Aku menggunakan riasan yang ala kadarnya, aku tak ingin terlalu bersolek jika hanya menemui Gana. Apa katanya nanti? Jika aku terlalu berdandan yang tebal hanya untuk menemui mantan kekasihnya sendiri. Apalagi Gana pasti sudah memiliki wanita lain yang lebih baik dariku. Aku hanya bernapas sesekali sebelum aku berangkat. Akhirnya aku sudah siap dan mulai membawa ponselku di tas kecil.
Seketika kilasan tentang momen bersama Gana mulai muncul benak ku. Aku hanya menatapnya sesekali dan mengingat masa-masa itu. Mungkin masa-masa itu tidak akan pernah kembali lagi. Sebab aku bukan siapa-siapa Gana melainkan aku hanya masa lalu yang masih berhubungan dengannya. Ahh..aku jadi memikirkan dirinya gara-gara dia mengirim pesan padaku. Dan betapa bodohnya kok aku mau saja bertemu dengannya. Aku bingung dan tak tahu harus berbicara bagaimana. Rasanya ingin sekali memori itu aku bakar habis-habisan tetapi hal ini tidak mungkin. Aku selalu menyadarkan diriku di saat aku mulai mengingat Gana. Aku sadar aku hanya mantannya dan tidak seharusnya perasaanku menjadi seperti ini. Seharusnya aku sudah membuang jauh-jauh memori itu. Aku berangkat dari rumahku ke rumah Gana, disana aku tidak mengalami kemacetan sama sekali. Beberapa menit kemudian, sampailah aku ke rumah Gana. Untuk seukuran sebuah keluarga, rumah ini memang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Aku mengetuk pintu dan yang membuka adalah Gana. Ternyata dia sudah menungguku disana, rumahnya hening hanya ada kakaknya saja di kamarnya. “Eh, fat. Duduk, yuk,” “Eh iya. Kamu mau ada apa kok tumben SMS aku?” “Aku mau minta maaf. Aku tahu saat itu aku salah banget sama kamu dan tidak seharusnya aku bersikap frontal seperti itu.” “Ya ampun, Gan. Aku tuh sudah maafin kamu, kok. Lagi pula kamu, kan sudah minta maaf juga sama Kak Gilang. Jadi sekarang kita nggak ada hal yang lebih serius lagi, kan? Jadi sudah selesai semuanya,” “Iya..Fat, tapi aku mau bicara sesuatu sama kamu?” Saat itu entah kenapa jantungku menjadi degdegan dan gemetaran. Dan tak tahu mau membicarakan apa. Ahh..rasanya seperti hati ini merindukanmu, Gan. Tapi sayang aku yakin sudah ada pemilik hatimu yang baru dan itu bukanlah aku. Aku hanya memandangnya sekilas dan mengarah ke arah yang berbeda. Dia memintaku mendekat, aku canggung karena wajar saja bukan aku dan Gana tidak ada hubungan apa-apa lagi. Lantas mengapa Gana ingin membuat diriku mendekat kepada dirinya? Apa masalahnya sekarang? Apa dia mulai merindukanku? Ahh..Fat, jangan baper! Mungkin saja dia mau bilang sesuatu yang penting. Mungkin ini hanya khayalanku saja benar-benar halu. Akhirnya dengan keyakinan yang ku miliki, aku mulai mendekat ke arah Gana. Tanganku dingin, hati ini tidak tenang dan selalu degdegan ketika mendekat dengan Gana. Ternyata Gana hanya mencupit pipiku. Ahh..Gana kenapa saat kita sudah berpisah justru kamu yang selalu bersikap romantis seperti ini. Aku kaget dan bilang kenapa malah mencubit pipiku. “Ihh..Gana sakit tahu!” “Iya..maaf deh. Sudah lama nggak nyubit pipi kamu,” katanya sambil tertawa. Dan aku hanya tersenyum saja melihat tingkahnya, bisa nggak sih sedetik saja kamu tidak merayuku lagi. Atau hati ini akan semakin mencintaimu, entah harus apa yang ku lakukan agar aku bisa menjauh darimu. “Duh, maaf deh papaw. Sudah lam nggak ketemu sama kamu?” katanya sambil memanggil nama kesayanganku. “Gan, udah deh. Kamu mau ngomong apa aku penasaran?” “Jadi sebenarnya, Fat, aku sudah punya pacar. Namanya Amora temen kita. Maaf ya aku baru bilang, dan tolong jangan mencintai aku lagi. Karena ada hati yang harus aku jaga,” Tiba-tiba aku malah mengeluarkan airmata, seharusnya airmata ini bisa bekerjasama denganku. Kenyataannya airmata ini malah menetes di waktu yang tidak tepat, aku sangat menyayangkannya. Sebelum kamu bilang pun, Gan, aku sudah tahu kalau kamu memiliki hubungan sama Amor hanya sayangnya hatii kecil amat mempercayaimu. Tetapi kini semua sudah terbuang sia-sia, tak ada lagi kata 'percaya' dalam benakku tentangmu. Itu semua sudah berakhir seperti ombak yang sudah meluluhlantahkan cinta kita yang semula indah kini berakhir tragis. Aku hanya bisa menangis, aku tahu pasti sebentar lagi dia bilang aku cengeng. “Ihh..cengeng banget sih kamu, Fat. Maaf ya aku jadi melukai kamu tapi hanya dengan cara ini kamu mungkin bisa menjauhi ku.” “Ih.. gapapa kok. Nanti juga mulai terbiasa tanpa ada kamu, Gan. Aku percaya akan ada cowok yang lebih baik dari kamu untuk datang menemuiku,” kataku sambil tersenyum. Tetapi seolah senyuman ini palsu, aku hanya bisa melakukan ini. Aku tidak mau hubungan mereka hancur hanya gara-gara aku. Itu tidak akan ada gunanya lagi, aku lebih baik pergi dan menyendiri daripada harus menghancurkan hubungan orang lain. Ahh..hati ini mungkin harus menjauh darimu, Gan. Aku mulai menyeka airmataku, aku bilang aku tidak apa-apa sekarang. Dan wajar saja, kan, baru putus bukannya kamu yang sedih justru aku yang begini. Ahh..tapi aku tidak menyayangkan keputusan yang aku ambil itu salah. Melainkan aku merasa sudah pasti melakukan keputusan itu. Dia mencoba menghiburku, seolah tak ingin melihat aku bersedih. Dia mulai menanyakan akhir-akhir ini aku sibuk apa. Aku hening tapi malu-malu menjawabnya. Tapi aku bilang aku hanya melakukan beberapa penelitian dan menyusun skripsi. Itu saja yang ku lakukan tidak sesulit yang dibayangkan oleh banyak orang. “Fat, kamu sibuk apa sekarang?” “Biasa aku sibuk mau melakukan magang di perusahaan sama mau menyusun tugas akhir. Kalau kamu gimana, Gan?” “Aku biasa sibuk sama tugas kuliah saja sama mau menyusun skripsi juga.” “Oh iya, kamu masih nulis puisi juga. Sekarang kamu masih nulis tentang aku atau kisah patah hati kamu?” Ahh..Gana kenapa sih kamu seolah bisa menebak apa yang aku lakukan selama ini. Seolah aku ini hanya sebatas pulpen yang selalu kamu pakai kemana saja. Tetapi kenapa kamu bersikap seperti itu, sih. Tolong jangan memberikan aku harapan lagi! “Masih, Gan. Wajar, kan, kalau aku masih menulis tentangmu, masa laluku? Ini adalah salah satu cara agar aku bisa melupakanmu. Dan aku ingin membuka hatiku untuk kak Gilang,” katanya sambil tersenyum. Kenapa kata-kata dari mulutku ini selalu berbohong kepadamu, Gan. Maaf aku harus berbohong, karena aku tak ingin diberikan harapan olehmu lagi. Aku sakit dan cukup sekali saja lebih baik aku menerima orang baru dibandingkan harus menjalin hubungan dengan orang lama. Aku tak tahu dia mempercayai ucapanku atau tidak tetapi pastinya dia ragu akan ucapan yang ku bicarakan tadi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
trharu
07/06
0semangat teruss dalam berkarya
20/12
0mantap
10/10
0Lihat Semua