Happy reading 😊 *** Khadijah masuk ke kelas setelah pelajaran ke-2 berakhir. Kesya yang melihatnya dengan tidak sabar langsung mengajukan pertanyaan. "Kamu dari mana saja Khadijah?" Tanya Kesya ketika Khadijah duduk di sampingnya. "Bu Rahma tadi nyariin kamu loh. Dia berpikir hari ini kami bolos karena tidak mengikuti pembelajarannya sementara tas kamu ada di sini." Sambungnya. "Iya, tadi perutku sakit sekali, aku bolak-balik masuk ke toilet. Dan sampai bel berbunyi perutku masih sakit, akhirnya aku tetap di sana saja sampai pelajaran Bu Rahma selesai." Jawab Khadijah berbohong. "Pantas saja gak ketemu. Aku tadi nyariin kamu di UKS karena tadi kamu bilang mau ke sana. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa." "Kamu ke UKS? Apa kak Ardi masih ada di sana?" Tanya Khadijah menatap Kesya dengan serius. "Gak ada, tidak ada siapa-siapa di sana." "Hhm..." "Kamu... baik-baik aja kan?" Kesya khawatir melihat keadaan sahabatnya yang tidak biasa itu. "Iya, aku gak apa-apa kok." "Terus perut kamu? Apa masih sakit?" "Sudah mendingan, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir yah." Khadijah tersenyum tipis. "Iya... tapi kalau kamu merasa sakit lagi, bilang yah." "Iya... iya." Khadijah mengangguk meyakinkan. *** Sejak pulang dari sekolah Khadijah hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, banyak melamun di sana. Memikirkan tentang kejadian hari ini. Ia duduk di dekat jendela kamarnya, menatap keluar dengan tatapan kosong. Hatinya masih saja gelisah, ada banyak pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk di batinnya. Bahkan hari ini pun dia tidak pergi untuk sholat di Masjid, seperti yang selalu ia lakukan. "Siapa perempuan itu? Kak Ardi tadi memanggilnya Ayu, Mengapa dia terlihat sangat dekat dengan kak Ardi? Dia sangat peduli padanya, sangat mengkhawatirkannya. Apa dia adalah pacar kak Ardi? Mengapa aku merasa sangat sesak saat melihat kamu sanggar dekat dengan dia Ardi? Bahkan air mataku jatuh begitu saja, perasaan sedih menyerang hatiku. Mengapa? Mengapa aku merasa seperti ini? Bukankah aku hanya seseorang yang mengagumi dirimu? Lalu mengapa aku merasa cemburu saat kamu bersama dengan perempuan itu tadi?" Khadijah terdiam sejenak, menatap bulan dari balik jendela kamarnya. Namun ia sadar atas apa yang ia katakan tadi. " Aa... apa? Apa yang ku katakan tadi? Cemburu? Apa tadi aku mengatakan itu? Apa aku cemburu? Apa aku menyukaimu? Apakah rasa kagumku padamu kini berubah menjadi cinta?" Khadijah berucap pelan dengan nada suara yang serak. Menahan sesak yang ia rasakan di hatinya. *** "Oohh... Jadi perempuan yang waktu itu aku lihat di UKS, gara-gara nyelamatin dia Ardi jadi terluka. Siapa tadi namanya?" Ayu bertanya pada seorang siswi yang mengetahui banyak hal tentang Khadijah. Terlihat 2 perempuan lainnya yang masing-masing berdiri di sisi kanan dan kirinya sambil memegang tangannya erat. "Khadijah." Jawab perempuan itu. "Khadijah.... Hee... kamu sudah buat orang yang aku sayang terluka. Aku pastikan kamu akan mendapatkan balasan dariku." "Apa yang akan kamu lakukan? Jangan berbuat macam-macam pada Khadijah." Perempuan itu sempat memberontak, teriakannya menggema di sebuah toilet siswa. "Heiii!!!" Ayu membentak dengan nada yang tinggi, menaikkan telunjuknya dan mendekatkannya pada wajah perempuan itu. "Berani sekali kamu berbicara dengan nada yang tinggi padaku. Memangnya kamu siapa?" Sambung Ayu. Perempuan itu hanya diam, dengan tatapan marah dan khawatir di wajahnya. "Kamu tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan pada Khadijah, tugas kamu hanya melakukan apa yang aku perintahkan, kamu mengerti?" Yang ditanya hanya diam, berusaha menahan amarahnya. "Dan, kalau kamu tidak mengikuti perintahku... kamu sendiri tahu kan apa akibatnya?" Ayu menatap licik. *** Kembali ke kamar Khadijah. "Ada apa dengan mu Khadijah? Ingatlah kalau kamu bukan siapa-siapa untuk kak Ardi, buang jauh-jauh perasaanmu itu. Kamu hanya mengaguminya, bukan mencintainya, ingat itu." Khadijah berusaha menenangkan perasaannya. Ia berjalan menuju tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya di sana. Menatap langit-langit kamarnya. "Aku tahu mungkin kak Ardi sudah memiliki perempuan yang istimewa di hatinya. Walaupun begitu setidaknya aku harus berterima kasih karena dia sudah menolongku. Tapi bagaimana caranya? Kalau aku bertemu dengan kak Ardi mungkin aku tidak akan sanggup berbicara dengannya. Apalagi setelah kejadian di UKS tadi, aku bahkan pergi begitu saja. Dan mungkin perempuan yang bersama kak Ardi tidak akan suka jika melihat aku berbicara dengannya. Lagi pula dia seorang wanita, dia bisa saja merasa cemburu melihat orang yang dia sayang berbicara dengan Perempuan lain. Aku tidak mau menyakiti perasannya. " Khadijah berpikir sejenak, menarik guling yang ada di sampingnya, lalu menenggelamkan wajahnya di sana, Masih berbicara dengan dirinya sendiri. Lama terdiam sampai akhirnya ia memikirkan sesuatu. "Apa ku tuliskan saja surat untuknya... tapi...adduuhhh....Khadijah! ini sudah tahun 2021 dan kamu masih mau menggunakan surat, mungkin saja kak Ardi hanya akan mentertawakan mu, huufftt..." Khadijah menarik nafas panjang. "Tapi tidak ada cara lain, biarlah dia akan berpikir apa, yang penting kamu sudah berterima kasih padanya. Dan setidaknya hatimu akan merasa tenang dan tidak merasa bersalah lagi." Khadijah bangkit dari tidurnya, meraih pena dan buku yang ada di atas meja. Mengambil posisi yang nyaman dengan bersandar di tempat tidur lalu meletakkan sebuah bantal di atas pangkuannya. *To: Kak Ardi Assalamualaikum Sebelumnya aku minta maaf kak karena telah lancang memberikan surat ini kepada kakak. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan kakak. Aku juga tidak enak dengan pacar kakak. Oh iya, lewat surat ini aku ingin mengatakan yang tidak sempat aku katakan waktu itu di UKS. Aku hanya ingin bilang terima kasih karena sudah menyelamatkan dan menghawatirkan keadaanku waktu itu. Sekali lagi terima kasih. Wassalamu'alaikum Khadijah* "Aku berharap di sekolah besok bisa bertemu denganmu. Jadi aku bisa memberikan surat ini." Ucap Khadijah dalam hati dengan tersenyum. *** Khadijah memandang pantulan bayangannya di cermin. Merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Lalu mengambil tasnya yang sudah ia siapkan atas tempat tidur, dan hendak keluar kamar. Namun saat akan membuka pintu, ia mengingat sesuatu. Khadijah mengalihkan pandangannya pada meja di samping tempat tidur. Melihat kertas berwarna biru muda yang telah terlipat kecil dengan rapi. Ia hampir saja lupa, surat untuk Ardi. Khadijah segera mengambilnya, kemudian meletakkannya di saku seragam. "Mama pasti sudah menungguku dari tadi." Ucap Khadijah pelan, sambil melangkah keluar kamar. ... "Ada apa? Aku perhatikan hari ini kamu selalu terlihat sedih." Tanya Kesya menoleh sebentar ke arah Khadijah lalu kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. Yah, hari ini mereka akan belajar matematika di jam terakhir, Yang sebentar lagi akan masuk. Kesya sibuk mengerjakan PR yang seharusnya ia kerjakan di rumah. Sebenarnya bukan mengerjakan, tapi menyalin tugas itu dari buku Khadijah. Sedari tadi ia memohon kepada Khadijah untuk menyalin tugasnya. Khadijah yang tidak tega melihat sahabatnya itu akan kena marah oleh Bu Fatma, guru Matematika akhirnya memberikan tugasnya. "Tidak Sya, aku tidak apa-apa kok." Khadijah tersenyum datar. "Apa kamu sedih karena aku melihat tugasmu?" Kesya mencoba menggoda sahabatnya itu. Namun dia tahu betul Khadijah sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa kamu bilang seperti itu Sya. Aku sama sekali tidak merasa keberatan kamu menyalin tugasku." "Hehe.. iya... iya... aku tahu kok. Aku cuma bercanda." Kesya terkekeh. "Kamu ini." Khadijah tersenyum lebar sembari memukul pelan tangan sahabatnya itu. Sebenarnya Khadijah cukup sedih karena hari ini tidak berpapasan dengan Ardi. Baik di gerbang, perpustakaan atau pun di lingkungan sekolah lainnya. Sempat terpikir oleh Khadijah untuk ke kelas Ardi. Tapi saat akan melangkah ke sana, ia mengurungkan niatnya. Khadijah berpikir akan banyak orang-orang yang mungkin saja memperhatikan mereka, lagi pula bisa saja kak Ayu juga ada di sana. "Hufftt..." Khadijah menghembuskan nafas panjang. *** Allahu Akbar Allahu Akbar ... Terdengar adzan berkumandang, menandakan waktu sholat Maghrib telah tiba. Sedari tadi Khadijah sudah bersiap-siap, hari ini ia akan sholat Maghrib di masjid lagi. Ia cukup rindu dengan suasana Masjid, karena beberapa hari ini ia tidak pergi ke sana. Dan siapa tahu Indah bisa bertemu dengan Ardi, dia akan memberikan surat itu di sana. Walaupun di Masjid tidak ada teman lain ataupun kak Ayu, rasanya Ia tidak akan sanggup bila harus berhadapan dengan Ardi, apalagi setelah kejadian di UKS itu. Khadijah melangkah keluar rumah dengan surat itu berada di kantong gamisnya. Namun sayang, hasil yang ia dapatkan malam ini, sama seperti tadi pagi. Ia juga tidak melihat Ardi di sana. Khadijah pulang dengan raut wajah murung. "Mengapa saat aku mencarimu, kamu seolah sulit sekali untuk ditemui." Khadijah berkata pelan dalam langkahnya menuju rumah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
13/05/2025
0saya suka cerita ini😁
24/04/2025
0yes
20/12/2024
0Lihat Semua