Bab 4 Tsubaki 2

Keesokan paginya, Raf terbangun dengan sinar matahari yang perlahan menembus celah-celah jendela kamar. Udara pagi yang segar menyambutnya, dan suara burung yang berkicau membuat suasana desa semakin damai. Raf menguap sejenak, merasa segar setelah tidur semalam yang cukup nyenyak meski di tempat yang sederhana.
Saat ia keluar dari kamar, ia disambut oleh aroma sarapan hangat yang tercium dari dapur. Pria tua itu, yang tadi malam menyambutnya dengan ramah, kini sedang duduk di meja makan sambil menyiapkan beberapa piring berisi nasi hangat, sup sayuran, dan beberapa potong ikan panggang yang menggoda selera.
“Selamat pagi, nak. Sarapan sudah siap,” ucap pria tua itu dengan senyum hangat. “Apakah tidurmu nyenyak.”
Raf membalas senyuman itu dan mengangguk. “Selamat pagi, terima kasih banyak atas kebaikan Anda,” jawab Raf sambil duduk di meja makan.
Mereka berbincang ringan selama sarapan. Pria tua itu bertanya tentang perjalanan Raf, mengapa ia datang ke Desa Tsubaki yang terpencil ini, dan apa yang membawanya ke desa ini. Raf menjelaskan bahwa ia sedang mencari pekerjaan sementara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski sedikit bingung, pria tua itu mendengarkan dengan seksama.
Setelah mereka selesai sarapan, Raf menyadari bahwa saatnya untuk pergi. Ia berdiri dan meraih tasnya, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pria tua itu atas kebaikannya semalam. "Saya benar-benar berterima kasih atas bantuan Anda, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa tempat tidur semalam," kata Raf, mengulurkan tangannya.
Pria tua itu mengangguk, tetapi ada sedikit kebingungan di wajahnya. “Tidak perlu terima kasih, nak. Tapi ada sesuatu yang saya tidak mengerti,” ujarnya sambil menatap Raf dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Ada apa?” tanya Raf dengan bingung.
“Kenapa seseorang yang mencari pekerjaan memberi begitu banyak uang kepada orang lain?” Pria tua itu bertanya dengan heran, sambil menatap tumpukan uang yang Raf tinggalkan di atas meja. “Banyak orang akan merasa berkewajiban untuk memberi imbalan jika ada orang yang menolong mereka, tapi kamu... kamu malah memberikan uang sebanyak ini. Kenapa?”
Raf tersenyum tipis, matanya sejenak melirik ke luar jendela, menatap pemandangan desa yang tenang. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Dalam hatinya, ia merasa bahwa orang tua ini layak mendapatkan lebih dari sekadar terima kasih. Kebaikannya memberi tempat bagi orang asing yang membutuhkan tanpa bertanya banyak, dan bagi Raf, itu adalah sesuatu yang tak ternilai.
“Kadang, memberi bukan berarti kita harus menerima sesuatu. Kadang, kita hanya ingin menunjukkan bahwa dunia ini masih penuh dengan kebaikan,” jawab Raf dengan suara pelan namun tulus.
Pria tua itu terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Raf. Kemudian, ia tersenyum. "Kamu memang orang baik, nak. Semoga perjalananmu lancar."
Raf hanya mengangguk, mengucapkan selamat tinggal dan pergi dengan langkah mantap. Ketika dia berjalan meninggalkan rumah itu, pria tua itu masih berdiri di ambang pintu, memandang kepergian Raf yang perlahan semakin jauh.
Di sepanjang perjalanan menuju tempat wawancara, Raf merasa lega. Walaupun tak tahu bagaimana hasil wawancaranya nanti, satu hal yang pasti—perjalanan ini telah memberinya lebih banyak pelajaran tentang kehidupan dan kebaikan orang-orang yang tak ia duga.
Setibanya di tempat wawancara, Raf merasa gugup meskipun ia sudah menyiapkan dirinya dengan baik. Di depan gedung yang terletak di tengah desa, dia melihat beberapa karyawan yang sibuk dengan pekerjaannya. Seperti yang diharapkan, suasana di sini jauh berbeda dengan kota yang penuh hiruk-pikuk, lebih tenang dan teratur.
Raf melangkah masuk ke dalam gedung yang tampaknya lebih besar dari yang ia bayangkan. Lobi yang terang, dengan dinding kayu alami dan lantai yang dipoles bersih, memberikan kesan elegan dan sederhana. Ia diarahkan ke ruang tunggu untuk wawancara oleh seorang pegawai yang ramah. Tak lama kemudian, pintu ruang wawancara terbuka, dan seorang wanita keluar dengan langkah pasti.
Wanita itu tampak sangat profesional, mengenakan blazer hitam yang pas dan rok panjang dengan rambut disanggul rapi. Matanya tajam dan penuh rasa percaya diri, serta senyum yang terlihat hangat namun tidak mudah ditebak. Raf bisa merasakan bahwa dia bukan sembarang orang. Ketika wanita itu melihat Raf, ada kilatan rasa penasaran yang cepat terlintas di matanya.
"Apakah Anda yang datang untuk wawancara?" tanya wanita itu dengan suara lembut namun tegas, meskipun wajahnya tetap tenang.
Raf mengangguk, merasa sedikit terkejut dengan aura elegan yang dimiliki wanita ini. "Iya, saya Raf. Saya datang untuk wawancara posisi perawatan dan pemanenan semangka di desa ini."
Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk. "Ayo, ikut saya. Kami akan segera mulai. perkenalkan nama saya Miyuki" senang bertemu anda. 
Raf duduk di depan meja wawancara, merasa sedikit gugup meskipun ia sudah mempersiapkan diri dengan baik. Tangan kanannya sedikit gemetar saat ia menyentuh gelas air di meja, mencoba menenangkan dirinya. Di depan meja itu, Miyuki duduk dengan sikap yang sangat profesional. Wanita itu mengenakan blazer hitam dan rok pensil yang elegan, rambutnya diikat rapi, dan wajahnya tidak menunjukkan emosi berlebihan—hanya ekspresi yang tenang dan penuh wibawa.
"Mari kita mulai," ujar Miyuki dengan suara lembut namun tegas, mengangguk ringan.
Raf mengangguk dan duduk tegak, mencoba terlihat percaya diri. Ia tahu ini adalah kesempatan yang sangat penting baginya, meskipun alasan dia melamar pekerjaan ini tidak lain adalah untuk melarikan diri sementara dari kehidupannya yang penuh tekanan.
Miyuki membuka sebuah folder yang berisi beberapa dokumen. "Jadi, Raf," katanya sambil melihat ke arahnya dengan mata tajam, "apa yang membuat Anda tertarik untuk melamar pekerjaan ini? Mengingat latar belakang Anda yang mungkin lebih cocok untuk pekerjaan di kota besar."
Raf memulai penjelasannya, mengedarkan pandangannya sejenak sebelum menjawab. "Saya merasa sudah saatnya untuk mencoba hal yang berbeda. Di kota, saya terjebak dalam rutinitas yang tidak memberi ruang untuk kehidupan yang lebih sederhana. Saya ingin mencoba pekerjaan yang lebih dekat dengan alam dan masyarakat. Pekerjaan ini, di desa, memberi saya kesempatan untuk belajar dan berkontribusi."
Miyuki mendengarkan dengan seksama. Ada sesuatu yang berbeda tentang Raf. Ketulusannya menarik perhatian Miyuki, meskipun dia berusaha untuk tetap objektif dalam wawancara ini. Raf bukanlah tipe orang yang mencari pengakuan, dan itu sangat berbeda dari banyak orang yang pernah diwawancarai Miyuki sebelumnya.
"Menarik," jawab Miyuki setelah beberapa detik, menutup foldernya dan menatap Raf. "Namun, pekerjaan ini tidak hanya tentang kemampuan fisik, tetapi juga tentang ketahanan mental. Kami bekerja dengan alam yang tak selalu bisa diprediksi. Mengapa Anda merasa pekerjaan ini cocok untuk Anda?"
Raf berpikir sejenak. "Saya tidak takut dengan tantangan. Selama ini saya selalu belajar untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang tidak mudah, meskipun saya belum pernah bekerja di desa. Saya yakin bisa belajar cepat."
Miyuki mengamati Raf dengan lebih teliti. Ia terkesan dengan cara Raf menjelaskan motivasinya. Ada rasa percaya diri yang tenang, namun tidak angkuh. Sebagai seorang manajer yang sudah berpengalaman, Miyuki bisa melihat bahwa Raf memiliki kualitas yang jarang ditemukan pada orang-orang yang datang melamar.
Setelah beberapa pertanyaan lebih lanjut tentang pengalaman kerja Raf, Miyuki akhirnya memberikan senyuman tipis. "Baiklah, Raf. Berdasarkan wawancara kita, saya rasa Anda cocok untuk pekerjaan ini. Kami ingin Anda mulai bekerja hari ini juga, jika Anda siap."
Raf merasa terkejut, tetapi juga lega. "Terima kasih banyak, Miyuki-san," jawabnya dengan tulus, meskipun di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan yang ditawarkan.
Miyuki berdiri dan memberikan tangan untuk berjabat tangan. "Selamat datang di tim kami, Raf. Semoga ini bisa menjadi pengalaman yang baik bagi Anda."
Miyuki tidak bisa menahan senyum kecil yang tiba-tiba muncul di wajahnya. Meskipun dia berusaha untuk tidak membiarkan perasaannya mempengaruhi keputusan profesionalnya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda tentang Raf—sesuatu yang membuatnya ingin mengenalnya lebih jauh.
Raf pun menerima tangan Miyuki dengan senyum tipis, tidak menyadari bahwa pertemuan ini akan menjadi titik balik dalam hidupnya. Namun, yang lebih tak terduga adalah bahwa Miyuki, meskipun berusaha untuk menjaga jarak profesional, perlahan mulai merasakan ketertarikan yang tidak bisa ia jelaskan.
Hari pertama bekerja Raf dimulai dengan suasana yang cerah di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Setelah pertemuan dengan Miyuki, ia langsung diarahkan menuju area kebun semangka tempat ia akan bekerja. Langkah pertama adalah mengenal lingkungan sekitar dan memahami tugas yang akan dijalani.
Pagi itu, setelah sarapan yang sederhana namun enak, Miyuki menemuinya di lobi kantor kecil yang terletak tak jauh dari kebun semangka. Wanita itu memakai pakaian kerja yang praktis, berbeda dengan penampilannya yang elegan saat wawancara. Raf menatapnya sejenak sebelum ia berbicara.
"Raf, hari ini kita akan memulai dengan hal-hal dasar," kata Miyuki sambil memberikan beberapa peralatan seperti sarung tangan, topi, dan sepatu bot karet yang harus ia kenakan selama bekerja. "Ini adalah kebun semangka utama kami. Anda akan bekerja di sini setiap hari, jadi pastikan Anda nyaman dan siap."
Raf mengangguk, mengambil peralatan yang diberikan dan mengenakannya dengan sigap. Dia merasa sedikit canggung, tetapi juga tidak sabar untuk memulai. Kebun semangka itu sangat luas, dengan barisan tanaman yang tertata rapi dan buah semangka yang sudah matang menggantung di batangnya, menunggu untuk dipanen.
Miyuki melanjutkan, "Pekerjaan pertama Anda adalah memanen semangka yang sudah siap. Anda akan bekerja sama dengan beberapa pekerja lokal lainnya untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Jika Anda merasa kelelahan, beri tahu saya, karena pekerjaan ini cukup fisik."
Raf melihat sekeliling, melihat para pekerja yang tampak lebih berpengalaman. Beberapa dari mereka menyapa dengan senyuman ringan, walaupun mereka tampak sibuk dengan pekerjaan mereka. Ia merasa sedikit canggung, tetapi ia tahu ini adalah kesempatan besar untuk memulai kehidupan baru yang lebih sederhana.
Miyuki menuntun Raf ke area yang lebih dalam di kebun semangka. "Kami bekerja dengan cara yang efisien di sini. Untuk memanen semangka, Anda harus hati-hati memotong batangnya tanpa merusak buahnya. Ini adalah semangka premium, jadi kualitas sangat penting. Setelah itu, Anda akan membawa semangka ini ke gudang untuk disortir."
Raf mengangguk sambil mencoba mempraktikkan instruksi yang diberikan. Walaupun awalnya agak kaku, ia mulai terbiasa dengan pergerakan dan cara yang lebih tepat dalam menangani semangka.
Miyuki mengawasi dari kejauhan, sesekali memberikan saran atau petunjuk ringan. Ia merasa senang melihat Raf dengan cepat menyesuaikan diri, meskipun jelas bahwa pekerjaan ini sangat berat dan berbeda dari kehidupan yang biasa dijalaninya.
Setelah beberapa jam bekerja, Miyuki membawa Raf ke area istirahat di salah satu bangunan kecil yang terletak di sisi kebun. Di sana, ada meja makan sederhana dengan minuman teh dan camilan lokal yang bisa dinikmati oleh semua pekerja.
"Ini adalah tempat istirahat kami," kata Miyuki sambil menyodorkan segelas teh hijau kepada Raf. "Pekerja lokal biasanya beristirahat di sini setelah beberapa jam bekerja. Jika Anda ingin, Anda bisa bertanya lebih lanjut tentang pekerjaan atau kehidupan di desa ini. Mereka semua sangat ramah."
Raf duduk dan menyeruput teh dengan perlahan, merasa kelelahan mulai merayap, tetapi juga merasakan kepuasan tersendiri. "Terima kasih, Miyuki-san. Ini adalah pengalaman baru bagi saya."
Miyuki tersenyum tipis, duduk di sebelahnya. "Saya senang Anda merasa nyaman. Desa ini mungkin berbeda, tetapi kami selalu berusaha menjaga tradisi dan menghargai alam."
Setelah beberapa jam istirahat, Raf kembali bekerja dengan lebih semangat. Walaupun tubuhnya mulai lelah, ada sesuatu dalam dirinya yang merasa puas. Di tengah kehidupan yang penuh dengan tuntutan dan tekanan di kota besar, pekerjaan ini memberi ketenangan yang sangat dibutuhkannya.
Saat matahari mulai terbenam, Miyuki menghampiri Raf yang sedang membawa semangka ke gudang. "Hari pertama Anda sudah cukup baik, Raf. Anda bekerja dengan baik. Untuk tempat tinggal, Anda akan tinggal di rumah kecil yang terletak tidak jauh dari sini. Kami menyediakan tempat tinggal bagi pekerja yang datang dari luar desa."
Miyuki memberi petunjuk arah ke rumah kecil tersebut. "Rumah itu sederhana, tetapi nyaman. Anda bisa bersantai setelah hari kerja dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya. Jika Anda butuh apa-apa, jangan ragu untuk memberi tahu saya."
Raf mengucapkan terima kasih dan mengangguk. "Saya sangat menghargai ini, Miyuki-san. Ini adalah pengalaman yang sangat berbeda, tetapi saya merasa belajar banyak."
Setelah selesai bekerja, Raf berjalan menuju rumah kecil yang sudah disiapkan untuknya. Ketika ia masuk, ia terkejut melihat ruangannya yang kecil namun nyaman. Ada tempat tidur sederhana, meja kerja kecil, dan dapur mini yang sudah dilengkapi dengan peralatan dasar.
Meskipun sangat lelah, Raf merasa ada kedamaian di sini yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Hari pertama yang penuh kerja keras berakhir dengan perasaan bahwa ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada yang ia cari—sebuah awal yang baru dalam hidupnya, meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    Nurr Hsnh

    bagusss

    12/06

      0
  • avatar
    Dongol Dong

    jadi suka membaca

    18/05/2025

      0
  • avatar
    hasanahshoibatul

    bguss saya sukaa

    04/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru