"Nay, suamimu selingkuh." Apa ini? Seketika air mata jatuh. Terdengar suara Nadia yang memanggilku. Kecurigaan selama ini benar-benar terjadi. Sejak kapan? Dengan siapa dan mengapa Mas Bagas tega? Apa karena aku yang tidak bisa memberikannya keturunan sehingga diam-diam bermain di belakang? Kaki terasa lemas. Jika ini mimpi, aku berharap tinggi agar cepat-cepat terbangun. Selama ini aku salah, terlalu percaya dengannya. Hingga ia diam-diam selingkuh pun aku tak menyadari meski sempat curiga. Ya, sejak hari itu, ketika ia mulai mengabaikanku. "Nay? Kamu gak papa?" Aku kembali mendekatkan ponsel ke telinga. Dengan isakan yang masih tersisa, kuyakin Nadia mendengarnya. "Bagaimana aku bisa baik-baik aja, Nad? Katamu Mas Bagas gak mungkin selingkuh. Kenapa sekarang beda?" Nadia bercerita bahwa ia membuntuti Mas Bagas ketika hendak berbelanja ke pasar. Mas Bagas tidak melewati jalan biasa ke tempat kerjanya, melainkan ke sebuah komplek perumahan di dekat pasar. Aku tahu tempat itu, tapi jarang ke sana. Ketika Nadia berpura-pura membeli ikan, ia melihat Mas Bagas masuk ke salah satu rumah tunggal di antara rumah lain yang bergandengan. Tidak sempat melihat apa yang mereka lakukan di sana dan dengan siapa karena Nadia takut tertangkap. Alhasil dengan napas terburu-buru ia sembunyi di balik pohon dan meneleponku. Nadia mengirim foto rumahnya. Rumah sederhana yang kata orang lama terbengkalai. Sekitar lima tahun lalu ada keluarga yang ingin tinggal di sini, tapi mendengar mitos yang beredar, mereka mengurungkan niat. Alhasil hingga detik ini rumah itu tak pernah ada yang menghuni lagi. Beredar kabar bahwa keluarga terakhir yang tinggal di sana mati misterius dengan kondisi mengenaskan. Aku tidak tahu semengenaskan apa, karena tidak terlalu menyimak ketika tetangga bercerita. "Oh, rumah ini. Katanya udah gak ada yang mau tinggal di sana, kok ada orang?" "Aku juga gak tau, Nay. Mungkin tanpa sepengetahuan orang ada yang huni lagi." Aku menggumam, setelah mematikan sambungan telepon, aku duduk di sofa. Menghela napas berkali-kali. Aku tidak suka situasi seperti ini. Tidak tenang, penasaran, ingin menjambak pelakor kurang ajar itu. Secantik apa dia sampai berani merebut suamiku? Paling hanya modal make-up menor dan pakaian seksi. "Mama mama mama." "Mama mama mama." Aku menjatuhkan gagang pel. Itu suara mainan bayi yang terpajang di lemari. Mengapa tiba-tiba ada suaranya? Boneka bayi itu sudah lama ada di sini. Sempat dimaini keponakan hingga rusak dan aku ambil kembali karena ini pemberian Mbak Ningrum. Mana mungkin bisa bersuara, batrainya saja tidak ada. Aku jadi merinding sendiri. Risih selalu mendengar suara itu, akhirnya aku memberanikan diri mendekati lemari kaca di ruang tamu. Tidak ada apa-apa. Sunyi seperti biasa. Apa aku berhalusinasi lagi? "Kok ada basah-basah?" Terasa ada cairan kental yang kuinjak ini. Sirup atau kecap yang tumpah? Melirik ke bawah untuk memastikan. Aku tersentak kaget dan hampir berteriak, tapi langsung membekap mulut. Ini darah. Darah siapa? "Mama, jangan bunuh aku." Rasanya ingin menangis. Siang hari tapi serasa malam. Mencekam, hawa ruangan berubah-ubah. Kadang panas sekali, kadang dingin hingga menggigil. Di setiap sudut selalu merasa ada yang mengawasi. Ada apa sebenarnya? Ataukah ada arwah menyeramkan yang masuk ke rumah? "Mama ...." Suaranya dari atas atap, tapi siapa yang kurang kerjaan naik ke atas dan menakuti? "Aaaaa!" Tetesan darah yang jatuh dari atas atap masuk ke mulutku. Berbau busuk, amis, dan pahit. Tunggu dulu, dari mana sumber tetesan ini? Aku buru-buru ke kamar mandi dan muntah. Terduduk saking takutnya. Seperti di film-film horor. Ada hantu yang bersembunyi di atas atap rumah dan mereka meminta tumbal. Tidak, jangan! Aku belum mau mati! Entah datang dari mana keberanian ini. Setelah menenangkan diri, aku keluar kamar mandi dan ke ruang tamu lagi. Tetesan darah di lantai masih ada, bahkan semakin banyak. Sekarang yakin bahwa ini bukan halusinasi. Perlahan menoleh ke atas, tampak benda berwarna merah yang terlihat seperti seonggok daging. Tak bisa menahan keterkejutan lagi, benda itu mengeluarkan suara, memanggilku 'mama'. *** "Dek? Alhamdulillah udah sadar. Nih, minum dulu." Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Ini di kamar, bukan di ruang tamu lagi. Terbaring lesu, mata menoleh ke arah sosok di samping. Mas Bagas? Rasanya hati teriris begitu dalam ketika melihatnya khawatir seperti ini. Apakah benar-benar peduli atau demi menutupi kebusukannya selama ini? "Adek pingsan di depan TV. Kenapa? Adek sakit?" tanya Mas Bagas. Aku menggeleng pelan dan membuang muka. Tak sudi rasanya beradu tatap dengan lelali yang tega menyelingkuhi. "Dek, mas tanya, lho." "Aku tau, Mas." "Tau apa?" "Kamu selingkuh, 'kan?" Aku tak suka berbasa-basi. Raut wajah Mas Bagas berubah aneh. Merah padam, ia turun dari ranjang. "Maksudmu apa, Nay? Kamu berani nuduh mas macem-macem?" Mas Bagas emosi. Aku tersenyum tipis, tak menyangka responnya sesakit ini. "Tuh 'kan. Dulu mas gak pernah bentak aku. Sekarang? Kenapa tiba-tiba marah? Takut kelakuan busuknya ketahuan?" Ia terdiam, kepalan tangannya menunjukkan bahwa Mas Bagas sangat marah. "Kamu salah paham, ada baiknya jangan langsung menuduh." Ia pergi begitu saja. Salah paham apa? Aku percaya pada Nadia dan yakin ia tak berbohong. *** Sore hari, sekitar pukul lima. Aku ke rumah Nadia untuk mencurahkan isi hati padanya. Tidak ada yang bisa dijadikan tempat curhat. Ibu jauh di sana, tak sedap mengobrol lewat telepon. Lagi pula ibu pasti akan khawatir jika tahu masalahku. Aku tak ingin ia terbebani, penyakitnya akan kambuh. Nadia sedang menonton televisi ketika aku datang. Dengan ekspresi panik, ia mendekatiku yang sudah menangis sebelum sampai ke rumahnya. Kami berpelukan, ia tahu perasaanku sekarang. "Tenangin diri dulu, Nay. Aku tau ini sulit," ucapnya. Tangisanku malah semakin kencang. "Nay, kamu udah nikah lama sama Kak Bagas dan sampai sekarang belum punya anak. Apa kamu gak berpikir bahwa Kak Bagas itu bosan?" "Bosan? Tapi dia bilang sangat mencintaiku, Nad. Bagaimana—" "Nay, kamu polos banget, sih. Lelaki dengan mudah mengatakan itu, tapi siapa yang tau isi hatinya? Bisa aja demi menghindari masalah dia bilang begitu ke kamu. Lalu diam-diam mencari wanita lain supaya gak ketahuan. Logis, 'kan?" Aku manggut-manggut. Meski janggal, penjelasan Nadia ada benarnya juga. Mungkin karena kemandulan ini, Mas Bagas berpaling ke wanita lain. Baik, aku sadar diri. Memang tak pantas. Seharusnya bukan aku yang menikah dengan Mas Bagas, tapi wanita pilihan ibu mertua hari itu. "Di sisi lain, mungkin Kak Bagas juga muak denger ibunya ngomel pengen punya cucu, Nay." ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (510)
FFJETP1N
cerita yang hebat . saya amat menyukainya . seram,geram, sedih wah sangat lengkap 👍.
cerita yang hebat . saya amat menyukainya . seram,geram, sedih wah sangat lengkap 👍.
15/08/2022
1good
3d
0baguss bangett ceritanyaa
5d
0Lihat Semua