"Permisi, ada yang kenal sama Viona ngga? " Salah seorang cowok yang diketahui bernama Sandi dari papan nama yang terpasang di bajunya datang mengunjungi koridor kelas tujuh untuk mencari Viona. Dia mendatangi sekelompok siswa yang sedang rame berkumpul. "Dia di kelas tujuh tiga kak, kelasnya yang itu. " Tunjuk salah seorang diantara mereka. "Oke makasi ya. " Balas Sandi yang tak lupa mengucapkan terimakasih kepada adik kelasnya itu. Sementara itu tak jauh dari posisinya ada sepasang mata yang melihat dengan pandangan penuh penasaran, matanya terlihat menyipit dan keningnya berkerut ketika mendengar ada kakak kelas yang mencari Viona. Ya, itu adalah Dewa cowok yang semalaman hatinya kembali terusik karena Viona. "Viona ada yang cari. " Panggil salah seorang temannya yang sedang berdiri di dekat pintu kelas. Viona yang mendengar namanya di panggil langsung meletakkan novelnya dan memanjangkan lehernya melirik ke depan kelas. Dia melihat ada Sandi disana, sepupu jauhnya. "Loh kak , Ada apa ? " Tanya Viona kaget saat sudah berada di dekat Sandi. "Kamu bisa nggak bantuin kakak untuk acara perpisahan kelas sembilan dua bulan lagi. Itu sekalian ujian kesenian anak kelas sembilan tapi boleh mintak tolong kelas lain buat ngisi formasi yang kosong. Kamu bisa nggak bantuin di bagian main keyboard? Kebetulan posisi itu masih kosong dan belum ada yang ngisi. " Papar Sandi. "Dua bulan lagi ya? Trus latihannya gimana? Aku kan masuk siang sementara kakak masuk pagi. Palingan kalau mau latihan aku cuma bisa minggu sore itu pun cuma dua jam. " "Masalah latihan gampanglah itu, yang penting kamu mau dulu. Nanti jadwal latihannya disesuaikan aja. Kemampuan kamu main keyboard kan nggak diraguin lagi jadi kayaknya nggak masalah kalau cuma sekali seminggu. Mau ya? " Viona terlihat berpikir sejenak, dia takut nanti kelelahan atau malah terlihat seperti orang sok sibuk dan sok jago di mata kakak kelasnya yang lain karena bisa datang latihan seenak jidatnya. "Mau ya? " Ulang Sandi lagi saat melihat keraguan di mata Viona. "Beneran nggak apa- apa aku cuma ikut latihan sekali seminggu? Nanti yang lain marah. " Viona mengucapkan alasannya pada Sandi. Dalam hatinya dia ingin ikut berpartisipasi dalam acara tersebut apalagi dia diminta langsung oleh kakak kelas dan bermain bersama kakak kelasnya. Seperti yang dikatakan Sarah, dia harus menunjukkan kepada semua orang bagaimana kemampuannya agar semakin bersinar dan perhatian semua orang tertuju padanya termasuk Dewa. "Nggak apa- apa, nanti kakak yang atur. Sekalian nanti kamu main musik dan nyanyi pas drama musikal ya. " Tambah Sandi lagi dengan penuh harap takut Viona menolak, pasalnya permintaannya kali ini tentu membutuhkan waktu latihan yang lama dan Viona juga akan berada di panggung dalam waktu yang cukup lama. "Ya deh, boleh. " Balas Viona seraya menganggukkan kepalanya membuat senyum di wajah Sandi melebar. "Tapi kamu yang bantuin cari musik dan lagunya ya. " Kali ini Sandi terlihat menaik- turunkan alisnya sambil cengengesan saat melihat Viona melotot mendengar permintaannya yang terakhir. "Mau ya.... Nggak banyak kok. " Tambah Sandi lagi sedikit memohon. "Ya udah besok kasih aja naskahnya nanti aku coba cari musik yang aku rasa cocok. Tapi kakak juga ikut cari ya besok kita diskusiin kira- kira musik dan lagu apa yang cocok untuk dramanya. " Balas Viona dengan menghembuskan nafas kasar dan memanyunkan bibirnya. "Oke, makasi adik manis. Besok naskahnya diantar kesini" Ujar Sandi yang langsung terlihat sumringah mendengar jawaban Viona sebelum akhirnya berpamitan kembali ke kelasnya karena siswa kelas sembilan harus mengikuti belajar tambahan untuk persiapan ujian akhir sekolah. "Siapa tadi tuh? Akrab bener kayaknya, gagal jadian dari Dewa sekarang mainnya malah sama kakak kelas. Ngeri... Ngeri... !!! " Ujar Alya saat mereka sudah duduk di kelas. "Halah... Dewa sama Hilda juga nggak bakalan lama, keliatan banget dia nggak serius sama Hilda. Palingan bentar lagi juga putus" Celetuk Andrew. Viona yang mendengar info yang disampaikan Andrew mendadak merasa mendapat angin segar, gadis itu berusaha terlihat cuek namun telinga dan perhatiannya fokus tertuju pada pembicaraan teman- temannya. Inilah gosip yang ditunggu- tunggunya, kabar berakhirnya hubungan Dewa dan Hilda. "Tadi ngapain sama kakak kelas? Serius banget kayaknya. " Alya kembali mengulang pertanyaannya karena belum mendapat respon dari Viona. "Ada deh, bisnis!! " Sahut Viona sekenanya. "Bisnis masalah hati ya? " Ujar Dicky yang ikutan nimbrung membuat Viona memanyunkan bibirnya. "Dia mah gitu kalau ditanya jawabnya sok misterius giliran cowoknya udah di embat orang baru deh " Tukas Alya lagi. "Kapan? " Tanya Viona dengan kening berkerut. "Lah itu sama Dewa? Dulu aja di dekatin Dewa sok - sok an jaga jarak, giliran Dewa di embat cewek lain baru tuh keliatan patah hatinya. " Papar Alya yang membuat Viona terdiam dan bertanya- tanya dalam hatinya apakah dulu dia benar- benar terlihat patah hati saat Dewa berpaling pada yang lain? "Jadi bener yang tadi itu calon gebetan yang baru" Alya kembali bertanya diikuti wajah penasaran Dicky, Andrew dan Ronald yang juga duduk di sekitar kursi Alya dan Viona. "Apaan sih? Nggak ada, emang beneran ada perlu aja sama kak Sandi. " "Ooh jadi namanya Sandi... " Ujar Andrew, Docky, Ronald dan Alya serempak. "Lumayan, kalau Dewa kan Ganja, Ganteng Jauh, dari dekat jelek dari jauh baru ganteng. Kalau yang ini dari Dekat maupun jauh tampangnya nggak menipu. " Ujar Alya . "Jadi Dewa Ganteng Jauh ya? " Tanya Andrew seraya menaik turunkan alis matanya menggoda Alya. "Yakin deh, walaupun dibilangin Ganja, ganteng Jauh , kalian berdua pasti susah move on dari Dewa, lya kan? " Ujar Andrew dengan senyum Smirknya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
24/11
0mantap
23/11
0bagus
23/11
0Lihat Semua