Chapter 23: "Falling Down"

Malam begitu kelam. Bintang-bintang tak ada satupun yang terlihat, bahkan rembulanpun tertutup awan kelam. Disebuah menara tinggi gereja agung Vatikan 2 pasang mata melihat kebawah dengan sudut bibir menyungging.
Kekacauan telah terjadi. Sebuah kekacauan besar. Tanah Vatikan yang suci kini dihiasai darah-darah para Pastur yang tewas mengenaskan karena amukan warga. Rumah-rumah hancur, jendela rusak dan kacanya berserakan di jalanan.
Vatikan yang dulunya tenang kini menjadi hingar-bingar karena teriakan manusia-manusia yang tak dapat membendung emosi mereka. Dan di atas sana, Lucifer dan putranya memperhatikan dengan rasa senang dan puas. Manusia yang telah kehilangan akal kini menjadi budak mereka.
"Benar-benar pemandangan yang sangat indah," Ujar Yoongi seraya tersenyum puas
"Ini belum seberapa ayah, aku akan menghadiahkan Vatikan ini untukmu." Ucap Taecyeon
"Sebentar lagi kemenangan akan ada di depan mata kita. Dunia ini, semuanya akan menjadi milik kita..." ucap Yoongi tersenyum licik
LUCIFER! Teriakan itu menarik perhatian Yoongi dan Taecyeon hingga mereka berbalik. Yoongi dan Taecyeon tersenyum dengan sudut bibir mereka begitu melihat Seokjin dan Lisa telah berdiri di depan mereka.
"Kau datang juga teman lama" ucap Yoongi
"Sebaiknya kau hentikan semua ini sebelum aku bertindak!" Ujar Seokjin murka
"Sudah terlambat, kami sudah berjalan terlalu jauh, kami tidak bisa kembali lagi. Kau juga tahu, apa yang akan Terjadi selanjutnya." Ucap Yoongi tersenyum
Yoongipun mengangkat tangan kanannya dan asap-asap kelam menyelimuti telapak tangannya, lalu berubah menjadi pedang trisula dengan simbol pentagram hitam digagangnya. Seokjin pun menghela nafas, bibirnya bergerak tipis merapalkan mantra dan segera cahaya muncul di telapak tangannya dan bertransformasi menjadi sebuah pedang suci agung pedang anh.
"Huh, aku tidak menyangka akhirnya kau mengenakan pedang itu setelah sekian lama..." ucap Yoongi seraya tersenyum licik.
"Aku juga tidak menyangka akan menggunakannya hari ini." ujar Seokjin
"Sudah cukup basa-basinya, ayo selesaikan sekarang!" ucap Yoongi
Segera Yoongi melangkahkan kakinya dan secepat kilat ia berada di depan Seokjin dan bersiap menebaskan pedang trisula miliknya. Namun, serangannya berhasil dipatahkan oleh Lisa dengan menahan laju pedangnya menggunakan sulur-sulur yang ia kendalikan.
BUKK!! Sebuah tendangan keras mendarat di punggung belakang Lisa hingga ia terpental sejauh beberapa meter. Lisa perlahan bangkit dan melihat Taecyeon yang ada di depannya, dengan senyum remeh menatap dirinya.
"Kau seharusnya tidak ikut campur dengan pertarungan mereka, Lawanmu adalah aku." ucap Taecyeon seraya perlahan menghampiri Lisa
"Lisa..." ucap Seokjin pelan
Segera Seokjin berlari dan bersiap menyerang Taecyeon yang mencoba mendekati Lisa. Taecyeon telah berada tepat di depannya, genggaman Seokjin pada gagang pedangnya semakin erat. Ia pun mengangkat tinggi tangannya dan melayangkan pedangnya sekuat tenaga.
"Taecyeon!" Pekik Seokjin penuh amarah
TAKK!! Mata Seokjin membulat sempurna, wajahnya memerah penuh amarah begitu melihat mata pedangnya tak berhasil menyentuh kulit Taecyeon melainkan beradu dengan mata pedang trisula milik rivalnya Lucifer.
"Hei, lawanmu adalah aku, jangan lupa itu." ujar Yoongi dan tersenyum
Pertarungan sengitpun berlangsung antara Seokjin melawan Yoongi dan Lisa melawan Taecyeon. Pertarungan berlangsung menegangkan dan terlihat sama kuatnya. Namun, tiba-tiba saja Taecyeon memuntahkan darah meski Lisa tidak menyerangnya.
Segera Taecyeon turun dan berlindung diantara orang-orang yang sedang mengamuk sehingga Lisa dan Seokjin tidak akan bisa menyerangnya. Yoongipun berdiri disamping putranya dengan tatapan khawatir
"Ada apa? Bagaimana kau bisa..." ucap Yoongi
"Ayah, sepertinya ada yang sedang menyerangku di dunia mimpiku, Sial! Padahal kita sedang bertarung! Jika begini ... kita bisa kalah." Ujar Taecyeon sedikit kesal
"Kalau begitu, hancurkan saja dunia mimpimu yang merepotkan itu." Ucap Yoongi lalu kembali memutar kepalanya menoleh Seokjin dan Lisa yang berusaha keras menghindari orang-orang yang mencoba menyerang mereka.
***
Satu per satu Chaeyoung berhasil menebas akar-akar pohon yang membelit Hoseok dengan pedang yang secara ajaib muncul di hadapannya. Keringat dan air matanya mengucur seraya tangannya terus melayangkan pedang sekuat tenaganya.
Chaeyoung, gadis yang tidak pernah memegang pedang itu kini harus menahan rasa perih di tangannya sambil terus menebas akar-akar pohon yang kuat demi untuk menyelamatkan pria yang ia cintai.
"Hoseok, bertahanlah! Aku akan menyelamatkanmu. Aku mohon bertahan." benak Chaeyoung
"Chaeyoung, Jangan memaksakan dirimu. Aku, biar saja aku disini..." Ucap Hoseok dengan terbata-bata dan lemah
Hoseok yang malang. Kulitnya pucat seperti mayat dan tubuhnya licin berlendirkan keringat. Tubuhnya terlihat begitu kurus dan tak bertenaga, semua karena energi kehidupannya terus diserap oleh akar-akar pohon yang masuk ke tubuhnya.
"Tidak! Kita akan pergi bersama-sama. Kau sudah berjanjikan akan selalu menemaniku. Kau juga berjanji tidak akan pernah meninggalkanku!. Kita akan pulang bersama. Kita akan terus bersama, Itu janji kita!. Jangan menyerah begitu!!" Ujar Chaeyoung seraya memegang kedua pipi Hoseok dan menatap matanya dalam
Hoseok tersenyum tipis saat mendengar semua perkataan Chaeyoung. Bagi Hoseok yang selalu menanti cinta Chaeyoung, kini akhirnya ia bisa melihat dengan jelas cinta untuknya di mata gadis yang selama ini ia cintai. Hoseok merasa sangat bahagia, akhirnya apa yang dia tunggu kini ia dapatkan.
"Aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa melihat diriku dimatamu. Cinta yang selama ini aku tunggu..." Ucap Hoseok pelan
Kebahagiaan itupun tak berlangsung lama. Tiba-tiba kerikil dan debu jatuh diantara mereka, lalu tanah yang mereka pijak terasa berguncang hebat seakan gua tempat mereka berada akan segera runtuh. Dari kerikil menjadi bongkahan batu kecil, dari bongkahan batu kecil menjadi batu besar. Bahkan dinding gua menjadi retak.
"Sepertinya gua ini akan runtuh. Chaeyoung, cepat pergi dari sini. selamatkan dirimu!" ucap Hoseok cemas seraya menatap Chaeyoung
"Tidak! Aku tidak akan pergi tanpamu, kita akan keluar dari sini bersama-sama..." ujar Chaeyoung seraya terus memotong akar-akar pohon yang menahan Hoseok
Sebuah portal cahayapun muncul dibelakang Chaeyoung. Sebuah portal yang dikirim Taehyung untuk membawa putrinya kembali. Namun, Chaeyoung tetap bersikukuh untuk membebaskan Hoseok dari 3 akar pohon yang masih tersisa dan menempel di tubuhnya.
"Chaeyoung! Pergilah cepat! Gua ini akan runtuh..." seru Hoseok namun Chaeyoung tak menggubris perkataannya
Chaeyoung terus melayangkan pedangnya dan akhirnya akar pohon terakhirpun berhasil ia tebas. Namun, semua terlambat. Dinding gua mulai runtuh dan Hoseok yang menyadari itu dengan cepat mendorong Chaeyoung ke portal agar kekasihnya itu bisa selamat.
HOSEOK!! Pekik Chaeyoung saat ia terdorong ke portal. Ia bisa dengan jelas melihat senyuman di wajah Hoseok dan bibirnya yang bergerak mengucapkan 3 kata, yaitu " Aku mencintaimu"
***
Chaeyoung terbangun, kini ia telah kembali di ruang rawat Hoseok. Dengan cepat Chaeyoung memutar kepalanya dan menatap Hoseok yang terbaring kaku. Matanya memerah, air matanya jatuh membasahi pipinya. Chaeyoung tak bersuara hanya air matanya yang terus mengalir. Di dalam hatinya Chaeyoung terus mencoba meyakinkan ini semua hanyalah mimpi, hanya mimpi buruk dan ia akan terbangun keesokan harinya.
Namun, keyakinannya runtuh saat tangan ayahnya menyentuh pundaknya.
"Chaeyoung, kau harus bisa merelakan Hoseok. ini sudah takdir." ucap Taehyung
Air mata Chaeyoungpun semakin deras mengalir. Perlahan Chaeyoung memegang tangan Hoseok. Iapun bisa merasakan betapa dingin tangan Hoseok kini. Chaeyoung tak lagi dapat membendung kesedihannya. Chaeyoung memeluk erat tubuh Hoseok yang kaku dan menangis dengan keras.
"Tidak! Ini tidak mungkin. Kau sudah janji, kau janji akan selalu menemaniku! Ini bohong,kan? Jangan bercanda, ayo bangun! Hoseok!!" ucap Chaeyoung berurai air mata
Hatinya telah hancur, seluruh dunianya runtuh. Chaeyoung kini larut di dalam kesedihannya.
*Jimin POV*
Aku mencintainya dan aku berharap akan bisa membagi seluruh hidupku dengannya. Aku melakukan segalanya untuk dia, agar aku bisa terus melihatnya tersenyum. Tapi ternyata aku terlalu bodoh. Seharusnya aku tidak memberikannya kesempatan dan mempercayainya.
Aku terlalu bodoh dengan mencintai putri seorang Lucifer. Seharusnya aku membunuhnya, tapi aku terlalu mencintainya. Aku harus segera membunuh perasaan ini!
*Author POV*
Jimin berjalan perlahan menuju ruang rawat Hoseok. Dia begitu terpaku dengan pikirannya hingga segala kekacauan yang sedang terjadi disekitarnya sama sekali tak ia sadari. Ia terus berjalan dengan pikiran yang melayang.
Suara tangisan Chaeyoung mengembalikan kesadarannya. Jiminpun berlari lalu ia melihat Chaeyoung yang menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang mencoba menenangkan Chaeyoung tak kunjung berhasil. 
Jimin pun memeluk Chaeyoung dengan erat dan air matanya ikut mengalir. Jimin bisa merasakan kesedihan yang melanda Chaeyoung dan dia juga merasa bersalah karena ia mengira semua adalah kesalahannya karena tak sanggup untuk membunuh Jiyoon.
Chaeyoung sedikit lebih tenang namun air matanya tak berhenti mengalir. Kesedihannya begitu dalam, namun Chaeyoung hanya bisa terus menangis dipelukan kakaknya.
"Aku sangat mencintainya. kenapa ini harus terjadi? aku tidak sanggup,kak. Aku tidak bisa kehilangan Hoseok ketika Aku baru menyadari kalau aku mencintainya..." ucap Chaeyoung lirih
"Aku tahu, Maafkan aku. aku janji aku akan membalas mereka yang telah melakukan semua ini. Tenanglah, Chaeng. Kita masih saling memiliki, sekarang serahkan semuanya padaku." ujar Jimin dan matanya berubah merah menyala terbakar api kemarahan
Sedang Chaeyoung, matanya telah kehilangan sinarnya. Matanya yang selalu bersinar kini menjadi kosong, seakan hanya kehampaan yang mengisi matanya. Kini Chaeyoung telah kehilangan kebahagiaannya.
***
Seokjin dan Lisa mulai kelelahan menghindari orang-orang yang mengamuk, bagaimanapun mereka tidak boleh menyakiti manusia.
"Seokjin, sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita semakin terdesak tapi kita tidak bisa menyerang para manusia..." Ucap Lisa
"Dasar Yoongi sialan itu, dia sengaja membuat kita terjebak disituasi ini.." Ucap Seokjin dengan wajah kesal.
Yoongi tersenyum licik begitupun dengan putranya Taecyeon. Keduanya merasa sangat terhibur melihat Lisa dan Seokjin kesulitan.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan Seokjin? Kau harus segera menghentikanku tapi kau tidak bisa melukai makhluk yang selama ini kau lindungi ... sekarang, apa pilihanmu?" ujar Yoongi dengan senyum iblis
"Dasar pengecut kau Yoongi! Jika kau berani sebaiknya lawan aku!" Pekik Seokjin
Yoongi tersenyum tipis dan Taecyeon tertawa remeh.
"Apa? Apa sekarang petinggi malaikat sepertimu sudah putus asa?. Apa? Pengecut? Bukan kami pengecut, tapi dalam perang kita harus menyiapkan strategi untuk menang dan kami hanya  menjalankan strategi kami, tidak seperti kalian yang bodoh pergi berperang tanpa rencana apapun..." ucap Taecyeon
"Apa? Jaga kata-katamu!" Pekik Lisa  kesal
Taecyeon tersenyum licik lalu ia tarik salah satu manusia yang berdiri di depannya. Matanya menatap lekat mata Lisa dan Seokjin bergantian dengan senyum iblis terpapar diwajahnya. Perlahan ia membentangkan tangan kanannya, sedang tangan kirinya mencegkram leher manusia itu.
Senyum Taecyeon semakin melebar saat melihat ketakutan dimata Seokjin dan Lisa ketika sebuah belati muncul di tangan kanannya. Taecyeonpun memainkan mata belati itu di leher manusia yang ada di tangannya seolah ia memancing reaksi Seokjin dan Lisa.
"Jangan, Taecyeon jika kau berani menyentuh manusia itu kau tidak akan ku ampuni." ancam Seokjin
Taecyeon menghela nafas sejenak lalu kembali menyungging senyum seakan peringatan Seokjin tidak ada artinya baginya. Taecyeonpun menatap mata Seokjin lekat, sebuah tatapan menantang.
"Maaf, tapi aku tidak membutuhkan pengampunan siapapun..." ucap Taecyeon dengan senyum iblis
Dan CRRRAAAATTT!!! Darah menyembur keluar seperti letusan magma pada gunung berapi ketika Taecyeon menggorok leher manusia itu.
"TIDAK!!" Pekik Seokjin dan Lisa bersamaan lalu bersiap melangkah menuju Taecyeon namun Seokjin dan Lisa terdiam.
Seokjin merasakan perih menyerang punggung belakangnya dan membuatnya tak bisa bergerak. Sedang Lisa, ekor matanya menangkap darah yang menetes dari punggung belakang Seokjin. Saat mereka berdua menoleh telah ada Yoongi dibelakang mereka yang tersenyum puas karena berhasil menusuk Seokjin dari belakang.
"K-Kau, Bagaimana bisa ... Kau .. AKKH!!" Ucap Seokjin terbata-bata dan mengerang kesakitan saat Yoongi menarik pedang trisulanya dengan keras.
Seokjinpun merasakan sakit yang amat sangat dan melumpuhkan tenanganya hingga tubuhnya tumbang. Melihat itu Lisa dengan cepat meraih tubuh Seokjin.
"Seokjin! Bertahanlah!" ujar Lisa cemas
Yoongi tersenyum puas begitupun putranya Taecyeon
"Pertarungan kita berakhir disini hari ini. Vatikan telah menjadi milik kami, sebaiknya kalian bersiap. Perang terakhir kita akan segera terjadi." ujar Yoongi lalu ia menghilang bagai asap kelam diikuti putranya.
***
Jiyoon berjalan perlahan di koridor rumahnya. Matanya menatap kosong ke depan dan sesekali melirik foto-foto dirinya bersama Yoongi yang menempel di dinding. Pikirannya masih melayang memutar kembali gambaran saat Jimin menatapnya dengan tatapan benci dan hampir membunuhnya.
Ada rasa sedih, bingung dan marah yang beradu di hatinya. Jiyooon terus mencoba menerka alasan dari tindakan Jimin, tapi tatapan Jimin itulah yang paling ia takuti. Takut jika tatapan itu akan bertahan selamanya, karena jujur saja Jiyoon telah memiliki rasa untuk Jimin. Ya, Jiyoon memang mencintai Jimin.
*Jiyoon POV*
Jimin, kenapa kau jadi seperti itu? Apa kau benar-benar ingin membunuhku? Apa benar seperti itu?. Kenapa? Padahal aku sudah membuka hatiku untukmu, Meski aku tahu sangatlah sulit bagi kita untuk bersama tapi aku tetap mencintaimu.
Aku bahkan berpikir untuk lari dan melawan ayahku agar bisa bersamamu. Aku sudah memikirkan semua itu tapi kau malah mengecewakanku. Kau mencoba untuk membunuhku.
*Author POV*
Jiyoon terpaku menatap fotonya bersama Yoongi saat ia baru berumur 11 tahun. Entah apa yang ada dipikiran Jiyoon saat itu hingga ia menghela nafas
"Jika saja malam itu tidak pernah terjadi, akankah keadaannya tidak akan seperti ini? ah, tapi inilah takdirku." gumam Jiyoon
Perhatian Jiyoonpun teralihkan saat derap langkah berat 2 orang pria tertangkap daun telinganya. Jiyoonpun menatap heran pada Ayahnya dan gurunya yang terlihat akrab dan tersenyum bahagia.
"Ayah, Pak Guru.  kenapa kalian bisa bersama dan terlihat akrab? Ayah, Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?"Tanya Jiyoon membuat Yoongi dan Taecyeon menatapnya dengan senyum tipis
"Ini pertama kalinya aku melihat ayah tersenyum seperti itu." benak Jiyoon
Lalu mata Jiyoonpun menangkap sesuatu yang tidak asing lagi baginya. Sebuah kalung dengan liontin kepala ular melingkar di leher gurunya Taecyeon hingga menarik rasa penasaran Jiyoon untuk kembali bertanya
"Ayah, kenapa Pak Guru memiliki kalung itu juga? Mungkinkah...." Tanya Jiyoon terhenti seakan ia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya ketika melihat wajah Ayahnya dan gurunya yang sedang menatapnya
Jiyoon terpaku, kembali kepalanya bekerja keras untuk memikirkan semua yang ia ketahui saat ini
#TBC

Komentar Buku (526)

  • avatar
    Sa'adatul laely

    ceritanya sangat bagus

    12/09

      0
  • avatar
    Suhanda

    semoga bisa menjadi.malaikat yng adiill..

    03/07

      0
  • avatar
    RadenSumantri

    bagus👍👍👍

    02/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru