logo text

Bab 56 Rasa Tak Sabar Luisa

Chen duduk terdiam di balik kemudi, gemuruh di dadanya masih belum berhenti sejak dia meninggalkan unit Karyn. Pilihan nya sudah tepat, Chen yakin dia sudah memilih wanita yang tepat untuk mendampingi hidup nya nanti. Sekarang dia hanya menunggu apa keputusan Karyn dan sudah di pastikan dia tidak akan bisa tidur selama dua malam ini sampai Karyn mengungkapkan perasaan nya.
Kepala Chen tertunduk di atas kemudi, rasanya dia tidak mau meninggalkan gedung apartemen tersebut. Rasanya Chen ingin kembali ke unit Karyn untuk memeluk wanita itu. Tangan nya sudah gatal dan pikiran kotornya sedang melalang kemana-mana.
“Chen... sabar. Tolong sabar.”
Chen menarik nafas dalam, kemudian membuangnya secara perlahan. Lalu Chen berteriak keras melepaskan beban yang dia rasa.
“Aargh.....” Kedua tangan nya memukul kuat kemudi. Dan setelah dirasa agak tenang, dia menghidupkan mesin mobil lalu membawa kendaraan roda empat itu menjauh dari gedung tersebut.
*
Luisa membesarkan bola mata, kedua tangan nya menutup mulutnya yang ternganga karena tidak percaya dengan apa yang di sampaikan.
“Mommy... mommy tidak bercanda kan?” tanyanya masih tidak percaya.
“Ya, mommy serius.” Margaretta meyakinkan.
“Aku bahagia, Mommy."
Luisa menghambur ke pelukan Margaretta, dia masih berteriak senang menerima kabar yang Margaretta sampaikan.
“Aku akan kabari mama,” ucapnya senang, dia meraih ponsel dan menghubungi mamanya.
Margaretta juga tak kalah senang, meskipun harus bersusah payah membujuk Richard akhirnya setuju menikahi Luisa.
“Mama akan datang, saking senangnya... Mama langsung memesan tiket untuk penerbangan malam ini.” Luisa berucap, wajahnya masih berbinar.
“Mommy akan siapkan semuanya.”
“Jangan ... Mommy tidak perlu repot. Pokoknya kita hanya memikirkan persiapan pernikahan.”
“Mommy tidak repot, Sayaaang. Mommy tinggal minta pelayan untuk menyiapkan nya.”
“Tidak… aku hanya ingin Mommy dan mama hanya memikirkan pernikahan ini. Oh Tuhaaan… aku sudah tidak sabar lagi menjadi istri Richard. ini rasanya seperti mimpi.” Luisa menangkup wajah dengan kedua tangan nya, membuat Margaretta terkekeh geli melihat kelucuan itu.
“Ada apa ini?” Rainee datang dan langsung duduk di samping Margaretta.
“Apa kabar Luisa?” sapanya.
“Baik,” jawab Luisa sambil tersenyum lebar.
“Rain, kau tahu…. Richard sudah setuju untuk menikah dengan Luisa," ucap Margaretta.
“Benarkah? Aku pikir dia tidak suka dengan perempuan, ternyata matanya sekarang sudah terbuka,” oceh Rainee santai.
“Hush! Jangan bicara seperti itu tentang kakakmu.”
“Ini kenyataan nya mommy … aku gak pernah lihat dia main dengan perempuan. Hari-hari dia habiskan untuk bekerja di kantor. Wajar kan kalau aku berfikir seperti itu.”
“By the way … selamat ya Luisa … kau ternyata sudah berhasil mencuri hati Richard.”
"Terima kasih, aku pun tak menyangka ia mau menerimaku. Kau tahu sendiri bukan? Banyak wanita yang menginginkannya. Suatu kebanggaan, sekaligus kebahagian tersendiri bisa bersaing dengan sekian banyak dari mereka." Luisa berkata dengan senyumannya yang menggambarkan luapan perasaannya.
"Aku jadi makin penasaran, apa rahasiamu menaklukan Richard?" kata Rainee seolah mengagumi Luisa.
"Entahlah, mungkin karena tekadku begitu kuat." Luisa berkata sambil mengendikkan pundaknya.
Margaretta masih dengan senyuman yang tersungging menatap Luisa.
"Aku tak sabar melihatmu memakai gaun pengantin. Nanti, kita akan pesankan gaun yang paling istimewa di hari paling bersejarah Richard. Aku berencana untuk menyewa desainer terkenal guna merancang baju pengantin kalian."
Mendengar kata-kata Margaretta, Lisa bersemu merah. Ia jadi membayangkan memakai gaun pengantin yang super mewah bersanding dengan Richard dengan jas hitam di bawah tatapan para tamu undangan yang berdecak kagum.
"Hmm, semoga nanti Richard melunak hatinya dan bisa mengerti perasaan orang yang jatuh cinta," gumam Rainee.
Margaretta menoleh ke arah Rainee. Bagaimana pun lirihnya gumamaman gadis itu, telinganya masih cukup jelas mendengar.
"Richard berbeda denganmu, Rain. Kakakmu tidak bisa dipecundangi oleh orang brengsek. Sementara dirimu, mau-maunya dimanfaatkan oleh Stephen. Berapa kali kami menyuruh mu untuk menjauhinya? Itu demi kebaikanmu sendiri."
Wajah Rainee jadi cemberut. Ia kesal sekali jika harus berdebat dengan masalah itu.
"Momy membencinya jadi tidak akan bisa melihat Stephen dari sisi positifnya. Coba sedikit saja Mom mengerti." Ia mengucapkannya dengan kesal.
Padahal tadi ia asyik berpikir bahwa nanti Richard bisa memahami tentang apa yang dirasakannya soal cinta jika ia mengalami juga. Namun, semua yang dipikirkan olehnya jadi kacau gara-gara Margaretta menyinggung ketidaksukaannya pada pacarnya.
"Kaulah yang tidak mengerti, Rain. Gara-gara cinta butamu itu, sudah berapa banyak kerugian yang kau tanggung, tapi tetap saja tak sadar!"
Perdebatan antara Margaretta dan Rainee sudah bukan lagi hal yang pantas bagi Luisa untuk ikut campur. Ia hanya diam saja, tapi kemudian gadis itu memutuskan untuk pulang dari pada harus mendengarkan apa yang tak seharusnya ia dengar.
"Mommy, aku akan pulang dulu. Mungkin satu jam lagi mamaku tiba di apartemen," pamit Luisa buru-buru.
"Sampaikan salamku buat mama ya!" teriak Margareta.
"Tentu, Mom," balas Luisa sambil melambaikan tangan saat ayunan langkahnya sudah sampai ke pintu.
Ia mengendarai mobil sambil mendengarkan musik dengan lirik lagu tentang cinta. Sesekali bibirnya mengikuti tiap bait nyanyian.
Sampai tak terasa mobilnya sampai di tempat parkiran.
Hanya butuh waktu lima belas menit ia sampai di apartemennya. Ia segera melepas sepatunya. Baru saja hendak duduk, ponselnya berdering nyaring.
Luisa : Halo?
Nyonya Sally: Bisa jemput Mama di Bandara, Sayang?
Luisa: Jam berapa landingnya, Ma?
Nyonya Sally: Setelah satu jam.
Luisa :Oke, Ma. Aku mandi dulu setelah ini bersiap pergi.
Nyonya Sally: Baik, Sayang. Tak usah buru-buru. Masih ada bayak waktu. Daaah!
Setelah perkataan terakhir Nyonya Sally – mamanya Luisa, panggilan pun berakhir. Tangan Luisa segera menyambar handuk, rasanya badannya lengket karena seharian berada di luar rumah. Ia ingin berendam air hangat di bathup, ini akan membuatnya sedikit rileks. Luapan kebahagiaan tentang Richard mau menikahinya membuat sedikit ketegangan pada syaraf-sayarafnya.
Matanya terpejam saat otot-ototnya mulai melemas. Senyuman Luisa mengembang membayangkan malam-malam panas bersama Richard. Masih tersimpan dalam ingatan aroma tubuh lelaki dingin itu. Aromanya seperti candu baginya, memabukkan. Sebentar lagi ia bisa mencium bau wangi bercampur keringat maskulin pria tersebut setipa malam. Tentu saja setelah mereka menikah nanti. Rasanya ia tak sabar menunggu hari itu tiba.
Entah berapa lama Luisa berendam air hangat sambil mengingat adegan demi adegan bersama Richrad, yang jelas ia segera tersadar tatkala bunyi ponselnya terdengar begitu nyaring. Hal itu membuatnya segera beranjak dari bathup dan mengenakan handuk yang mirip piyama itu.
"Astaga, tak terasa sudah lebih dari setengah jam aku berendam. Gara-gara memikirkan Richard aku sampai tak bisa merasakan lamanya waktu."
Dering ponselnya terhenti karena tak segera diangkat.
Luisa segera menengok nama yang tertera pada panggilan yang terjawab tadi. Dari mamanya, ternyata. Ia segera memanggil balik.
Luisa: Maaf, Ma. Aku baru saja selesai mandi.
Nyonya Sally: Astaga! Sudahlah, tunggu di rumah saja. Mama naik taksi saja dari sini. Tadi kupikir kau sudah ada di Bandara. Ternyata masih mandi.
Luisa: Aku benar-benar minta maaf, Ma.
Nyonya Sally: Sudah jangan dipikirkan. Mama tak sedang marah. Kabar gembira ini membuat Mama ingin segera menemuimu.

Komentar Buku (135)

  • avatar
    Karina

    Lanjut lagi dong thor

    28/05/2022

      1
  • avatar
    Chandra Syahputra

    mantap

    16/12

      0
  • avatar
    baunseleMarni

    cerita sangat bagus aku suka🥰

    24/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru