logo text

Bab 12 KECURIGAAN BUNDA

Bab 12
KECURIGAAN BUNDA
Rhasyaf memacu mobilnya lebih kencang. Beruntung minggu siang itu lalu lintas tidak begitu ramai. Tak sampai satu jam ia dan kakaknya Raesha sudah sampai di depan rumah. Tapi mobil mereka tidak bisa masuk karena mobil Damar parkir pas di depan pintu pagar. Rhas memarkir mobilnya di luar pagar.
Bergegas ia dan kakaknya masuk. Tapi pintu utama ternyata dikunci dari dalam. Mereka memutar ke arah pavilyun samping dan masuk dari sana. Di dalam rumah yang sepi, terdengar jelas suara-suara orang yang sedang memadu kasih dari arah kamar tidur Damar.
Rhas menoleh pada kakaknya dengan penuh rasa hiba.
“Mbak, Mbak sanggup melihatnya lagi ?” Dipegangnya kedua bahu kakaknya. Raesha mengusap embun di matanya.
“Harus, Rhas. Mbak harus memergoki mereka lagi. Mereka sudah keterlaluan. Menyelingkuhi Mbak, berbuat maksiat di rumah Mbak. Setelah ini, semuanya akan selesai.” Tidak ada lagi kemarahan dalam suara Raesha. Hanya ada luka yang tersirat di wajahnya. Rhas memeluk kakaknya sejenak berusaha memberi kekuatan pada hatinya yang sudah hancur.
“Mari, Mbak.” Rhas sudah siap dengan kamera ponsel menyala, siap merekam semua kejadian yang akan terjadi nanti.
Damar merasa aman karena mengira Raesha akan pulang malam atu besok hari. Lagi pula ia sudah mengunci pintu utama dari dalam, sehingga tidak akan ada yang bisa masuk. Berpikir seperti itu, ia tidak mengunci pintu kamarnya. Entah lupa, entah sudah kebelet ingin menyantap Ayuna.
Damar membuka pintu itu pelahan.Mengambil semua gambar dengan tenang sementara Damar tidak menyadari sama sekali. Ia tetap dengan aktifitas liarnya menggarap Ayuna yang mendesah tak terkendali.
Sementara Raesha berdiri dengan menahan tubuhnya yang gemetar. Enam tahun ia menjalani hidup berumah tangga dengan Damar. Damar memperlakukannya bak seorang ratu. Dan Raesha melayani suaminya bak seorang sultan. Mereka berdua bagaikan Romeo dan Juliet yang saling cinta. Aktifitas ranjangnya tak kalah panas dengan apa yang dilakukan Damar dan Ayuna saat ini. Raesha siap kapan saja dibutuhkan oleh suaminya. Lalu mengapa Damar juga melakukannya dengan Ayuna ? Apa yang kurang dari Raesha sehingga harus menghadirkan Ayuna di antara mereka ?
Walau ia bilang tadi sudah siap, walau ini sudah yang kedua kalinya, tetap saja melihat langsung suaminya besama perempuan lain di atas ranjang membuat tubuhnya lemas. Ia kuatkan hatinya. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk mengakhiri semua ini.
Ketika Damar mengangkat sedikit tubuhnya, saat itulah Ayuna menyadari ada dua orang yang menonton aktifitas ia dan Damar. Sontak ia mendorong tubuh Damar hingga tautan mereka terlepas dan Damar terguling ke sisinya.
“Ada apa, Sayang ? Kamu sudah selesai ? Sabar ya, aku sedikiiit lagi ...” Suara Damar tedengar parau. Damar berusaha meraih Ayuna untuk menuntaskan hasratnya. Ayuna yang panik menutupi dirinya dengan selimut.
“Nih, aku yang selesaikan !” Rhas melayangkan tinjunya ke wajah Damar. Damar yang kesakitan segera duduk. Disambut oleh pukulan berikutnya di perut dan sekali lagi di wajahnya. Membuat ia muntah karena pukulan Rhas di perutnya.
Giliran Ayuna mendapat bogem dua kali di wajahnya membuat darah mengucur dari hdung dan bibirnya. Damar menyeret wanita itu ke luar kamar.
“Seret ia keluar rumah, Mbak. Jangan berikan bajunya. Biarkan ia pulang dengan telanjang !”
Raesha mengambil alih Ayuna dari tangan Rhas. Dengan penuh kebencian diseretnya Ayuna keluar. Entah tenaga darimana diperoleh, apalagi saat itu ia mengenakan kebaya yang menghalangi geraknya. Namun dengan mudah ia menyeret Ayuna sampai ke teras depan.
“Nggak kapok-kapoknya kamu ya ! Baru minggu kemaren ketangkap basah di sini. Sekarang diulangi lagi. Lebih bodoh dari keledai kamu. Kamu pikir rumah ini tempat maksiat apa ? Seenaknya mengotori tempat tidurku dengan perbuatan dosa kalian. Enyah dari sini ! Tunggu videomu beredar di kantormu. “ Raesha berkata dengan suara pelan namun penuh kemarahan.
Ayuna tidak memikirkan ancaman Raesha yang akan menyebar videonya dengan Damar di kantornya. Ia lebih memikirkan tubuhnya yang saat itu tidak ada penutup sama sekali. Masa iya dia pulang dengan kondisi seperti itu. Lebih baik mati saja.
“Mbak, aku mohon berikan bajuku. Aku akan pergi sekarang. Ayuna menghiba sambil berlutut di hadapan Raesha sambil menutupi bagian depan tubuhnya. Ayuna sampai tidak merasakan sakit pada wajahnya yang dipukul Rhas tadi. Ia fokus pada pakaiannya.
Sebenarnya ia ingin menuruti kata-kata Rhas tadi membiarkan Ayuna pulang tanpa pakaian. Ia pernah melihat di televisi kasus pasangan yang ketangkep basah berbuat mesum. Lalu diarak oleh masyarakat dalam keadaan tanpa busana. Akankah Raesha melakukan hal itu pada Damar dan Ayuna ? Namun nuraninya sebagai manusia dan sesama wanita tak tega. Bagaimanapun Damar adalah ayah dari Shaka putranya. Apalagi Ayuna memohon dengan dengan suara penuh ketakutan. Dilemparnya pakaian wanita itu dan menyuruhnya segera angkat kaki dari rumahnya. Sudah tidak ada rasa cemburu di hati Raesha. Kesakitan yang teramat sangat sudah menghapus perasaan cintanya pada Damar. Yang ada hanya marah karena rumahnya dipakai untuk maksiat.
Bergegas Raesha masuk. Ia kuatir Rhas akan kalap dan menghabisi Damar. Betul juga. Rhas memukuli Damar dengan penuh emosi sampai Damar tak berdaya. Raesha menarik Rhas agar menghentikan pukulannya. Ia tidak ingin adiknya itu tersangkut kasus hukum.
“Sudah, Rhas. Kalau ia mati, kamu akan menjadi pembunuh.” Rhas menatap kakak iparnya itu dengan jijik.
“Mbak sudah yakin akan mengakhiri pernikahan Mbak ? “ Tanyanya lirih. Raesha mengangguk pasti.
“Kamu pikir Mbak masih harus bertahan dengan suami seperti dia ? Lihat, betapa tak ada harga dirinya dia sekarang. Meringkuk tak berdaya seperti hewan masuk perangkap di hutan. ” Raesha menjawab dengan suara bercampur tangis. Pedih rasanya melihat lelaki gagah yang selama ini dipujanya, meringkuk lemah demi memuaskan hasrat nafsunya dengan perempuan lain. Pedih rasanya mengingat perkawinan yang dimulai dengan punuh cinta, direstui orang tua dan dijalani penuh kasih sayang, harus berakhir dengan penuh luka batin.
“Kita antarkan dia ke rumah orang tuanya. Sebab kalau di sini tak ada yang akan mengurusnya.” Ujar Rhas.
“Rhas ... ! “ Raesha terkejut mendengar usulan adiknya itu. IA belum siap menghadapi mertuanya maupun orang tuanya sendiri. Apalagi mengantarkan Damar dalam kondisi babak belur begini. Akan banyak pertanyaan dari mertuanya yang harus ia jawab.
“Kita turunkan dia di depan rumahnya. Kita tidak perlu bertemu dengan mertua Mbak.” Raesha masih ragu.
“Kita harus kembali ke rumah Bunda, Mbak. “ Rhas menutupi tubuh kakak iparnya itu dengan sarung. Lalu memapahnya ke mobil. Setelah mengunci pintu mereka segera meninggalkan rumah itu.
Beruntung saat sampai di rumah orang tua Damar keadaan sedang sepi.
“Turun !” Hardiknya pada Damar yang meringkuk di bangku penumpang dengan hanya berkelumun sarung. Betul-betul sudah tak ada harga dirinya. Tampannya sudah berganti dengan wajah bonyok. Tubuh gagahnya sudah letoy bak karung kurang isi. Martabat sudah bercecer masuk comberan nafsu busuknya.
“Sha, kamu di sini dulu temani aku ya. Aku sakit, Sha. Kamu istriku, masa kamu tega membiarkan suamimu seperti ini ?” Damar mengerang.
“Ngga usah drama-dramaan. Cepat turun. Kalau mau ada yang ngurus, panggil saja selingkuhanmu itu .” Rhas membukakan pintu dan menarik Damar keluar dari mobilnya. Tanpa peduli pada Damar yang terseok menahan sakit, Rhas segera meninggalkan tempat itu.
Ketika mereka tiba kembali di rumah Bunda, para tamu sudah agak sepi karena sudah hampir magrib. Bunda yang dari tadi mencari Raesha, melihat putrinya itu datang berdua dengan Rhas. Kalau bukan hal yang sangat penting, tak akan mungkin Raesha dan Rhas meninggalkan acara pernikahan saudara mereka Refita di saat tamu sedang banyak.
Tadi ia mencari Raesha karena banyak kerabat yang datang menanyakannya. Karena tak menemukannya maka Bunda menanyakan pada Bi Imas dan Hanum.
“Tadi mau ada perlu sebentar dengan Mas Rhasyaf, Bu. “ Jawab Bi Imas.
Hati Bunda semakin tak tenang. Ia mulai merasa ada sesuatu yang disembunyikan putri sulungnya itu. Kalau tidak ada hal penting sekali tak mungkin Raesha dan Rhasyaf meninggalkan acara pernikahan Refita. Juga keputusan Rhas untuk tinggal sementara di rumah Raesha, menjadi pertanyaan sendiri baginya. Setelah acara pernikahan Fita selesai, ia akan menanyakan hal ini pada Raesha ataupun Rhas. Namun satu hal yang membuat ia agak tenang yaitu ada Rhas bersama Raesha. Adik lelakinya itu pasti akan melindungi kakak kesayangannya itu kalau terjadi sesuatu.
******

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Grandika Andrayodi

    Raesha yg dizalimi suaminya, bertemu sama Maliq. semoga terjalin kisah indah

    06/07/2022

      2
  • avatar
    RukminiDwi

    menarik dan seru

    11d

      0
  • avatar
    YantiIrma

    novelnya sangat bagus

    15d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru