Andre dan Savitri masih menginap di rumah Satria dan Olivia. Entah kenapa, mereka pun sebagai orang tua masih kurang percaya pada anak mereka sendiri. Olivia sudah berusaha memberikan sedikit penjelasan tentang Satria yang mulai menjauhi Mira. Namun, itu tak berpengaruh sedikit pun. Keberadaan Andre dan Savitri sebenarnya tak menjadi masalah bagi Olivia. Malah Olivia senang, karena mertuanya sering memasak untuk sarapan dan makan malam untuknya. Yang keberatan adalah Satria sendiri. Dia keberatan karena tak mau terus diomeli oleh Savitri. Andre pun tak henti menyindirnya jika mereka tak sengaja bertemu dan berpapasan. "Kenapa mereka tak bisa mempercayai anak sendiri sih? Padahal aku sudah benar-benar berusaha menjauh dari Mira. Bahkan aku memblokir nomornya juga," ucap Satria gemas sendiri pada orang tuanya. Kini dia berada di kamar Olivia, tentu dengan sang empunya kamar. "Justru mereka sangat mengenalmu sebagai anak mereka. Makanya mereka masih tak percaya padamu. Mereka tahu kamu itu suka plin-plan dan mudah terhasut. Apalagi jika ada embel-embel kasihan. Mudah sekali berubahnya," jawab Olivia. Dia kini duduk di sofa panjang. Sedangkan Satria malah berbaring, menjadikan paha Olivia sebagai bantal. Namun, Olivia pun tak merasa keberatan. Ya, walau awalnya sempat merasa risih. "Aku tidak begitu. Asal kamu tahu saja," balas Satria dengan nada keberatan. "Tapi Mama bilang begitu. Mama bilang, beliau sudah lama memperingati kamu agar menjaga jarak dengan Mira. Tapi kamu bebal, tak pernah menurut. Mama loh yang bilang," ujar Olivia. Satria mendengus pelan mendengar itu. Hobi sekali ya ibunya membuka aib anaknya sendiri. Pada Olivia lagi. "Terserahlah kamu mau berpikir aku bagaimana. Yang penting aku sudah menunjukkan usahaku." Satria berucap dengan nada sebal dan kesal. "Bukan hanya menunjukkan saja harusnya. Tapi benar-benar melakukannya dari hati terdalam." Olivia membalas. Satria yang terlanjur merasa jengkel hanya manggut-manggut saja mendengarnya. "Sekarang kamu sudah memblokir nomor Mira. Lalu kamu akan melakukan apa jika Mira datang menemuimu?" tanya Olivia. Tangan kanannya sejak tadi tak berhenti memainkan rambut Satria yang lembut. "Menyuruhnya pergi." "Jika tidak mempan?" "Aku yang akan pergi dari hadapannya?" "Jika dia mengejar?" Satria langsung diam dan menatap Olivia yang menaikkan sebelah alisnya. Kemudian Satria menghembuskan nafas kasar. "Aku masih memikirkan itu, Olivia," gumam Satria yang masih bisa Olivia dengar. "Ya bagus jika kamu masih memikirkan caranya. Seperti yang kamu bilang, dia tak memiliki siapa-siapa di sini. Dan aku yakin, dia akan terus berusaha mendekatimu karena merasa hanya kamu lah yang dekat dengannya dan bisa membantunya," ucap Olivia. Satria diam lagi, setuju dengan perkataan Olivia barusan. Karena itulah dia sedang memikirkan cara agar tak bertemu lagi dengan Mira. Sungguh, Satria merasa terganggu dengan telepon dan spam chat dari Mira. Dan sekarang, dia merasa lega sendiri setelah memblokir nomor Mira. Satria juga tak menyangka kalau hatinya akan berubah secepat ini. Dia masih ingat bagaimana hatinya menyimpan perasaan cinta yang dalam untuk Mira. Selalu ingin bertemu dengan Mira, bahkan ingin sekali berada di sampingnya. Satu hal yang Satria pahami sekarang. Mungkin, Tuhan sengaja menghadirkan Olivia dalam hidupnya, hingga akhirnya Mira menunjukkan sifat aslinya dan Satria sadar mengenai hal itu. Dan akhirnya sekarang dia memutuskan untuk menjauhi Mira. "Oh ya. Besok kamu ada acara gak saat jam makan siang?" Olivia bertanya, menarik Satria dari lamunan panjangnya tentang Mira. "Seingatku tidak. Kenapa memangnya? Mau makan siang bersama? Kita melakukannya setiap hari padahal," jawab Satria. "Iya aku tahu. Kalau kamu tak keberatan, aku ingin berkunjung ke perusahaanmu. Boleh?" Olivia bertanya, meminta izin. "Tentu saja. Datanglah saat jam istirahat, dan kamu bisa melihat-lihat dulu sebelum kita makan siang." Satria menjawab. Olivia tersenyum mendengar itu. Dia memang penasaran bagaimana suasana perusahaan Satria. Dan ternyata pria itu tak keberatan dia datang besok. Ya, semoga saja dia dan Satria sama-sama tak mendapatkan jadwal rapat dadakan. *** Seperti rencana kemarin malam, siang ini Olivia akan datang berkunjung ke perusahaan Satria. Regan sempat bertanya kenapa Satria tidak datang menjemput. Saat Olivia mengatakan alasannya, Regan pun mengerti. Regan bahkan menawarkan diri untuk mengantarkan Olivia ke perusahaan Satria. Namun, Olivia menolaknya. Selain karena dia sudah memesan taksi online, Olivia juga tahu kalau Linda sudah menunggu Regan di rumah. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya Olivia sampai di perusahaan Satria. Setelah membayar ongkos, dia pun masuk ke lobi. Olivia berjalan dengan anggun mendekati resepsionis. Dia tersenyum pada resepsionis tersebut, yang langsung mengenali Olivia sebagai istri bosnya. "Selamat datang, Bu Olivia. Ada yang bisa saya bantu?" Resepsionis dengan name-tag Indah itu bertanya dengan ramah pada Olivia. "Ruangan Pak Satria di lantai berapa ya?" tanya Olivia. "Oh itu. Ruangan Pak Satria ada di lantai 16, Bu. Mau saya antar, Bu?" Indah menawarkan diri. Olivia pun mengangguk, menerima tawaran dari Indah. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam lift. Beberapa karyawan yang ada di dalam lift langsung mundur, memberikan ruang untuk Indah dan Olivia. Indah pun menekan tombol menuju lantai 16, di mana ruangan Satria berada. Suasana dalam lift hening, tak ada yang bicara. Indah menatap para karyawan dengan tatapan peringatan agar jangan membicarakan hal aneh karena ada istri bos di sana. Setelah beberapa saat, Indah dan Olivia pun sampai di lantai 16. Indah mengantarkan Olivia sampai ke depan meja sekretaris Satria yang merupakan seorang wanita jiga. "Terima kasih ya," ucap Olivia. "Sama-sama, Bu." Indah membalas. Setelah itu dia berbalik dan masuk kembali ke dalam lift. "Langsung masuk saja, Bu. Pak Satria sudah menunggu," ucap sekretaris Satria. Olivia mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruangan yang ada di sana. Dia tak mengetuk pintu dulu, dan saat masuk ke sana Satria langsung menoleh ke arahnya. "Kamu sudah sampai?" Satria bertanya. Dia berjalan mendekati Olivia yang baru masuk ke dalam ruangannya. "Duduklah sebentar," ucap Satria. Olivia tersenyum dan mengangguk. Luas ruangan Satria sama dengan ruangan Regan. Tak terlalu aneh sih bagi Olivia yang juga kesehariannya berada di kantor. "Kamu ke sini naik taksi kah?" Satria bertanya seraya memperhatikan Olivia yang sedang melihat sekeliling. "Iya. Kak Regan menawarkan diri untuk mengantar sebenarnya. Tapi aku tolak," jawab Olivia. Dia berjalan mendekati meja kerja Satria dan perhatiannya langsung tertuju pada sebuah foto kecil di atasnya. Olivia mengambil bingkai foto tersebut dan memperhatikannya. "Kamu memajang foto ini?" tanya Olivia. Satria tersenyum dan mengangguk. "Iya. Cukup bagus menurutku. Tidak terlihat keterpaksaan di wajah kita," jawab Satria. Ya, foto yang Satria pajang adalah foto saat akad nikah mereka dilangsungkan. Foto saat Olivia mencium punggung tangan Satria. "Kupikir kamu akan memajang foto bersama Mira," ucap Olivia dengan sengaja. Dia melihat ke arah Satria yang langsung memasang wajah bete. "Secara kan kalian bersahabat sejak lama. Jadi-" "Aku sudah membuang semua foto saat bersamanya." Satria memotong perkataan Olivia dengan cepat. Kakinya bergerak melangkah mendekati Olivia. "Bisa berhenti membahasnya?" tanya Satria berbisik. Mereka kini berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Olivia harus sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Satria dengan jelas. "Kenapa? Merasa terganggu?" "Membahas tentang kita lebih menarik dari pada membahas dia." "Benarkah? Jadi apa yang mau kamu bahas tentang kita?" Olivia bertanya dengan senyum menantang. Satria menyeringai kecil dengan mata yang tak lepas memandangi bibir Olivia. "Menurutmu apa hal menarik yang bisa kita bahas?" Satria balik bertanya. Dia melangkah, semakin dekat pada Olivia. Olivia yang sudah terpojok antara meja dan Satria tak bisa bergerak lagi. Dia berusaha menghindar dari Satria, namun dengan cepat Satria menahan pinggang rampingnya. Sebelah tangan Satria bertumpu pada meja, semakin mempersempit jarak antara dia dan Olivia. Jantung Olivia berdetak kencang saat wajah Satria semakin dekat dengannya. Namun, walau begitu entah kenapa mata Olivia terus melihat ke arah bibir Satria yang sedikit terbuka. "May I?" Satria bertanya dengan suara pelan. Lidah Olivia kelu, hingga dia sulit untuk memberikan jawaban. Namun saat wajah Satria semakin mendekat, Olivia secara sadar mulai memejamkan matanya. Waktu terasa berjalan lambat bagi Olivia. Tak lama setelah matanya terpejam, Olivia merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya. Benda tersebut bergerak dengan lembut melumat bibir bawah dan atas Olivia secara bergantian. Secara spontan tangan Olivia bergerak memegang pundak Satria, saat daging tak bertulang itu menyelinap masuk di antara celah bibir Olivia. Satria melakukannya dengan perlahan, tak terburu-buru. Setelah beberapa saat, akhirnya dia merasakan balasan dari Olivia. Satria pun semakin semangat mempermainkan bibir istrinya tersebut. Kadang Satria menghisap bibir bawah Olivia dengan sedikit kuat, hingga secara tak sadar Olivia mengerang pelan. Setelah cukup lama, Satria pun menarik dirinya menjauh dari Olivia. Nafas mereka terengah-engah, dan Satria malah tertawa kecil saat Olivia masih berusaha menetralkan deru nafasnya. "Kamu hebat juga," puji Satria. Ibu jarinya bergerak mengusap dagu Olivia yang sedikit basah dengan lembut. Kemudian dengan berani Satria meraih jemari Olivia dan menggenggamnya. "Ayo kita cari makan. Aku sudah lapar," ajak Satria. Tak ada rasa gugup sama sekali di wajahnya, namun dia berhasil membuat Olivia malu hingga pipinya bersemu merah. Satria menyentuh gagang pintu dan membukanya. Baru selangkah keluar dari ruangan Satria, mereka langsung berhenti. Tatapan mereka terarah ke depan, pada seorang wanita yang sedang berhadapan dengan sekretaris Satria. Olivia mendesah pelan, melihat sosok Mira ada di sana. Benar perkiraannya, Mira pasti akan terus berusaha menemui dan mendekati Satria.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lumayan deh
07/03/2025
0sangat sangat bagus sekali
03/02/2025
0si kia diapain ya sama regan?
29/01/2025
0Lihat Semua