"Juna...." Kinara menatap Arjuna dengan mata yang berkaca-kaca. Arjuna bingung kenapa tiba-tiba reaksi Kinara seperti itu setelah membaca pesan yang masuk dalam ponselnya. Segera ia ambil ponsel itu dan membacanya. "Juna, aku sudah gakpapa, kita kembali ke Jakarta sekarang," ucap Kinara. "Tunggu dulu. Nih! Ibu Linda telepon." Arjuna memberikan ponselnya pada Kinara agar bisa berbicara dengan ibu Linda. Pesan itu dari ibu Linda yang mengatakan bahwa keadaan Ibu Diana memburuk dan dibawa ke rumah sakit. Kemarin Kinara sempat menghubungi ibu Linda dengan nomer barunya karena tiba-tiba teringat dengan ibu Diana. Arjuna menunggu Kinara menyelesaikan teleponnya. Ia melihat istrinya menangis dan itu membuatnya tidak tega, segera ia memegang tangan kiri Kinara untuk menguatkannya. Panggilan selesai dan Kinara mengusap air matanya dan merasa lebih tenang. Arjuna ikut mengusap air mata yang membasahi pipi Kinara dengan lembut. "Bagaimana?" "Ibu Diana dibawa ke rumah sakit. Kata Ibu Linda keadaannya memburuk namun sudah ditangani sekarang. Ibu Linda bilang aku gak perlu tergesa-gesa, besok saja pulang ke Jakarta," jelas Kinara. "Iya, kita doakan semoga keadaan Ibu Diana segera membaik. Sekarang kamu istirahat. Besok pagi kita ke kantor polisi dulu lalu pulang ke Jakarta," ucap Arjuna. Kinara tersenyum dan mengangguk. Ia baringkan tubuhnya dengan posisi yang nyaman. Arjuna membenarkan selimut Kinara dan mencium keningnya begitu lama. Rasanya begitu hangat dan menangkan. "Tidurlah. Aku akan tidur di sofa." Arjuna hendak menjauhkan tubuhnya namun ditahan oleh Kinara. Kinara menarik leher Arjuna agar lebih dekat dan mencium bibirnya sekilas. Arjuna sempat terkejut namun kembali fokus dengan aktivitas mereka. Arjuna menahan bibirnya di sana dan memberikan lumatan-lumatan manis pada Kinara. "Kenapa jadi agresif, huh?" tanya Arjuna. "I--itu, aku gak tahu," jawab Kinara gugup. Arjuna tersenyum. Senyum manis yang sejak awal sudah membuat Kinara terpesona. Sejak Arjuna bersikap manis pada Kinara, saat itulah Kinara sudah jatuh hati dan mencintai suaminya itu. "Kamu tahu, Kinar. Aku sangat merindukanmu. Aku sempat takut ketika kamu pergi dari rumah kemarin. Aku takut terjadi apa-apa denganmu dan meninggalkanku sendiri," ucap Arjuna. "Benarkah?" Kinara menatap mata Arjuna untuk menemukan kejujuran disana. "Aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku juga sangat merindukanmu saat...." Arjuna menghentikan perkataannya untuk melihat reaksi Kinara. "Saat apa?" "Saat kita bercinta," bisik Arjuna tepat di telinga Kinara. "JUNAA...." Kinara memukul lengan Arjuna dan menatap kesal pada suaminya itu. Sementara Arjuna, justru tertawa dan menuju sofa untuk membaringkan tubuhnya. "Cepatlah, tidur! Jangan terbayang-bayang dengan apa yang kukatakan tadi," jelas Arjuna. "Gak akan!" "Yaudah merem!" "Iya," jawab Kinara. Kinara melihat Arjuna menutup matanya. Ada perasaan lega dan bahagia melihat wajah teduh Arjuna yang tertidur seperti itu. Wajah itu selalu tampan, bahkan saat tidurpun Arjuna tetap terlihat sangat menawan. Lagi dan lagi Kinara mengagumi Arjuna. Kinara harap semoga Arjuna sungguh-sungguh dengan perkataan yang akan menjaga, melindungi dan mencintainya sampai mau memisahkan. "Kinar, jangan melihatku terus! Istirahatlah," ucap Arjuna dengan mata yang masih terpejam. Kinara segera mengalihkan pandangan dan menarik selimut ke atas tubuhnya kemudian memejamkan mata. Kinara tidak tahu kalau saat itu Arjuna sedang tersenyum dengan sikap mengemaskan istrinya itu. *** Malam berganti dengan pagi. Arjuna sudah merapikan dirinya begitu pula Kinara. Perawat sudah melepas infus Kinara dan Arjuna sudah kembali dari menebus resep obat di apotik. Mereka meninggalkan rumah sakit dan menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan. Selesai memberikan keterangan, Kinara dan Arjuna diperbolehkan melihat keadaan Indira. Polisi mengatakan hari ini akan ada pemeriksaan kejiwaan untuk Indira. Wanita itu semakin menjadi ketika melihat Arjuna dan Kinara. Indira berteriak dan mengeluarkan semua kata kotornya kemudian tertawa dengan keras. Sementara Leon hanya duduk termenung dengan pandangan kosong. Polisi mengatakan beberapa keluarga Leon telah berkunjung kemarin, sementara dari pihak Indira tidak ada yang ke sini. Arjuna mengatakan kalau Indira sejak lama hidup sendiri tanpa orang tua. Hanya ada paman yang dikenalkan kepadanya, namun paman itu sudah tua dan tidak memungkinkan untuk datang menemui Indira. Melihat keadaan indira, ada rasa iba di hati Arjuna. Bagaimana pun, Arjuna pernah mengenal dan dekat dengannya. Namun, perbuatan Indira tidak bisa di maafkan, dia harus menerima hukumannya. Kinara dan Arjuna telah menyelesaikan urusan di kantor polisi, setelah itu mereka langsung pulang ke Jakarta. Di perjalanan Kinara hanya diam, begitu pula Arjuna. Kinara beberapa kali melirik Arjuna untuk memastikan keadaan suaminya itu. Kinara paham, mungkin saja Arjuna masih terkejut melihat keadaan Indira yang seperti itu. "Jangan terlalu di pikirkan, kita doakan saja Indira bisa pulih kembali," ucap Kinara memecah keheningan. "Iya, kamu benar, Kinar." Perjalanan terasa begitu lama karena Arjuna pelan-pelan mengemudikan mobilnya. Dia bilang akan berhati-hati untuk menjaga Kinara dan janin dalam perutnya. Kinara dan Arjuna langsung menuju rumah sakit untuk menemui ibu Diana dan Ibu Linda. Kinara langsung memeluk wanita paruh baya itu sesampainya di rumah sakit. Ibu Linda membawa Kinara untuk bertemu dengan ibu Diana di ruangannya. Tangis Kinara pecah melihat tubuh ibunya yang semakin kurus dan wajahnya yang pucat. "Ibu, maafkan Kinar baru bisa datang," ucap Kinara sambil memegang dan mencium punggung tangan ibu Diana. Ibu Diana tersenyum dan mengelus pelan rambut Kinara. "Kamu baik-baik ya, Nak. Hiduplah bahagia dengan suamimu," ucap ibu Diana. Kinara hanya mengangguk, mencium kembali punggung tangan ibu Diana dan tidak hentinya mengeluarkan air mata. "Ibu memang sudah tua, Kinar. Melihatmu bahagia dan adik-adikmu di panti tercukupi, ibu sudah senang," jelas ibu Diana dengan lirih. "Nak Arjuna...tolong jaga Kinara dengan baik." Arjuna mendekat pada ibu Diana, "Saya akan jaga Kinara dengan baik, Bu." Kinara, Arjuna dan ibu Linda keluar dari ruangan karena ibu Diana sudah tertidur. Kinara pamit pada ibu Linda untuk pulang ke rumah dan akan kembali besok. Ia dan Arjuna harus bertemu orang tua Arjuna agar mereka tidak khawatir. Kinara memberitahu kalau dirinya sedang hamil. Betapa bahagia ibu Linda dan langsung memeluk putrinya itu dengan hangat. Kinara dan Arjuna pamit dan segera pulang ke rumah Arjuna. Setelah menempuh beberapa menit, Kinara sampai di kediaman Atmaga. Arjuna memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju rumah orang tuanya. Kinara melihat Rama dan Lisa juga hendak masuk. Mereka berpapasan dan saling menatap satu sama lain. "Sepertinya kalian habis melakukan perjalanan yang menyenangkan," ucap Lisa dengan angkuh. "Tentu saja, kami selalu meluangkan waktu bersama," jawab Arjuna. "Sudahlah, ayo kita masuk ke dalam, Ibu sudah menunggu," ajak Rama. Mereka berempat masuk ke dalam rumah. Safira dan Ardi sudah menunggu di ruang keluarga. Pelukan hangat Safira berikan pada kedua putra dan kedua menantunya. "Kalian kemana saja? Sudah lama tidak berkunjung ke rumah ibu, padahal rumah kita sebelahan," protes Safira. "Maaf, Bu. Banyak pekerjaan kantor. Aku dan Lisa juga baru kembali dari perjalanan Bisnis dari Bandung," ucap Rama. "Keadaan perusahaan bagaimana, Rama?" tanya Ardi. "Semua baik, Pa, berjalan sesuai rencana," jawab Rama. Perusahaan utama sekarang dipegang oleh Rama. Hanya sesekali Ardi dan Safira mengunjungi perusahaan. Rama yang mengurus semuanya dan dibantu oleh Lisa. "Kamu juga, Jun. Gak pernah berkunjung ke rumah ibu, kalian sibuk kemana, sih? Liburan juga?" tanya Safira basa-basi padahal sudah tahu dari penjelasan Arjuna lewat telepon kemarin. "Bukankah ibu sendiri yang bilang kami harus pulang membawa kabar gembira buat ibu?" "Jadi, kamu bawa kabar gembira?" tanya Safira. "Mungkin saja," jawab Arjuna. Arjuna melihat kecemasan di raut wajah Rama dan Lisa. Ssmantara Kinara hanya diam mendengarkan obrolan keluarga ini. "Gimana Lisa? Apa kamu udah hamil?" tanya Safira. "Belum, Bu," jawab Lisa. "Kami akan berusaha lagi, Bu," ucap Rama. "Tidak masalah, berusaha lah lagi, masih ada banyak waktu, terutama Lisa. Kamu jangan egois. Kehadiran anak itu bisa menambah keharmonisan keluarga kalian," ucap ibu. "Bagaimana denganmu, Kinar?" Lisa ingin merespon ucapan Safira namun Safira segera bertanya pada Kinara membuat Lisa harus menutup mulutnya kembali. "Sebernya Kinar sudah....."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lanjut thor.. ceritanya seru banget.. semangat..
23/05/2022
5wowwwww
7d
0the beast
27d
0Lihat Semua