logo text

DUNIA GELAP TANPA SENYUMMU

‘Jangan merusak kami,’ chat Ragil masuk.
‘Hahahaha … ada anak balita,’ sahut Jhon.
‘Landasan pacu kenapa?’ tanya Putut penasaran. Jhon kan menikah sudah cukup lama, koq belum melakukan kegiatan suami istri. Kalau dirinya wajar, karena dia menunggu kesadaran Amie.
‘Pilot belum berani mendaratkan pesawatnya,’ balas Putro mengejek Jhon yang masih memberi kesempatan pada Farah agar merasa nyaman dulu.
‘Jangan berisik, adek balita mau bobo,’ Wahyu ikut nimbrung.
‘Siap-siap ya, suntikan KB bojoku sudah expired. Sebentar lagi kalian akan punya keponakan,’ Putro memberitahu tentang kemungkinan kehamilan Putri.
‘Belum tentu tokcer,’ goda Ragil.
‘Eh … jadi selama ini dengan suntik?’ tanya Jhon berbarengan dengan chat Ragil.
‘Iya … sebelum malam pertama,’ balas Putro. Itu membuat Jhon punya wawasan. Dia selama ini takut mendekati Farah karena status pernikahan mereka yang belum go publik. Dia tak ingin Farah hamil sebelum itu. Dia tak ingin istrinya tercoreng malu dibilang hamil lebih dahulu.
Akhirnya chat group berhenti dengan sendirinya karena anggotanya satu persatu mulai tidur. ***
Jhon dan pak Farhat baru pulang dari masjid. Tadi Jhon sengaja menemani mertuanya jalan pagi. Sebagai olah raga mertuanya. Mereka duduk di teras sambil menikmati kopi dan pisang rebus. “Abi, ayok sarapan,” ajak Farah.
“Babe, hari ini ada jadwal keluar enggak?” tanya Farah saat Farhat sudah masuk ke ruang makan terlebih dahulu.
“Enggak, paling ngantar istri kerja,” jawab Jhon sambil memeluk pinggang istrinya.
“Istrinya kolokan ya, harus diantar jemput,” goda Farah.
“Dia sih mandiri, hanya aku aja yang posesif. Aku takut istri cantikku digondol orang,” balas Jhon.
“Istrimu sekelas ikan asin ya? Bisa digondol seperti kucing atau tikus yang ngegondol makanannya,” Farah terkekeh mendengar kata-katanya sendiri.
“Istriku sekelas Nawang Wulan yang dicuri Jaka Tarub,” sahut Jhon. Nawang Wulan adalah cerita bidadari yang tengah mandi di danau sebuah hutan. Lalu selendangnya dicuri seorang pencari kayu sehingga tidak bisa kembali ke kahyangan.
“Honey, bisa bicara?” tanya Jhon selesai mereka sarapan dan faraah sedang bersiap untuk berangkat kerja.
“Kenapa Hubby?” tanya Farah dan langsung mengarahkan pandangannya pada suaminya.
“Apa kamu belum siap menjadi istriku?” tanya Jhon. Farah yang mendapat pertanyaan itu menjadi gugup. Dia kira Jhon lah yang belum mau menyentuhnya.
“Bukannya Kakak yang enggak mau kita melakukannya?” tanya Farah. Dia tahu sebagai pasangan suami istri mereka harus terbuka dalam hal apa pun.
“Aku pikir kamu yang menghindar. Jadi kita berdua sama-sama salah duga?” tanya Jhon memastikan.
“Aku sadar statusku Babe. Sebagai istri aku wajib memberikan hak suamiku,” balas Farah.
“Kalau begitu bagaimana kalau pagi ini kita ke rumah sakit untuk suntik KB? Jadi aku enggak khawatir. Jujur aku takut kamu hamil sebelum go publik. Itu alasanku ragu menyentuhmu. Aku enggak mau nama baikmu dan nama baik Abi rusak karena kehamilanmu,” Jhon akhirnya mengusulkan kontrasepsi yang menjadi alternatif pilihannya.
“Mengapa tidak dengan pil saja?” tanya Farah.
“Aku takut kita lupa, sehingga bisa kebobolan. Putri pakai suntik. Semalam aku sudah tanya mas Putro. Dia pakai yang periode tiga bulan,” lanjut Jhon.
Akhirnya mereka sepakat ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum ke kantor.
***
Pagi ini mbok Pedes membawa baju-baju miliknya juga milik simbah kerumah belakang. Pak Cokro yang sedang ‘ngobrol’ dengan mbah Harjo hanya memperhatikan saja. Mbah sudah sulit mendengar, maka ngobrol dengannya sebenarnya hanya mendengarkan dia berbicara atau bercerita. Pak Cokro anya mengangguk atau menggeleng. Kadang pak Cokro bertanya dengan bicara ditelinga orang tua itu.
Amie sudah sejak tadi dirumah miliknya. Dia sudah masak nasi di majicjar kecil, juga memasak sedikit lauk. Dia sudah ingin full di rumahnya sendiri. Pakaian miliknya yang tidak dimasukkan di kamar Putut masih ada dilemari miliknya dikamar lama yang sekarang lemari tersebut ada dikamar mbok Pedes, karena untuk kamarnya nanti akan ada lemari baru yang lebih besar. Menyesuaikan dengan keadaan yaitu untuk dirinya dan Putut.
“Yu, tolong antar aku ke rumah belakang ya, aku yakin akan ada kesulitan berjalan di selasar karena alasnya ‘kan paving blok,” Putut meminta Wahyu menemaninya ke rumah belakang. Karena dia takut roda kursinya nyangkut di sela paving blok.
“Sebenarnya aman koq Mas, tapi biar meyakinkan untuk pertama aku temani yok,” jawab Wahyu. Dia melihat kakaknya masih berperang dengan istrinya. Wahyu hanya mengantar Putut hingga teras samping rumah Amie yang berlantai keramik. Dia yakin Putut sudah aman.
“Kamu koq langsung pindah tanpa bilang Mas? Koq kita enggak diskusi dulu?” Putut berkata ketika sampai di dapur. Dia melihat Amie sedang memasak.
“Kalau kamu bisa bertindak tanpa diskusi, mengapa aku enggak boleh? Apa karena aku perempuan lalu tidak boleh mengambil keputusan?” balas Amie tanpa menoleh.
“Astagfirullah Yank. Mas sudah minta maaf. Mas akui itu sangat salah. Tapi kamu harus memikirkan alasan Mas bertindak seperti itu. Mas melakukan karena Mas cinta ama kamu. Mas enggak ingin kamu pulang malam sendirian,” Putut benar-benar sangat putus asa. Dia juga geram akan sifat keras kepala istrinya.
Putut berdiri dan mendekati Amie dengan berpegang pada meja. “Jangan turun dan jangan jalan seperti itu,” Amie langsung berteriak dan berdiri menghampiri suaminya yang berjalan mendekatinya.
“Kamu enggak sayang Mas, biar aja Mas enggak cepat pulih. Toh enggak ada bedanya buatmu,” jawab Putut. Amie memegang lengan suaminya untuk kembali dia dudukkan di kursi roda. Amie berdiri di lututnya dan memeluk Putut yang telah duduk.
“Jangan bilang gitu, aku sayang Mas,” jawab Amie sambil menaruh kepalanya dipangkuan suaminya. Dia terisak.
Putut mengangkat bahu istrinya. “Lihat mata Mas sayank,” pinta Putut.
“Jangan marah. Mas beneran minta maaf soal kejadian kemarin. Mas beneran sadar, itu salah karena enggak tukar pendapat denganmu,” Putut berkata lembut saat Amie sudah menatap matanya.
“Kamu maafin Mas?” tanya Putut. Amie menjawab dengan anggukan dan senyum di bibirnya. Gemas Putut langsung memegang kedua pipi Amie dan mendekatkan ke bibirnya. Dia kecup bibir yang sejak kemarin menjauh darinya itu.
“Jangan marah lagi. Dunia gelap tanpa senyummu,” rayu Putut, membuat Amie tersipu malu.
“Kamu mau kita langsung pindah kesini?” tanya Putut setelah dia cukup puas mencium bibir istrinya.
“Iya, nanti makan siang mbah sudah aku bawa sini,” jawab Amie. “Mas mau kapan kita tidur disini?”
“Malam ini juga enggak apa-apa. Sore nanti kita pamit pada ibu dan ayah,” jawab Putut memberi saran pada Amie.
“Tapi kasur dan lemari kita ‘kan datangnya besok Mas?” Amie mengingatkan Putut kalau kamar mereka masih kosong. Dan furniture yang mereka pesan baru akan datang besok.
================================================
Baca cerita serunya besok ya.
Terima kasih sudah membaca cerita sederhana ini.
Jangan lupa Yanktie ( eyang putri ) tunggu TIPS nya ya
Salam manis dan penuh lope-lope dari Jogja

Komentar Buku (206)

  • avatar
    Fadey Sungate

    the best novel i reading and will be attach for me

    30/07/2022

      0
  • avatar
    FadliMuh

    seruh

    17/08

      0
  • avatar
    PratamaArvino

    sudah

    14/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru