logo text

Part 4 Sosok Itu Kembali Menyerupai Istriku

Sikap Istriku yang Aneh
Part 4
"Sayang, semalam mama mimpi aneh," ucap istriku.
"Mimpi apa sayang?" tanyaku penasaran.
"Mama mimpi di rumah ini ada seorang wanita cantik yang minta tolong, tapi dia enggak bilang minta ditolongin apa," ujarnya sambil menatapku.
Aku sedikit merinding dan heran dengan mimpi istriku itu.
"Dalam mimpi itu, dia minta tolong teriak-teriak, tapi saat mama tanya, dia hanya diam menatap wajah mama," tambahnya.
"Udah, Mama istighfar dan banyak-banyak berdoa. Kita dekatkan diri pada Allah." Aku menenangkan dan merangkul istriku.
"Apa dia Mahluk yang menyerupai istriku itu? Ah, sudahlah," gumamku.
"Wanita itu juga menunjuk-nunjuk kamar kita," ucap istriku lagi.
"Udah sayang, Mama tenang ya, jangan takut. Insha Allah tidak ada apa-apa," jawabku sambil terus merangkulnya.
Aku ingat cerita Si Doni, sahabatku. Ia pernah bercerita bahwa ia sering melihat seseorang di rumah ini sebelum rumah ini aku beli. Aku membeli rumah kosong yang minimalis, lalu merenovasinya setelah menikah. Renovasinya terhenti karena terkendala biaya. Pekerja yang merenovasi rumahku juga pernah bercerita bahwa saat ia mengerjakan pengecatan tembok kamarku saat malam, ia merasa sesuatu yang aneh. Seperti ember cat tumpah sendiri dan ia merasa seperti ada yang menepuk pundaknya. Ia pun merasa ada seseorang yang berbisik di telinganya, padahal ia hanya sendiri disitu. Aku tidak percaya dengan ceritanya, karena ia orangnya suka becanda dan konyol.
Ustadz Ilham pun berpesan bahwa rumahku itu harus banyak-banyak dipakai buat ibadah dan mengaji supaya jauh dari gangguan mahluk halus. Mang Arim, yang aku suruh memasang kabel listrik pun pernah bercerita bahwa ia melihat sosok perempuan berwajah pucat sedang duduk di kamarku saat ia merakit kabel listrik dan memasang sakelar beserta listriknya. Aku cuek dan tidak percaya dengan cerita-cerita itu.
"Ayah, kamar kita kan ada 2, kita pindah aja ke kamar yang satunya, sayang," rengek istriku.
"Iya sayang," jawabku.
"Rumah kan baru direnovasi depannya sama ruangan dan kamar, tapi bagian dapur dan kamar mandi belum direnovasi. Nanti direnovasi ya sayang, biar enggak kelihatan serem dan kumuh. Mama punya sedikit tabungan dan kalau kurang bisa pinjam ke Bapak," rengeknya lagi sambil memelukku.
"Hadeh, ini rumah baru selesai renovasi seminggu yang lalu, malah nyonya Marimar centil minta renovasi lagi," keluhku dalam hati.
"Mau ya sayang," desaknya.
"Iya, Mama sayang, nanti Ayah suruh Mang Rojak buat renovasi dapur sama kamar mandi," jawabku.
Istriku tersenyum sepertinya ia senang dengan jawabanku.
Besoknya sepulang kerja, aku menghubungi Mang Rojak supaya merapikan dapur dengan mendempul temboknya, mengecer dan membuat model dapur seperti gaya perumahan modern serta merapihkan kamar mandi mengganti keramik dan Closed. Mang Rojak yang sedang menganggur pun bersemangat menyanggupi dan siap bekerja besoknya. Istriku yang mempersiapkan konsumsi Tukang dan belanja matrial sesuai arahan Mang Rojak.
Saat Mang Rojak bekerja bersama asistennya, ia merasa tidak tenang dan seperti ada seseorang yang mengganggunya. Entah mengganggu seperti apa maksud lelaki tinggi dan berkumis baplang yang menjadi Tukang itu.
"Man, kayaknya harus panggil Ustadz Ilham supaya berdoa di dapur rumah kamu, supaya saya kerjanya tenang," ucap Mang Rojak setelah bekerja di hari pertama.
Aku bingung dengan ucapannya. Namun, aku menuruti keinginannya itu. Kupanggil Ustadz muda yang ganteng dan ramah itu supaya berdoa di dapur, ia pun menyanggupi.
"Insha Allah, tidak ada apa-apa. Perbanyak doa dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an aja," ujar Ustadz Ilham hari itu.
Hari kedua Tukang bekerja pun tiba. Aku sudah mempersiapkan matrial untuk renovasi dan Mang Rojak mulai pekerjaannya dengan asistennya itu. Kebetulan hari itu aku libur kerja dan istriku mengajak jalan-jalan ke Pantai. Setelah mempersiapkan konsumsi dan kopi untuk Tukang, kami pun berangkat ke Pantai untuk liburan.
Aku berangkat sehabis dhuhur dan pulang setelah Ashar. Saat aku pulang, ternyata Mang Rojak sudah pulang dan keadaan dapur yang direnovasi sudah bersih. Sampah tidak ada dan gelas, piring sudah bersih.
"Ayah, Mang Rojak rajin juga. Sampe nyuci gelas piring dan merapihkan sampah serta sisa-sisa semen di lantai dapur," puji istriku.
Kulihat bekas memasak air di dapur.
"Kayaknya kehabisan air panas buat ngopi dan Mang Rojak masak sendiri di dapur," ucapku pada istri.
"Ayah, piring kotor juga sudah bersih semua. Kayaknya Mang Rojak juga nyuci piring kotor ini di kamar mandi," ucap Fathia, istriku yang aku cintai itu.
Aku heran dengan keadaan, karena setahuku Mang Rojak tidak pernah nyuci piring kotor saat ia mengerjakan renovasi rumahku.
"Mah, Tumben amat Mang Rojak nyuci piring kotor," ucapku heran.
"Mungkin Si Robil, asistennya yang nyuci," jawab Fathia.
Malamnya, aku mengirim pesan pada Mang Rojak dan berniat membayar ongkos hariannya itu. Setelah pesanku dibalas, akupun menemuinya.
"Mang, maaf tadi enggak bantuin. Saya lagi ngajak jalan-jalan istriku di Pantai," ucapku pada Mang Rojak saat di rumahnya.
"Enggak apa-apa, kamu mah duduk manis aja. Pekerjaan insha Allah semua beres sesuai keinginan kamu sama Fathia," jawab Mang Rojak sambil menghisap rokok kretek favoritnya.
"Man, tadi istri kamu pulang duluan ya? Sebelum Ashar dia datang. Saya tanya kemana kamu, dia diam aja. Biasanya kan istrimu itu suka ngobrol dan bercanda, tapi tadi sore diam aja. Lagi berantem kayaknya sama kamu," ujar Mang Rojak.
Aku kaget setengah mati mendengarnya. Fathia bersamaku di Pantai dari habis Dzuhur sampai pulang, tapi Mang Rojak mengatakan bahwa istriku pulang duluan.
"Serius Mang, istriku pulang duluan? Ketemu sama Mamang di rumahku" tanyaku heran.
"Iya, dia pulang sendiri. Saya aja kaget waktu liat dia tiba-tiba keluar dari kamar, karena saya enggak liat kapan masuknya. Saya tanya kapan pulang dan dimana kamu, tapi dia diam aja seperti habis brantem dalam rumah tangga," jawabnya dengan yakin.
"Astagfirullah, Fathia sama aku terus sampai pulang dari Pantai. Lah Mang Rojak liat siapa ya? Aduh, jangan-jangan mahluk itu lagi nyerupai istriku," gumamku aneh dan heran.
Saat itu aku begitu heran dengan sosok yang menyerupai Fathia.
Bersambung.

Komentar Buku (687)

  • avatar
    TonoRudihartono

    bagus keren

    20/02

      0
  • avatar
    syawal hasanah

    saya suka cerita seram macam ni , about perkahwinan ya best gilerrr cerita ni , tak sangka boleh habis 100 episode , best , recomended !

    20/02

      0
  • avatar
    HahoTasja

    gara" ini cerita ,,jadi kebawa mimpi

    17/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru