Beranda/Tetangga Sebelah Rumah/
Part 39
Tetangga Sebelah Rumah
Part 39 (Pov 3)
"Siapa yang ngomongin kamu emangnya Mbak?" Nina bertanya balik. Ella memutar malas bola matanya. Ella salah paham, padahal tadi jelas-jelas Bu Ijah yang lebih dulu membicarakannya.
"Alah … udahlah nggak usah ngelak! Kamu senang kan, kalau aku cerai sama Mas Gio? Apa jangan-jangan ini semua rencana kamu, ya Mbak?" Sontak saja Nina terkejut dengan kata-katanya si Ella barusan.
🥀🥀🥀
"Tolong ya Mbak Ella. Kalau ngomong jangan asal! Saya udah lama banget loh, sabar dengan kelakuan anda yang absurd. Dan sekarang kalau kamu semena-mena sama saya, saya nggak akan tinggal diam," jawab Nina dengan tegas dan juga sinis. Karena geram dengan kelakuan absurdnya Ella, yang mulai kumat kembali.
"Terus kamu mau ngapain Mbak? Saya nggak takut! Apa jangan-jangan yang udah hamilin Sintya itu ternyata Mas Rian. Tapi Sintya malah meminta pertanggungjawaban sama suamiku yaitu Mas Gio," sontak saja kata-kata yang keluar dari mulut Ella barusan, malah membuat Nina semakin meradang dan akhirnya tangan Nina melayang lagi di pipinya Ella untuk yang kedua kalinya.
PLLAAKK!!! Tamparan itu akhirnya mendarat di pipi Ella, Ella meringis kesakitan, karena memang tamparan Nina sangat kencang, karena Nina sangat kesal sekali dengan sikap dan ucapan Ella yang tak tahu terimakasih.
Bu Ijah bingung, mau membela siapa. Karena memang dia sebenarnya tipe orang yang cari aman.
"Sudah-sudah, kenapa malah jadi bertengkar gini tho?" Akhirnya Bu Ijah berusaha menengahi. Sedangkan Ella memegang pipinya yang kini sudah terlihat memerah.
"Saya sakit hati banget sama kamu, Mbak! Selama ini saya diam dan terus baikin kamu, saya pikir kamu bakal jadi sadar. Tapi nyatanya kamu semakin keterlaluan, semoga aja nanti kalau saya pindah nggak punya tetangga lagi kaya kamu!" Teriak Nina yang kini juga menangis sesenggukan, lalu langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi pada Bu Ijah dan meninggalkan Ella juga yang masih berdiam diri di tempatnya.
Nina membanting pintunya dengan sangat keras, dan membuat Bu Ijah serta Ella menjadi terkejut.
Sesampainya di dalam rumah, Nina menumpahkan rasa kesalnya dengan menangis. Adit dan Rara hanya memperhatikan sikap ibunya dari balik pintu kamar, mereka berdua tak berani bertanya.
Di dalam hatinya Nina, dia berniat ingin sekali rasanya segera pindah ke rumah barunya. Walaupun belum selesai di renovasi. Pokoknya nanti dia akan segera membicarakan pada Rian perihal ini.
Karena memang dia sudah tak tahan lagi untuk tinggal lebih lama di daerah sini.
Kalaupun rumah yang dibeli oleh Rian belum juga rampung, maka dia tetap akan mengajak Rian untuk pindah walaupun dengan mengontrak lagi. Daripada harus bertahan disini bersama manusia toxic yang membuat hatinya selalu kesal.
🌼🌼🌼
Ella kini sudah berada di dalam rumahnya, dia juga menangis sejadi-jadinya. Dia menyesal karena tadi telah menuduh Mas Rian dengan entengnya, hanya karena kegelisahan hatinya terhadap mantan Suaminya yaitu Sugino alias Gino alias Gio.
Dia menyesal, karena tak seharusnya juga dia berkata seperti tadi. Karena memang selama ini Mbak Nina juga sudah baik kepadanya.
Kini hati Ella terasa sangat nelangsa sekali, mengingat rentetan kejadian pahit yang sedari kemarin menimpanya waktu di puncak. Dia berencana ingin pulang ke rumah Mamanya bersama Zahra. Dan berencana akan disana dulu untuk menenangkan diri, serta juga ingin menghindari Mbak Nina. Karena memang dia juga orangnya gengsi untuk meminta maaf, walaupun memang sudah jelas kalau dia yang salah.
Lalu Ella segera membereskan baju-baju serta peralatan lainnya, untuk dibawa ke rumah Mamanya.
🌼🌼🌼
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum, Mah!" Rian mengetuk pintu rumahnya, karena memang entah kenapa tumben dikunci dari dalam.
Tak lama selang beberapa menit, akhirnya pintu dibuka. Tampak istrinya yaitu Nina dengan rambut yang agak acak-acakan, dan juga muka yang agak sembab. Melihat pemandangan yang aneh seperti itu, langsung saja tanpa berkata apa-apa lagi Rian langsung memeluk istrinya. Lalu Nina mulai menangis lagi karena menumpahkan emosinya yang sudah sejak tadi ditahan.
Rian tetap memeluk istrinya, sambil mengelus-elus punggung Nina. Dan belum bertanya apapun soal kenapa dia menangis, karena memang tak biasanya Nina serapuh ini.
Setelah tangisan Nina mereda, Rian langsung menuntun istrinya tersebut dan menuju ke sofa, lalu mengambilkan minum dan memberikannya pada Nina.
Rian memang benar-benar lelaki idaman bagi setiap perempuan di dunia ini. Dia tak memandang lelah pada dirinya sendiri yang baru saja pulang bekerja, tapi dia lebih mengutamakan istrinya yang sepertinya sedang tak baik-baik saja.
"Papa! Mama tadi berantem sama mamanya Zahra," Deg! Hati Rian langsung berdebar tak karuan, saat mendengar aduan dari sang anak yaitu Adit. Yang memang sedari tadi Adit melihat langsung saat mamanya berseteru dengan Ella atau Mamanya Zahra.
"Bener begitu, Mah? Coba kamu ceritain detail kejadiannya." Tanya Rian pada Nina. Rahang Rian mengeras, geram karena kelakuan Ella pada istrinya. Karena dia juga yakin, nggak mungkin kalau Nina yang memulai duluan.
Lalu, setelah cukup lama diam. Akhirnya Nina mau membuka suara dan menceritakan semua kejadian yang dialami dari awal hingga akhir tanpa ada yang dikurangkan atau di lebihkan.
Rian sangat geram, saat mendengar cerita Nina. Karena bisa-bisanya Ella dengan entengnya menuduh Rian tanpa bukti yang jelas.
"Yaudah Mah, kita ke rumah dia aja sekarang, aku nggak suka dia nuduh-nuduh aku sembarangan kaya gitu. Itu namanya fitnah," Nina masih terdiam, tak menggubris ucapan suaminya.
"Aku mau kita pindah, hari ini juga. Karena percuma juga kalau kita temui si tetangga aneh itu lagi. Dia gak akan sadar Mas. Udah wataknya begitu." Rian diam tak bergeming. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Matanya lurus ke depan, dengan kedua tangan bertautan.
"Tapi, rumah kita kan belum selesai renovasi, Mah. Kita nggak bisa pindah sekarang." Nina terdiam, kedua tangannya dilipat di depan dada.
"Yaudah, kita pindah aja, cari kontrakan baru, aku udah nggak mau tinggal disini lagi. Titik!" Lalu Nina pun pergi meninggalkan suaminya, lalu masuk ke dalam kamar. Rian yang melihat tingkah istrinya seperti itu, hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
Rian memaklumi kalau mungkin kesabaran Nina saat ini sudah habis dalam menghadapi sikap tetangga sebelah rumah yang sangat unik dan absurd itu.
🌼🌼🌼
Selesai mengembalikan mobil yang susah dia sewa selama tiga hari, Gio menjadi kebingungan sendiri. Mau tidur dimana dia saat ini. Karena sedari tadi dia menelpon Sintya tapi tak kunjung diangkat.
Berkali-kali dia menghubungi Sintya, tapi panggilan telepon itu tak kunjung diangkat oleh si pemilik telepon. Entah kenapa Sintya seakan menghilang, dan membuat tanda tanya besar bagi Gio.
Akhirnya mau tak mau Gio pun tidur di bangku taman di tengah kota. Dia tidur dengan rasa was-was, karena bisa saja dia akan diusir tiba-tiba oleh satpol pp yang berpatroli malam. Karena menyangka kalau Gio adalah gelandangan yang terlunta-lunta di jalan.
Gio di dalam hatinya terus berdoa, agar malam ini dia bisa tidur nyenyak. Dan tak ada yang mengganggunya, untuk segera melepas lelah walau hanya hitungan jam saja.
Dia berniat besok pagi akan menghubungi Sintya lagi. Dan dia juga berencana akan buru-buru menikahi Sintya secara siri, dan dia juga membayangkan akan tinggal di rumah mewah tempat orang tuanya Sintya. Walau dalam hati kecilnya dia merasa ragu kalau yang tadi itu benar rumah Sintya.
🌼🌼🌼
Kini udara pagi mulai menyapa, matahari juga mulai muncul dan menampakkan sinarnya.
Gio pun sudah terbangun dari tidurnya, dia segera melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Lalu dia berniat ingin mengambil tas yang berisi baju-bajunya.
Betapa terkejutnya bahwa semua peralatan yang dia bawa semalam sudah raib termasuk ponsel dan dompetnya.
Gio kebingungan, dan hampir saja ingin berteriak karena panik. Hanya baju yang menempel di tubuhnya yang kini masih tersisa. Sedangkan semuanya raib entah siapa yang mengambil. Mungkin itu adalah balasan atas perbuatan Gio pada Ella dan Zahra yang notabene adalah darah dagingnya sendiri.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (291)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
menarik
11/06
0bagus banget aku suka
18/02
0bagus
04/02
0Lihat Semua