Mentari mengambil cuti kerja dua minggu penuh. Anak-anak Wulan dibawanya ke rumah. Kamar Wulan disulap menjadi kamar anak-anak, dan Bima membawa semua perabot dan barang-barang keperluan Arkana dan Aisha ke rumah itu. Di tiga hari pertama kematian Wulan, Arkana menangis dan mencari-cari ibunya. Sesudahnya, ia menjadi tenang dan tidak lagi menanyakan ibunya. Mungkin karena kehadiran Mentari di dekatnya sepanjang hari membuatnya tidak terlalu memikirkan ibunya. Apalagi setiap hari ia dikelilingi orang-orang yang ia sayangi sejak kematian Wulan, membuat anak itu cepat pulih dari kesedihannya. Aisha adalah bayi paling tenang yang pernah dijumpai Mentari. Bayi itu menerima susu formula yang diberikan tanpa rewel sedikitpun, meskipun selama dua minggu sejak kelahirannya sudah terbiasa meminum ASI. Ia jarang menangis tanpa sebab, tak pernah menyusahkan orang-orang yang mengasuhnya. Di malam hari Aisha tertidur dengan pulas, hanya bangun dua atau tiga kali untuk menagih susu. Di siang hari ia pun lebih banyak tidur, dan saat terbangun ia senang bermain dengan dirinya sendiri, tersenyum-senyum sendiri sambil memandang ke segala arah. Mentari sangat bersyukur, kedua anak Wulan itu tidak pernah menyusahkan di masa-masa sulit ini. Mama dan Papa terlihat tak sehat sejak kematian Wulan, tapi berusaha menguatkan diri demi kedua cucu mereka, juga demi anak sulung mereka yang mengurus segala sesuatunya tanpa lelah, tanpa mengeluh. Di hari ke lima, bersama dengan Bima ia mewawancarai beberapai baby sitter yang dikirimkan oleh agen penyalur jasa pengasuh anak yang terpercaya. Dari ketujuh calon yang mereka wawancara, akhirnya Bima memilih seorang wanita berumur tiga puluhan berwajah keibuan yang baru saja ditinggal mati oleh suami dan anaknya dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Mata suster itu berbinar bahagia begitu dipertemukan dengan anak-anak yang akan diasuhnya. Kelihatan ia sangat menyukai anak-anak. Dari balik pintu kamar anak-anak, Bima dan Mentari menyaksikan dengan perasaan puas ketika Suster Nina segera meraih Aisha dalam gendongannya dengan penuh kasih sayang, dan langsung akrab dengan Arkana. Sudah dua tahun Arkana tidak memiliki baby sitter, karena jika kedua orang tuanya bepergian, ia lebih suka dititipkan ke rumah kakek dan neneknya dibandingkan ditinggal di rumah bersama baby sitter-nya. Di samping itu, Wulan ingin mendidik anaknya agar bisa mandiri tanpa ketergantungan akan pengasuh. Kini mereka harus mencari pengasuh anak baru, karena beberapa hari lagi masa cuti Mentari akan berakhir, dan ia tak bisa lagi mengasuh anak-anak itu sepanjang hari. Mama pun tak sanggup mengasuh sendiri saat Mentari bekerja, karena kondisi kesehatannya yang menjadi rapuh sejak kematian Wulan. Di hari pertama Mentari masuk kerja setelah cuti, Arkana rewel. Ia bangun bersamaan dengan bangunnya Mentari, mengawasi kesibukan tantenya mempersiapkan diri berangkat kerja dari atas tempat tidur sambil berbaring dalam diam. Mentari telah siap berangkat dan mengulurkan tangan untuk meraih tas kerjanya. Tiba-tiba Arkana menangis keras sambil duduk dengan kaki menjuntai di pinggir tempat tidur. Ia menoleh dengan terkejut lalu bertanya, “Arkana kenapa?” “Bunda mau ke mana?” tanya anak itu di sela-sela tangisnya. “Kerja, Sayang.” “Jangan kerja. Bunda di sini aja, temenin Arkana dan Aisha.” Mentari tersenyum, mengerti sumber tangisan keponakannya. “Kan masih ada Kakek, Nenek, Aisha, Suster Nina, dan Bi Marni.” “Arkana mau ada Bunda juga.” “Tapi Bunda harus kerja, Sayang.” “Kenapa harus kerja? Kalau Bunda mau uang, minta ke Ayah. Ibu juga gitu, selalu minta uang ke Ayah.” Mentari menahan senyumnya dan berkata dengan serius. “Bunda nggak bisa minta uang ke Ayah.” “Kenapa nggak bisa?” “Karena...” Ia bingung melanjutkan kalimatnya, tak tahu kata apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Arkana menunggu jawabannya dengan tak sabaran. “Karena Bunda bukan istri Ayah.” “Kalau begitu Bunda menikah dengan Ayah saja.” Seperti ada yang menohok jantungnya. Hal yang sama sekali tak pernah dipikirkan olehnya, dalam mimpi yang paling tidak masuk akal sekalipun. Dari mana anak ini mendapatkan ide gila tersebut? “Arkana Sayang...” Mentari membelai rambut ikalnya yang dibiarkan tumbuh panjang. “Suatu saat Arkana akan punya ibu sendiri, kalau Ayah menikah lagi...” Tanpa peringatan, meledaklah tangis anak itu, sedemikian kerasnya sehingga seisi rumah berlarian ke depan kamar Mentari dan mengetuk pintunya dengan panik “Masuk,” sahut Mentari dari dalam. Pintu terbuka, menampakkan Mama, Papa, Bima dan Suster Nina yang bergerombol di depan pintu, memandang ke dalam dengan ekspresi penuh tanda tanya. Di dalam, Mentari sedang berlutut di lantai sambil memeluk Arkana yang kini menangis sesenggukan dalam pelukannya. Bima langsung menghampiri anaknya dan meraih ke dalam pelukannya sambil berlutut seperti Mentari. “Arkana kenapa? Sakit?” Arkana berontak dari dekapan ayahnya lalu berkata dengan muram, “Bunda nakal. Arkana mau ditinggal hari ini. Kata Bunda mau kerja.” Semua yang ada di situ menarik napas dengan lega karena mengetahui duduk persoalannya. “Kan ada Suster Nina yang jagain Arkana hari ini,” bujuk Bima sambil mencolek pipi yang merah menggemaskan itu. “Arkana maunya Bunda. Titik!” “Bundanya nanti pulang cepat, kok. Bunda janji,” Mentari menyahut. “Nggak boleh kerja!” Balita itu menggeleng dengan keras kepala. “Ayah, kasih Bunda uang biar Bunda nggak usah kerja. Ayah suka ngasih uang ke Ibu, kan?” Bima gelagapan, tak tahu harus berkata apa. Ia memandang Mentari dengan resah. Mentari pun menjadi grogi, wajahnya terasa panas. Ia segera menarik tangan anak itu dan memeluknya, sebelum anak itu mengoceh lebih lanjut. “Bunda bilang, Bunda nggak bisa minta uang ke Ayah karena Bunda bukan istri Ayah." Alarm tanda bahaya berdering di otak Mentari. Anak ini tak boleh melanjutkan kata-katanya, sehingga ia menggendongnya menjauh dari orang-orang. Arkana tak menyerah. Dalam gendongan Mentari ia melanjutkan ocehannya. “Arkana bilang ke Bunda, kalau begitu menikah aja dengan Ayah.” Hening seketika. Ingin rasanya Mentari menghilang ke dalam perut bumi. Ekspresi canggung yang ditunjukkan oleh setiap orang kurang lebih sama. Suster Nina terkikik tanpa suara sambil menutup mulutnya dengan tangan, lalu keluar kamar sambil menggendong Aisha. Mama dan Papa tertawa kaku sambil berpandangan penuh arti. Sedangkan Bima memelototi anak lelakinya seakan-akan marah, tapi wajahnya memerah karena malu. Arkana mengerjapkan matanya dengan bingung dalam gendongan Mentari. Drama itu belum berakhir. Arkana belum mau mengikhlaskan kepergian Mentari bekerja. Ketika akhirnya berhasil dibujuk dan mengizinkan Mentari bekerja, ia meminta ikut. Tak ada yang bisa mematahkan tekad bulatnya, dan Mentari terpaksa membawanya ke kantor. Arkana sering dibawanya bekerja, rekan-rekan dan atasannya pun sudah mengenal baik anak itu, bahkan sering menanyakan jika Mentari tidak membawanya untuk waktu yang lama. Sebenarnya Arkana anak yang manis, asal saja tidak ada hal yang bertentangan dengan kemauannya. Ia pandai mengambil hati orang dewasa dengan celotehannya yang lucu dan polos. Mentari memandangi Arkana yang duduk di pangkuan Pak Agam sambil bermain tepuk tangan. Anak-anak atasannya itu sudah dewasa semua, ada dua anak laki-laki yang sudah menikah, tapi belum ada satu pun yang memberinya cucu. Kehadiran Arkana sesekali di kantor ini sedikit menghibur hatinya akan kerinduan terhadap cucu yang belum ia miliki. “Arkana, udah dulu mainnya, Eyang Agam mau kerja.” Mentari hendak membawa anak itu keluar, karena dalam satu jam Pak Agam akan menghadiri rapat. “Tak apa, Mentari. Rapatnya masih satu jam lagi.” “Tapi, Pak...” “Sungguh lucu anak ini, tak heran orang-orang di kantor ini berebutan mengasuhnya. Bisa menghilangkan jenuh atas rutinitas kerja.” Dengan gemas Pak Agam mencubit pipinya. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan memandang sejurus ke arah Mentari. “Bima tentunya sangat terpukul.” Pak Agam mengenal Bima secara pribadi maupun dalam urusan bisnis. Mentari mengangguk. “Betul, Pak. Bima masih terlihat murung sampai saat ini.” “Kasihan,” kata Pak Agam dan memandangi Arkana lama. Entah siapa yang ia maksud dengan kata itu. “Soraya tak akan keberatan mempunyai anak selucu ini. Saya pun tak akan menolak menjadi kakeknya.” Kemudian ia terkekeh sendiri. Mata Mentari menyorot jenaka mendengar perkataan atasannya. Soraya adalah putri sulung Pak Agam, yang juga teman Bima semasa kuliah. Sambil lalu Bima pernah mengatakan bahwa Soraya dulu mengejar-ngejarnya. Dan ini adalah lamaran terselubung dari Pak Agam kepada Bima untuk anaknya. Dalam hati Mentari tertawa. Andai Bima mendengarnya. Dari kantor Mentari langsung membawa Arkana pulang ke rumah Bima. Senin adalah hari yang disepakati bersama untuk anak itu menginap di rumah bersama ayahnya. Hari Rabu Bima akan membawanya kembali ke rumah mertuanya, dan Sabtu dan Minggu ia menginap di situ bersama kedua anaknya. Ia menempati kamar tamu di rumah mertuanya saat menginap, karena kamar istrinya telah dijadikan kamar untuk anak-anaknya. Ia pun tak bisa tidur di kamar itu saat malam hari karena Suster Nina tidur di situ untuk menemani si bayi. Arkana lebih suka tidur bersama Mentari. Hanya sesekali ia tidur bersama ayahnya. Itupun di tengah malam ia terbangun lalu berjalan ke kamar Mentari, tidur di situ hingga pagi. Semoga tak ada drama lagi, Mentari berdoa dalam hati sambil melirik ke kursi penumpang di sampingnya, melihat Arkana yang tertawa-tawa dan berbicara sendiri sambil memainkan mobil-mobilan baru pemberian Pak Agam tadi siang. Begitu melihat Mentari datang bersama Arkana di pagi hari, ia segera menyuruh sekretarisnya untuk membelikan mainan untuk anak itu. Selalu begitu setiap Arkana berkunjung ke kantor itu. Setiap pulang, ia akan membawa satu lagi mainan baru. Sebenarnya ia berharap anak itu tertidur dalam perjalanan pulang, sehingga saat sampai di rumah Bima, ia bisa langsung pulang tanpa harus menjelaskan terlebih dahulu kenapa ia meninggalkannya, kenapa tidak ikut menginap di rumah itu. Harapannya tak terwujud. Hingga sampai di rumah Bima di kawasan Cibubur itu, mata Arkana tetap terjaga, tidak mengantuk sedikit pun. Sebelum mematikan mesin mobil, ia mengirimi Bima pesan terlebih dahulu. ‘Arkana masih terjaga. Bagaimana ini?’ Bima yang mendengar suara mobil berhenti di depan pagar sambil membaca pesan itu seketika kebingungan. Anak lelakinya begitu keras kepala. Jika Mentari pulang, sudah dipastikan ia akan mengamuk lagi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
uuuuu
16/07
0kisah yg romantis..
03/07
0bagus ceritanya ☺️
28/04
0Lihat Semua