logo text

Bab 75 Menenangkan Diri

Kinara berlari meninggalkan rumah Safira dan pulang ke rumahnya. Ia tidak mau bertemu dengan Arjuna dulu karena perasaannya kini masih campur aduk. Kinara memutuskan untuk tidur di kamar tamu dan untuk menenangkan diri, Kinara mengunci kamar dari dalam. Awalnya, Kinara ingin pergi jauh dari sini, setidaknya jangan pulang ke rumah Arjuna, namun ia memikirkan tentang kondisi tubuhnya, anaknya dan keadaan di luar yang tidak aman karena peneror itu belum ditangkap.
Arjuna sampai di rumah dan mencari keberadaan Kinara. Mata Arjuna langsung tertuju pada kamar tamu. Kinara tidak mungkin berada di kamar mereka karena saat ini kondisinya yang tidak stabil.
"Kinar? Kamu di dalam?" teriak Arjuna sambil menggedor pintu.
"Kinar, bukalah. Kita harus bicara," ucap Arjuna.
Kinara diam. Ia tidak berniat membalas panggilan Arjuna. Kenyataan bahwa orang tuanya meninggal karena ulah keluarga ini, meninggalkan luka dan kecewa yang begitu dalam.
"Kinar! Keluarlah! Kita harus bicara," ucap Arjuna.
"Kalau kamu gak keluar, aku yang akan masuk dengan paksa!" teriak Arjuna lagi.
Kinara berjalan mendekati pintu, ia tahu Arjuna tidak akan main-main dengan ucapannya.
"Aku ingin sendiri, Jun. Mengertilah," teriak Kinara dari dalam.
"Aku akan berbicara denganmu setelah siap. Jadi ... biarkan aku sendiri," balas Kinara lagi.
"Berjanjilan kamu gak akan melakukan apapun, yang membahayakanmu dan anak kita," ucap Arjuna.
"Aku janji," teriak Kinara.
"Baiklah."
Kinara sudah tidak mendengar teriakan atau gedoran pintu dari Arjuna. Kinara kembali ke atas kasur dan meringkuk disana. Rasa sedih, marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Kenyataan yang sulit sekali ia terima. Saat semua terasa baik-baik saja, kenapa hubungannya dengan Arjuna dan keluarga ini harus di uji dengan masa lalu yang begitu menyakitkan?
Kinara mengusap perutnya pelan. Air mata kembali menetes dipipinya.
"Kenapa kenyataannya harus begini, Nak?"
"Nenek dan kakek kalian saling mengenal dan saling menyakiti di masa lalu, hingga ibu harus kehilangan nenek dan kakekmu, haruskan ibu marah dengan kenyataan ini?"
Kinara menutupi tubuhnya dengan selimut dan kembali menangis. Beberapa menit berlalu, Kinara sudah capek mengeluarkan air mata sementara perutnya sejak tadi sakit karena lapar. Kinara beranjak dari kasurnya dan terpaksa keluar dari kamar untuk mencari makanan. Ia menuju dapur dan menemukan beberapa kue di kulkas. Ia malas untuk memasak, suasana hati yang tidak baik tidak memungkinkan Kinara untuk melakukan aktivitas lainnya, ia hanya ingin berbaring dan menenangkan diri untuk menentukan sikap apa yang akan ia ambil setelah ini.
Kinara menuju kamar namun langkahnya terhenti ketika hampir bertabrakan dengan Arjuna yang menuju dapur. Tatapan mereka bertemu dalam diam. Kinara memalingkan muka tidak berniat membahas apapaun dengan Arjuna.
"Lapar?" tanya Arjuna.
Kinara hanya mengangguk. Ia tidak ingin berbicara dengan Arjuna sekarang.
"Kamu sudah tenang?"
"Belum. Aku belum siap berbicara denganmu," jawab Kinara.
"Aku akan menunggunya sampai kamu siap, Kinar."
Arjuna maju untuk lebih dekat dengan Kinara. Arjuna memegang dagu Kinara agar kepalanya mendongak untuk melihatnya.
"Terlepas dari semua masalah yang terjadi antara orang tua kita di masa lalu, aku ingin bilang kalau aku sangat mencintaimu, Kinar. Apapun keputusan kamu, tolong pikirkan perasaanku dan anak kita," ucap Arjuna.
Kinara diam tidak bisa membalas apapun perkataan Arjuna hingga ia merasakan bibir Arjuna sudah melumat bibirnya dengan lembut. Kinara memejamkan matanya berusaha untuk menikmati perlakuan Arjuna. Namun, Kinara kembali mengingat orang tuanya.
Kinara mendorong tubuh Arjuna karena hatinya kembali terluka. Ia menatap Arjuna sebantar kemudian berjalan menuju kamar tanpa mengatakan apapun lagi pada suaminya itu. Kinara bingung harus bersikap bagaimana, ia mengacak rambutnya kemudian duduk di kasur dengan lemas. Diambilnya kue yang ia bawa tadi lalu memakannya.
Arjuna duduk di meja makan dengan gelisah. Ia takut kalau Kinara akan membencinya. Bagaimanapun juga, keluarganya yang membuat orang tua Kinara meninggal dalam kecelakaan itu. Ibu dan neneknya bahkan membuang Kinara waktu bayi.
Arjuna sangat mencintai Kinara, apalagi sejak tahu Kinara hamil, Arjuna menyadari bahwa Kinara dan calon bayinya sangat berharga dan penting dalam hidupnya. Arjuna tidak peduli dengan challenge itu dan rela jika perusahaan  harus dikuasai oleh Rama.
Arjuna kembali ke kamarnya dan harus istirahat. Ia akan berbicara pada Kinara besok pagi. Masalah ini harus ia selesaikan secepatnya.
Malam yang sunyi mereka lewati dengan perasaan gelisah. Baik Arjuna dan Kinara sama-sama tidak bisa tidur. Keduanya bertahan di kamar masing - masing dengan perasaan sedih dan kecewa. Tidak hanya Kinara, Arjuna juga kecewa dengan perbuatan orang tua dan neneknya di masa lalu. Obsesi dan kecemburuan sesaat sudah membuat orang lain menderita. Dan Kinara lah yang harus menanggung semuanya, hidup di panti asuhan tanpa kasih sayang orang tua kandungnya. Arjuna begitu menyesal telah menyakiti Kinara sejak awal pernikahan mereka. Penyesalannya semakin dalam ketika mengingat betapa banyak air mata yang istrinya itu keluarkan karena dirinya.
Malam berganti pagi dengan sangat lama, karena Kinara dan Arjuna baru tidur beberapa jam sebelumnya. Kini Kinara mulai membuka mata dan merasakan perih di perutnya karena lapar. Tadi malam ia hanya makan kue sedikit sementara harus dibagi dengan dua janin dalam perutnya.
Kinara bangun dan keluar dari kamar. Baru saja membuka pintu, Kinara sudah mencium aroma makannya yang menusuk hidungnya. Harum, sangat harum. Kinara memegang perutnya dan menuju dapur. Ia melihat Arjuna sedang memasak.
Kinara tersenyum, namun ia kembali sadar dan melangkah pergi. Baru dua langkah ia berjalan, Arjuna memanggil namanya dan menyuruh duduk.
"Duduklah dan makan, aku tahu kamu lapar," ucap Arjuna.
Kinara menoleh dan menuju meja makan. Ia memang lapar, dan tidak boleh egois, karena janin dalam perutnya juga butuh makan.
Beberapa makanan tersaji, Arjuna dengan telaten mengambilkan makan untuk Kinara. Rasa lapar sudah tidak bisa Kinara tahan, segera ia makan dengan lahap masakan Arjuna yang entah kenapa rasanya sangat lezat.
"Hati - hati makannya," ucap Arjuna.
Kinara hanya mengangguk dan makan dengan hati - hati. Setelah beberapa menit, makanan dalam piring Kinara telah habis. Arjuna mengambil piring Kinara dan membawanya ke dapur. Arjuna segera kembali ke meja makan karena ingin berbicara serius dengan Kinara.
"Kinar, kita harus bicara. Bisa?" tanya Arjuna.
"Baiklah." Kinara juga harus bicara dengan Arjuna.
"Aku menyesal dengan kenyataan yang juga baru aku ketahui, bahwa orang tuaku dan nenekku lah yang terlibat dalam kecelakaan orang tuamu," jelas Arjuna.
"Bahkan mereka juga yang membuatmu harus hidup di panti asuhan tanpa kasih sayang. Seandainya waktu bisa diputar kembali--"
"Semuanya sudah terjadi, Jun!" sahut Kinara.
"Maafkan aku."
"Aku sangat mencintaimu. Jujur saja, aku takut kamu membenciku dan orang tuaku, karena aku yakin kamu pasti marah dan terluka," lanjut Arjuna.
"Iya, aku marah, kecewa dan terluka dengan keluargamu, Jun," balas Kinara.
"Nenekku sudah membayarnya, Kinar. Dia meninggal saat aku masih kecil karena kecelakaan," ucap Arjuna.
"Kini aku ingin menebus kesalahan orang tuaku, ijinkan aku ... menjagamu dan tetap berada di dekatmu, karena aku sangat mencintaimu, Kinar." Arjuna menunduk dan meneteskan air mata.
Kinara menatap Arjuna dengan mata berkaca - kaca. Kenyataan ini begitu menyakitkan tidak hanya bagi Kinara tapi juga Arjuna.
Kenapa? Kenapa harus keluarga Juna? Batin Kinara.
"Kenyataan ini menyakitkan, Jun. Aku gak terima orang tuaku di perlakukan seperti itu--"
"Maafkan aku," sahut Arjuna masih dengan menunduk.
"Aku kecewa ... tapi ... bukan hanya aku, Kamu juga pasti kecewa."
"Aku sudah memikirkan ini semalaman, bahwa aku ... akan berusaha melupakan semuanya. Itu adalah masa lalu, meskipun aku jatuh terpuruk, gak akan merubah apapun, semua sudah terjadi, jadi ... mari kita lupakan semuanya. Aku akan berusaha untuk ... mengikhlaskannya," jelas Kinara.
"Benarkah?" Arjuna mendongak untuk menatap Kinara.
"Iya," jawab Kinara.
Arjuna tersenyum dan berdiri menghampiri Kinara untuk berjongkok di depan istrinya itu.
"Terima kasih, Kinar." Arjuna mencium tangan Kinara kemudian memeluknya.
"Aku janji akan selalu mencintaimu, melindungi dan menjagamu."
Kinara mengangguk, air mata kembali menetes di pipinya. Arjuna melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Kinara dengan lembut.
"Jangan nangis," ucap Arjuna.
Arjuna mencium kening Kinara, kemudian turun ke pipi dan berakhir di bibir tipis istrinya. Arjuna mencium Kinara dengan lembut, hingga mereka mendengar bel rumah berbunyi dan melepaskan tautan bibir mereka
"Siapa, Jun?" tanya Kinara.
"Aku gak tahu, ayo kita lihat," ajak Arjuna.

Komentar Buku (506)

  • avatar
    FauziahIin

    lanjut thor.. ceritanya seru banget.. semangat..

    23/05/2022

      5
  • avatar
    SeptianiRegina

    wowwwww

    7d

      0
  • avatar
    ArifArif

    the beast

    27d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru