Beranda/Cinta Sebatas Fatamorgana/
(34) Negosiasi
Seperti yang dikatakan Anila Kusumawardani saat masih berada di dalam gudang, Dikdik yang nomor selulernya berhasil dihubungiku tak gampang percaya pengakuanku. Apalagi ketika aku mengaku telah membebaskan Anila Kusumawardani yang disekapnya. Baru setelah suara Anila Kusumawardani diperdengarkan lewat ponsel, Dikdik akhirnya bisa menerima pengakuanku. Anak buahnya memang telah dilumpuhkanku di gudang.
Panjang lebar aku bercerita. Mulai awal mula aku sampai berhasil membebaskan Anila Kusumawardani, hingga cerita sebuah ponsel yang dibeli olehku dari seorang satpam sekolah. Kepada Dikdik, aku mengaku tahu kalau galeri ponsel yang dibeliku menyimpan file barang bukti kejahatan. Aku menyebutnya file berupa rekaman video.
Reaksi Dikdik malah terdengar layaknya AKP Jang Basri. Dia seketika menginterogasiku lewat pertanyaan-pertanyaan kritis. Tak peduli sudah kusebut ciri khas ponsel, yakni tulisan angka 3571 pada tutup dus ponsel berwarna kuning. Aku meyakini, angka 3571 bukan angka sembarang. Angka keramat yang hanya diketahui kelompok kejahatan yang dipimpin Dikdik.
Setelah terus-menerus dicecar interogasi, barulah aku sadar perlakuan Dikdik di seberang seluler terhadapku. Ada sasaran yang ingin digapai Dikdik dengan memperlakukanku layaknya pelaku kriminal. Tujuan akhir dari interogasinya bukan semata menguji kebenaran pengakuanku. Dikdik hanya ingin memastikan, aku belum sekalipun pernah membuka file yang tersimpan di galeri ponsel. Padahal aku telah menyebut galeri ponselnya dikunci.
Semakin aku meyakini, file yang ditakutkan Dikdik berupa rekaman video yang memperlihatkan kejahatan kelompoknya.
Sewaktu aku menanyakan kondisi Tato, Dikdik menuturkan bila anak itu dalam keadaan baik saja. Katanya, Tato sedang menyantap nasi bungkus sebagai menu makan siang di mobil. Dikdik pun menuturkan, dirinya beserta anak buahnya tengah berada di dalam mobil yang parkir di Taman Kartini. Menunggu Satpam sekolah yang mereka incar pulang.
“Kita nego saja! Anda serahkan Tato, dan saya serahkan ponsel,” di ujung perbincanganku bersama Dikdik, aku mengajukan tawaran.
“Di mana kita bertemu?” Dikdik sepertinya menerima tawaranku.
“Sore nanti, jam lima sore kita bertemu di Taman Maluku Bandung. Nanti saya hubungi lagi tempat persisnya. Anda mesti datang bersama Tato. Sendirian tanpa didampingi anak buah.”
“Sementara saya sendirian membawa Tato, Taman Maluku sudah dikepung polisi.”
“Kalau memang saya berniat membawa-bawa polisi, Anda sudah disergap di Taman Kartini saat ini juga.”
“Anda malah berlagak sok pahlawan ya? Seharusnya Anda melapor ke polisi begitu tahu ada perempuan disekap di gudang.”
Rupanya Dikdik belum seutuhnya mempercayaiku. Dia masih juga mencari-cari celah kebohonganku.
“Saya saat ini sedang bermasalah dengan polisi.”
“Anda DPO?”
“Semacam itulah. Tapi, saya bukan penjahat. Kesalahan saya cuma lalai di administrasi perusahaan.”
“Karena tak mau bertemu polisi, lalu Anda memilih jadi pahlawan perempuan yang baru dikenal lewat botol anggur. Heroik sekali Anda.”
“Anila Kusumawardani yang Anda culik itu sahabat karib istri saya. Dulu, istri saya pernah berhutang nyawa karena diselamatkan Anila sewaktu kebakaran di apartemen. Istri saya yang justru meminta saya segera menolong karibnya.”
Interogasi Dikdik padaku masih berlanjut. Sedangkan aku selalu lancar berargumen. Dikdik di seberang seluler akhirnya tak lagi menganggapku seorang pembual. Kisah rekaanku kelihatannya berhasil diterima nalarnya. Dia lalu sepakat bertemu denganku di Taman Maluku sore nanti.
***
Sebelum mendatangi Taman Maluku pada jam lima sore nanti, sejumlah urusan mendesak dikerjakanku terlebih dahulu. Salah satunya seperti saat ini, di mana aku sedang mengantarkan pulang Anila Kusumawardani yang sudah dibebaskanku. Duduk bersamaku di jok depan mobil pick up hitam, aku begitu antusias membawa mobil curianku ke Cimahi, kota di mana Anila Kusumawardani tinggal.
Ternyata Anila Kusumawardani enggan diantar ke kediamannya. Dia memintaku mengantarkannya ke rumah kerabatnya saja. Dalihnya demi keamanan. Dia khawatir para penculik akan mengincarnya lagi jika kembali ke kediamannya.
Ketika aku singgung kediamannya, Anila Kusumawardani membenarkan Jl. Gunung Jujur 997 Cimahi sebagai alamat kediamannya. Memeningkan isi kepalaku manakala Anila Kusumawardani bersikukuh, rumahnya sama sekali tidak dikontrakan. Dia tetap tinggal di sana, dan mengaku dikenal baik oleh tetangga sekitar.
Rencanaku, yang tidak membawa-bawa polisi untuk menyelamatkan Tato di luar dugaan justru diamini Anila Kusumawardani. Dia pun menolak bila langsung melapor ke kantor polisi terdekat. “Pak Dani, saya curiga kalau Dikdik itu anggota kepolisian,” katanya beralasan.
Tentu saja aku meminta dalih Anila Kusumawardani, sehingga dia berani menilai Dikdik anggota kepolisian.
“Cara Dikdik berbicara runut, tegas, dan selalu menggunakan bahasa formal. Potongan tubuhnya pun tak kayak preman.”
“Kalau gaya bicara, apalagi potongan tubuh orang sipil juga banyak, Teh Anila.”
“Dia pandai sekali mengorek-ngorek informasi dari mulut saya. Beberapa kali saya mendengar istilah-istilah kepolisian─”
“Contohnya?”
“Dikdik sempat saya dengar nyebut-nyebut forensik, gelar perkara, anjing K9. Malah pernah juga saya dengar lawan bicaranya di ponsel manggil Ndan ke dia.”
Kali ini aku mengamini penilaian Anila Kusumawardani perihal sosok Dikdik. Tadi sewaktu berbincang dengan pimpinan penculik itu di seluler, aku justru merasa seperti sedang diinterogasi Dikdik. Cara dia menanggapi pengakuanku terdengar tenang tanpa panik. Selain itu bahasa yang digunakannya memang terlalu formal untuk kaum kriminal. Masuk akal bila Dikdik seorang polisi.
Rasanya aku mulai sedikit mampu menyingkap tabir misteri. Aku paham sekarang, sebab polisi-polisi di sekitar Bandung Raya selalu menganggap angin lalu semua laporanku. Sepertinya Dikdik orang berpengaruh di instansi kepolisian di wilayah sini. Para polisi pada segan semua. Mungkin juga mereka tak mau mengambil risiko mengusut kejahatan Dikdik.
Kami berdua akhirnya sampai di Cimahi. Belum lewat siang hari. Saat masih berada di jalanan Bandung, Anila Kusumawardani sudah memintaku menuju Taman Kartini. Rumah kerabatnya terbilang dekat dengan taman itu, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi, rumah kerabatnya berada di dalam gang yang sulit dilalui mobil. Tempat terdekat untuk memarkirkan mobil hanya lahan parkir di Taman Kartini.
“Janji ya, Pak Dani. Tepat jam tiga sore jemput saya lagi di lahan parkir Taman Kartini, terus kita sama-sama pergi ke Taman Maluku!” seru Anila Kusumawardani mengingatkanku. Barusan aku menurunkannya di lahan parkir Taman Kartini.
Mengingat sedang dikejar waktu aku tak turut menemani Anila Kusumawardani ke rumah kerabatnya. Secepatnya aku harus putar balik ke Bandung. Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku menyempatkan diri singgah ke toko kimia.
Sebelumnya aku enggan melibatkan Anila Kusumawardani dalam rencanaku menyelamatkan Tato, berisiko. Tetapi, dia bersikeras sekali. Aku akhirnya maklum. Bagaimanapun juga Anila Kusumawardani adalah ibu kandung Tato. Dia butuh kepastian dengan menyaksikan sendiri anaknya dibebaskan.
***
Tibalah aku sekarang di rumah. Kosong. Erlinda mungkin baru petang nanti pulang dari pesta temannya. Langsung saja aku menuju studio lukisku. Di dalam laci meja kayu yang tersedia di sana tersimpan dus ponselku. Baru tiga bulan lalu Erlinda membelikanku ponsel baru, semestinya dusnya masih dalam kondisi bagus.
Melihat dus ponsel yang tersimpan di dalam laci meja kayu, aku boleh tersenyum girang. Ternyata dus ponsel warna kuning itu laksana baru kemarin dibeli olehku. Masih mulus sekali. Segera aku menuliskan angka 3571 di bagian tutup dus. Aku optimis, angka 3571 adalah kunci untuk meyakinkan Dikdik.
Sedikit utak-atik dikerjakanku pada dus ponsel. Butuh ketelitian dan perhitungan matang, supaya utak-atik yang dikerjakanku mampu memperlancar rencana membebaskan Tato dari cengkeraman Dikdik. Tentu aku butuh waktu pula. Untungnya waktu yang tersedia lebih dari cukup. Sehingga upaya utak-atikku tidak dikerjakan secara serampangan.
Selesai mengutak-atik dus ponsel aku memilih lekas kembali pergi ke Taman Kartini. Tak peduli dengan tubuhku yang mulai merasakan lelah. Jalanan yang lancar menyebabkan mobilku tiba di sana pada pukul 14.27 WIB. Aku datang menggunakan mobilku sendiri. Mobil pick up hitam yang dicuriku masih parkir di lahan kosong dekat kediamanku. Akan segera dikembalikan ke pemiliknya, nanti usai aku membebaskan Tato.
Tidak terlihat olehku Anila Kusumawardani di lahan parkir Taman Kartini. Aku maklum karena terlalu cepat datang kemari. Masih tersisa waktu 43 menit. Anila Kusumawardani sendiri akan dijemputku di sini pada pukul tiga sore. Waktu yang menjenuhkanku andai menunggu di dalam mobil.
Aku memilih keluar mobil. Masuk ke dalam Taman Kartini aku lantas duduk di bangku taman. Sedikit sekali pengunjung taman yang duduk-duduk di sekitarku. Demikian dengan para pedagang kaki lima yang biasa mangkal di taman, bisa dihitung jari. Paling banyak kerumunan terlihat di arena skateboard. Sekitar sembilan anak remaja tengah bergantian memainkan papan seluncur.
Memori masa kecilku langsung berputar begitu duduk di bangku taman. Sebentar saja. Barusan pandangan mataku tak sengaja terlempar ke arah pohon beringin di pojok selatan taman. Tepat di bawah pohon beringin, aku melihat seorang perempuan yang rambut lurusnya dibiarkan tergerai melebihi bahu tengah berdiri. Tangannya melambai-lambaikan ke arahku. Rupanya Anila Kusumawardai telah terlebih dahulu tiba di Taman Kartini.
Semestinya aku cukup membalas lambaian tangannya, dan menunggu Anila Kusumawardani datang menghampiriku. Aku justru yang beranjak berdiri dari bangku taman. Lantas bergegas berjalan menuju pohon beringin yang menaungi Anila Kusumawardani. Heran, antusiasku sampai meletup-letup begini. Seolah-olah perempuan yang berdiri di sana jauh-jauh hari telah dekat denganku. Padahal pertemuanku dengannya baru yang kedua kalinya.
Langkah kakiku terhenti seketika dua meter di depan Anila Kusumawardani. Aku pun belum mengangkat tangan kananku. Sedangkan dia sudah menjulurkan tangannya ke arahku. Sesuatu yang signifikan sekonyong-konyong mencengkeram kedua kakiku, sehingga aku kini hanya bisa berdiri terpaku.
“Firasat saya tadi berkata, Pak Dani bakal datang setengah jam dari janji kita. Saya enggak mau Pak Dani sampai lama menunggu, makanya saya datang lebih awal juga. Ternyata firasat saya benar.”
Bukannya menimpali sambutan Anila Kusumawardani, aku malah melanjutkan terdiam terpaku di hadapannya. Mendadak aku merasakan desir. Aku percaya desir itu bukan angin yang mengalir. Desir itu menjalar begitu saja di dalam tubuhku, nyaris bersamaan dengan terpikatnya bola mataku pada sosok perempuan di hadapanku ini. Anila Kusumawardani menampak elok sekali.
Benar, tadi pagi pun aku menemukan daya pikat pada diri Anila Kusumawardani. Bahkan menurutku daya pikatnya melebihi Erlinda. Padahal dia hanya berbalut daster tanpa polesan bedak sedikit pun. Parasnya malah masih menampakkan pucat. Lain dengan Anila Kusumawardani yang disaksikanku sekarang. Alangkah berkilaunya dia dengan pesona.
Entah kenapa dia sampai memikatku kuat sekali di siang hari ini. Terasa menembus dan melumpuhkan nalarku. Barangkali karena bertebaran aroma parfum vanila dari sekujur tubuhnya. Terasa seksi sekali saat diendus hidungku. Memancing hasratku untuk terus menerus mencium aromanya. Fantasi laki-lakiku serta-merta dibuatnya mengawang.
Mengenakan blus kerah V putih, serta dipadu dengan rok A-line kuning motif bunga, Anila Kusumawardani tak sekedar menampakkan lembut lagi. Layaknya seorang dara dia terlihat olehku modis dan chic. Padahal perempuan itu sudah memiliki seorang anak.
Sejujurnya aku harus menyebut Anila Kusumawardani salah kostum. Apalagi dia mengenakan sepatu heels meski rendah. Siang ini dia tak hendak pergi ke tempat arisan, melainkan ikut bersamaku untuk membebaskan putranya.
Akan tetapi, Anila Kusumawardani sedang menyihirku di siang hari ini. Tiada aku peduli busana yang dikenakannya akan menghambat dia bergerak nanti. Ada kemungkinan kami akan berlarian di Taman Maluku.
“Pak Dani bisa mendengar saya?”
“Eh, iya, ya ... eh, gimana kita berangkat sekarang!” sahutku tergugah dari jerat pesona perempuan di hadapanku.
“Sekarang saja, Pak Dani. Saya sudah tak tahan gelisah memikirkan Tato,” ujar Anila Kusumawardani seraya menurunkan tangannya lagi. Dia tidak tampak tersinggung, malah tersenyum manis kendati uluran tangannya tadi tidak disahut tanganku.
***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (66)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
waw seru habis
14/09/2025
0kntl bapak kau pecah
13/06/2025
0mantappp
12/06/2025
0Lihat Semua