Selepas sholat magrib, aku bersiap sambil menunggu Mas Rayyan yang sedang sholat berjamaah di masjid. Aku mengenakan gamis berwarna biru muda, tak lupa jilbab dengan warna senada. Setelah itu aku pun menyiapkan baju untuk Mas Rayyan, kurta dengan warna yang sama dengan gamis yang aku kenakan, dan tak lupa pula celana kain panjang berwarna hitam. Aku melihat tumpukan baju untuk Mas Rayyan tersenyum sendiri, suatu hari nanti akan ada satu tumpuk lagi baju berwarna sama dengan ukuran mini. "Kenapa istri Mas ini senyum-senyum sendiri sambil ngeliatin baju itu?" Mas Rayyan bertanya sambil memeluk pinggangku dari belakang. Tubuhku otomatis menegang karena begitu terkejut dengan kehadiran Mas Rayyan. "Kaget hmm?" tanyanya lagi. "Ya kaget lah Mas, Mas Rayyan tiba-tiba udah di belakang Adek, gak salam pula tuh," sahutku lalu membalik badan menghadapnya dan memeluk pinggangnya erat. "Mas sudah salam, tiga kali malahan, Adek yang senyum-senyum sendiri, mikirin apa sayang?" jawab Mas Rayyan. Kulepas pelukannya dan menggelengkan kepalaku. "Tak berpikir apapun, hanya lucu saja suatu hari nanti akan ada tumpukan baju dengan ukuran paling mini yang Adek siapkan, bukan hanya baju Mas saja," jawabku jujur, "bersiap Mas, Adek tunggu di bawah," lanjutku. "Ya, akan ada yang merebut perhatianmu dari Mas nantinya," jawab Mas Rayyan lalu mencium keningku. Setelah Mas Rayyan mengambil baju yang aku siapkan dan hendak mengganti baju, aku memutuskan keluar dari kamar, aku masih malu melihat suamiku sendiri membuka baju didepanku. Melihat pahatan yang ada di perutnya membuatku merona dan ingin terus mengelusnya. Tak menunggu lama Mas Rayyan sudah menyusul ku dibawah. Aku yang sedang duduk di sofa ruang tamu gegas berlari menghampirinya. "Mas, Adek kangen," kataku sambil memeluknya, entahlah aku seperti selalu ingin berada diperlukan suamiku ini. "Kangen? Kita bertemu setiap hari sayang, atau kamu kangen junior Mas yang gagah perkasa?" tanya Mas Rayyan dengan tatapan mata mesumnya. "Mesum, ayo berangkat, Mama sudah nunggu," ucapku lalu berjalan terlebih dahulu menuju mobil. "Sayang, pakai mobil ini saja," kata Mas Rayyan sambil menunjuk satu mobil tipe sedan berwarna putih. Aku pun menuju mobil yang dimaksud Mas Rayyan. "Kenapa gak pakai yang hitam saja?" tanyaku penasaran, karena memang jarang mobil putih ini keluar dari kandang. "Sekali-kali pakai ini, biar dia ga jenuh di kandang terus," jawabnya santai. Sepanjang perjalanan Mas Rayyan selalu menggenggam tanganku dengan lembut. Sesekali Mas Rayyan pun mencium punggung tanganku. Tidak banyak obrolan yang kami bicarakan sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah Mama, ternyata sudah ada dua mobil lain yang terparkir rapi. Mobil milik Johan dan Danu. Ternyata mereka sampai terlebih dahulu. Mas Rayyan memarkir mobilnya di antara kedua mobil itu, kemudian kami berdua berjalan beriringan dengan berpegangan tangan. "Mau nyebrang sungai bro?" tanya Danu dengan tawa yang ditahannya. Mas Rayyan hanya mendengus mendengar gurauan itu. Mas Rayyan menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu. Aku langsung menuju ruang makan, yang ternyata sudah ramai. "Akhirnya lengkap juga menantu Mama," Mama menyambutku dan menarik kursi untuk ku duduk. "Bagaimana kabarmu? Sudah merasa terkekang?" Ranu yang duduk di seberang ku bertanya dengan menaikkan kedua alisnya. "Kenapa kami gak cerita ke aku Nu?" tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaannya. "Sudah lewat Dhira, dan sekarang semua fokus menuju dirimu, Maya dan aku sudah melewati masa-masa sulit menghadapi wanita gila itu," jawab Ranu. "Sudah, jangan dibahas dulu, tunggu para suami berkumpul dan kita akan bahas sama-sama, seperti dulu," ujar Mama. Kejadian seperti ini memang bukan yang pertama kalinya. Sekarang adalah yang ketiga kalinya. "Tapi Maya rasa, kali ini kita harus ekstra Ma, Maya merasa kenekatan wanita gila itu lebih menggila lagi, stok pria lajang dengan harta melimpah sudah habis, dan Rayyan adalah yang termuda, ya walaupun beberapa perusahaan sedang mempersiapkan pemimpin baru, tapi sepertinya kandidatnya masih dibawah usia siap menikah. Rata-rata baru saja lulus pendidikan, ibarat kata anak magang lah," papar Maya. "Ya, Maya benar kali ini kita harus meningkatkan kewaspadaan kita, Rinjani dan keluarganya benar-benar menargetkan Rayyan untuk menjadi menantunya, karena memang Rayyan memiliki potensi untuk menaikan harga saham perusahan mereka itu," ucap Papa yang memasuki ruang makan diikuti Rayyan, Johan dan Danu. "Jadi wanita itu benar-benar mencari pria kaya? Bukankah diluar kota sana banyak pria kaya? Kenapa harus dari pria-pria kita ini Pa? Mama benar-benar gak mau punya mantu kayak wanita itu, menantu Mama sekarang adalah yang paling sempurna," kata Mama. "Kita juga gak mau punya istri macam dia," jawab Mas Rayyan yang disetujui oleh Johan dan Danu. "Sudah makan dulu, menantu-menantu cantik kita membutuhkan banyak asupan nutrisi untuk mengimbangi anak-anak kita itu," ujar Papa yang kemudian memimpin do'a untuk makan malam kali ini. Kita semua makan dengan hening, tak ada bahasan apapun. Setelah makan malam, Papa mengajak semua anak dan menantunya berkumpul di ruang kerjanya, ruang yang aman untuk membahas apapun, karena ruangan itu kedap suara dan tidak ada yang memiliki akses memasukinya kecuali Papa dan Mama. Tanpa banyak basa basi pembahasan tentang Rinjani dimulai dengan cerita pengalaman Maya yang pertama kali mendapat gangguan dari Rinjani. Maya hanya mendapat teror kiriman-kiriman surat dengan tulisan berwarna merah darah berisi kalimat ancaman. Ranu diteror selain dengan surat juga dengan berbagai bangkai binatang yang sengaja dibunuh dan masih meneteskan darah segar. Semua berhenti ketika Mas Rayyan muncul menggantikan Papa memimpin rapat pertama kalinya dengan perusahaan milik keluarga Rinjani. Mulai dari waktu itu, semua teror berhenti seketika, dan Rinjani berganti mengejar Mas Rayyan terus menerus. Dari cerita Maya dan Ranu, sepertinya memang lebih mengkhawatirkan keadaan sekarang. Obsesi yang sudah menumpuk, dan kegagalan memiliki pria matang yang kaya, bisa membuat Rinjani begitu nekat dalam bertindak. "Rayyan, bersiaplah Nak, jika terbukti Rinjani melukai menantu Papa, maka kita akan memutuskan semua kerja sama dengan keluarga mereka," kata Papa. "Tapi Pa, apa itu adil? Ini masalah pribadi kenapa harus ke ranah bisnis?" ucapan Mas Rayyan yang membuatku sedikit sakit hati. Apakah bisnis lebih penting dari aku? "Oh, jadi aku tak lebih penting dari bisnismu itu Mas? Baiklah kalau begitu kita putuskan saja sekarang, tak perlu risau dengan adanya wanita itu, tak usah menempatkan bodyguard untukku, Dhira tak begitu penting untuk dilindungi, Maya dan Ranu terimakasih untuk sharing ceritanya, Dhira pamit pulang Pa, Ma, assalamualaikum," kataku lalu beranjak pergi dari forum itu. "Dek, sayang …," terdengar teriakan Mas Rayyan dari belakang, namun aku tak memperdulikannya, aku segera keluar dan secara kebetulan ada ojek online yang sedang menyerahkan pesanan makanan ke tetangga sebelah rumah Papa. Aku langsung memintanya mengantarku ke apartemenku, aku tak ingin pulang ke rumah, apalagi ke rumah Bunda. Dengan menyerahkan beberapa lembar uang bergambar Bapak Proklamator tentu saja Abang ojol itu langsung mengiyakan keinginanku. "Sayang, tunggu jangan pulang sendiri, ayo sama Mas Dek," kata Mas Rayyan bertepatan saat aku menaiki sepeda motor itu. "Jalan Bang, langsung ngebut aja," ucapku pada Abang ojol itu. Aku tak menghiraukan panggilan suamiku. Entahlah aku merasa sakit hati, suamiku tak mau membatalkan kontrak kerja samanya demi aku. Tidak seperti Johan suami Ranu, atau Danu suami Maya yang dengan tegas langsung memberikan ultimatum kepada keluarga Rinjani dan membatalkan semua kontrak kerja sama, yang saat ini membuat perusahaan keluarga milik Rinjani tidak stabil. Dan dari perkataan Danu siang itu, keluarga Rinjani akan bangkrut seketika saat kerjasama dengan perusahaan milik kami batal. Walaupun aku mempunyai saham di sana, namun aku tak bisa memutuskan itu sendiri. Keyakinan ku pada suamiku mulai goyah dan terkikis, mungkin saja memang hanya aku yang mencintainya, namun tidak dengan dia. "Sudah sampai Mbak, dan mobil yang sedari tadi mengikuti kita sudah kehilangan jejak," kata Abang ojol itu. "Makasih ya Bang," ucapku lalu masuk kedalam gedung apartemen. Sebelum itu, aku meninggalkan pesan kepada pihak keamanan di sana untuk tidak memberitahukan kepada siapapun kalau aku berada di unit apartemenku. Aku berjalan melenggang ke dalam lift, di dalam lift aku buka ponselku dan kudapati puluhan panggilan tak terjawab dari Mas Rayyan, ada pula chat dari Maya, Ranu, Johan dan Danu. Tak lupa pula beberapa panggilan tak terjawab dari Mama dan Papa. Namun yang paling banyak adalah panggilan tak terjawab dari Mas Rayyan. Ku matikan ponselku, aku tak mau ada yang melacak keberadaan ku dari nomer yang aku gunakan. Saat memasukan ponselku kedalam tas kembali, tak sengaja aku melihat kotak kado yang sudah aku siapkan sebelumnya. Aku ambil kotak itu, dan membuangnya di tempat sampah saat aku keluar dari lift. Memasuki apartemen yang lama tak aku tempati. Masih tetap bersih, karena ada yang membersihkan setiap dua hari sekali. Pekerja yang dulu aku pekerjakan khusus membersihkan apartemen ini masih dipekerjakan sampai sekarang. Ku menuju kamar, kubaringkan tubuhku lalu ku usap lembut perutku. Perut yang masih rata belum terlihat tonjolan di sana yang menunjukan aku sedang hamil. Setelah berbaring cukup lama, aku putuskan untuk membersihkan diri dan mengganti baju dengan baju tidur yang masih tersimpan di apartemen ini. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku mengunci ganda pintu apartemenku. Setelahnya aku bergegas tidur, mengistirahatkan tubuh lelahku, bukan hanya tubuh namun juga pikiranku yang terasa begitu lelah. Ku kosongkan pikiranku dan bersiap menjemput mimpi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
28/02
0mantappppp
24/07/2025
0bagussss
24/07/2025
0Lihat Semua