Pukul 22.00 WIB. Dengan langkah pelan, Reni menenteng plastik berisi pembalut itu dengan hati berkabut. Dia membeli barang yang dia butuhkan itu di minimarket depan kompleks, dia berjalan di depan bangunan-bangunan mewah melewati pagar-pagar rumah tersebut, yang menempel dari satu rumah ke rumah yang lain yang mempunyai warna yang berbeda, sesuai dengan selera masing-masing pemilik rumah. Pikirannya berkelana jauh. Mengingat masa sembilan tahun yang lalu. Kala dia tersentak mengetahui fakta kalau Om Erros adalah dalang dari kesengsaraan hidupnya. Omnya merenggut nyawa orang-orang yang di cintainya. Demi harta pria itu menyingkirkan hati nuraninya dan melenyapkan orang-orang yang dia kasihi. Dia sudah melupakan kejadian sembilan tahun yang lalu dan memulai hidup barunya sebagai Reni si gadis jelek bodoh yang mengadu nasib ke Jakarta untuk mengais rezeki. Tapi ... ada yang tidak bisa dia hapus dari ingatannya. Orion. Pria itu akan terus menguasai hati dan pikirannya dan dia akan merasakan tikaman sakit dan cemburu ketika pria itu muncul di rumah majikannya untuk mengambil hati nona Bina. Nonanya pantas mendapatkan Orion, begitupun sebaliknya. Non Sabrina adalah gadis Sholehah yang selalu menebar kebaikan kesemua orang yang ada di sekelilingnya. Dia pula yang mengajarkannya tentang arti hidup yang sesungguhnya. Mengajar nya untuk bisa menjadi pemaaf agar hatinya lebih tenang, membantunya untuk ikhlas menjalani hidup seberapapun sulitnya itu. Tapi mengenai Orion ... Kenapa hatinya tidak rela. Desahnya sebal membatin. Dia terus melamun. Hingga tidak sadar bahwa sedang melintasi pagar rumah Sabrina dan Dhefin yang berdiri di ambang pagar yang terbuka itu menyergit. Sambil berujar dalam hati 'mau ke mana dia?' Lavina menghela nafas kasar. Dia belum bisa melupakan Orion dan merelakan pria itu untuk majikannya. Tapi dia harus berusaha keras. Dia harus mencari pria lain dan akan merongrong tuan Awan kalau perlu, agar bisa melupakan Orion yang bergentayangan di benaknya. Bahkan yang membuat dia kesal adalah saat ini setan di hatinya menyuruhnya mengejar Orion dan mengambil perhatiannya kembali dengan menceritakan semuanya kisahnya pada pria itu. Dia menggeleng-geleng keras. Menolak gagasan egois itu. Orion tidak boleh tahu siapa dirinya, dan dia tidak boleh menempatkan Orion dalam bahaya. Karena siapa tahu saja omnya masih mencarinya dan kalau sampai tahu dia memiliki hubungan dengan Orion, bukan tidak mungkin kalau lelaki tengah baya itu akan menghabisi Orion. Oh, tidak. Tidak. Dia lebih rela menahan rajangan luka karena melihat Orion bersanding dengan non Bina, ketimbang melihat dia berhenti bernafas karena sebuah keegoisan hati untuk memilikinya kembali. "Ren!" Seruan dari belakang membuatnya tersentak dan dengan cepat berbalik. Dhefin ada di jarak dua meter dan dia seketika sadar dan menepuk jidatnya karena tidak engeh telah melewati rumah non Bina. Dia berlari terburu-buru ke Dhefin yang tergelak. "Saya enggak sadar kalo udah kelewat." "Aku pikir kau sedang ingin jalan-jalan," godanya jahil. Lavina berseloroh, "Ngapain coba, kayak kurang kerjaan aja. Ntar saya diculik sama penjahat lagi." Dia mengibaskan rambutnya. "Gini gini saya itu menggoda loh, Den." Dhefin mengangkuk-angkuk di sela tawanya. "Aku percaya, Ren. Tapi pakai bohong." Lavina mencebik. Tuannya ini tidak tahu kalau dia bisa benar-benar memicu perhatian pria kalau dia membongkar siapa dirinya yang sesungguhnya. Dulu banyak pria yang mengejarnya tapi dia tidak mempedulikan mereka karena dia tahu kalau mereka hanya menilai dari segi fisik dan kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya. Mereka tidak tulus dan dia tidak suka itu. Sampai suatu ketika dia bertemu Orion di suatu pesta dan ketulusan pria itu menyentuh hingga ke dasar sanubari. Dia menemukan ketulusan itu dalam diri Orion, ketika pria itu ada di sudut pesta dengan pakaian yang bisa dibilang cukup biasa hanya mengenakan kemeja putih dan jeans hitam juga sepatu pantofel yang sudah tua namun masih layak pakai. Dia lelaki yang sangat pendiam dan diawal-awal perkenalan Orion yang menjawab beberapa patah kata dan tidak memiliki inisiatif untuk bertanya. Dia yang mendominasi pembicaraan dan sikap yang acuh tak acuh Orion menarik hatinya. Lama-kelamaan hubungan mereka meningkat ke taraf pacaran dan dari sanalah dia semakin tahu kalau Orion adalah pria yang romantis, dia sering mengiriminya bunga dan coklat. Sering menghubunginya untuk tahu keadaannya dan selalu mengingatkannya untuk makan. Sampai dia mengatakan kalau dia mungkin akan jarang menghubunginya karena pekerjaannya menumpuk selama dua minggu ke depan. Lavina yang tidak ingin mengganggu hanya menyimpan kesedihan yang menimpanya itu dalam hati dan lebih memilih menunda untuk menceritakan apa yang dia alami kala itu. "Aden enggak tahu ajah kalo saya ini lebih cantik dari non Bina," kata Lavina berlagak angkuh. Tawa Dhefin semakin kencang menandakan kalau dia tidak percaya dengan pernyataan asisten rumah tangganya ini. "Huh, Aden bener-benar nyebelin," ujar Lavina merengut. Gadis itu memudarkan muka masamnya. "Ngomong-ngomong Aden ngapain di depan gerbang? Aden enggak lagi nungguin saya kan?" "Aku sedang mencari udara segar, agak suntuk di luar," ucapnya sekenanya. "Tapi tidak sengaja melihatmu yang sepertinya tengah melamun sampai tidak sadar kalau kau telah melewati rumah." Dhefin yang terpancing dengan apa yang yang di lamunkan Reni pun tertarik untuk bertanya, "Kau sepertinya sedang banyak masalah. Memang apa yang sedang kau pikirkan?" Lavina berkelakar, "Ya ngelamunin Adenlah. Saya memikirkan nasib perasaan saya yang dicabik-cabik sama penolakan Aden terus-menerus." Dia menunjuk dadanya sendiri dengan telunjuknya. "Di sini tuh rasanya sakit bener, saya rasa saya butuh dokter cinta biar saya bisa ngelupain Aden." Dhefin masih nampak geli. "Aku kenal satu dokter, tapi dia biasa ngurusin orang-orang sakit jiwa." Lavina memajukan bibirnya sebal. "Aden sungguh terlalu. Dah ah saya mau bobo cantik biar bisa secantik Bae Suzy." Dia melewati Dhefin dan Dhefin yang tidak tahu siapa gadis yang dibicarakan Reni berujar, "Siapa itu?" Katanya ketika bergerak seirama dengan Lavina. "Iih, Aden enggak gaul banget sih. Dia itu yang main drama Dreame High, Start-Up, Vagabond dan masih banyak lagi yang lain pokoknya." Dhefin hanya beroh ria. Sementara itu, seseorang yang mencengkram kemudi mobil di seberang rumah Sabrina. Terbakar cemburu. Orion tadi mengikuti Lavina dari jarak aman dan memantau mantan kekasih hatinya itu dengan amat hati-hati. Dia agak kesal karena Lavina keluar malam-malam tanpa ditemani siapapun. Meski itu hanya ke mini market depan kompleks. Tapi tetap saja dia cemas karena area kompleks itu sangat sunyi dan tidak menutup kemungkinan kalau penjahat bisa saja berkeliaran mencari mangsa. Meski saat ini Lavina menyamarkan kecantikannya, tapi dia tetap khawatir. Dan belum juga usai kekesalannya, dia malah disungguhkan oleh interaksi Lavina dengan pria cantik itu. Rasanya dia ingin menyeret pemuda itu jauh-jauh dan menyembunyikan Lavina ke suatu tempat tak berpenghuni. Dia sudah mengetahui semuanya. Tentang Erros --om Lavina, tentang kematian orang tua Lavina dan tetang pria yang ada dalam video yang membuatnya kecewa dan terluka selama bertahun-tahun dan enggan berhubungan dengan wanita manapun. Lavina merekayasa semuanya hingga dia marah dan memutuskan hubungan mereka. Dia masuk dalam skema yang di buat oleh Lavina kala itu. Dia juga mengorek keterangan dari wanita bernama Erisa, dan dia asumsikan kalau Lavina melakukan itu hanya untuk membuatnya tetap aman dan tanpa harus perlu berurusan dengan Erros yang rakus akan harta itu. Dia menyesal karena mengkroscek lebih jauh, menyesal karena dia tidak ada disaat-saat tersulit Lavina. Dia juga sangat menyesal karena saat itu dia tidak menyelidiki lebih lanjut mengenai video itu dan membiarkan amarah dan rasa sakitnya mengambil alih dirinya. Sekarang dia ingin mengambil kembali Lavina, tapi sebelumnya dia harus memberi hukuman kecil pada Lavi dan mengaduk-ngaduk emosi Riyadh karena telah berani mengancamnya. Tapi melihat kedekatan Lavi dan adik Sabrina itu, dia agak ragu apa dia harus meneruskan rencana balas dendam kecilnya ini atau segera menarik Lavi dan membawanya pergi?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bacaan yang menyenangkan
23/07
0suka banget cerita nya
05/07
0bagus
05/07
0Lihat Semua