Naya datang membawa kantung air dan beberapa lembar kain untuk membersihkan luka kecil di lengan Arga. “Kau harus menjaga dirimu juga,” katanya lembut sambil mulai membersihkan luka itu. “Aku baik-baik saja,” jawab Arga. “Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kita hadapi.” “Arga,” Naya menatapnya dengan serius, “kau selalu berpikir tentang orang lain. Tapi kalau kau tumbang, siapa yang akan memimpin kami?” Arga terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. “Kau benar. Aku akan lebih berhati-hati.” Di sisi lain bukit, Dani sedang berbicara dengan Rian dan beberapa pemuda lain. Mereka membahas strategi berikutnya sambil memeriksa senjata dan persediaan. “Kita tidak bisa terus bertahan seperti ini,” kata Dani. “Jika Darmawan menyerang dengan pasukan yang lebih besar, kita tidak akan mampu bertahan lama.” Rian mengangguk. “Jadi apa rencana kita?” “Kita butuh lebih banyak dukungan,” jawab Dani. “Kita harus menyebarkan berita tentang apa yang kita lakukan di sini. Semakin banyak orang bergabung, semakin besar peluang kita untuk menang.” “Bagaimana cara kita melakukannya tanpa menarik perhatian musuh?” tanya salah satu pemuda. “Dengan hati-hati,” kata Dani sambil tersenyum samar. “Kita kirim utusan ke desa-desa terdekat. Mereka harus tahu bahwa ada perlawanan yang sedang terjadi.” Di tengah persiapan, kepala desa datang menemui Arga dan Naya. Wajahnya yang tua terlihat penuh kekhawatiran, tetapi juga harapan. “Kalian telah melakukan hal yang luar biasa,” katanya. “Tapi aku khawatir apa yang terjadi tadi malam hanya akan membuat Darmawan semakin marah.” “Kami tahu risikonya,” jawab Arga. “Tapi ini adalah jalan yang harus kita tempuh.” “Saya akan mengirimkan pesan kepada beberapa desa tetangga,” kata kepala desa. “Mungkin mereka mau membantu.” Naya mengangguk. “Itu langkah yang bagus. Kita membutuhkan semua bantuan yang bisa kita dapatkan.” Di markas besar Darmawan, suasana tegang. Para komandan melaporkan kekalahan mereka di bukit, membuat Darmawan semakin marah. “Mereka hanya segelintir orang!” bentaknya. “Bagaimana kalian bisa kalah dari mereka?” “Bukit itu memberikan mereka keuntungan strategis,” jawab salah satu komandan dengan nada hati-hati. “Mereka memanfaatkan medan dengan sangat baik.” Darmawan menghempaskan gelas ke lantai. “Aku tidak peduli alasanmu! Aku ingin bukit itu direbut kembali secepatnya!” “Kami sedang mengumpulkan pasukan tambahan,” kata komandan lainnya. “Serangan berikutnya akan jauh lebih besar.” “Pastikan kali ini kalian tidak gagal,” ancam Darmawan. “Aku ingin kepala mereka dibawa ke sini.” Malam itu, di bukit, kelompok Arga mengadakan pertemuan kecil. Mereka duduk melingkar di sekitar api unggun, membahas apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Kita tidak bisa hanya menunggu mereka menyerang lagi,” kata Dani. “Kita harus mengambil inisiatif.” “Tapi bagaimana caranya?” tanya Rian. “Mereka punya pasukan yang jauh lebih besar.” “Kita butuh lebih banyak orang,” kata Naya. “Dan kita butuh rencana yang lebih besar.” Arga berpikir sejenak sebelum berkata, “Kita akan menyebarkan berita tentang perjuangan kita. Desa-desa lain harus tahu bahwa mereka tidak sendirian.” “Dan bagaimana jika Darmawan tahu?” tanya salah satu pemuda. “Dia akan tahu, cepat atau lambat,” jawab Arga. “Tapi semakin banyak dukungan yang kita dapatkan, semakin sulit bagi mereka untuk menghentikan kita.” Keesokan harinya, kelompok kecil utusan dikirim ke desa-desa sekitar. Mereka membawa pesan tentang perjuangan yang sedang terjadi di bukit, berharap bisa menginspirasi orang lain untuk bergabung. Di salah satu desa, seorang petani tua berkata kepada utusan, “Kami sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan. Jika kalian benar-benar melawan, kami akan membantu.” Di desa lain, seorang pemuda dengan penuh semangat berkata, “Ini adalah kesempatan yang sudah lama kami tunggu. Kami akan bergabung.” Sementara itu, di bukit, Arga dan kelompoknya terus mempersiapkan diri. Mereka tahu bahwa serangan berikutnya bisa datang kapan saja. “Aku tidak pernah membayangkan kita akan sejauh ini,” kata Naya sambil memandangi Arga. “Dan kita masih jauh dari akhir,” jawab Arga. “Tapi kita punya harapan,” kata Naya. “Dan itu adalah hal yang paling penting.” Arga mengangguk. “Ya, selama kita punya harapan, kita punya alasan untuk terus berjuang.” Ketika malam tiba, Arga berdiri di tepi bukit, memandangi bintang-bintang. Dia tahu bahwa jalan di depan akan penuh dengan bahaya, tetapi dia juga tahu bahwa mereka tidak sendirian. Di kejauhan, suara langkah kaki terdengar. Beberapa pemuda dari desa-desa lain mulai berdatangan, membawa senjata sederhana dan semangat yang membara. “Kami mendengar tentang perjuangan kalian,” kata salah satu dari mereka. “Kami ingin membantu.” Arga tersenyum, merasa hatinya penuh dengan rasa syukur. “Selamat datang di perlawanan.” Pagi hari di bukit terasa berbeda. Udara dipenuhi dengan hiruk pikuk aktivitas. Orang-orang yang baru datang dari desa-desa sekitar mulai menyesuaikan diri dengan kelompok Arga. Mereka dilatih oleh Naya dan Dani untuk memahami dasar-dasar strategi bertahan dan menyerang. “Kita tidak punya waktu untuk pelatihan panjang,” kata Naya saat mengarahkan sekelompok pemuda. “Tapi dengan kerja sama yang baik, kita bisa bertahan lebih lama.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
17/03/2025
0bagus
09/01/2025
0aku suka
07/01/2025
0Lihat Semua