Bab 38

Rene berdiri di balkon lantai atas, sambil menikmati angin malam. Tadi sih ditemani Dian, tapi berhubung Dian lagi asyik video call dengan si gondrong. Wanita itu mundur secara teratur kini malah hilang entah kemana. Jadi ia sendiri sambil memandang bintang.
"Sayang," ucap Tatang, berjalan mendekati Rene.
Rene lalu menoleh ke kebelakang, memandang Tatang, laki-laki itu mengenakan celana pendek, dan kaos singlet berwarna hitam. Penampilan laki-laki itu terlihat begitu segar, karena baru saja melakukan ritual mandinya.
"Iya mas," ucap Rene, lalu duduk di sisi kursi.
Tatang memandang wajah cantik itu, dan lalu duduk di samping Rene.
"Kamu lihat apa hemm," ucap Tatang karena tadi ia melihat Rene termenung menatap ke atas.
"Melihat langit dan menikmati angin malam. Ternyata malam ini begitu tenang dan penuh kedamaian," Rene tersenyum lalu menunjuk langit.
"Malam ini indah, bertabur bintang, seolah menemani dia bercerita," ucap Rene.
"Kadang malam itu lebih mengerti tentang kita, dibanding yang lainnya,"
"Owh ya," ucap Tatang.
"Seperti kita saat ini, duduk bersama menikmati malam. Lalu memikirkan, Apakah besok kita bisa sarapan bersama?,"
Alis tersenyum, mengecup kening itu sekilas,
"Tentu saja,"
"Sepertinya kita perlu mengucapkan kata cinta, disetiap penghujung malam. Agar semesta tahu bahwa kita sedang merindu"
Rene lalu meraih jemari Tatang dan mengecup pipi kiri itu.
"Kita tidak sedang membahas tentang malam kan?" Ucap Rene, setelah melepaskan kecupannya.
Ada terbesit kebahagian ketika ia merasakan bibir tipis itu mendarat di pipinya,
"Kita akan membahas tentang masa depan kita," ucap Tatang.
"Iya,"
Tatang mengelus punggung Rene, dan memandang wajah cantik itu,
"Ada yang harus mas kasih tahu kamu, sayang,"
"Apa mas,"
"Mas akan jujur kepada kamu,"
"Sepertinya cukup serius,"
"Ya, ini memang serius sayang,"
"Oke, Rene akan mendengarkannya,"
Tatang memegang ke dua tangan Rene, ia menggenggamnya dengan erat,
"Kamu tahu kenapa mas pulang secara mendadak seperti ini?" Ucap Tatang.
"Enggak," ucap Rene.
"Mas pulang karena memilih kamu,"
Rene mengerutkan dahi, ia terlalu bingung apa yang di maksud Tatang,
"Begini, mas memiliki sahabat, namanya Rahajeng. Kita berteman cukup lama dan selalu bersama. Mungkin semua orang menganggap kami pacaran. Tapi tidak seperti yang kamu lihat. Mas hanya mengaggapnya sahabat tidak lebih,"
"Sahabat ya tetaplah sahabat, memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saling bercerita tentang masalah hidup. Semua terasa menyenangkan seperti kamu dan Dian mungkin," ucap Tatang.
"Kemarin mas liburan dengannya, ke Bali. Sekaligus menemaninya merayakan hari raya galungan. Yah, itu merupakan pertama kalinya mas ikut liburan dengannya. Biasa jika cuti, lebih baik membantu mama dan papa di toko,"
"Mas juga dekat dengan keluarganya. Orang tuanya baik, termasuk terpandang menurut mas. Memiliki usaha penginapan yang tersebar di Bali dan ibu nya juga memiliki usaha butik yang terkenal di Jakarta," ucap Tatang,
"Suatu malam mas dan ayahnya Ajeng berbincang-bincang, seketika pembicaraan itu mengarah, agar mas menikahi Ajeng,
"Mas hanya diam tidak bereaksi apa-apa. Mas juga tidak membantah ucapan beliau karena mas menghargai ucapannya. Malam harinya mas nyaris tidak bisa tidur karena harapan beliau cukup besar terhadap mas, agar menikahi anak gadisnya. Mas tidak membiarkan itu terjadi. Mas tidak ingin memberi harapan kepada Ajeng. Takutnya mereka kecewa atas tindakkan mas yang tidak memilih salah satu diantaranya,"
"Mas tidak munafik, Ajeng itu cantik, baik dan Ajeng punya segalanya. Laki-laki mana yang tidak suka dia, pundi-pundi uang sudah ia dapatkan dari usaha orang tuanya, karena dia anak satu-satunya,"
"Ayah Ajeng mengatakan bahwa akan memberikan beberapa ruko untuk mas, agar membuka usaha di sana. Lokasinya strategis dan cocoklah buka usaha cafe. Iming-iming itu begitu menggiurkan, siapa yang tidak mau,"
"Mas menghargai ucapan beliau dan mengiyakan saja, yah tentunya sambil mikir. Kamu tahu sendiri orang tua mas juga punya usaha toko kain, yang memiliki banyak pelanggan. Jika beliau sakit-sakitan, siapa yang akan menggantikannya. Dian sama sekali tidak bisa diharapkan. Kamu sahabatnya pasti taulah Dian seperti apa. Tidak mungkin mas membiarkan usaha itu terbengkalai. Bukankah begitu?"
"Iya mas," Rene mencoba membenarkan.
"Tidak semua sahabat menjadi cinta, seperti novel romance yang kamu baca. Atau teman rasa pacar yang selalu diperbincangkan,"
"Mas, kemarin mengatakan maaf kepada Ajeng. Mas tidak bisa berlama-lama bersamanya. Ada seorang wanita yang harus mas temui, yaitu kamu,"
"Kamu tahu reaksinya seperti apa, dia menangis. Dia mengatakan kepada mas, bahwa dia mencintai mas. Cukup rumit memang, mengabaikan wanita yang mencintai kita,"
"Tapi mau gimana lagi, sebelum semuanya terlalu kecewa. Maka mas akhiri saja, mungkin setelah ini mas menjaga jarak, agar semuanya menjadi lebih baik,"
"Di satu sisi mas juga menjaga perasaan kamu, sayang,"
"Mas mengatakan kepadanya bahwa dia tetaplah sahabat tidak lebih. Ada wanita yang mas harapakan, yaitu kamu. Mas memilih kamu bukan dia,"
"Sebenarnya simpel saja, dia hanya sahabat dan kamu hidup mas," ucap Tatang.
"Dulu baru-baru mengenal Ajeng, mas pernah berharap lebih terhadap wanita itu. Mas mengenalkannya kepada orang tua mas. Tapi orang tua mas tidak terlalu menyukainya. Reaksi nya biasa-biasa saja. Entahlah kenapa beliau tidak menyukai Ajeng, bukankah orang tua lebih tau mana yang terbaik buat mas. Jadi mas mengurungkan niat mas itu dan membiarkan semuanya menjadi sahabat,"
"Mas tidak muluk-muluk mencari seorang wanita. Cukup keluarga mas menerima kamu dengan baik. Begitu juga keluarga kamu, menyukai mas," ucap Tatang.
"Bukankah itu terlihat begitu harmonis,"
"Di umur mas yang tidak muda lagi, inginnya langsung menikah saja. Kita bangun keluarga kita yang sederhana ini,"
"Tidak perlulah mengidam-ngidamkan harta yang berlebihan. Lagian mas bukan pengusaha kaya raya. Mas hanya seorang karyawan biasa,"
"Setidaknya penghasilan mas cukup untuk keluarga kita kelak. Di tambah dengan penghasilan toko kain. Mas sudah ada rumah dan mas juga punya penghasilan setiap bulannya. Tinggal kita menjalaninya saja," ucap Tatang.
"Mas ingin menikah, sayang," ucap Tatang.
"Mas ingin hidup berumah tangga, memiliki istri dan anak. Seperti orang pada umumnya," ucap Tatang lagi.
Tatang merogoh sesuatu dari balik saku celana. Ia meletakkan sebuah cincin permata di telapak tangan Rene.
Rene terpana memandang cincin permata itu, ia menatap iris mata Tatang.
"Mas ..."
"Sebenarnya ini cukup sederhana, mari kita bangun keluarga kecil kita,"
Rene lalu memeluk tubuh Tatang, ia tidak tahu bahwa lamaran Tatang terlihat begitu sederhana. Tapi pengertian itu begitu dalam dan menenangkan. Inilah yang ia inginkan, tanpa adanya banyak konflik di setiap permasalahan yang ada. Entahlah ia begitu terharu mendengar lamaran itu. Tidak ada kata gombal ataupun definisi lainnya. Semua hanya tentang cerita dan masa depan.
Tatang mengecup puncak kepala Rene, ia semakin mengetatkan pelukkanya. Karena ia tahu bahwa rasa egois, ambisi yang kuat, dan rasa takut akan kalah dengan yang akan berusaha yang lebih baik.
"Mas sayang kamu,"
********

Komentar Buku (135)

  • avatar
    xxxhanx

    Nice story. The reader can easily understand the plot of this story. Such a great job. Thanks for your story. :)

    09/06/2022

      0
  • avatar
    WijayaAjuan

    bagus

    18/06

      0
  • avatar
    Sukriah

    kisahnya simpel liku2 percintaan Rene diantara 2 pria Tanta/Tatang & Farhan ...👍😊

    13/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru