logo text

Bab 30 TRICK DAMAR KAH ?

BAB 30
TRICK DAMAR KAH ?
“Ayo kita masuk, Sayang. Udara malam semakin dingin. Kamu tidur, ya sudah larut malam,” bisik Damar seraya merangkul bahunya membawanya masuk.
Sampai di dalam Raesha melangkah menuju kamarnya dan membiarkan Damar berdiri mematung menatap dirinya yang menghilang ke dalam kamar.
Raesha mengunci pintu kamarnya. Melepas tangis yang sudah mendesak sejak tadi. Membenam isaknya dalam dekapan bantal. Mengapa begitu sakit rasa hati ini melepas apa yang pernah dimiliki selama ini ? Bukankah Bunda sering berkata bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Apapun yang kita miliki suatu saat akan lepas dari kita. Misalnya kita memiliki suatu barang yang sangat kita sayang, bisa saja suatu saat barang itu akan rusak atau hilang. Bahkan kehidupanpun akan berakhir suatu waktu jika Sang Pemiliknya menghendaki. Jadi bersiaplah untuk kehilangan apapun dan kapanpun.
Tapi ternyata Raesha tak siap. Tidaklah mudah melepaskan masa-masa indah yang selama ini dijalaninya dengan suaminya. Perjalanan penuh cinta yang indah telah mereka lalui berdua. Damar begitu mencintainya, melimpahinya dengan segenap cinta dan perhatiannya. Membuat Raesha begitu memujanya. Tapi Damar juga yang menghempas perasaannya kini. Ini yang membuat Raesha benar-benar sakit dan hancur.
Tak sepicingpun ia tidur malam itu. Kalau bertengkar dengan Damar tak akan membuat hatinya segundah itu. Sejak ia mengetahui perbuatan Damar, sudah beberapa kali mereka bertengkar hebat, tidak sampai mengganggu tidurnya. Tapi perlakuan Damar yang lembut menyentuh hatinya tadi, sungguh membuat dirinya dalam dilemma. Ia rindu, sangat rindu bermanja dengan suaminya. Ia rindu kebersamaan mereka. Ia rindu candaan suaminya. Tapi mengingat kelakuan suaminya dengan Ayuna, ia merasa mereka berdua mencemooh dirinya. Menghina dirinya. Seolah dirinya orang bodoh yang gampang dikibuli dan diremehkan. Aaghh....
Tak terasa subuh sudah datang. Raesha segera mengambil wudhu dan menunaikn shalat paginya. Usai shalat dilihatnya wajahnya di cermin. Matanya sembab karena menangis semalaman dan kepalanyapun agak terasa berat. Perlahan ia keluar kamarnya mencari Bi Imas di dapur.
“Bi, nanti tolong buatkan susu dan roti bakar untukku ya. Tolong antar ke kamar. Aku merasa agak pusing. Dan bibi juga tolong siapkan sarapan untuk Rhas dan Shaka. Aku mau rebahan dulu. Mudah-mudahan sebentar lagi pusing ini bisa hilang.
“Baik, Neng. Nanti kalau masih pusing biar bibi bantu pijitin.”
Sepertinya Resha tertidur pulas setelah memakan sarapan yang diantarkan bibi tadi. Ia terbangun ketika dirasanya seseorang membelai rambutnya. Nyaman sekali rasanya diusap-usap seperti itu. Sesaat dibiarkannya dirinya menikmati kenyamanan tersebut. Ketika tangan itu turun mengusap pipinya, Raesha membuka matanya. Dilihatnya Damar yang sudah siap dengan pakaian kantornya duduk di sisi ranjangnya saambil mengusap kepalanya. Raesha segera duduk bersandar di kepala ranjangnya.
“Kata Bi Imas kamu sakit. Mau aku antar ke dokter ?” Hati Raesha tercekat mendengar suara lembut suaminya. Sesaat terlupakan permusuhan mereka.
“Mungkin kamu masuk angin karena kelamaan di teras semalam. Berbaringlah, aku pijitin dan olesi kayu putih.” Damar mengatur bantal untuk Raesha berbaring. Ah ... kalau saja tidak ada tragedi Ayuna, sudah pasti dengan manja Raesha membaringkan tubuhnya menikmati pijatan lembut suaminya seperti yang biasa mereka lakukan dulu. Dan biasanya...akan berlanjut dengan pijitan yang lain yang akan mengantar keduanya ke nirwana cinta.
Atagfirullahaladziim... Raesha mengusap wajahnya, menghilangkan bayangan yang sulit untuk dihilangkan.
“Aku ngga apa-apa. Kamu berangkat saja. Sudah hampir jam delapan. Nanti kamu terlambat.”
“Baik, nanti kalau ada apa-apa telepon aku, ya.” Damar meraih jemari istrinya lalu diciumnya dalam-dalam dengan mata terpejam. Membuat jantung Raesha bedebaran tak menentu. Dan sebuah kecupan ringan dilayangkannya di kening Raesha yang diam membeku.
Sepeninggal Damar, kembali air matnya jatuh tanpa bisa dicegah. Mengapa Damar harus menunjukan sikap selembut itu di saat terakhir mereka kini ? Apakah Damar betul-betul telah menyesali segala perbuatannya ? Kalau iya, haruskah Raesha merobah keputusannya dan membatalkan gugatannya ? Lalu memaafkan dan melanjutkan hidup bersama suaminya itu ? Atau itu hanya trik Damar untuk merayu Raesha agar hatinya luluh lalu membatalkan tuntutan cerainya dan kembali hidup bersama Damar ? Tapi memang seperti itulah Damar selalu padanya. Lembut, penuh kasih sayang dan perhatian. Walau selama setahun belakangan ini ia telah bersama Ayuna, sikapnya pada Raesha tidak berobah.
Terdengar pintu kamarnya dibuka. Rhas baru sampai di rumah sehabis mengantar Shaka ke sekolahnya. Ia melihat Damar di kamar Raesha. Lelaki itu terlihat mencium kening istrinya. Rhas merasa aneh dengan sikap kakaknya. Waktu di rumah Bunda sebegitu tegasnya menyatakan ingin berpisah. Tapi barusan itu apa ?
“Mbak.... “
Raesha mengangkat wajahnya dari bantal. Diusapnya air matanya.
“Ngga kuliah, Rhas ?”
“Nanti berangkat jam sepuluh, Mbak. Ada masalah, Mbak ?” Rhas berdiri di pintu. Raesha menggeleng.
“Aku lihat Mas Damar dari kamar Mbak tadi. Mau apa dia ?”
“Bi Imas bilang ke dia kalau Mbak kurang sehat. Dia mengajak Mbak ke dokter. Tapi Mbak ngga mau.”
“Mbak mau aku antar ke dokter ?” Tanya Rhas. Raesha menggeleng.
“Ngga usah. Mbak hanya sedikit pusing. Istirahat sebentar nanti baik lagi. Nanti jam sembilan mau ke Cikarang dengan Pak Maliq. Mau melihat lokasi apartemen yang mau dipasang gorden.”
“Mbak sudah menentukan sikap untuk berpisah dengan Mas Damar. Jangan lemah hati. Beberapa kali ia minta maaf sama Mbak dan berjanji tak mengulangi perbuatannya. Tapi buktinya apa ? Selalu dan selalu diulanginya lagi. Sebaiknya Mbak suruh ia pindah dari rumah ini mulai sekarang. Toh sebentar lagi sudah ada putusaan cerai . Aku kuatir ia memanfaatkan kelemahan Mbak untuk melakukan hal-hal yang merugikan Mbak.”
“Iya nanti Mbak pikirkan. Mbak mau siap-siap dulu, sebentar lagi mbak berangkat.”
***
Maliq menepati janjinya tidak datang sendirian. Ia membawa sopir, Pak Jono. Sehingga mereka bertiga di mobil ketika dalam perjalanan ke Cikarang. Ia duduk di bangku belakang besama Raesha. Membuat Raesha jadi risih.
“Ada masalah yang terjadi ?” Maliq bertanya ketika mereka sudah keluar dari rumah Raesha. Raesha menggeleng. Maliq ingat kemaren sore itu berpapasan dengan mobil Damar saat ia meninggalkan rumah Raesha. Dan pandangan Damar terlihat menatap marah ke mobil Maliq. Maliq kuatir Damar akan marah dan menyakiti Raesha karena hal tersebut.
“Tapi matamu .... Kamu habis menangis ?” Raesha membisu. Rasanya tak perlulah ia menceritakan pada Maliq apa yang terjadi semalam dan pagi tadi antara dia dan Damar. Juga tentang hatinya yang galau atas sikap Damar yang menyentuh perasaannya.
“Kalian bertengkar ? Dia menyakitimu ?” Oh God ... mengapa Maliq sangat perhatian padanya ? Caranya bertanya menunjukan besarnya perhatiannya pada Raesha. Dulu Damar juga begitu. Penuh perhatian padanya.
“Tidak, kami tidak bertengkar. Justru belakangan ini ia sangat baik memperlakukan aku. Mungkin ia ingin meninggalkan kesan baik di saat terakhir kami. “
“Ia berlaku baik padamu ? Jangan-jangan ia ingin meraih kembali hatimu agar kamu membatalkan gugatan ceraimu.” Maliq jadi merasa kuatir.
“Entahlah, tapi aku tidak mau lagi bersamanya. Dikhianati itu sangatlah sakit. Mungkin aku bisa memaafkannya. Tapi tak kan pernah bisa melupakannya.”
Ada senyum tipis di bibir Maliq.
******

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Grandika Andrayodi

    Raesha yg dizalimi suaminya, bertemu sama Maliq. semoga terjalin kisah indah

    06/07/2022

      2
  • avatar
    RukminiDwi

    menarik dan seru

    11d

      0
  • avatar
    YantiIrma

    novelnya sangat bagus

    15d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru