Beranda/RUMAH KEDUA SUAMIKU/
Bab 42 persiapan
Fery pulang dengan langkah gontai. Ia baru sadar dengan kesalahan nya dulu, ia juga sadar bahwa Hanum juga berhak bahagia. Tapi disisi lain,dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Dia tidak berpikir, betapa dulu Hanum merasakan sakit saat dia dan keluarganya mengkhianati begitu dalam.
Fery terlambat menyadari ini semua.Percuma, menyesal pun sudah tiada guna lagi.
"Kenapa kamu,Mas? pulang-pulang kok muka di tekuk?"tanya Selfi ketika Fery sudah sampai rumah. Istrinya itu sedang duduk selonjoran di sofa sambil main ponsel.
Fery tak menjawab, ia melirik sebentar ke arah istrinya, kemudian melempar kunci mobil ke arah lemari hias.
Selfi tersentak dengan sikap Fery barusan. Selfi menurunkan kedua kakinya dan memandang suaminya.
"Mas, kamu ada masalah di kantor? masalah apa? biar aku bilang sama Kak Hans"ucap Selfi, melangkah mendekati suaminya yang berdiri mematung di depan jendela,menatap keluar dengan tatapan sayu.
"Mas,sakit?"tanya Selfi, menyentuh kening suaminya. Mata Fery masih menyisakan bekas tangis.
"Mata kamu merah,Mas"ucap Selfi lagi. Fery masih terdiam. Ia berlalu ke kamar,meninggalkan Selfi.
"Ada apa,Selfi?"tanya Bu Rana dari arah dapur.
"Mungkin ada masalah pekerjaan,Bu"Selfi menggedikkan bahu.
"Biarkan Fery istirahat dulu"ucap Bu Rana.
Fery menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur. Ia mengetuk-ngetuk pelan keningnya dengan kepalan tangan, matanya memejam membuatnya semakin mengingat kenangan dengan Hanum. Bayangan Hanum melintas begitu jelas di benaknya.
Fery bangkit, berniat mendatangi rumah mantan istrinya. Namun baru beberapa langkah sudah sampai pintu, hati nuraninya berbisik.
"Tidak, aku tidak boleh membuat kekacauan disana. Aku tidak boleh merusak kebahagiaan Hanum"ucap Fery saat ia sadar.
Ia menyambar handuk,kemudian mandi agar pikiranya menjadi jernih.
Saat Fery keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar, Selfi sudah duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan sinis. Fery tak ambil pusing dengan tatapan istrinya itu. Ia berjalan ke arah lemari,mengambil baju ganti. Selfi masih dengan tatapan nya.
"Mas, keterlaluan kamu!"ujar Selfi lantang. Fery menoleh dengan cepat. Ia merapikan kaos yang baru di pakai nya.
"Keterlaluan apa?"tanya Fery acuh. Pikiranya masih melayang tentang Hanum.
"Aku tau apa yang membuat kamu bertekuk muka"ujar Selfy.
Fery bernapas lega. Semenjak melahirkan,dan bayinya meninggal Selfi sangat sensitif. Kadang Fery frustasi menghadapi sikapnya.
"Kamu meratapi mantan istrimu yang mau menikah lagi,kan?!"tanya Selfi dengan nada penuh kecemburuan.
Fery berdiri menatap keluar jendela.
"Kalau iya,memang kenapa?"tanya Fery membalik badan ke arah Selfi.
"Berani kamu ya Mas?"tanya Selfi,mendekat ke arah Fery yang masih berdiri menatapnya. Mereka saling menatap, penuh emosi satu sama lain.
"Sebagai perempuan,harusnya kamu tau. Ini yang Hanum dulu rasakan saat kalian semua memaksaku untuk berkhianat!"ucap Fery pelan penuh penekanan.
"Jangan salahkan aku sepenuhnya,Mas! salahkan juga keluargamu!"ujar Selfi tak terima.
"Keluargaku tak akan memaksa,kalau kalian tak mengiming-imingi imbalan!"ujar Fery membalas.
"Salah keluargamu,tergiur!"Selfi tak mau mengalah.
"Jaga ucapanmu! kalau bukan karena ibuku, aku tak akan menerima tawaran ini!''
"Kamu nyesel,Mas nikah sama aku?"tiba-tiba nada suara Selfi merendah,mengiba. Ia menangis. Selfi memang begini, sikapnya tak bisa di tebak, ini membuat Fery terkadang bingung.
Namun kali ini, kegalauan yang sedang melanda Fery, membuat ia acuh dengan sikap Selfi.
"Pikir saja sendiri!"jawab Fery, kemudian pergi meninggalkan Selfi yang masih menangis.
Selfi terduduk di tepi ranjang,memegang dada sambil menangis.
Bu Rana berpapasan dengan Fery yang berjalan dengan terburu-buru.
Bu Rana masuk menemui anaknya yang sedang menangis.
"Selfi..."ucap Bu Rana mendekat,mengelus bahu Selfi.
Bu Rana sudah geram sebetulnya dengan sikap Fery, satu yang ia takutkan,takut Selfi depresi seperti dulu lagi.
***
Baik dirumah Galih ataupun orang tua Hanum sudah mulai di sibukkan dengan persiapan pernikahan. Unduh mantu dirumah Galih akan di laksanakan sehari setelah akad dilangsungkan dirumah Hanum.
Truk mas Idam parkir di halaman rumah Ibuk. Tetangga membantu menurunkan kayu bakar yang tadi Mas Idam angkut. Kayu bakar itu nantinya akan digunakan untuk keperluan memasak saat hajatan.
Ibu-ibu tetangga Hanum juga sudah mulai membantu. Membuat kue kering untuk acara nanti.
"Bu Dijah beruntung ya, besanan sama Pak Setyadi. Sudah baik,kaya raya, sudah naik haji. Pokoknya top deh"ujar salah seorang tetangga yang membantu dirumah Ibuk.
"Alhamdulillaah,Buk"jawab Ibu dengan senyuman.
"Iya, yang ini mah calon besan nya the best, nggak kayak yang dulu"bisik salah seorang lagi.
Yang diajak bicara mengangguk setuju.
Kesibukan mulai nampak dari tetangga yang datang untuk rewangan.
"Num, kok belum cuti sih?"tanya Mbak Lili saat mereka berdua di kamar.
"Nanti, Mbak. Jatah dari Yayasan cuma seminggu untuk cuti nikah. Hanum ambil H-3 sama H+4"jawab Hanum.
"Kamu akad mau pakai ini,Num?"tanya Mbak Lili menunjuk kebaya sulam usus dan kain tapis Jung Sarat pemberian Nyayik waktu itu yang sedang Hanum rapikan.
"Iyalah,mbak. Toh Kalau pakai baju kebaya yang disewa dari Bu Tini juga,modelnya ngga beda jauh sama yang ginian, paling beda bawahan aja. Kain batik"ujar Hanum.
"Keluarga Galih baik-baik banget,Ya. Num"kata Mbak Lili, menyentuh permukaan kain tapis yang disulam dengan benang emas itu.
"Namanya orang berpendidikan,Mbak. Mereka tau bagaimana harus bersikap"ujar Hanum.
***
Hari-hari berlalu, acara pernikahan Hanum dan Galih tinggal lima hari lagi. Rumah Hanum mulai ramai seminggu belakangan.
Tenda atau tarup juga sudah terpasang di halaman rumah Ibuk.
"Masih ngajar aja,Num?"sapa tetangga saat Hanum mengunci pintu rumah dengan seragam yang sudah rapih.
"Iya,Bu. Lusa baru cuti"ujar Hanum.
Hanum ke sekolah di antar Mas Idam, keluarga dan para tetangga melarang Hanum berangkat sendiri. Mereka khawatir kalau Hanum keluar sendiri kenapa-kenapa.
Pulangnya, Hanum minta diantar oleh Aziza.
Mendekati hari H, Hanum meminta pada Galih agar tidak berkomunikasi sementara kecuali hal penting. Kata Hanum,biar mereka rindu.
Sementara itu. . .
Dirumah Galih, juga sama ramainya dengan rumah Hanum. Keluarga besar Ayah sudah berkumpul, tetapi belum semuanya. Yang masih terikat oleh pekerjaan akan hadir saat Galih akad nanti,sekalian ikut mengiring pengantin.
Ruangan dirumah Bu Lidyana sudah di hias dengan kain kebung tikhai.
Malam ini, para pemuda dan pemudi sekitaran rumah Galih berkumpul di halaman rumah Pak Setyadi yang sudah di pasang tenda atau tarup.
Sekelompok pemuda pemudi itu adalah anak-anak yang tergabung di sanggar seni tempat tinggal Galih. Mereka akan latihan Betabuh malam ini, nantinya Betabuh itu akan mereka gunakan untuk arak-arakan saat unduh mantu Galih dan Hanum. Arak-arakan di masyarakat Lampung ini disebut juga dengan Ngarak maju.
Suara rebana mulai terdengar dipukul dengan irama yang pas. Membuat dada Galih berdebar,membayangkan betapa sakralnya nanti acara pernikahan dia dengan kekasih pujaan hatinya.
Suara sholawat terdengar merdu, dilantunkan oleh para penabuh rebana.
Di dapur...
Rombongan ibu-ibu sedang sibuk membuat penganan untuk di suguhkan nanti. Mulai dari kue basah khas Lampung,yaitu lapis legit. Ada juga yang membuat dodol agar, dan juga bermacam cake.
Keluarga Galih yang asli Lampung, masih sangat kental dengan tradisi,menjunjung tinggi nilai-nilai adat agar tidak punah digerus zaman.
Ada juga sekelompok anak perempuan berjumlah lima orang,sedang latihan tari di rumah sebelah.
Di sudut halaman, Galih sedang latihan mengucapkan ijab kabul dengan sepupunya yang sudah menikah, latihan itu diiringi canda karena mereka lama tak bertemu. Sepupunya itu tinggal di Jakarta.
Galih melirik ponsel, sudah sejak kemarin, Hanum tak menghubungi. Itu kesepakatan yang mereka buat.
"Terus kalau ada yang penting, masa nggak ngechat?''tanya Disti yang duduk di sebelah Galih dan Enggar.
"Chatan sama Mila,dong"jawab Galih.
"Nggak papa Gal,biar kamu orang berdua saling rindu"ucap Enggar.
"Biar malam pertamanya hot,karena nahan kangen"bisik Enggar di telinga Galih agar tidak di dengar Disti. Enggar dan Galih tertawa, sementara Disti memukul lengan Kakaknya, kata siapa Disti tidak dengar?
"Omes!"ucap Disti sambil berlalu kesal.
Galih dan Enggar menatap sekelompok anak muda yang sedang memukul rebana sambil melantunkan sholawat.
-------
NB:
Acara Betabuh merupakan salah satu adat Budaya Lampung yang sangat terkenal yang berkaitan dengan acara penyambutan Tamu kehormatan para pejabat atau ngarak acara pernikahan secara islami. Dalam adat perkawinan pada Masyarakat Adat Lampung Pesisir dikenal istilah “Ngarak Maju”. Ngarak menurut istilah adalah Arak-arakan, sedangkan Maju adalah Pengantin. Maka “Ngarak Maju” adalah Adat arak-arakan pengantin Lampung yang dilakukan di tempat pihak pengantin pria, sebagai pertanda bahwa si pria telah resmi menikahi dengan si wanita (pengantin perempuan). Dalam tradisi ngarak tersebut unsur yang terpengaruh Budaya Islam adalah penggunaan alat musik Rabana sebagai alat musik pengiring arak-arakan dan pelantunan Salawat dan Syair Arab yang dikenal dengan istilah Zikir Lama dan Zikir Baru. Demikian juga pada saat pengantin telah tiba di rumah pihak pengantin pria (setelah diarak), maka pihak keluarga si Pria menyambut rombongan Arakan tersebut dengan melantunkan Syair Arab “Lail” (ciptaan Imam Maliki).
Sedangkan Kebung Tikhai adalah kain penutup (dinding) atau pun kain di langit-langit (kawikh), sarung kasur-bantal, penutup talam dll. Ini merupakan salah satu ornamen yang wajib ada dalam acara adat Lampung.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (59)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
makasih
18/07/2025
0bagus banget kak
08/07/2025
0ceritanya bagus dan seru sekali, kalo bisa di tambah kelanjutannya ya🤭
03/07/2025
0Lihat Semua