logo text

Bab 57 Fakta dan Rahasia

Karena merasa bingung harus memasak apa, lebih tepatnya aku agak malas jika harus memasak hal yang ribet di tengah malam seperti ini dan aku sangat berharap Mas Enggar mau mengerti dan tidak akan meminta aku untuk memasak makanan yang berat. Aku memutuskan ingin bertanya padanya saja.
"Mas ... kamu mau makan mie instan?" tanyaku, dalam hati aku berharap dia mau mengiyakan saja. Karena jujur saja tengah malam seperti ini jiwa rajinku sedang bersembunyi karena memang aku merasa ingin tidur namun juga secara bersamaan aku merasa lapar.
Mas Enggar menatapku sejenak, kemudian dia berkata, "Iya masakin apa aja, yang penting bisa ngeganjal perutku."
Lalu dia turun dari kursi yang berada tepat di depan bar itu dan dia menghampiriku. Dia berdiri di sampingku yang saat ini aku sedang berada di depan wastafel untuk mencuci beberapa piring yang tersisa masih kotor. Tak kusangka dia mau membantuku untuk mengangkat beberapa piring yang sudah selesai kucuci itu ke lemari piring yang berada di atas wastafel ini. Aku melempar senyuman padanya yang tentunya tidak mendapatkan sambutan yang sama.
Aku tidak peduli, yang penting bagiku dia saat ini sudah berada di rumah dan tengah membantuku mengatur beberapa piring ini, yang penting bagiku dia tidak sedang berada di tempat lain. Apalagi berada di tempat wanita lain.
Hidungku terasa gatal sekali, hingga aku tanpa sadar bersin di depannya. Tetapi untungnya aku tetap bisa mengkondisikan diri meskipun itu dalam keadaan bersin. Sudah terhitung lima kali aku bersin-bersin, bahkan sampai setelah aku selesai mencuci piring. Ini mungkin efek karena terlalu lama hujan-hujanan dan aku juga lama memakai baju yang basah tadi. Mas Enggar menatapku dengan sinis.
"Makanya jangan main hujan malam-malam, jadinya 'kan bersin-bersin. Nularin virus aja sih," ujarnya dengan nada yang ketus padaku. Saat ini dia tengah menyiapkan panci untuk diisi air dari kran yang berada di wastafel. Sementara aku sedang sibuk mengambil mie yang berada di lemari yang tertempel di dinding—tepat berada di atas wastafel.
"Maaf, lagian aku engga sengaja hujan-hujanan," ucapku sembari mengerucutkan bibirku karena sedikit merasa kesal dengan ucapannya tadi. Aku memang sengaja berbohong padanya, karena aku merasa tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku hujan-hujanan karena merasa patah hati dan ingin menangis di bawah hujan. Sangat tidak mungkin untuk kulakukan berkata jujur padanya saat ini.
"Engga sengaja gimana? Kan kamu aku tinggalin di depan halte, kenapa pas aku pulang malah kamu basah-basahan?" tanyanya dengan nada suara yang marah padaku. Aku sangat berharap di balik kemarahannya itu sebenarnya dia sedang merasa khawatir padaku. Tapi mungkin itu hanyalah harapan yang tidak pernah terjadi. Mas Enggar mungkin benar-benar marah karena aku hujan-hujanan karena dia tidak mau kalau nanti aku sakit, nanti dia juga yang repot mengurusiku.
"Ya, maaf, Mas. Lain kali aku engga akan mengulanginya," ujarku sembari mengeluarkan bersin lagi.
"Kalau kamu sampai sakit, aku engga mau ya repot ngurusin kamu," ujarnya dengan nada yang dingin.
Dugaanku benar bukan? Dia hanya tidak mau sampai aku sakit lalau dia yang repot mengurusku akhirnya. Aku hanya mengangguk dan menatapnya sejenak sebelum menuangkan bumbu-bumbu itu ke dalam baskom kecil yang sudah aku siapkan.
"Iya, Mas, aku engga akan merepotkan kamu, kok," jawabku sambil mengguntingkan bumbu-bumbu, lalu menuangkannya ke dalam baskom.
"Maaf ...," ucap Mas Enggar tiba-tiba.
Aku terpaku mendengar ucapannya, dalam benakku merasa bingung dengan sikapnya yang seperti ini. Aku benar-benar tak mengerti dengan dirinya.
"Buat apa, Mas?" tanyaku dengan kedua alis yang mengkerut sambil menatapnya yang masih sibuk menatap panci yang terisi air itu.
"Karena ... udahlah kamu cepetan guntingin rica di baskom punyaku," katanya yang malah mengalihkan pembicaraan. Padahal sedikit lagi dia akan mengatakan untuk apa dia minta maaf. Tapi karena aku terlalu merasa pusing dengan hidungku yang terasa gatal, jadi aku tidak terlalu ingin memperpanjang obrolan tentang hal itu.
"Untuk siapa kamu bertahan dalam rumah tangga kita ini?" Suaranya tiba-tiba tiba terdengar lagi setelah beberapa detik hening. Dia kali ini bertanya lagi untuk sesuatu hal yang tidak pernah ia tanyakan selama ini.
Aku terdiam cukup lama, memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan padanya.Tentu saja jawaban itu gampang sekali bagiku, namun aku masih merasa ragu untuk menjawabnya dengan jujur. Bahwa aku bertahan untuknya, aku bertahan karena cintaku padanya. Tapi lagipula untuk apa aku harus menyembunyikan cintaku lagi? Ini sudah saatnya aku menunjukan cinta yang selama ini aku sembunyikan darinya. Toh lagipula dia juga sudah tahu bahwa aku mencintainya. Harusnya dia juga tidak perlu menanyakan hal itu, jika dia saja sudah mengetahui tentang perasaanku padanya.
"Aku rasa kamu tahu jawabannya, Mas. Jadi untuk apa aku harus menjawabnya?" tanyaku padanya dengan nada suara yang tenang. Padahal dalam hatiku perasaanku sudah sangat berdebar. Sampai aku tak berani menatapnya saat melontarkan pertanyaan itu dan lebih sibuk menatap sayur, tomat, dan rica yang sedang kupotong-potong jadi kecil.
Dia berdecak, kemudian aku bisa melihat dari ujung mataku bahwa dia sedang menatapku. Tapi aku tak tahu dia menatapku dengan tatapan seperti apa.
"Justru itu, aku merasa tak yakin dengan apa yang kutahu. Jadi aku perlu jawaban dari kamu. Untuk apa kamu bertahan denganku selama ini? Padahal sudah jelas-jelas aku menolak kehadiran kamu," balasnya dengan penjelasan yang cukup menohok hatiku pada akhir kalimatnya.
Karena tak tahan dengan semua yang dia katakan, aku menatap matanya dengan berani. "Aku bertahan karena kamu, Mas. Memangnya kamu pikir untuk siapa aku bertahan kalau bukan untuk kamu? Sekalipun kamu menolak kehadiranku, aku tetap yakin suatu saat hatimu akan tersentuh dengan rasa cinta yang aku punya," kataku sembari melepaskan tatapan padanya dan kemudian lanjut mengerjakan hal yang belum selesai kukerjakan.
Dia terdiam saat setelah mendengar jawabanku, yang dia lakukan saat ini hanyalah menuangkan mie yang sudah terbuka dari bungkusnya itu ke dalam panci yang airnya sudah mendidih. Sementara aku sudah selesai menyiapkan bumbu dan beberapa pelengkap untuk dimakan bersama mie instan itu.
"Tapi bagaimana jika ternyata keyakinan kamu salah?" tanyanya sambil menatap tepat ke dalam manik mataku. Aku menatapnya dengan tatapan yang bingung, karena tak mengerti dengan maksudnya itu. Otakku mencoba menemukan maksud dari perkataannya itu. Lama terdiam beberapa saat, kemudian aku bisa menemukan satu kesimpulan dari pertanyaannya itu. Maksudnya bagaimana jika ternyata keyakinanku tentang dirinya yang bisa tersentuh dengan cintaku, ternyata tidak akan pernah terjadi.
"Bagaimana jika ternyata aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu?" tanyanya lagi, masih dengan menatapku.
"Apa maksud kamu, Mas?" tanyaku bingung, dia tersenyum kecut dan membuang muka ke arah lain.
"Aku punya banyak rahasia. Dan, yang bisa aku kasih tahu sama kamu adalah, aku ini berbeda. Ya, aku ... beda, Nar."
Kedua alisku semakin mengkerut, merasa bingung dengan apa yang dia katakan. Sungguh perkataannya memang terdengar aneh, dan aku tidak bisa menemukan satu kesimpulan yang bisa membantuku menemukan maksudnya.
"Berbeda? Maksudnya?" tanyaku lagi, kali ini dengan menghadapkan tubuhku sepenuhnya ke arahnya.
"Belum saatnya kamu tahu. Dan, kalau kamu tahu, aku yakin. Kamu akan meninggalkanku, sama seperti Kanaya," ujarnya dengan nada sedih yang kentara dari nada bicaranya itu.
Sementara otakku semakin berkeliaran memikirkan tentang maksudnya yang menyebut dirinya berbeda. Dan satu fakta yang membuatku merasa sangat tak percaya, Kanaya meninggalkannya? Sungguh itu benar-benar membuatku kaget, tapi tak bisa kupungkiri aku juga bahagia mendengarnya. Namun aku tak mengerti satu hal, kenapa Kanaya meninggalkannya? Bukankah wanita itu sangat tergila-gila pada suamiku?
"Tapi tadi kalian bersama ...," ucapanku terhenti sejenak.
"Iya, itu pertemuan terakhir," ujar Mas Enggar sembari menatap panci yang mendidih. Dan aku ikut tenggelam dalam pikiranku sendiri, kenapa Kanaya meninggalkannya? Ada apa sebenarnya? Aku semakin bingung dan tak mengerti dengan semua yang terjadi pada mereka.

Komentar Buku (60)

  • avatar
    iskandaryogie

    cerita nya seru...

    28/04

      0
  • avatar
    gorengsapi

    bagus

    04/03

      0
  • avatar
    BaruAkun

    cerita nya bagus sekali

    13/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru