Pagi ini, gue hidangkan nasi goreng kampung untuknya. Telur dadar yang diiris-iris sebagai pelengkap. Kepala gue mumet, terlalu banyak kejadian tiba-tiba. Gue kayak kena shock terapi gitu nggak, sih. Ditambah sikap misterius Leo yang bikin gue hipertensi setiap waktu. "Tiba-tiba aja tukang datang, terus sorenya tiba-tiba datang lagi material. Hari ini juga udah mulai kerja. Dadakan begini semua? Serba tiba-tiba." Gue terus nyerocos khas emak-emak ngomel kalau kurang duit belanja. Haahaha. Kemudian, gue menuju kamar. Mengambil tas kerja, dasi, jas dan kaus kaki bersih untuk dia pakai. Rempong gue. Karena gue udah hapal, Leo nggak bakal menanggapi meski omelan gue sepanjang rel kereta api. "Enak, nasi goreng kampung." Leo, berbicara dengan mulut masih berisi. "Dulu di Padang sering makan ini, zaman masih SMP. Nenek yang masakin." "Nggak nanya. Lagi nggak bahas nasi goreng, tahu! Itu kenapa tukang tiba-tiba datang?" "Mbok, masih ada nggak, mau dong tambah!" serunya, tak peduli muka kesal gue. Ampun, ampun. "Hello Mister ... ini saya lagi ngomong sama Anda, tolong!" ucap gue dengan nada sedikit tinggi. Leo melirik seperti biasa. Seakan tidak ada apa-apa sama sekali. Hanya diam, dan bisu seperti kulkas. Lama-lama gue stroke kalau begini. Mati muda dibikin sama suami sendiri. "Oh, lagi ngomong sama aku. Kirain." Ya Allah Ya Tuhan, nelen orang haram nggak sih? Seumur-umur baru ini ketemu manusia menyebalkan sampai ke sum-sum tulang belakang. "Monstera nanti taruh di pintu kamar saya satu ya," pintanya. "What? Monstera hari ini juga? Oh, My God ... riweuh sekali." Gue memilih pergi ke dapur, mengambilkan lagi nasi goreng untuknya. Masih kesal dan jengkel. Gue suka caranya menyenangkan, menuruti semua keinginan gue. Tapi, nggak gini juga. Harusnya diskusi, ngomong, bicarakan dulu. gue tuh pengen diajak bicara. Kalau mau apa-apa didiskusiin dulu. Jadi gue merasa dianggap ada gitu, lho. Kalau kayak gini caranya, kesan buat gue tuh jadi timpang. Kayak yang dia bosnya, sementara gue babu. Sambil menyuap nasi, Leo terus saja memantau laporan dari karyawan di-gadget dalam genggaman. Laptop di sebelah kanan juga menyala. Matanya liar ke kiri ke kanan memantau tiap item yang muncul. Ya, Leo seperti ini sekarang adalah karena kesungguhannya bekerja. Mati-matian berjuang mendedikasikan diri untuk karir. Tidak heran, usianya baru kepala tiga sudah mempunyai kehidupan sangat mapan. Kecakapannya dalam bekerja, membuahkan hasil pantas. Seorang pemilik perusahaan yang usianya masih terbilang muda. Di tangan Leo, perusahaan yang diampunya juga berkembang sangat pesat. Omset naik berlipat-lipat. Citra perusahaan terpampang baik dan semakin diperhitungkan. Terlepas dari kehidupan yang makmur secara finansial. Ada hal lain yang sebenarnya tetap memberontak untuk diperlakukan adil. Itu kah perasaan? Gue normal, hei ... gue juga mau dikasih perhatian. Kebahagiaan 'kan bukan hanya sebatas persoalan uang. Jika dahulu, Papa dan Mama keukeuh untuk menjodohkan dengan Leo, anak kolega bisnisnya demi memperbaiki kondisi ekonomi. Tentu saja, itu sudah terwujud. Perusahaan Papa melesat naik dari sebelumnya. Yang tadinya nyaris terperosok ke jurang kebangkrutan, kini menanjak naik dan mulai stabil seperti sedia kala. Sayangnya, tetap ada 'sial' yang terjadi. Kesialan yang entah sampai kapan akan gue tanggung. Bahkan, gue nggak tahu bisa bertahan hingga kapan. Gue resmi menjadi tumbal di sini. Saat orang-orang sekeliling gue bisa menikmati hidup dengan gelak tawa lepas, gue meringkuk dalam diam dan menahan segala cobaan sendirian. Rumah ini, jika nantinya telah didekor semeriah mungkin. Tetap saja ada yang kosong, di sini ... di sebongkah daging merah di balik rongga dada. Bukan warna cat rumah seharusnya yang dibikin warna-warni. Melainkan yang harus diwarnai itu adalah hati dan jiwa. Tidak ubahnya menikah dengan kulkas berjalan. Sikapnya dingin dan masa bodo. Tidak jarang dia seperti tembok bisu yang sedang gue ajak bicara. Sampai mulut gue berbuih pun, Leo juga nggak akan peduli. "Saya berangkat," cetusnya membuyarkan kelana pikiran. "Oke!" lirih gue. Gue mengekor, berdiri di pintu. Melambaikan tangan sebelum dia hilang keluar pagar. Ah, dia ... entahlah! Butuh kuliah 10 SKS mungkin untuk paham karakter Leo sebenarnya. Sesosok manusia super unik yang pernah gue jumpai dalam hidup. "Belakangan Den Leo semakin banyak diamnya ya, Non. Non Ara tahu kenapa?" Mbok Siyah yang entah sajak kapan berada di belakang gue, sontak membuat gue terperanjat. "Astaghfirullah, Mbok ... bikin kaget." "Maaf, Non," ujarnya tersipu. "Iya juga ya, Mbok. Kemarin-kemarin perasaan agak banyak dia bicara. Beberapa hari belakangan ini kok banyak diamnya ya. Ara juga nggak tahu kenapa. Barangkali lagi ada masalah di kantornya, Mbok." "Non Ara, saya harus kerjakan apa sekarang?" Pak Kusno muncul dari luar, memotong diskusi sambil berdiri itu. "Ke kamar Ara dulu ya, Pak. Pindahin barang-barang ke pinggir." Mengangguk takzim, Pak Kusno permisi masuk ke dalam. "Mbok, sini duduk dulu." Gue tarik tangan Mbok Siyah, duduk di sofa ruang tamu. Mbok Siyah langsung manut. "Waktu Ara pingsan, kalau nggak salah Leo lagi teleponan sama seseorang, itu persis sebelum Ara siuman. Mbok tahu dia lagi bicara dengan siapa?" Wajah Mbok Siyah berubah seketika. Menghela napas, entah mungkin mengatur kata-kata. Aku tunggu beberapa saat. "Tidak lama setelah Non Ara diangkat dari kamar mandi, Den Leo datang. Wajahnya pucat dan cemas melihat kondisi Non Ara. Dia telepon ke Dokter Tris, dokter keluarga Den Leo. Awalnya dia bermaksud untuk langsung bawa Non Ara ke UGD, tapi kata Pak Tris tunggu di sini saja. Selama menunggu dokter datang, dia yang menggantikan pakaian Non Ara." Mata gue membulat. Apa? Berarti Leo sudah ... aaarrgghh kacau! "Terus, Mbok?" "Pokoknya ketika itu Den Leo khawatir bukan main, Mbok lihat sendiri wajahnya tegang. Memegangi tangan Non Ara, diciumnya berkali-kali. Mbok jadi terharu lihatnya." "Ahh, masa sih, Mbok. Kok Ara agak ragu ya." "Ealah, Non ... Non ... asli loh ini." Susah payah gue mencerna keterangan dari Mbok Siyah. Apa iya Leo secemas itu? Jika iya, lalu kenapa saat gue siuman dia langsung pergi dengan wajah ketus. Teka-teki ini terlalu rumit bagi gue. "Den Leo itu aslinya penyayang, Non. Mbok kan sudah kerja bertahun-tahun dengan keluarga ini. Dari Den Leo masih kecil sampai sebesar sekarang. Sedikit banyaknya ya ngerti bagaimana watak Den Leo." "Berarti Mbok pernah tinggal di Padang juga, kok nggak bisa bahasa Padang?" "Bisa saketek-saketek," jawab Mbok Siyah terkekeh. Bisa dipercaya sebenarnya apa yang disampaikan Mbok Siyah. Hanya gue bingung.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
27/07/2025
0suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,
07/02/2025
0bgus
21/10/2024
0Lihat Semua