Sesampainya di kamar, Maya membantu Bintang melepas kemejanya. Setelah itu, beralih melepas kaos kaki dan sepatu. Maya begitu lihai melayani Bintang selama ini. selepas kembali dari keranjang baju kotor, Maya menghampiri sang suami. “Mas …” “Hm?” Bintang melepas celananya, ia ganti dengan celana kolor. “Kenapa?” Ragu-ragu, Maya bertanya, “Kok semua karyawan kantor yang lama kamu pecat sih? Kenapa?” Bintang terlihat membisu dan membuang muka sengaja mengalihkan pandangan. “Kenapa tanya itu?” “Nggak kenapa-kenapa, Cuma kok dipecat? Mereka ada salah?” Bintang masih berlagak menghindar. “Aku capek. Tanyanya besok saja ya.” Maya terbengong, ingin mengurungkan niat, tapi perasaan hati terlanjur mengganjal. Bukan ingin berdebat, tapi semua karyawan dan pegawai dipecat, itu sangatlah berlebihan. Bintang bahkan tidak berdiskusi dengan Maya lebih dulu tentang ini. “Kan tinggal jawab, Mas. Mereka sudah ikut aku sejak aku belum sama kamu lho Mas. Mereka juga loyal kerjanya, jarang bikin kesalahan.” Bintang menoleh, lalu menyugar kasar rambutnya. Kalau dipikir-pikir, jarang sekali keduanya ngobrol empat mata seperti ini. Bintang cenderung banyak diam meskipun Maya tahu terkadang sangat perhatian. “Sekarang perusahaan itu kan aku yang ngurus, May. Aku tentu mau suasana baru supaya lebih nyaman. Dan lagi, aku merekrut orang-orang yang sudah berpengalaman kok. Buktinya sudah tiga tahu ini semua berjalan lancar.” “Bukan masalah itu, Mas!" Decak Maya. “Kalau kamu pecat mereka semua, terus mereka kerja di mana sekarang? Kok bisa sih kamu kepikiran gantiin mereka sama orang lain?” Bintang menarik nafas sampai kedua matanya terpejam. Saat mata kembali terbuka, nada bicaranya terdengar lebih tinggi menurut Maya. “Kenapa hal kaya gini harus dipermasalahkan sih! Mereka juga bisa cari kerjaan di tempat lain, kan. Kamu ini ada-ada saja. Aku capek malah kamu ajak debat.” Maya mengerutkan kening sampai bibirnya terbuka, menahan rasa heran. “Memang siapa yang ngajak debat, Mas? Aku kan Cuma tanya. Kamu tinggal jawab yang jelas. Seharusnya kamu juga diskusikan hal ini sama aku.” Melihat Bintang diam saja tidak merespon, Maya kembali bicara. dia teringat akan sesuatu yang sejujurnya membuat perasaanya mengganjal. “Kalau mereka semua kamu pecat? Kenapa Sasmi enggak? Dia kerja sama aku dulu.” “Kamu lagi curigain aku, May?” Bintang menoleh dengan tatapan tajam dan sedikit merendahkan wajah. “Enggak, aku Cuma lagi tanya. Kamu tinggal jawab. Gampang, kan? Aku jadi curiga beneran kalau kamu kaya gini. Apa ini alasan kamu nggak ngizinin aku pergi ke kantor?” “Apa-apaan kamu ini! kenapa malah jadi merambat kemana-mana?” Bintang terus mencoba mengelak meski sejujurnya sudah kehabisan kata-kata. “Mas, kamu nggak ada main sama Sasmi, Kan?” “Sembarangan!” elak Bintang dengan cepat sampai kakinya mundur, menyingkir. “Bisa-bisanya kamu nuduh aku begitu.” “Terus kenapa Sasmi nggak ikut kamu pecat? Gimana aku nggak curiga coba.” “I-itu, itu karena Sasmi terus mendesakku. Teman kamu itu sampai bersimpuh supaya nggak aku pecat. Aku mana tega. Dia juga teman dekat kamu, kan?” Maya terdiam, memandangi dalam-dalam ekspresi wajah sang suami. Sebelum Maya kembali bicara atau merasa curiga, Bintang langsung mendekat. Bintang mencengkram pelan kedua pundak Maya. “May, dengerin aku. Aku mecat mereka tentu dengan alasan, tapi plis … kamu nggak perlu tanya-tanya begini. Aku jadi merasa dipojokkan sekarang. Dan tentang Sasmi, kamu bisa tanya langsung sama dia. Tolong, jangan berpikir terlalu jauh.” Maya diam saja ketika telapak tangan Bintang membelainya. Apakah Wanita begitu mudah luluh dengan belaian? Kurasa tidak. “Aku tetap bakal cari tahu, Mas. Perasaanku bener-bener nggak enak,” batin Maya ketika Bintang memeluknya dengan erat. Maya juga merasakan sebuah kecupan di pucuk kepalanya. *** Bintang berangkat lebih awal. Apa alasannya, Maya tidak sempat bertanya. Maya hanya sempat membantu menyiapkan pakaian sang suami saja. Sementara ketika sudah pukul enam, Maya beralih ke kamar Rain. Sampai di dalam kamar, bocah itu masih terbungkus selimut dengan badan meringkuk memeluk bantal guling. Maya mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Satu tangannya mulai terangkat kemudian mendarat pada lengan Rain sebelah kanan. “Sayang, Bangun.” Maya mengguncang tubuh itu perlahan. Tidak ada respon dari bocah tersebut. tidurnya begitu nyenyak. Sekali lagi Maya mengguncang dengan sedikit lebih bertenaga dari sebelumnya. “Rain … bangun, Sayang!” Rain mulai menggeliat lalu mengubah posisi badan sambil menggeliat. Tubuh itu melengkung, lalu kembali ke semula sambil menguap. “Mama,” lirihnya ketika dua matanya mulai terbuka. “Bangun, Sayang …” Rain mengangguk. Maya membantu Rain perlahan untuk duduk. “Kamu bangun dulu, mama mau ke bawah bantu nenek masak ya. Nanti kalau sudah mau mandi, kamu panggil mama.” “Nanti Rain mandi sendiri nggak apa-apa, Ma.” “Oke.” Maya mengusap rambut Rain, lantas berdiri. Saat sampai di depan pintu, Maya sempat menoleh ke belakang. Maya ingin menanyakan tentang hal kemarin, tapi mungkin nanti saja ketika pulang sekolah Sampai di lantai bawah, mama terlihat sedang menyapu ruang tengah. Sementara Tika, sepertinya sedang mencuci piring dan perabot dapur lainnya. “Biar aku saja, Ma,” ucap Maya sambil menghampiri mamanya. “Nggak usah, ini mama biar sekalian olahraga pagi,” jawab Puspa. Maya tersenyum tipis lalu beralih ke ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur. “Pagi, Mbak …,” sapa Tika. Maya duduk lalu meraih gelas kosong. Dia kemudian menuang air mineral ke dalamnya. “Pagi, Tik.” “Oh ya, Tik, tadi Mas Bintang sarapan dulu nggak? Mbak nggak sempet ke bawah tadi.” “Sarapan kok, tadi ditemani mama.” Tika mengelap kedua tangannya yang basah lalu ikut duduk. Maya tidak mengizinkan mereka mengurus rumah sebenarnya. ini terlalu melelahkan ada lima orang di rumah ini. Maya bisa membayar pembantu untuk mengurus rumah, tapi mama menolak. Beliau yang ingin mengurus rumah ini dibantu Tika. Maya bukan tidak membantu. Sebelum ini Maya terlalu sibuk di kantor, jadi tidak akan sempat mengurus rumah sedetail mungkin. Sementara sekarang, setelah memilih keluar dan menekuni pekerjaan lain, waktu Maya jadi lebih banyak di rumah dan untuk Rain juga. “Sarapan dulu, Ma!” seru Tika. Puspa meletakkan sapu di ujung ruangan bersama dengan peralatan pembersih lain. sementara mamanya mendekat, Maya malah berdiri. “Aku ke kamar Rain dulu. Nanti nyusul sarapan.” Begitu Maya tak terlihat, Tika bergeser mendekati mamanya. “Ma, Mbak Maya sama Mas Bintang lagi berantem?” “Mama nggak tahu. Kamu nggak tanya sama Bintang tadi?” “Ih mama!” decak Tika. “Masa iya Tika tanya hal seperti itu?” Di lantai atas, begitu masuk ke dalam kamar, terlihat Rain sudah berdiri di tepi ranjangnya hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Bocah itu tumbuh dewasa dengan sempurna. “Sini mama bantu.” “Eh, mama.” Maya duduk di tepi ranjang, kemudian membantu Rian mengenakan pakaian. Melihat kondisi yang tenang, mungkin ini waktunya buat Maya bertanya. Rain sudah cukup mengerti, pasti dia bisa menjawab jika memang tahu sesuatu. “Rain, mama mau tanya, boleh?” “Boleh, Ma. Mau tanya apa?” Rain berdiri menghadap Maya yang duduk di tepi ranjang. Maya mulai bertanya sambil membantu mengancingkan seragam. “Rain masih sering ke kantor papa?” Rain tidak langsung menjawab, tapi wajah bocah itu terlihat santai. “Nggak sering, Ma. Kenapa memangnya?” “Rain kesana sama siapa?” “Tante Tika.” “Tante Tika?” Rain mengangguk. “Kalau pulang sekolah dijemput Tante Tika, Rain minta anterin ke kantor papa sama Tante Tika.” “Kalau di jemput sama mama, kenapa Rain nggak bilang buat minta ke sana?” Rain menunduk dengan tenggorokan berdengung. Mungkin dia ragu untuk menjawab. “Rain takut mama nggak ngizinin ke sana. Mama selalu bilang nggak ada waktu buat ke sana, kan?” Maya menghela nafas lalu mengusap lengan Rain sambil menatapnya tenang. “Mana mungkin nggak boleh, Rain. Asal nggak setiap hari pasti boleh, kok.” “Bener, Ma?” Maya mengangguk. Selesai semuanya, Maya beralih menenteng tas punggung milik Rain. Sementara Rain sedang mengenakan sepatunya, Maya malah berdiri termenung memikirkan sesuatu. Hari ini Maya menyempatkan untuk mengantar Rain sekolah. Tika sedang sibuk dengan kuliahnya, sementara mama ada kegiatan lain. Maya juga nggak tega kalau menitipkan Rain yang begitu aktif sama mama. Sampai di sekolahan, Maya mengajak Rian bicara sebentar sebelum masuk ke dalam sana. “Rain, nanti kalau mama belum jemput, jangan pergi ke mana-mana ya …” “Oke, Ma.” Rainn berdiri tegak sambil memberi hormat. “Anak pinter.” Selepas Maya mengusap kepala Rain, bocah itu langsung berlari masuk ke dalam gedung sekolahan sambil melambai tangan. Maya tidak langsung pulang, melainkan bertekad untuk pergi ke suatu tempat. Rasa penasaran yang begitu dalam, memaksa Maya untuk kembali pergi ke perusahaan sang suami. Sampai di sana, Maya tidak langsung masuk. Demi kenyamanan, Maya mengubah tampilannya sedikit lalu mengenakan kacamata lebar dan mengolesi bibir dengan warna yang lebih mencolok. Di hadapannya sekarang adalah sebuah perusahaan ekspedisi. Maya sudah menyiapkan sesuatu yang pastinya orang-orang tidak akan curiga kalau datang niatnya untuk mencari sesuatu. “Permisi …” Maya bertanya pada dua resepsionis. “Iya, Ibu, ada yang bisa kami bantu.” Tampilan Maya sudah terlihat begitu meyakinkan sampai dua orang di hadapannya menatap dengan teliti. “Apa Pak Bintang ada di tempat?” “Maaf, apa sebelumnya sudah ada janji?” Maya mengangguk. Satu dari mereka langsung mencoba menghubungi Bintang. Entah apa yang Bintang katakana, tapi wajah mereka seperti ada sesal. “Maaf, Bu, Pak Bintangnya sedang ada keperluan, sepertinya tidak bisa ditemui.” “Boleh saya menunggu?” “Boleh.” Maya diantar menuju ruang tunggu. Sambil duduk, Maya mengedarkan pandangan melihat orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Banyak orang juga datang untuk mengirim barang dan mengambil barang. “Aku harus masuk,” ucap Maya saat dirasa situasi sudah aman. Mulanya Maya berjalan cepat lalu ketika sudah menjauh dari pandangan penjaga dan dua resepsionis tadi, Maya mulai memperlambat langkah dan berjalan dengan santai. "AKu bener-bener curiga terjadi sesuatu di sini. Semua pegawai lama diganti yang baru. Bagaimana dengan pegawai lama?” Maya menuju ruang ganti pegawai. Dia masih hafal dimana tempat penyimpanan seragam kantor untuk beberapa cleaning service. Mungkin ini sedikit gila, tapi Maya harus melakukannya. Maya mengamati berbagai kegiatan setiap langkahnya melewati beberapa ruangan. Tidak ada yang Maya kenali sama sekali diantara mereka. Saat langkah sampai di ruang finishing packing, Maya tidak sengaja mendengar obrolan yang sepertinya terdengar serius. Maya pura-pura mengelap kaca yang berdebu, berharap obrolan mereka bisa didengar. Maya cukup pintar untuk melakukan hal ini, dia memasang earphone sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti orang yang sedang mendengarkan lagu. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren sih
11/03/2025
0ceritanya sangat bagus dan bermotivasi...
20/12/2024
0Sangat bagus
17/12/2024
0Lihat Semua