Beranda/Sosok Yang Menyerupai Istriku/
Part 89 Mimpi Aneh
Sosok yang Menyerupai Istriku
Part 89
Kak Irma kembali masuk ke warungnya dan sopir aneh itu kembali tenang. Ia memberikan nomor ponselnya dan siap ganti rugi atas kerusakan bangku dan meja warung Kakak sepupuku. Ia pamit pulang dengan ketakutan.
"Aneh banget itu orang, masa Kak Irma yang cantik disangka Genderewo," ucapku saat menemui Irma.
Kakak sepupuku hanya diam tidak menanggapi. Sosok seram kembali kulihat seperti sebuah bayangan hitam. Aku ketakutan. Namun, Irma tidak melihatnya.
"Kakak pasti memakai penglaris di warung ini," tuduhku.
"Apa sih? Kakak pusing, mau pulang." Ia mengalihkan pembicaraan.
Setelah aku membantunya merapihkan meja, kursi yang berserakan di depan warung, aku pamit pulang. Kakak sepupuku pun pulang ke rumahnya.
"Udah enggak beres ini Kakak sepupuku," gumamku di perjalanan pulang mengendarai motor.
Sesampainya di rumah orangtuaku, ternyata Fathia sudah terlelap dalam tidurnya, sedangkan ibuku menonton televisi acara dangdut di cenel ikan terbang.
"Man, ibu mau ngomong sebentar," seru ibuku saat aku menemuinya.
"Siap Mama cantik," balasku.
"Kamu ada masalah sama istri kamu?" tanyanya.
"Enggak kok," jawabku.
"Kenapa sekarang istri kamu sering ngelamun? Dia juga banyak diam dan bengong. Waktu ibu tanya, dia cuma senyum. Ada masalah apa?" Interogasinya.
"Enggak ada masalah apa-apa, mungkin Fathia cuma kecapean aja atau bawaan kehamilannya," ujarku.
"Syukurlah kalau rumah tangga kalian enggak ada masalah," pungkasnya.
Aku kembali menemui Istriku di kamar yang terlelap dalam tidurnya. Kupandangi wajah polosnya saat tidur, lalu kucium kening dan pipinya.
"Ayah beneran beli rumah buat kita? Alhamdulillah, makasih yah Suamiku, Sayang. Mama pasti betah kok. Mama juga enggak akan minta uang sama suami bulan ini, karena mama tahu pasti uang ayah habis buat beli sama renovasi rumah kita. Mama mau nyoba kamarnya, ayo kita kesana, tapi tangannya jangan jahil yah." Aku teringat ucapan Istriku saat pertama kali kami mengisi rumahku.
"Kenapa tadi malam enggak bangunin mama, katanya ayah kangen waktu kerja, eh, pas pulang kok enggak bangunin mama? Ternyata punya suami itu bahagia, ada yang ngertiin, ada yang nemenin. Ayah juga enggak pernah ngerepotin istri dan enggak pernah nyuruh-nyuruh sama istri. Ayah juga enggak pernah marah sama istri, tapi tangannya sering jahil." Terus terngiang ucapan Istriku.
Aku memeluknya dengan lembut. Tiba-tiba Istriku membuka mata, karena aku mencium pipinya agak kasar.
"Sayang, kapan pulangnya? Maafin mama, mama ketiduran," ucapnya dengan manja.
Aku hanya tersenyum dan kembali mengelus kepalanya.
"Kalau pengen, ngomong aja yah," bisiknya.
"Iya, Sayang," jawabku sambil mengelus pipinya.
Aku tertidur dalam pelukan Istriku.
*****
"Sah!" ucap para saksi setelah aku mengucapkan Ijab Kabul di pernikahanku dengan Bidan Diana.
"Selamat Kimong, akhirnya kamu nikah yang kedua kalinya. Hidup loe pasti tambah bahagia punya dua istri. Satunya pengajar sekaligus Ustadzah, yang satunya Bidan sekaligus pengusaha online," ujar Rama sambil memasang wajah mesumnya.
"Kok gue jadi nikah dua kali yah?" Aku bingung sendiri.
"Nikmati aja, Mong. Loe beruntung banget punya dua istri. Nanti loe cerita sama gue, perbedaan rasanya, gimana perbedaannya antara Bu Bidan sama Bu Ustadzah," bisik Rama di telingaku sambil mentoel bawah perutku.
Aku melihat keadaan dan kulihat semuanya tengah berbahagia. Bidan Diana pun terlihat lebih cantik dengan hiasan gaung pengantin. Senyumnya begitu mempesona dan matanya menatapku dengan berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, akhirnya aku jadi istrimu, Kak," ujar Diana dengan suara lembut.
"Iya," balasku dengan memaksakan tersenyum.
"Firman! Kamu enggak romantis banget sih, salami atau cium kening istrimu!" timpal ibuku.
"Iya, mama cantik." Aku menurutinya.
"Akhirnya ibu punya dua menantu yang cantik. Ibu tambah bahagia punya menantu Ustadzah sama Bidan," ujarnya sambil mengedipkan mata genit padaku, lalu mencium pipiku seperti kebiasaannya kalau sedang bahagia.
"Brondong gemes mama punya dua istri. Ibu juga kalau bukan ibu kandung kamu, pasti mau dinikahin sama orang ganteng dan Soleh kayak kamu. Kadang ibu juga hampir khilaf sama anak sendiri" sambungnya sambil terus mencium pipiku.
Para tamu hadirin pun tertawa mendengar omongan ibuku.
"Mama genit banget sih. Udah dong jangan nyiumin Firman terus," tegurku dengan berbisik.
"Enggak apa-apa sih sama anak sendiri ini, daripada mama nyium brondong yang lain, mending nyium anak sendiri," tandasnya.
"Ya Allah, kok ibuku tambah genit sih? Apa yang terjadi ini? Bodo amat lah, dia kan masa mudanya emang genit, katanya," gumamku sambil melihat-lihat keadaan.
Saat bapak Naib dan para saksi hendak bubar, tiba-tiba Dokter Anita datang.
"Tunggu! Tunggu!" cegah Dokter Anita.
Naib dan para saksi pun tidak jadi bubar.
"Firman udah janji mau nikahin aku juga hari ini! Saya udah bawa wali nikah sama saksi juga!" pekiknya.
"Udah sekalian nikahin aja sekarang juga. Nikahin aja, Pak, nanti aku yang urus semuanya," perintah ibuku pada Naib.
Tanpa basa-basi, aku pun dinikahkan dengan Dokter Anita. Aku tidak bisa menolak dan berhasil mengucapkan Ijab Kabul dengan Mas Kawin yang sudah disiapkan oleh ibuku. Anita duduk disamping kananku dan Diana disamping kiriku. Mereka bahagia menjadi Istriku tanpa debat dan tanpa adu argumen.
"Menantu ibu tambah lagi, kali ini seorang Dokter cantik," ujar ibuku dengan gembira.
"Mah, kok jadi gini sih?" Aku menatap ibuku.
"Diem kamu, laki-laki kan boleh punya tiga istri bahkan empat," terang wanita pahlawanku.
"Ini enggak adil! Aku juga mau nikah sama dia!" Tiba-tiba Dewi muncul dan berbicara lantang.
"Apa lagi ini? Ya Allah," gerutuku.
"Sekalian aja Si Dedew juga dinikahkan sama Si Firman," ceplos Rama.
"Setuju!" jawab semua hadirin seperti berteriak.
Aku pun dipaksa menikahi Dewi. Saat aku hendak mengucapkan Ijab Kabul, tiba-tiba Bayu, adikku datang.
"Tunggu dulu! Kenapa jadi kayak gini?! Emang Kak Firman itu Raja, istrinya banyak?! Aku aja belum punya satupun! Harusnya kalian semua mikirin aku, bukan dia!" Cerocos adikku.
"Kamu sih enggak nurut sama ibu! Emang kamu mau apa?! Mau nikah juga, nanti ibu nikahkan kamu sama Mbok Hindun!" Kali ini ibuku yang nyerocos pada adikku.
Para tamu terdiam saat mendengar ibuku berbicara, begitupun Dewi.
"Bu, Bayu juga mau nikah, Bu. Bayu mohon bantu Bayu buat nikah. Selama ini kan ibu selalu ngutamain Kak Firman, kali ini anakmu ini mohon," rengek adikku.
"Kamu mau nikah sama siapa, Bay?" tanya ibuku dengan suara lembut.
"Bu, sebenarnya Bayu ini suka sama Kak Fathia, tapi Bayu tidak berani macam-macam, karena dia istrinya Kak Firman. Bayu pengen nikah sama Kak Fathia," jawab Adikku sambil berlutut di depan Ibuku sekaligus ibunya.
"Astaghfirullah! Kamu diam-diam jatuh cinta sama kakak ipar sendiri? Ibu enggak setuju, karena Fathia lagi hamil. Udah, kamu nikah sama Dewi aja," usulnya.
Adikku mengangguk sambil tersenyum dengan Rona bahagia menyetujui usulan Ibuku.
"Pak Naib, nikahkan aja Dewi sama anakku yang itu tuh. Maharnya pakai kalung emas ini," pinta ibuku pada Naib sambil memamerkan kalung emasnya.
"Boleh aja, tapi harus bawa wali nikah sama ceweknya mau enggak," balas Pak Naib.
"Mau! mau! Dewi udah bawa wali nikah, itu orangnya. Itu bapakku," ujar Dewi tiba-tiba.
Aku menyetujuinya sehingga adikku terlihat senang. Akhirnya adikku yang sedikit konyol itu menikah dengan mantanku yang Bernama Dewi Setiawati. Dengan lantang dan suara lancar, adikku berhasil mengucapkan Ijab Kabul. Sang Mantan terlihat bahagia sampai tanpa sadar ia mencium pipi adikku berkali-kali setelah ia sah menjadi istri adikku. Mereka berdua langsung pergi entah kemana.
"Bu, mana Istriku?" tanyaku pada Wanita Pahlawanku.
"Itu istri kamu, Anita sama Diana," jawabnya sambil menunjuk kedua wanita yang baru saja kunikahi.
"Maksudnya 'Fathia' Bu, dimana dia sekarang?" Aku memperjelas.
"Dia sedang dandan, karena mau nikah," jawabnya cuek.
"Astaghfirullah! Nikah sama siapa?!" tanyaku kaget setengah mati.
"Dia mau dinikahkan sama Hasan. Dia setuju kamu nikah lagi, tapi dia juga minta nikah sama Hasan dan kebetulan Hasan juga setuju," jelas ibuku.
"Kacau! Kacau! Kenapa jadi kacau gini? Dunia kacau, kayaknya sebentar lagi Kiamat ini, kenapa sampe ada kejadian aneh kayak gini?" gerutuku dalam hati dan heran setengah mati.
"Suamiku, sini dong deket aku." Diana menarik tanganku dan ia bersandar di dadaku dengan manja.
"Firman juga suami aku, kali! Sini Sayangku, peluk aku sekarang," ujar Anita sambil merangkulku.
Kedua wanita cantik yang baru saja kunikahi itu saling adu mulut memperebutkanku. Merekapun saling dorong dan berebut memelukku.
"Dia suamiku, kamu hanya pelakor! Dasar Janda Bodong!" timpal Diana.
"Dia juga suami aku, kami sudah pacaran saat dia masih SMP. Kamu yang pelakor! Dasar perawan tua! Janda lebih menggoda dong!" balas Anita sambil mendorong tubuh Diana.
Aku berusaha menenangkan kedua wanita itu. Mereka terus berebut memelukku. Para tamu hadirin hanya tertawa melihat tingkah mereka.
"Udah! Udah! Kalian harus rukun," ujarku sambil merangkul mereka berdua.
"Iya Sayang, kita malam pertama berdua aja yah, Si Janda Bodong ini jangan diajak." Diana berbicara manja dan menyindir Anita.
"Enak aja! Gue dulu yang malam pertama. Gue kan lebih dulu kenal Firman," sewot Anita.
"Firman buat aku!" bentak Diana sambil mendorong Anita.
"Buat aku! Kamu pergi aja ke laut!" balas Anita.
Mereka terus berebut dan masing-masing menarik tanganku. Aku seperti Sultan yang diperebutkan dua Putri cantik.
"Jangan berantem! Udah, kalian malam pertama bertiga, kalau bisa berempat sekalian sama Fathia." Ibuku melerai kedua wanita yang sudah menjadi istriku itu.
Aku kaget mendengar ucapan ibuku dan pikiranku melayang membayangkan kekonyolan yang terjadi kalau kami berempat dalam satu kamar.
"Kenapa jadi gini sih hidupku?" Aku begitu bingung dengan keadaan.
"Ibu!" pekik Fathia, tiba-tiba muncul.
Aku melihat istriku itu bersama Ustadz Hasan. Ia berpegangan tangan dengan mesra, bahkan berpelukan di depanku. Hatiku panas dan darahku mendidih.
"Kurang ajar kamu, bermesraan di depanku!" bentakku pada mereka.
"Apa sih kamu? Bukannya kamu udah nikahin mereka, terus aku juga nikah lagi lah sama Ayang Mbeb Hasan!" timpal Fathia.
"Dunia kacau, dunia kacau. Kenapa hidupku jadi kacau gini? Aku bingung dan pusing. Hatiku panas banget," gumamku menahan emosi.
Anita dan Diana terus memelukku dari Kana dan kiri. Fathia begitu bahagia bermesraan dengan Hasan dan para tamu undangan semua sibuk menikmati hidangan.
"Fathia! Jangan tinggalkan aku! Aku sayang banget sama kamu! Kenapa jadi kayak gini?! Kamu istriku, aku enggak rela kalau aku berbagi istri sama Si Hasan! Fathia! Jangan tinggalkan aku! Saya mohon, kamu jangan sama Hasan!" teriakku sambil berdiri, tapi Diana dan Anita menahanku.
Aku terus berteriak memanggil Fathia, bahkan aku menangis.
*****
"Astaghfirullah, Ayah kenapa? Sayang, bangun, Sayang. Mama disini, mama disini, bangun, bangun." Aku mendengar suara Fathia dan sepertinya ada yang menepuk pipiku.
"Astaghfirullah!" ucapku kaget saat aku terbangun dari tidur, lalu aku duduk dengan keadaan tidak stabil.
"Fathia, kamu jangan sama Hasan. Aku sayang banget sama kamu. Aku tahu kalau kamu masih sayang sama Hasan, tapi aku ini suamimu. Aku sayang sama kamu. Jangan tinggalin aku dan kamu jangan balikan sama mantan kamu. Aku sayang banget sama kamu, Fathia " Tanpa sadar aku berbicara dengan panik setelah bangun dari tidur sambil duduk dan memegang kedua pipi Istriku.
"Astaghfirullah, Sayang. Ayah kenapa? Mama ada disini, mama enggak sama siapa-siapa. Ayah pasti mimpi buruk." Istriku menenangkan sambil memelukku.
"Maafin ayah. Ayah khawatir mama balikan sama Hasan dan ayah mimpi buruk kalau mama ninggalin ayah, terus nikah lagi sama Hasan," ucapku begitu panik bahkan aku seperti linglung sambil terus memeluk istriku dengan kencang.
"Istighfar, Sayang. Itu cuma mimpi, Sayang. Astaghfirullah, Astaghfirullah. Ayo Istighfar ikuti mama." Dengan sabar Fathia menenangkanku.
"Ayah kaget banget, Sayang. Mama enggak akan ninggalin ayah, kan? Mama enggak akan balikan sama Hasan, kan? Ayah khawatir, panik banget sama mimpi barusan. Maafin ayah, kalau ayah banyak salah dan belum bisa jadi suami yang baik. Ayah mohon, kamu jangan tinggalin ayah. Jangan temui Hasan lagi, karena itu membuat ayah tersiksa saat lihat mama ketemu dia." Aku berbicara masih dalam keadaan panik.
Istriku terus menenangkan dengan sabar dan lembut. Ia pun menuntunku mengucapkan Istighfar dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Aku pun menangis salam pelukan Fathia dan terus memintanya supaya jangan pernah tinggalkan aku. Fathia berbicara meyakinkanku bahwa dia akan menjadi istri yang setia. Fathia tidak sama sekali menyebut nama Hasan.
"Ayah kaget dan trauma karena mimpi tadi," ucapku sambil menarik napas saat aku tenang.
"Udah, udah, ayah istirahat yah, minum dulu. Mama Sayang banget sama ayah. Mama kaget saat ayah teriak-teriak saat tidur," ujar Istriku sambil memberikan air dalam kemasan.
Aku meminumnya dan keadaanku semakin tenang. Istriku keluar kamar sepertinya ia hendak mengambil sesuatu setelah aku tenang. Aku hanya duduk sambil melupakan mimpi yang aneh itu.
"Firman! Tolongin istri kamu!" sahut ibuku dari luar kamar.
"Ada apa dengan Fathia?" tanyaku dalam hati, lalu aku segera keluar kamar menemui istriku.
"Astaghfirullah! Fathia!" Aku kaget melihat istriku saat aku keluar kamar.
Ada apa dengan Fathia?
Bersambung.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (687)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus keren
20/02
0saya suka cerita seram macam ni , about perkahwinan ya best gilerrr cerita ni , tak sangka boleh habis 100 episode , best , recomended !
20/02
0gara" ini cerita ,,jadi kebawa mimpi
17/06/2025
0Lihat Semua