Sudah hampir dua pekan. Boy tak kunjung pulang ke rumah. Tak ada yang bisa diperbuat Dinda, selain menangis dan menangis. "Sayang. Pulang dong. Aku selalu menunggumu di rumah kita. Kamu nggak rindu aku ya, sudah dua minggu ini kamu nggak ada telepon-telepon aku atau chat ke ponselku. Sedih aku, Mas. Kamu tinggalin aku seperti ini.'' kata Dinda bicara sendiri di kamarnya. ''Lihat sayang! Aku nggak mandi-mandi nih sudah semingguan ini. Biasanya kamu suka ngomel kalau aku nggak mandi-mandi. "Sayang. Jangan siksa aku seperti ini dong. Kita bisa kita bicarakan baik-baik....tanpa harus pergi meninggalkan aku?" kata Dinda lagi, sembari memandangi foto Boy di ponsel miliknya. ''Sayang. Lihat nih mata aku bengkak, nangisin kamu. Apa kamu nggak kasihan sama aku? Katamu dulu waktu kita pacaran, kamu janji nggak akan ninggalin aku. Apapun yang terjadi. Kecuali kalau salah satu diantara kita ada yang dijemput duluan, sama Allah. Pulang dong sayang.....aku sudah kayak orang gila nih. Nggak ada teman. Nangis sendiri. Bicara sendiri.'' "Jangan ambil dia dari aku ya Allah. Beri aku kesempatan untuk jadi istrinya yang paling dia sayang." ''Ya Allah, pertemukan aku dengan suamiku. Lama-lama bisa gila, aku kalau seperti ini. Dia pergi tanpa kata. Aku lelah, ya Allah menunggu dia pulang. Kembalikan dia padaku ya Allah......'' ''Sayang....kamu ingat kan....kalau kamu janji mau bawa aku jalan-jalan. Bulan madu ke Lombok. Sekalian kenalan sama saudara-saudara aku di sana. Terus....kenapa kamu sekarang menghilang sih sayang!'' Dinda nggak tahu sampai kapan hidup seperti ini. Tapi, yang pasti, dia akan selalu berharap Boy kembali ke pelukannya. Karena Dinda merasa Boy adalah cinta matinya. Dinda berjanji dalam hati. Boy, adalah satu-satunya pria yang bertahta di hati Dinda. ''Ya Allah, andai aku terus terang waktu itu. Mungkin dia nggak pergi meninggalkan aku. ''Semua sudah terlambat ya Allah. Ini salahku. Aku kehilangan lelaki terbaik dalam hidupku.'' *** Feni, curiga kenapa Dinda tak pernah berkabar selama dua pekan ini. Dia pun bertandang ke rumah Dinda. ''Jadi, bagaimana, apa sudah ada kabar kalau Mas Boy akan balik lagi ke rumah?'' tanya Feni menangis, ikut bersedih karena mendengar cerita Dinda. ''Entah Fen. Aku nggak tahu lagi. Dia benar-benar marah sama aku Fen. Sebentar lagi aku jadi janda Fen. Kamu nggak malu kan temanan sama janda,'' kata Dinda putus asa. Feni pun spontan memeluk Dinda dan mereka berdua menangis bareng. ''Sudah, minta sama Allah, dan yakin dia akan kembalikan suamimu ke pelukan kamu,'' kata Feni lagi, menenangkan. ''Sabar ya Din, aku turut bersedih dengan masalah kamu ini.'' sebut Feni masih terus menangis karena tak kuasa mendengar pengakuan Dinda tadi. ''Mungkin, Tuhan lelah ya Din, mendengar doaku. Karena saban malam, aku selalu merengek pada-Nya. Sementara aku juga suka melalaikan kewajiban aku, sebagai seorang hamba. Aku lebih banyak meminta Fen, ketimbang melaksanakan kewajiban aku sebagai seorang hamba.'' keluh Dinda panjang lebar. ''Stttt....nggak boleh bilang kayak gitu. Dosa tau!'' protes Feni dan ia mulai melepaskan pelukannya dari Dinda. Dinda menoba bertanya pada teman dan kerabatnya. Hasilnya zonk. Dinda tak mendapat jawaban yang membahagiakan. Mereka bungkam seribu bahasa. Tak ada yang tahu dimana keberadaan Boy. "Sayang.....dimana kamu. Pulang dong, aku rindu. Sudah dua pekan lebih kita nggak bersua." kata Dinda. Lagi-lagi Dinda masih asik bicara sendiri seperti orang gila. "Aku ingin mengirim surat ke kamu, Mas. Tapi, alamatnya aku nggak tahu. Kamu dimana. Mas. Sumpah aku rindu. Tapi, aku nggak tahu harus bilang rindu lewat apa. Titip salam sama siapa juga aku nggak tahu? Bingung aku Mas." kata Dinda terus merintih. #Untukmu, suamiku Assallamuallaikum. Mas...... Bagaimana kabarmu pagi ini, Mas? Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya. Aku nggak tahu harus memulainya dari mana. Satu hal yang pasti, duniaku kiamat sejak perpisahan kita di pagi itu. Setelah ayahku pulang, kamu pun pergi tanpa kata. Meninggalkan aku, sendiri. Padahal, pagi itu, adalah pagi milik kita berdua, setelah mengucap ijab qabul di depan Pak Penghulu. Ya. Pagi itu, seharusnya kita sarapan sepiring berdua. Menyantap nasi goreng buatanmu. Karena, kamu jago masak kan? Hehehhehee....ternyata suamiku seorang chef handal. I love you. Chef Boy. Hmmm iya lupa. Kata kamu, dulu pernah kerja di hotel bintang lima, sebelum kerja satu kantor sama aku. Ternyata kita korban cinta lokasi. Jadi malu, kalau ingat-ingat pertama kita jadian, seperti apa. Aku yang keganjenan mengejar kamu. Hingga akhirnya kamu jatuh hati sama aku! Sayang. Sumpah aku jadi malu. Kalau ingat-ingat kelakuanku mengejar cintamu. Tapi, kalau aku nggak ngejar kamu, pasti kita nggak berjodoh ya sayang, hari ini. Ah sudahlah sayang. Jadi malu, aku. Eh iya, sayang. Kamu masih berhutang janji sama aku. Kamu, dulu pernah berjanji, setelah nikah, mau buatin nasi goreng kesukaanku, untuk sarapan kita. Terus, mau bawa aku jalan-jalan, bulan madu ke Lombok, sembari kenalan sama sudara-saudara aku disana. Tapi..... Kamu sekarang malah pergi tanpa kata, meninggalkan aku. Meski kamu pergi dan tak kembali, aku selalu menaruh harap, suatu saat kamu kembali ke pelukan aku. Aku juga berharap, sebesar apapun kesalahan aku, aku mohon beri aku kesempatan kedua, untuk memperbaiki diri. Tahu nggak Mas? Sejak perpisahan kita kemarin, aku sedih. Rasanya duniaku kiamat. Mengapa Tuhan secepat ini memisahkan kita berdua. Memang, aku akui, semua karena salahku. Aku yang nggak jujur. Aku nggak bisa menjaga perasaanmu. Sekali lagi, aku akui, semua itu karena salahku, sayang. Aku sadar, aku belum bisa menjadi istri yang baik bagimu. Aku perempuan biasa yang masih egois. Mas. Kumohon, maafkan aku. Aku ingin bersujud di kakimu. Memohon ridhomu. Bimbing aku ke jalan yang baik, yang diridhoi-Nya. Tolong ajarkan aku, bagaimana caranya menjadi istri yang paling kamu cinta. Mas. Berikan aku maafmu. Aku janji akan menjadi istri yang paling baik di hadapanmu dan di hadapan Tuhan. Aku janji akan berubah, Mas! Mas, nggak terasa sudah dua minggu kita nggak bersua. Entah sudah berapa pagi, yang kulalui tanpa kamu. Menunggu nasi goreng buatanmu yang tak kunjung tersuguhkan di meja makan. Mas, apa kamu nggak sayang aku lagi? Padahal, hati dan perasaanku hanya untukmu. Aku ingin kita menua bersama sampai akhir hayat. Terakhir, aku selalu berharap kamu masih punya setitik cinta untukku. Aku ingin kita bersama seperti dulu lagi. #Dari yang selalu berharap menjadi istrimu dunia akhirat# Dinda-mu. Aku meletakkan sepucuk surat itu di atas meja ruang tamuku. Aku berharap, suatu hari, kamu pulang dan membacanya, memberi aku kesempatan kedua. Ya.....suatu hari, sayang. Aku nggak tahu kapan suatu hari itu. Sebagai istri yang bersalah, aku hanya bisa berharap. Meski seribu purnama, aku terus berharap, maafmu. CINTA KITA BELUM BERAKHIR, MAS!(bersambung)
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (231)
Vina_Rosse
sukses selalu kak, ceritanya seru banget 🥳
17/05/2022
1
SablengWendy
baru 3 menit baca SDH bosan karena si perempuan ga ada kejujuran KPD suami cm BS nangis hrsnya jujur saja emosi pria BS lunak kalau jujur klo diam akan byk praduga yg DTG... males lanjutin baca dr awal SDH menjengkelkan
sukses selalu kak, ceritanya seru banget 🥳
17/05/2022
1baru 3 menit baca SDH bosan karena si perempuan ga ada kejujuran KPD suami cm BS nangis hrsnya jujur saja emosi pria BS lunak kalau jujur klo diam akan byk praduga yg DTG... males lanjutin baca dr awal SDH menjengkelkan
06/07
0cerita yang sangat bagus
04/06
0Lihat Semua