenarnya ia hanya berusaha menyembunyikan perasaannya. Dan saat ini Wang Jung sangatlah ketakutan.
Kim Seol pun mengusap punggung belakang Wang Jung untuk memberinya sedikit ketenangan. Berangsur tubuh Wang Jung berhenti gemetar. Wang Jung pun melepaskan pelukannya. Lalu ia menatap mata Kim Seol dalam.
" Terima kasih, Seol. Selamat tinggal" ucap Wang Jung dengan senyum tipis lalu beranjak pergi.
" Aku takut seandainya aku tidak bisa kembali dan mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kim Seol ku yg cantik dan satu-satunya wanita yg aku cintai dan membuatku merasakan hangatnya kasih sayang. Mengajariku arti menyayangi dan kebahagiaan. Aku tahu aku satu-satunya yg merasakan ini dan cinta ini tidak mungkin menjadi nyata. Bisakah aku meminta meski pun mungkin ini sangatlah egois. Bisakah aku meminta mu untuk menunggu ku? Meski pun itu hanyalah kebohongan setidaknya itu cukup bagiku untuk menjadi alasan berjuang untuk bertahan hidup. Aku ingin kembali dan bertemu denganmu." benak Wang Jung
* 3 Bulan Kemudian *
Di bawah teriknya cahaya jingga mentari dengan berbalut semilir angin yg hilir-mudik menerpa hingga menerbangkan helai demi helai rambutnya dengan lembut. Kim Seol tersenyum manis dengan wajah tersipu kala Taehyung memeluknya dari belakang. Mereka pun memandangi pantai rahasia yg menjadi tempat mereka bertemu setiap harinya.
" Sudah hampir gelap, kau harus pulang sekarang sebelum malam." ucap Taehyung
" Tidak, aku masih ingin disini bersama mu. Hanya di tempat ini kita bisa bebas seperti ini." ucap Kim Seol dengan manja
" Tidak bisa, Baek Ho pasti sudah menunggu untuk menjemput mu. Ayo.." bujuk Taehyung dengan lembut
Kim Seol pun menuruti kata kekasihnya itu meski sebenarnya dia sangatlah terpaksa.
Taehyung pun mengantar Kim Seol ke pasar untuk menemui Baek Ho yg sudah menunggu untuk menjemput Nonanya itu. Setelah 3 bulan berlalu, Baek Ho pun menjadi terbiasa untuk menjadi jembatan bagi Kim Seol dan Taehyung. Ia akan berpura-pura bersama Kim Seol saat dia pergi dan kembali ke rumah.
Bagaimana perasaan Baek Ho? Ya, Baek Ho juga menyimpan perasaan kepada Nonanya itu. Dia tentu juga merasa sakit hati, tapi ia bisa melihat takdirnya dengan jelas. Seorang budak tidak akan pernah memiliki hak untuk mencintai. Tapi anehnya, Baek Ho juga merasa senang setiap kali melihat Kim Seol bahagia setelah bertemu dengan Taehyung. Sama seperti hari ini.
"Nona bahagia sekali hari ini.." ucap Baek Ho setelah melihat Kim Seol yg tidak bisa berhenti tersenyum
" Apa sebelumnya aku tidak sebahagia ini?" balas Kim Seol bertanya.
"Benar, Nona bahagia setiap hari. Tidak ada hari dimana Nona merasa sedih." ujar Baek Ho
Tiba-tiba saja suara terompet dan genderang terdengar mengisi pasar. Seorang prajurit pembawa pesan melintasi pasar dengan kudanya sembari meneriakan kabar gembira dengan penuh semangat.
"Khitan telah dikalahkan. Pangeran Wang Jung berhasil mengalahkan musuh. Khitan telah dikalahkan!"

Komentar Buku (526)

  • avatar
    Sa'adatul laely

    ceritanya sangat bagus

    26d

      0
  • avatar
    Suhanda

    semoga bisa menjadi.malaikat yng adiill..

    03/07

      0
  • avatar
    RadenSumantri

    bagus👍👍👍

    02/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru