logo text

Bab Empat Puluh Dua

Setelah melaksanakan sholat subuh Bayu tidak melanjutkan tidurnya. Laki laki itu berkeliling sekitar rumah nek Saodah.
"Loh, Jang Bayu disini?,"tanya nek Saodah mendapati Bayu yang berdiri menatap langit yang mulai menampakkan sinarnya.
"Iya nek,"
"Mau lihat matahari terbit mah didapur lebih enak atuh Jang, lebih kelihatan."
"Oh gitu nek, ya sudah Bayu kedapur ya nek."
Nek Saodah meraih gagang sapu lidi, lalu menyapu halaman, sedangkan Bayu melangkah masuk ke dalam rumah.
Didapur terdapat halaman yang ditumbuhi banyak tanaman sayur sayuran. Sangat indah menurutnya.
Rajin sekali nek Saodah menanamnya.
Bayu menatap lurus dari kejauhan, sedikit demi sedikit matahari menampakkan dirinya.
"Oh gitu, lihat pemandangan indah gak ngajak gue,"ucap Nayna yang baru bangun.
Nayna hendak ke kamar mandi tapi ia melihat Bayu berdiri seorang diri di luar dapur tengah memandang langit.
"Hei, sini Nay, indah banget deh..."
Tak lama Aji, Ameng, Dita dan yang lain ikut keliar dapur menikmati hangatnya matahari.
"Ji, nenek lo mana?,"tanya Mela setelah melihat meja makan sudah banyak terisi hidangan sarapan.
"Mungkin didepan."jawab Aji.
"Mau sarapan sekarang?,"tanya Bayu pada Nayna.
"Nanti aja, gue mau mandi dulu."
"Lo mau mandi Nay, ih...airnya pasti dingin banget deh..."ucap Ageng sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Justru itu, gue suka."ucap Nayna tersenyum.
"Disini gak ada kran shower Nay, terus airnya juga gak bisa diatur panas dan hangat nya."Aji mengingatkan, siapa tau Nayna lupa.
Gadis itu tersenyum, "its ok, gue tetap mau mandi."ucap Nayna mantap.
Setelah semua membersihkan diri, mereka pun sarapan pagi bersama tanpa nek Saodah.
Ameng melilitkan selimut ke tubuhnya meski sudah mandi. Laki laki itu bahkan masih memakainya ke meja makan.
"Ji, nek Saodah kemana ya pagi pagi udah ngilang?,"tanya Ameng.
Semua tertawa terbahak-bahak melihat Ameng.
"Ada yang kedinginan niii..."sindir Nayna.
"Ngilang dong..."Dita terkekeh mendengar ucapan Ameng.
"Gue juga gak tau apa kegiatan nenek gue kalo pagi. Kalo dulu waktu gue masih tinggal di sini, nenek dirumah aja kok gak kemana mana, paling ngurus ladang dibelakang. Soalnya karyawan nenek gue disawah udah banyak, jadi dia tinggal duduk manis saja."ucap Aji.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum."terdengar sapa salam seorang perempuan.
Semua menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka. Nek Saodah sengaja membukanya agar udara masuk.
Gadis itu masuk sebelum dipersilahkan. Sepertinya ia sudah biasa datang kerumah nek Saodah.
"Waalaikumsalam..."jawab mereka semua kompak seraya menatap gadis itu.
Dengan gerakan cepat Ameng langsung membuka selimut lalu melemparnya ke arah Dita.
"Shit!"pekik Dita kesal.
Seorang gadis cantik, kulit kuning langsat, memiliki mata lebar, berwajah ayu, dan senyum manis itu menghampiri mereka.
Ameng menatap gadis yang bernama Tiara tanpa berkedip.
"Meooong, ih!"Dita melempar selimut ke arah Ameng, namun ia tak menggubrisnya. Matanya masih setia menatap gadis itu.
"Woi!"Aji memukul lengan Ameng menyadarkan keterdiaman.
"Biasa aja dong,"
"Cantik banget Ji, masyaallah. Ini orang apa bidadari Ji?,"ucap Ameng lebay. Seketika jiwa jomblonya meronta hingga tak sadar Ameng mengulurkan tangan.
Tiara membalas uluran tangan Ameng hanya dengan senyuman.
"Gue Ameng Prasetyo, anak kedua dari bapak Hadiwijaya, pengusaha mebel jati dan sudah ekpor sampai luar negeri."ucap Ameng memperkenalkan diri.
"Eeem, sombong...sombong..."ucap Dita namun Ameng tidak memperdulikan.
"Kalo nama neng cantik, siapa?,"tanya Ameng genit.
"Dasar ganjen lo meong,"seru Aji, lalu menatap Tiara.
"Kenapa Ra?,"tanya Aji.
"Itu a', aa Aji disuruh nek Saodah nyusul ke sawah."ucap Tiara tersenyum manis.
"Oh iya, bentar lagi deh Ra, aa masih sarapan. Kamu udah sarapan belum?, sini Ra, makan sama sama."
"Udah a', Tiara udah sarapan sama Ambu tadi. Ya udah kalo gitu, Tiara duluan ya a'."
"Mari aa, teteh..."pamit Tiara.
"Buset dah, cantik banget tuh cewek."ucap Ameng masih terpana.
"Yang mau ikut gue ke sawah, makannya buruan."ucap Aji membuat semua mempercepat memakan sarapannya.
***
Hamparan sawah yang luas langsung memenuhi penglihatan mereka. Sawah yang luas itu kini masih dalam proses pembajakan setelah beberapa waktu lalu di panen.
Terlihat beberapa orang sudah bersiap untuk menanam kembali.
"Oh my God, ini seriusan kita kesawah?."ucap Mela heboh dengan mata berbinar senang.
"Ya iyalah, lo kira ini empang?,"Ameng menimpali.
"Ji, ini semua punya nenek lo?."tanya Dita diangguki Aji.
"Gila, nenek lo tajir dong."ucap Dita.
Aji tersenyum menanggapi.
"Kita boleh main kesitu gak Ji?,"tanya Mela berharap.
"Seterah lo, kalo mau kotor kotoran silahkan."
"Terserah Ji, bukan seterah."Nayna meralat kata-kata Aji yang salah.
"Iya dah iya, si paling puitis."
Nayna terkekeh.
Plung.
"Aaaa...mamiii...Mela nyebur ke sawah dooong!"teriak Mela kegirangan.
"Eh kalian pada gak mau nyebur, sini...sini...asik banget..."ucap Mela penuh semangat.
Mela berlarian dan melompat lompat seperti anak kecil.
"Baru kali ini gue lihat ada orang girang bener di ajak ke sawah."celetuk Ameng.
"Gue juga baru pertama ini ke sawah, kayaknya seru deh..."ucap Nayna lantas melangkah masuk ke dalam lahan pertanian itu.
"Mela tungguuu..."teriak Nayna.
"Lo gak ikutan Dit?"tanya Aji melihat Dita yang masih berdiri.
"Emang keren nek Saodah."ucap Dita lalu segera melepaskan sandalnya berlari mengikuti Nayna dan Mela.
"Eh eh, nek Saodah tuh..."tunjuk Ageng ke arah wanita tua yang sedang membungkuk. Wanita itu tampak tengah menyebar benih padi.
"NENEK...HAIII...!"
"HALO NEK,!"
"NENEK!"
Teriak mereka sambil melambaikan tangan ke arah nek Saodah.
Teriakan mereka sontak membuat semua petani menoleh, "siapa mereka?"tanya salah seorang petani.
"Itu sobat na Aji, incu bik Saodah."
"Oh, incuna anu pindah ka kota eta, nya?"
"Iya..."
"Biasana urang kota teu daek Ulin ka sawah, da sieun kotor ku leutak...sieun panas ku matahari..."ucap seorang ibu petani.
"Ieu sabenerna sabalikna...aneh, nya."sahut Bu petani lainnya.
Mereka berlarian menghampiri nek Saodah.
"Ya ampun, kalian teh kenapa ikut kesini?"
"Iya nek, mau lihat sawah."jawab Ageng.
"Sekalian mau main disawah nek, hehehe..."sambung Mela tertawa senang.
"Balik ka imah wae atuh, disini mah panas tuh lihat, nanti kulit kalian bisa gosong. Ini juga kenapa kalian nyebur?, kan jadi kotor, atuh kumaha si Aji teh, bukannya dilarang."ucap nek Saodah menunjuk ke arah langit lalu beralih ke kaki anak anak.
"Tenang aja nek, kita gak takut item..."ucap Dita.
"Iya nek, tenang aja...kita udah pakai sun screen."ucap Nayna.
"Hai bapak dan ibu. Kita temannya Aji..."ucap Mela memperkenalkan diri di ikuti oleh Nayna, Dita dan Ageng.
"Ya ampun neng, kok main di sawah, panas atuh item nanti..."
"Gak apa apa pak, sekali kali..."ucap Mela tersenyum ramah.
"WOIIII, AJIII, MEOOONG, BABAY...SINIII!"teriak Dita melambaikan tangan ke arah teman-teman laki lakinya.
Mau tak mau, para lelaki itu pun ikutan nyebur masuk ke lahan pertanian.
Mereka mengikuti kegiatan para petani disana, mulai dari menebar benih padi, makan siang di saung, Ameng pun mendekati Tiara dengan berbagai modus.
Sikap ramah dan sopan mereka membuat bapak dan ibu petani menyukai mereka hingga cepat akrab.
Hari menjelang sore ketika mereka saling berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
"Hayuk atuh mampir ke Imah ibu..."ajak salah satu dari mereka.
"Iya Bu, nanti kapan-kapan kita pasti mampir,"jawab Nayna di angguki teman temannya.
"Iya Bu, besok kita ketemu lagi ya Bu, kita pamit pulang dulu..."ucap Mela.
"Memang kalian gak takut sama panas matahari?,"tanya seorang pak petani.
"Takut sama Tuhan pak, masa sama panas matahari takut..."jawab Ameng.
"Modus aja lo!"seru Dita.
"Yeee, sirik lo."
"Ya udah atuh gak selesai-selesai pamitna, da besok masih ketemu,"ucap nek Saodah.
"Assalamualaikum,"sapa salam nek Saodah.
"Waalaikumsalam,"

Komentar Buku (356)

  • avatar
    Yaya Anjana

    lanjutannya belum ada kah ka? suka banget soalnya sama novel ini

    07/06

      0
  • avatar
    Maribel

    tolong lanjut kak, ceritanya seru I hope happy ending please

    08/12

      0
  • avatar
    rapngara

    lanjutt dongg

    13/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru