>>>>>>>>>>>>>> Malamnya. Feya dan Rafa tengah duduk santai di sofa yang terletak didalam kamarnya. Feya tengah asik bermain lego, sementara Rafa sedang fokus menatap layar ponselnya. "Raf, kamu ngapain sih? Dari tadi aku liatin, fokus banget main hapenya." gerutu Feya seraya mendekati Rafa. "Si Zollan sma Roniel ngajakin gue keluar." jawab Rafa jujur. Dirinya memang tengah berbalas chat dengan kedua sahabatnya itu. Membahas tentang Amiran yang menantang balapan malam ini. Belum sempat Feya berucap lagi, Rafa sudah lebih dulu menyerobot. "Lo mau nitip sesuatu ga?" "Kamu mau kemana?" "Keluar." "Sekarang?" "Hm." balas Rafa singkat. Ia memakai jaket kulitnya yang berwarna hitam, lalu mengambil kunci motornya. "Kenapa?" tanyanya, heran melihat Feya yang tampak murung. "Gapapa." Cup. Rafa mencium bibir Feya sekilas, karena merasa gemas dengan sikap Feya. Membuat napas Feya seketika tercekat. "Gue pergi ya, kunci semua pintunya sama jendela juga" perintahnya. "Jangan ngambek, gue pergi bentar doang kok." lanjutnya sembari mengelus pucuk kepala Feya. "Raf..." panggil Feya pelan, seakan tak rela jika cowo itu pergi. Feya menahan lengan Rafa, membuatnya berhenti melangkah. Rafa berbalik, menatap Feya. Satu alisnya terangkat. "Kenapa?" tanyannya. "Hati-hati." ucap Feya pelan, sangat pelan nyaris tak terdengar. Tetapi sayangnya Rafa masih bisa mendengarnya. Cowo itu tersenyum tipis melihat Feya yang begitu menghawatirkannya. Cup. Rafa kembali mencium bibir Feya singkat. terkekeh pelan, melihat Feya yang kesal akibat ciumannya itu. "Tunggu gue pulang." ucapnya. Kepulan asap membungbung tinggi serta gerungan mesin motor yang terdengar nyaring saling bersahutan, memecah kesunyian malam hari ini. Rafa dan kedua sahabatnya segera turun dari motor mereka masing-masig dan mulai memasuki area balap liar itu. Suara ricuh pun menyambut kedatangan mereka kali ini. "Gilak, rame banget anjir!" heboh Zollan seperti biasa. "Jelas lah. Apalagi kabar kalau bakal ada liaran antara skolah kita sama sekolahnya si Amiran udah kesebar luas. Pasti rame yang dateng." jelas Roniel. "Weh, udah dateng lo, Raf" sambut salah satu teman sekelas Rafa. Lalu mengajaknya tos-tosan. "Yoyoi, lo udah dari tadi?" Rafa membalas tos-tosan itu. "Udah dong. Gue dateng pas tempat ini masih sepi." kekeh Karaz. "Tumben lo ga bawa cewe Raz?" sahut Zollan. "Ga lah, yakali nonton balap bawa cewe. Ribet yang ada." jawab Karaz terkekeh kecil. "Ngeles aja lo." balas Zollan ikut terkekeh. "Bilang aja bingung mau bawa yang mana." lanjutnya sarkas. "Btw, lawan kita siapa yang maju?" tanya Karaz penasaran siapa orang yang bakal tanding lawan Rafa. "Biasa." jawab Rafa singkat. "Amiran? Radel berdehem. "Gilak sih, gaada kapoknya tuh anak. Padahal kemaren baru aja kalah." seru Faraz. "Tau tuh, palingan nanti juga kalah lagi." timpal Roniel. Pembicaraan mereka terhenti, atensinya teralihkan pada orang yang baru saja datang. Dengan wajah songongnya, orang itu menerobos masuk ke arena, dengan sengaja ia menyenggol bahu Radel. "Lo punya mata ga sih, jalan aja ga becus." cibir Rafa. Menatap tajam si pelaku. "Sorry, gue ga liat. Soalnya kalian cuma perkumpulan pecundang, jadi ga keliatan." hina orang itu, sengaja memancing emosi Rafa. "Nye nye nye nye. Bacot." sarkas Rafa. Rasanya ingin sekali mencekik leher Amiran, agar cowo songong itu cepat lenyap dari dunia. Tapi, Rafa tentu tak setega itu. Amiran terkekeh sinis. "Lo liat aja, kali ini gue yang bakal menang." tekannya. "Really?" "Yes, so, kita liat aja." decit Amiran, meninggalkan Rafa dan rombongnannya yang menggeram, marah. Gerungan suara knalpot begitu nyaring saling bersahutan, mengeluarkan kepulan asap bahkan percikan api dari sana. Dua motor tengah berjejer, di depan garis start dengan para supporter masing-masing, memenuhi kanan dan kiri lintasan. Pandangan Rafa lurus kedepan, ia sedang serius dalam balapan kali ini. Sedangkan Amiran menatap Rafa sekilas dari samping, lalu tersenyum miring dibalik helmnya. Meremehkan Rafa. Padahal setiap balapan, Rafa selalu unggul darinya. Amiran kembali memfokuskan diri, ia sangat ambisius untuk memenangkan pertandingan kali ini. Seorang cewe dengan pakaian sexynya berjalan kedepan dua motor yang tengah beradu gerungan. Membawa selembar sapu tangan. Dandanan menor menghiasi wajah cewe itu, membuatnya terlihat makin sexy. "Ready?" tanya cewe itu, menatap Rafa dan Amiran secara bergantian. Keduanya mengangguk dengan helm full face mereka. Menaikkan gas motor masing-masing. "Three..." "Two..." "One..." "GOOO!!" saat cewe itu mengibaskan turun sapu tangannya, kedua motor itu melesat cepat meliwatinnya. Sehingga kepulan asap mengenai wajah dan tubuh cewe itu. Vrooommm!! Suara motor terdengar memekakkan telinga para penonton. Seiring dengan lajunya yang kian cepat. Sorakan para supporter kian heboh. Semakin menambah sensasi seru dan menikmati pertunjukan malam ini. Sementara itu, Rafa dan Amiran terus-terusan beradu kecepatan. Rafa membawa motornya dengan lihai. Bibirnya bahkan memberikan kekehan kecil, saat musuhnya merasa tertantang. Ada rasa puas dan lega yang ia dapatkan saat ia melakukan aksinya seperti sekarang. Seketika semua beban dalam pikirannya hilang begitu saja. Manik matanya melirik spion, menatap lawannya yang berada tepat di belakangnya, nyaris tanpa jarak. Rafa menambah putaran gasnya. Menciptakan senyuman smirk di balik helmnya, merasa yakin kali ini dirinya yang akan kembali maraih kemenangan. Amiran berdecak saat melihat Rafa yang memimpin di depan. Ia tak mau kalah, dengan segera menaikkan rpm motornya hingga limit. Dan, Amiran berhasil mengasapi Rafa, lalu tersenyum miring. "Gue yakin, kali ini gue yang menang." gumam Amiran, kembali fokus. Putaran terakhir, keduanya terlihat semakin sengit. Saat ini Amiran lah yang memimpin. Sedangkan Rafa hanya terkekeh di belakng, ia sengaja menurunkan kecepatan motornya. Membiarkan Amiran bahagia sesaat dulu. "RAF, BURUAN GOBLOK, JANGAN MAU DI SALIP SAMA SI AMIR!" teriak Zollan sangat kencang dari tempatnya berdiri. "BURUAN RAF, SALIP LAGI JANGAN MAU KALAH SAMA AMIRAN, BISA-BISA NANTI SEKOLAH KITA MAKIN GAADA HARGA DIRINYA!" teriak heboh Faraz, ikut meneriaki Rafa. Teman sekelas Rafa pada heboh, greget dengan pertandingan sengit antara kedua perwakian sekoalah itu. "MIR! JANGAN SAMPE KALAH! CEPETIN LAGI MOTORNYA! GARIS FINISH UDAH DI DEPAN MATA. BUKTIIN SAMA PECUNDANG ITU, KALO LO LEBIH UNGGUL DIBANDING DIA!" teriak Rucas. salah satu geng Amiran. "Heh, Sambul! Maksud lo apa ngomong kek gitu? Lo sengaja mau pancing keributan?" sembur Zollan, melemparkan tatapan tajam kearah Rucas. "Nama gue Rucas, bukan Sambul! enak aja lo ganti-ganti nama orang." protes Rucas tak terima. "Bodoamat, gapenting nama lo siapa." balas Zollan. "Serah lo deh, Ferguso. Yang penting malam ini kemenangan ada di pihak kita." seru Rucas. "Kita tunggu aja." Zollan dan Rucas saling lempar tatapan permusuhan. Zollan bersama teman-teman sekolahnya berada di sebelah kanan garis finish, sementara Rucas serta teman-temannya ada di sebelah kiri. "RAF, FOKUS! JANGAN SAMPE KALAH!" teriak Zollan yang terakhir kalinya. Garis finish sudah di depan mata Amiran, dengan sedikit sombong ia menganggkat tangan kirinya, berpikir akan menang kali ini. Namun nyatanya salah, Rafa tiba-tiba saja muncul dari arah belakang dan langsung mengasapinya dengan cara yang mengejutkan. Padahal tadi Rafa sangat jauh tertinggal di belakang sana. Makannya Amiran sedikit santai, tapi mengapa bisa seperti ini. Rafa menaikkan kecepatan motornya dan langsung melewati garis finish itu. Membuat para supporter bersorak kegirangan. Amiran spontan memukul tangki motornya saat sudah melewati garis finish, dua detik setelah Rafa. Ini sungguh diluar dugaannya, tadi ia pikir dirinya lah yang akan memenangkan balapan ini. Zollan dan Roniel langsung mengangkat tubuh Rafa. Sementara teman-teman yang lain bersorak gembira menggaungkan nama Rafa. "Sekarang lo liat sendiri kan, siapa yang pecundang?!" kekeh Rafa, menatap Amiran yang tengah menatapnya tak suka. "Cih, anggep aja ini sebagai hari keberuntungan lo, makannya lo bisa menang. Next time, pasti gue yang bakal menang." ketus Amiran, masih tak terima akan kekalahan. "Dahlah Mir, lo gausah ngeles mulu, terima aja kenyataan. Kalau lo itu gak akan pernah bisa lebih unggul di atas Rafa. Mau sekuat apapun lo berusaha, Rafa bakal tetep menjadi yang paling unggul. Dia raja jalanan, joki paling handal." timpal Faraz. "Bacot lo!" sarkas Amiran. "Lah, ngamok tuh bocah, aneh." sahut Zollan. "Biasa, orang gak terima kekalahan ya gitu jadinya." kekeh Roniel, melemparkan senyum mengejek. "Lo tunggu aja pembalasan gue. Besok gue bakal buat perhitungan sama lo. Lagipula sekarang gue udah tau pacar lo itu, Feya." ucap Amiran, sengaja memelankan ucapannya di akhir kalimat. Mendengar Feya di bawa-bawa. Sontak membuat rahang Rafa mengeras. "Awas aja, sampai lo berani sentuh Feya. Dia gaada kaitannya sama masalah ini." desisnya. Amiran tersenyum miring, ia mengabaikan perkataan Rafa. "Gue ga peduli, yang pasti, gue bakal seret Feya kedalam masalah ini." ucapnya. Rafa tersulut emosi, tak bisa menahannya lagi. Ia langsung menonjok rahang Amiran dengan kuat, membuat tubuh cowo itu terhuyung kebelakang. Bugh. "Sial!" Amiran mengerang, saat Rafa tiba-tiba memukulnya. Dengan raut wajah penuh amarah, Rafa berjalan menghampiri Amiran. Ia langsung menarik kerah jaket Amiran dan kembali memukulinya. Bugh. Bugh. "Kalau sampai lo berani bawa-bawa Feya kedalam masalah kita, lo liat aja apa yang bakal gue lakuin ke lo!" ancam Rafa, begitu serius. Amiran hanya terkekeh dengan wajah penuh luka. Ia nampak tak mendengarkan ancaman Rafa. Saat Radel hendak melayangkan pukulan lagi. Tiba-tiba saja Rucas memukulnya. Bugh. Bugh. Rucas memukul leher belakang Rafa, membuat Rafa meringis pelan, menahan ngilu. Rafa memegani leher belakangnya, ia membalikkan badan kearah Rucas. "Bangsat lo!" Bukan Rafa yang melontarkan kalimat itu, melainkan Roniel, cowo itu sudah lebih dulu berjalan menghampiri Rucas dan mencengkram kuat kerah jaketnya. Membuat tubuh Rucas sedikit terangkat. "Santai bro. Gausah pake kekerasan seperti ini." ujar Rucas dengan wajah yang terlihat panik. "Lo yang pake kekerasan, anjing! Ngapain lo ikut campur urusan Rafa sama Amiran? Biar dibilang keren gitu, hah?!" geram Roniel. "Udah Niel, gue gapapa, kita cabut aja." lerai Rafa. Ia tak mau jika terjadi tawuran antar sekolah malam ini, hanya karena masalah pribadinya. Rafa melepaskan cengkramannya dengan kasar. "Cabut." titah Rafa, membuat teman-teman sekolahnya mengangguk patuh. Mereka semua segera bergegas menuju motor mereka masing-masing, lalu pergi meninggalkan area balap liar. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
15/06/2025
0kerennnn, kapan up lagi kak
14/05/2025
0kerenn bgtt
08/03/2025
0Lihat Semua