PERHATIAN! Bagian 33 yang sebenarnya adalah yang ini. Yang sebelumnya adalah bagian 34. “RARA!” Tamara menoleh ke sumber suara. Seorang pria berusia 50 tahunan lebih tampak merentangkan kedua tangannya, siap memeluk puteri semata wayangnya yang baru pulang dari perantauan. Tamara yang masih berada di depan pintu keluar stasiun pun berlari dan langsung memeluk Joseph. “Papa apa kabar? Rara kangen banget sama Papa,” kata Tamara yang masih belum melepaskan pelukannya pada ayahnya. “Kabar Papa baik-baik aja, Ra, kayak yang kamu lihat sekarang ini,” jawab Joseph. “Ngomong-ngomong ….” Joseph melepaskan pelukannya. Ia menatap puterinya dengan tatapan menyelidik. “Kenapa, Pa?” tanya Tamara bingung. “Kamu tambah gendut, ya.” “Papa ….” Tamara mencubit lengan Joseph. Joseph tertawa. “Nanti bunda sama adikmu bakal pangling nggak, ya, sama kamu?” Joseph masih terus menggoda puteri semata wayangnya. “Papa, aku balik Jogja, nih, kalau Papa nakal,” ancam Tamara pura-pura merajuk. Joseph tertawa. Ia mencubit pipi kanan puterinya yang sudah lebih cubby dari ketika terakhir mereka bertemu. “Papa bercanda, Sayang. Ya udah, ayo, kita pulang! Bunda sama Ale udah nungguin kamu,” ajak Joseph seraya menggandeng tangan puterinya menuju tempat di mana mobilnya terparkir. “Silakan masuk, Tuan Puteri,” kata Joseph seraya membukakan pintu mobil untuk Tamara. “Papa, biasa aja kali,” kata Tamara seraya tertawa. Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi pengemudi. Joseph menutup pintu mobil tempat Tamara masuk tadi sebelum ia sendiri masuk dan duduk di kursi kemudi lalu mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. “Gimana kuliahmu?” tanya Joseph berbasa-basi. “Ya gitu, Pa – sibuk banget dan capek,” jawab Tamara. “Kemarin juga baru balik dari pengabdian masyarakat, Pa.” “Berapa hari acara pengabdian masyarakat?” tanya Joseph. “Seminggu, Pa,” jawab Tamara. “Acaranya ngapain aja?” Tamara menjelaskan semua rangkaian kegiatan mereka dari awal sampai akhir dengan penuh semangat, bahkan tak terasa mereka pun sudah tiba di halaman depan rumah. “KAK RARA!” Ale berlari menghampiri Tamara dengan riang, lalu memeluk erat tubuh kakaknya yang sudah lama tak bertemu dengannya. “Ale apa kabar?” tanya Tamara. “Kamu tambah tinggi aja.” “Iya dong. Kak Rara, tahu nggak, Ale paling tinggi di kelas lho,” kata Ale dengan bangga. “Oh, ya? Ale udah sekolah?” tanya Tamara terkejut. “Udah seminggu ini, Ra,” kata Giselle yang tiba-tiba datang, entah dari mana. “Eh, Bunda!” Tamara berseru seraya memeluk Giselle. “Bunda kangen sama kamu, Nak,” kata Giselle seraya membelai lembut rambut puteri tirinya. Meski Tamara adalah puteri tirinya, tapi Giselle sangat sayang dengan Tamara. Begitu pula sebaliknya – Tamara juga sangat sayang dengan Giselle. “Yuk, masuk ke dalam rumah dulu!” ajak Joseph. “Oh, iya. Yuk, masuk rumah dulu! Bunda udah masak rendang buat kita semua lho,” timpal Giselle, membuat senyum di wajah Tamara semakin berseri. Masakan Giselle sangatlah lezat, bahkan membuat Tamara tak henti mengunyah. “Kak Rara, ayo, besok pergi ke Dufan!” ajak Ale di sela mereka tengah makan. “Dufan?” Wajah Tamara berseri-seri. Sudah sangat lama ia tak pergi ke Dufan. Ale mengangguk. “Beneran, Bun, Pa?” tanya Tamara memastikan. Giselle dan Joseph mengangguk. “Hore!!” Tamara bersorak girang. *** “Ra, kamu udah siap bel—” Giselle terpaku melihat Tamara yang masih sibuk membuat eyeliner. Tamara mengalihkan pandangannya ke arah Giselle yang masih berdiri di depan pintu. Senyum di bibir Giselle terbit. “Oh, jadi anak sulung Bunda udah pinter make up, nih,” goda Giselle. “Ah, Bunda, bisa aja,” kata Tamara tersipu malu. “Kamu cantik, kayak mamamu,” kata Giselle memuji. Tamara tersenyum. “Makasih, Bun.” Tamara merasa tak biasa ketika Giselle memuji kecantikan Diana, terlebih mengingat bagaimana masalah yang terjadi sebelumnya – Giselle yang mengambil Joseph dari Tamara dan Diana. Namun, Tamara tak ingin menjadi seorang pendendam. Giselle adalah ibu tiri yang sangat baik dan sayang padanya. Jika Diana melihat ini semua, ia pasti juga akan bahagia karena seorang wanita bersedia menyayangi suami dan puterinya dengan sepenuh hati. “Udah siap, Ra?” tanya Giselle. Tamara mengangguk. “Yuk, kita masuk ke mobil!” ajak Giselle seraya menggandeng tangan Tamara. Setelah dipastikan semua sudah masuk ke dalam mobil, Joseph pun mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju Dufan. Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di Dufan dan masuk ke dalamnya. “Mas, aku pengen we time sama Rara,” kata Giselle. “Ehm, boleh. Ale sama Papa, ya? Laki-laki sama laki-laki, perempuan sama perempuan,” kata Joseph berusaha membujuk Ale. “Apa kau bersedia untuk berpetualang denganku, Kapten?” Senyum Ale mengembang. “Siap, Bos!” jawab Ale dengan penuh semangat. Mereka berempat berpisah. “Kamu mau naik halilintar, Nak?” tanya Giselle menawari Tamara. “Boleh, Bun,” jawab Tamara dengan antusias. Mereka pun duduk di salah satu kursi yang tersedia di antara banyak orang dewasa yang ingin mencoba menaiki halilintar – roller coaster yang sangat menantang di Dufan. Semua orang yang berada di sana berteriak histeris ketika laju halilintar semakin cepat dengan jalur yang berkelok-kelok, tak terkecuali Tamara dan Giselle. Mereka tampak bahagia hingga roller coaster berhenti, tanda permainan mereka telah selesai. “Kamu suka?” tanya Giselle. “Suka banget, Bun. Seru banget,” jawab Tamara dengan riang. “Eh, lihat tuh!” tunjuk Giselle. Mata Tamara mengikuti jari Giselle menunjuk – ke arah wahana yang bernama turbo drop. “Mau coba?” tanya Giselle menawari. “Boleh,” jawab Tamara dengan penuh semangat. Mereka pun berlari menuju turbo drop. Setelah dipastikan pengunjung aman, turbo drop pun membawa para pengunjung ke atas. Giselle dan Tamara berteriak kegirangan – antara takut dan merasakan keseruan yang luar biasa. Setelah puas bermain, Tamara dan Giselle pun mendatangi Joseph dan Ale yang sedang asyik makan es krim. “Bunda sama Kak Rara nggak dibeliin nih?” tanya Giselle pura-pura merajuk seperti seorang anak kecil. Joseph tertawa melihat tingkah istrinya. Tak heran jika Giselle masih seperti seorang anak kecil, karena usia Giselle memang masih sangat muda, bahkan tak berbeda jauh dari usia Tamara. “Bunda sama Kak Rara mau es krim rasa apa?” tanya Ale. “Bunda cokelat deh, Dik,” jawab Giselle. “Kak Rara juga yang rasa cokelat,” balas Tamara. “Oke deh,” kata Ale. “Papa, ayo, temani Ale belie s krim buat Bunda dan Kak Rara!” ajak Ale seraya menggandeng tangan Joseph. Dua orang lelaki berbeda usia itu pun berjalan menuju stand es krim lagi. Tak butuh waktu lama untuk mereka berdua kembali membawa dua buah es krim untuk Giselle dan Tamara. “Makasih, Anak Bunda Yang Ganteng,” ucap Giselle. “Makasih, Adik Kak Rara Yang Ganteng,” ucap Tamara. Setelah beberapa menit menghabiskan es krim, mereka pun berjalan-jalan ke area Dufan. “Papa,” panggil Ale. “Ya, Nak?” balas Joseph. “Ampun deh, Si Ale ini ya, papanya doang yang dipanggil. Emang anak papa,” kata Giselle yang merasa iri. Tamara tertawa. “Ale mau naik bianglala,” kata Ale. “Ayo!” jawab Joseph, Tamara, dan Giselle bersamaan. Mereka pun berjalan menuju bianglala, masuk ke salah satu bilik yang ada sebelum bianglala tersebut berputar. Ale tak henti menatap kagum dari atas. Ia tampak senang, bahkan ia tak henti mengoceh ke sana ke sini. Akan tetapi, bianglala tersebut tiba-tiba berhenti ketika bilik mereka tepat berada di paling atas. “Bunda!” Ale berseru ketakutan seraya memeluk Giselle. “Akhirnya kamu manggil Bunda, Dik, bukan Papa lagi,” kata Giselle gembira. Joseph tertawa. “Bunda, Ale takut. Ale takut kita nggak bisa turun,” kata Ale seraya menangis. “Sabar, Sayang. Ini cuma kendala teknis aja kok, nanti juga bener lagi,” kata Giselle seraya membelai puncak kepala putera kecilnya itu untuk menenangkan. “Beneran, Bun?’ tanya Ale ragu. “Iya, Sayang. Tunggu bentar ya,” kata Giselle dengan lembut. “Nih, minum air putih dulu!” Giselle menyodorkan sebotol air mineral yang mereka bawa dari rumah kepada Ale. Anak laki-laki itu menerima air mineral yang disodorkan oleh Giselle, lalu meneguknya dengan cepat. saking cepatnya, membuat baju Ale basah terkena tetesan air. “Sayang, hati-hati dong!” kata Giselle sembari mengelap air yang membasahi baju puteranya. “Kamu bisa masuk angina kalau bajumu basah.” Tamara memperhatikan betapa penyayangnya Giselle kepada Ale. Tak hanya dengan Ale, bahkan dengannya yang notabene adalah anak tiri Giselle pun, wanita itu tetap menyayanginya, menganggap Tamara sebagai anak kandungnya sendiri. Sosok Giselle yang lembut memang membuat siapa pun nyaman. Bahkan tak pernah sekalipun Tamara mendengar Giselle berkata dengan nada yang tinggi dan kasar. Tak heran jika Joseph sangat mencintai Giselle. Apa yang dikatakan Giselle benar – bianglala itu pun kembali berputar beberapa menit kemudian. “Tuh, ‘kan, apa Bunda bilang? Bianglalanya muter lagi, ‘kan? Nggak usah khawatir,” kata Giselle. Ale yang semua tampak takut dan menangis pun berubah kembali ceria. Setelah puas bermain banyak wahana di Dufan, mereka pun pulang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
08/06/2025
0keren sii
17/05/2025
0bagus banget
26/04/2025
0Lihat Semua