logo text

Bab 42 Dapat Kerja di Tempat Baru

''Dilarang pacaran dengan teman satu kantor''
Tulisan itu, terpampang jelas di ruang kerja redaksi. Siapa yang melanggar aturan itu, ketahuan pacaran dengan teman satu kantor, konsekwensinya, salah satu dari mereka harus dipindah ke luar daerah.
Tentu saja, kala itu, Dinda selalu merahasiakan keberadaan Boy, karena Boy adalah teman satu kantor. Dinda takut dipindahkan ke luar daerah. Kalau dipindah, jelas-jelas Dinda bakal jauhan sama Boy. Namun, sepandai-pandainya menyimpan rahasia, suatu hari, Dinda ketahuan teman satu kantornya, kalau boncengan bareng Boy, saat berlibur ke pantai. Sejak itu, Dinda lebih waspada. Ketemuan diam-diam, di tempat yang kira-kira tak banyak orang tahu. Paling, ketemuan malam hari. Itu pun ketemuannya sembunyi-sembunyi. Nggak berani lagi, boncengan bareng Boy.
Kenangan itu, tak pernah hilang dari ingatan Boy. Hingga akhirnya, Boy mengalah, dan memutuskan berhenti dari perusahaan tempat Boy bekerja.
***
''Mas, aku nggak mau berhenti bekerja ya andai nanti kita berjodoh,'' kenang Dinda saat itu.
Ya Dinda dan Boy, punya kesepakatan khusus saat mereka akan melangkah ke pelaminan.
''Iya.....bebas, sayang. Kamu boleh tetap bekerja. Biar aku yang keluar dari perusahaan. Kalau laki-laki, kerja apa saja, gampang. Pasti nanti aku dapat pekerjaan lainnya,'' ungkap Boy meyakinkan Dinda.
Dinda bahagia, karena dia bakal diberi izin tetap bekerja, meski sudah menikah nanti. Karena, sesuai janji Dinda dalam hati, dia harus tetap bekerja meskipun sudah berstatus sebagai istri.
Apalagi, Dinda juga selalu ingat pesan ibundanya.
''Jadi perempuan, harus tetap bekerja, meski sudah punya suami. Jangan mau jadi istri yang hanya mengandalkan pemberian suami. Kalau hanya mengandalkan pemberian suami, istri itu nggak ada harga dirinya.'' kata ibu Dinda berkali-kali, memberi nasehat.
Dinda sendiri, juga belum siap, jika hanya menjadi ibu rumah tangga. Karena, bekerja dan punya penghasilan sendiri, adalah impiannya sejak lulus SMA.
Ya.....waktu masih duduk di bangku SMA, Dinda selalu berkhayal, luus sekolah, harus punya pekerjaan tetap. Apalagi, Dinda adalah anak pertama, yang juga tulang punggung keluarga. Jelas saja, impiannya tak lain, setelah lulus SMA, bekerja mencari uang, untuk membahagiakan keluarga.
***
Hari dimana Boy memutuskan resign dari perusahaan itu, telah tiba. Dia mencoba pekerjaan lain, dengan jadi sales selang gas elpiji 3 kg.
''Aku diterima jadi sales selang gas tabung elpiji. Nggak apa ya. Kamu nggak malu kan.....kalau aku kerja seadanya kayak begini?'' tanya Boy serius.
''Ya ampun sayang, aku itu, nggak pernah malu, dengan pekerjaan kamu. Asal halal, aku bersyukur banget. Itu artinya kita masih diberi rejeki sama Allah. Resign dari perusahaan, eh dapat kerjaan lagi, sebagai gantinya. Alhamdulillah dong,'' sebut Dinda dengan semangat.
''Syukurlah, makasih ya sayang. Kamu terima aku apa adanya.'' kata Boy sembari memeluk erat Dinda.
''Iya. Aku bangga banget bisa jadi istri kamu. Jadikan aku istrimu dunia akhirat ya sayang.'' kata Dinda penuh harap.
''Ya udah. Nanti, gajian pertama, aku traktir apa nih?'' tanya Boy, masih memeluk Dinda.
''Eh belum gajian, udah mau traktir. Tunggu gajian dong sayang. Xixixixi!'' kata Dinda cengar-cengir.
''Iya.....maksud aku kan begitu. Tunggu gajian. Baru aku traktir. Tapi, kalau untuk beli bakso semangkok, bisa sekarang sih,'' kata Boy meyakinkan Dinda.
''Hmmmm.....ayo kalau begitu kita makan bakso aja. Merayakan kamu yang baru dapat pekerjaan baru,'' sebut Dinda, dan bergelayut manja di penggung Boy.
''Baiklah kalau begitu. Siap-siap dong. Mandi sana.'' pinta Boy.
''Oke Tuan Boy.'' sahut Dinda.
''Eh boleh nggak request?'' tanya Dinda sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
''Apa.....request? Mandi bareng?'' tanya Boy, nakal.
''Ihhh...apaan sih,'' celetuk Dinda sembari mencubit lengan tangan kanan Boy.
Spontan Boy langsung mengaduh kesakitan. ''Duh....penganiayaan nih namanya. PDRT.'' sebut Boy sambil mengelus-elus bekas cubitan Dinda tadi.
''Apaan PDRT?'' tanya Dinda bingung.
''Penganiayaan Dalam Rumah Tangga. Hahahahahahah!'' sebut Boy sambil melepas tawa lebar.
''Udah sana mandi. Nanti aku nggak jadi traktir kalau lama-lama. Lapar nih, hari ini kan kita belum sarapan pagi.'' protes Boy ke Dinda.
''Iyaaa. Maaf sayang. Aku nggak masak hari ini. Fokus karena terlalu senang dengar kabar dari kamu, kalau diterima kerja di tempat yang baru.'' jelas Dinda panjang lebar.
''Iya udah sana, nanti aja ceritanya,'' kata Boy berusaha menghentikan pembicaraan.
''Iya iya......nanti kita cerita tentang hari ini ya, sambil makan bakso,'' celetuk Dinda menggoda Boy, dengan kedipan matanya.
''Ih genit!'' seru Boy.
''Hahahahahah. Nggak apa kan, genit saa suami sendiri,'' kata Dinda membela diri.
''Iya boleh....boleh,'' jawab Boy lembut.
''Udah cepetan mandinya. Keroncongan nih cacing-cacing perut aku. Mereka pada demo,'' sebut Boy lagi.
***
Dalam hitungan menit, mereka sudah bersiap keluar rumah, menuju warung bakso langganan. Karena, Boy janji akan mentraktir Dinda, lantaran dapat pekerjaan baru.
''Eh sayang. Tadi kamu request apa sih, waktu di rumah tadi kan bilang mau request!'' tanya Boy.
''Request itu apa sih?!'' canda Boy.
''Ihhhh. Nyebelin banget sih anak lulusan Unair ini. Cubit lagi sampai biru, baru tahu rasa!'' celoteh Dinda.
Tapi, kali ini, Dinda bukan mencubit paha Boy. Malah memencet hidung Boy, sampai susah bernafas.
''PDRT lagi nih.'' sebut Boy, protes ke Dinda.
''Sayang. Serius nih. Aku mau request. Belikan aku ice cream yang paling enak dong!'' pinta Dinda dengan manjanya.
''Ohhhhh kalau soal ice cream, tenang. Aku belikan, nanti. Berapa bungkus? Yang murahan aja ya, ice creamnya! Hahahahahahah!'' kata Boy.
''Yang mahal. Satu bungkus aja.'' pinta Dinda.
''Nggak mau yang murahan. Nanti bikin batuk. Malah beli obat batuk,'' protes Dinda serius.
''Iya....iya yang mahal, satu aja. Nggak boleh dua!''
''Iyaaaa, sayang, satu aja yang mahal.'' ulang Dinda penuh semangat.
''Oke. Setelah maem bakso, kita beli ice creamnya di swalayan Serenata ya,'' sebut Boy.
Karena bakso orderan mereka sudah sampai, maka Boy dan Dinda fokus menikmatinya, sampai mangkoknya bersih, tak tersisa kuahnya.
***
''Sayang, makasih ya, kamu traktir aku hari ini. Padahal, kan belum kerja. Maaf ya,.....aku udah minta traktir duluan.'' kata Dinda sembari rebahan manja di paha Boy.
''Ih apaan sih. Kan sudah kewajiban suami, mentraktir istri. Biar tambah banyak rejekinya, kalau menyenangkan hati istri,'' jelas Boy, sok bijak.
''Ya Allah......amin.....,'' kata Dinda mendoakan Boy.
''Aku juga mau bilang makasih sayang, karena kamu selalu mendukung aku dalam keadaan suka atau pun duka. Rasanya aku beruntung banget memiliki istri seperti kamu,'' kata Boy, sambil membelai mesra rambut indah Dinda.
Dibelai seperti itu, rasanya, ingin terlelap di pangkuan Boy, dari malam sampai pagi.
''Pindah tidur di kamar, yuk sayang. Di luar begini, dingin,'' ajak Boy. Tanpa berkata-kata, Dinda menuruti permintaan Boy, tidur di kamar. (bersambung)

Komentar Buku (231)

  • avatar
    Vina_Rosse

    sukses selalu kak, ceritanya seru banget 🥳

    17/05/2022

      1
  • avatar
    SablengWendy

    baru 3 menit baca SDH bosan karena si perempuan ga ada kejujuran KPD suami cm BS nangis hrsnya jujur saja emosi pria BS lunak kalau jujur klo diam akan byk praduga yg DTG... males lanjutin baca dr awal SDH menjengkelkan

    06/07

      0
  • avatar
    Nor Suhaila

    cerita yang sangat bagus

    04/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru