logo text

BAB. 71 Merindukan Suami

"Woi, kalian kok malah saling menatap, sih? Seperti orang yang sedang jatuh cinta saja!" Sindir, Peter.
"Enak saja, saya masih normal, Bos. Masih doyan banget sama donat. Nggak tahu tapi ya, kalau dokter Ridwan. Apakah sukanya jeruk makan jeruk? Atau pedang sama pedang. Who knows? Apalagi sampai sekarang dokter Ridwan masih berstatus jomlo abadi!" sergah Leon.
"Hei, Leon. Jangan songong, Lo! Kayak Lo nggak jomlo aja!" ketus dokter Ridwan.
"Aku mah masih normal, dok" balas Leon sambil senyum-senyum sendiri, mengingat seorang wanita yang menjadi gebetannya selama ini.
"Sama lah! Aku juga masih normal. Belum nemu yang cocok saja!" sahutnya.
Tiba-tiba Ridwan mengingat Stella, gadis yang dari dulu mengejar-ngejar dirinya. Namun sekarang yang terjadi malah sebaliknya.
Stella telah berhasil melepaskan perasaannya terhadap Ridwan.
Yang tersisa saat ini, Ridwan yang mencintai Stella diam-diam.
Peter melihat kedua orang itu yang sedang sibuk melamun. Entah memikirkan apa.
"Kalian kenapa, sih? Kok malah diam begini? Yang memiliki masalah itu siapa sih sebenarnya? Gue atau Lo, berdua?"
Peter menjadi sangat kesal melihat keduanya yang tadi berniat untuk membantunya. Akan tetapi sekarang malah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Bukan apa-apa, Peter semakin sakit kepala mengingat jika Riska, sang mantan kekasih. Telah resmi menjadi sekretarisnya di kantor.
Belum lagi masalah dengan istrinya selesai. Telah timbul masalah baru dengan sekretarisnya, yang merupakan mantan kekasihnya.
"Tentunya Anda yang lebih penting dari segalanya saat ini, Tuan Muda!" Tukas Leon, tiba-tiba.
Dia takut Peter semakin marah. Bisa saja sang bos akan memotong gaji dan bonus kepadanya.
"Benar kata Leon, Bro. Lo yang terpenting saat ini." Dokter Ridwan, juga ikut berbicara.
"Jika memang gue yang terpenting saat ini. Segera kasi tahu. Apa rencana kalian?" serunya tak sabar.
Keduanya saling pandang. Lalu dokter Ridwan mengangguk. Pertanda memberi kesempatan kepada Leon untuk menjelaskan semuanya.
"Begini, Bos. Anda bisa memakai Nona Riska untuk membuat Nona Farah cemburu?"
"Apa? Ide gila apa, itu?" seru Peter, tak suka.
"Aku tidak setuju dengan ide itu!" Peter ngotot tetap tidak mau melakukannya.
"Tapi, Bro. Hanya itu satu-satu cara untuk memikat Farah untuk melihat ke arah Lo!" Tutur, dokter Ridwan.
Peter terdiam dan mencoba memikirkan perkataan keduanya.
"Minggu depan adalah jadwal wawancara Nona Farah dan temannya di perusahaan. Saya akan atur semuanya. Keduanya akan diterima di perusahaan sebagai karyawan magang baru," tutur Leon lagi, mencoba menjelaskan semuanya kepada Peter.
Lalu dokter Ridwan pun menambahkan beberapa poin lainnya. Untuk mendukung rencana membuat Farah cemburu menjadi berhasil.
Kembali ke Kediaman Matthew,
Saat ini, Farah sedang sibuk membereskan dapur. Dia terlihat membuang semua makanan yang khusus dimasak olehnya untuk suaminya, di dalam tong sampah.
Sang mami yang kebetulan melewati dapur, melihat tingkah putrinya.
Namun Mami Dira memilih diam. Karena tidak tahu menahu dengan apa yang ada dipikiran anaknya, saat ini.
Setelah selesai membersihkan dapur, Farah segera beranjak dari dapur dan hendak berjalan menuju ke dalam kamarnya.
Disaat dirinya melewati ruang keluarga, tiba-tiba sang ibu berkata,
"Farah, duduklah sebentar. Mami mau ngobrol dengan mu," tutur, Mami Dira.
Tanpa bicara, Farah duduk dengan malasnya di sofa itu. Tepat di depan ibunya.
"Mami mau ngomongin, apa? Tidak lama kan? Soalnya aku sangat mengantuk, Mi." serunya kepada sang ibu.
"Mami hanya perlu waktu mu sebentar saja, kok. Setelah ini, kamu bisa tidur."
"Memangnya Mami mau bilang, apa?" tanya Farah, pura-pura menguap dan menahan kantuknya.
"Mami hanya mau bilang, kamu kenapa?"
"A-ku nggak apa-apa kok, Mi."
"Nggak apa-apa bagaimana? Dari tadi Mami perhatikan wajah mu cemberut terus, dan kamu mengerjakan sesuatu selalu sembrono. Ada apa sebenarnya?" selidik Mami Dira.
"Ti ... tidak apa-apa, Mi." tuturnya sambil menunduk.
"Tidak apa-apa bagaimana? Ini pasti ada apa-apanya. Wong biasanya kamu tidak seperti ini."
Farah menunduk semakin dalam dan mencoba untuk tidak menangis.
"Apakah karena Peter tidak pulang malam ini?" tukas Mami Dira.
"Deg!" Jantung Farah berdetak sangat kencang saat ini. Entah kenapa tiba-tiba dia kangen dengan suaminya yang sangat pemarah itu.
Lalu buru-buru Farah menjawab ibunya,
"A ... aku baik-baik saja kok, Mi. Aku permisi dulu mau ke kamar. A-ku sangat mengantuk." ujarnya, lalu setengah berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Farah, tunggu. Mami belum selesai bicara," teriak Mami Dira, kepada putrinya.
"Besok saja, Mi. Aku sangat mengantuk malam ini," tuturnya, lalu benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
Tak lupa dia juga mengunci pintu kamarnya dari dalam. Farah sengaja melakukan itu, agar sang ibu tidak menyusulnya ke dalam kamar.
Farah lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memandang ponselnya. Ternyata tidak ada chat masuk atau pun panggilan telepon dari suaminya.
Entah kenapa rasa kangen kepada suaminya merasuki jiwanya, malam ini.
Farah sudah beberapa kali menghalau bayangan Peter dari pelupuk matanya. Namun tetap tidak bisa.
"Mas Peter sedang apa sekarang? Kenapa dia tidak mengabariku sebentar saja?" sedihnya dalam hati.
Tiba-tiba Farah mengingat kejadian tadi pagi, saat dengan rakusnya Peter mulai mencicipi bibirnya.
Tak terasa Farah menyentuh bibirnya dan kembali mengingat momen menegangkan itu. Entah kenapa sejak mereka berciuman. Timbul rasa aneh di jiwanya.
"Apakah aku telah membuka hatiku kepada Mas Peter? Tapi kenapa? Kok cepat banget?" ucapnya, dalam hati.
"Rasanya kok seperti aku sedang mimpi?" Tak terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.
Jujur hatinya masih belum siap untuk membuka hatinya kepada Peter. Dia tak menyangka pesona sang suami mampu menggoyahkan dinding kokoh hatinya yang selama ini telah dia tutup rapat-rapat.
Rasa trauma karena dipermainkan oleh cinta masih membekas di hatinya. Belum selesai masalahnya dengan Reza, pria yang diam-diam dirinya cintai selama ini. Hatinya malah mulai berlabuh kepada Peter, sang beruang kutub yang sangat hobi memarahinya.
Cinta itu bagai misteri. Datang tanpa diduga menyapa hati seseorang. Tidak peduli orang itu siap atau tidak untuk menerima dahsyatnya dari cinta itu.
Karena cinta pada dasarnya adalah anugerah dari yang kuasa. Diberikan cuma-cuma bagi setiap insan yang ada di dunia ini.
Seperti halnya yang terjadi kepada Farah saat ini. Dia baru sadar jika dirinya telah jauh tenggelam di dalam kubangan cinta yang diberikan oleh suaminya.
Namun karena diawal dirinya mengenal cinta. Farah telah mengalami sakitnya dari mencintai seseorang. Merasakan cinta dan kasih sayang dari suaminya, tidak membuatnya bahagia sama sekali.
Akan tetapi, Farah seakan tak berdaya menghadapi besarnya rasa cinta yang mulai Peter tunjukkan kepadanya.
Karena capek menangis, Farah pun tertidur pulas di malam yang dingin dan sunyi senyap itu.

Komentar Buku (113)

  • avatar
    VirgoMrs.

    bgs sekali

    28/06

      0
  • avatar
    Farah Sagita

    bgs bgt

    27/05

      0
  • avatar
    ItawanRenaa

    Good

    12/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru