Beranda/Belenggu Cinta Meta (Suamiku Main Gila)/
Bab 38
“Kebakaran! Tolong... “ teriak salah seorang warga yang melihat api yang berkobar dari sebuah rumah. Ia berteriak meminta bantuan kepada tetangga sekitar rumah, salah seorang warga sudah menghubungi pemadam, tetap saja mereka berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ada yang menarik selang dari depan rumahnya, ada yang membawa timba, ada pula yang hanya menonton seraya bertanya-tanya penyebab terjadinya kebakaran.
Api yang membumbung tinggi membuat mereka kewalahan, beberapa kali mereka menyiramkan air, bukannya padam, justru api semakin membesar. Untung saja tak lama kemudian pemadam kebakaran segera datang, hanya beberapa menit, si jago merah sudah dijinakkan.
Kebakaran itu menyisakan puing-puing yang sebagian hancur, semua warga mengucap syukur alhamdulillah, karena api berhasil padam tidak sampai merembet ke rumah tetangga. Untung saja ada yang mengetahuinya.
Sebuah mobil membelah kerumunan orang-orang, Meta turun dari mobil. Matanya terus menatap rumahnya yang kini tak berbentuk dengan rasa tidak percaya. Baru beberapa hari ia pindah dari rumah ini, sekarang tinggal kenangan. Rumah yang ia beli dengan susah payah dari keringatnya sendiri, harus ia relakan.
Adi keluar dari pintu kemudi, ia menatap rumah dan Meta bergantian. Ada rasa kasihan di hatinya, sebelum mereka menikah, Adi sangat tahu bagaimana perjuangan Meta membangun perusahaan dari nol, membangun rumah dari sedikit demi sedikit keuntungan yang ia dapatkan.
Meta masih berdiri mematung menatap rumahnya yang terbakar, sebelumnya ia ditelepon oleh salah satu tetangganya saat ia masih di rumah sakit, ia sibuk mengurus kepulangan jenazah pak Ahmad bersama Adi.
Adi berlari menghampiri Meta, dan menyangga tubuh Meta yang mulai oleng. Meta terus menatap rumahnya dengan tatapan kosong.
“Mbak Meta, ayo istirahat di rumah saya dulu,” ajak Budhe Win, tetangga Meta yang berada di sebelah kanan rumah Meta.
Adi mengangguk, lalu memapah Meta menuju rumah Budhe Win. Adi mendudukkan Meta di kursi tamu, sedangkan budhe Win, mengambilkan air minum untuk Meta.
Meta menyandarkan kepalanya di pundak Adi, ia membiarkan Adi membelai kepalanya yang tertutup jilbab. Bukan Meta tidak ingat dosa, ia hanya butuh sandaran untuk detik ini. Beberapa kejadian yang tidak terduga akhir-akhir ini membuat jiwa raganya seolah tak siap menghadapinya.
“Ini Mbak Meta, diminum dulu.” Budhe Win menyodorkan gelas yang berisi air putih, Adi menerimanya lalu menyerahkan pada Meta, yang langsung diteguknya sampai habis.
“Terimakasih, Budhe. Maaf saya merepotkan.” Meta menunduk mengucapkan maaf.
“Sudah Mbak Meta, tidak apa-apa. Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa mbak Meta, semoga kuat ya,” ucap budhe Win prihatin.
Meta memaksa tersenyum, lalu berkata,” Iya Budhe, terimakasih. Mungkin musibat ini menjadi teguran untuk saya.”
“Semoga Mbak Meta kuat ya,” doa Budhe Win untuk Meta.
“Terimakasih, Budhe. Kalau begitu saya mohon pamit,” pamit Meta, ia mengalami budhe Win, begitu pula dengan Adi.
Adi terdiam sejak tadi, sesekali ia melirik Meta yang membuang pandangan ke luar jendela. Sejak tadi ia tidak mengeluarkan suara, takut salah berucap. Apalagi saat ini Meta tengah berduka. Akhirnya ia memutuskan diam sampai tiba di rumah bu Vera.
Terlihat Bu Vera dan Mbok Nem menyambut kedatangan mereka berdua. Mata Bu Vera terlihat sedikit bengkak dan memerah, seperti habis menangis. Pun dengan Mbok Nem, sepertinya mereka sudah mendapat kabar tentang kebakaran yang terjadi.
“Sayang, kamu tidak apa-apa?” Tanya bu Vera cemas, ia memegangi kedua lengan Meta dan sedikit mengguncangnya, berharap Meta segera menjawab pertanyaannya.
Meta mengulas senyum dengan terpaksa, lalu menjawab,” Ibu tenang saja, Meta tidak apa-apa. Mungkin itu cobaan Allah buat Meta, apakah Meta kuat atau tidak menghadapinya.”
“Ayo masuk dulu! Ayo mak Adi!” ajak bu Vera.
“Maaf tante, Adi pulang saja. Sekarang sudah malam, saya masih ada keperluan lain,” tolak Adi sopan. Ya, dia memang harus segera mengurus kepulangan jenazah pak Ahmad, sebelum ia meninggalkan rumah sakit, ambulan yang membawa jenazah pak Ahmad sudah berangkat membawanya ke rumah asal pak Ahmad.
“Ah, baiklah. Terimakasih kak Adi sudah menjaga Meta. Lain waktu mampir ya, kita ngobrol-ngobrol di dalam,” ucap Bu Vera penuh harap.
Adi mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Bu Vera. “Iya, Tante. Siap! Ta, aku pulang dulu. Mari semuanya, assalamu’alaikum.” Setelah mengucapkan salam, Adi segera masuk ke dalam mobil dan keluar dari halaman rumah Bu Vera.
Setelah menjawab salam Adi, mereka masuk ke dalam rumah. Sebelum Meta masuk kamar, bu Vera mencegahnya masuk.
“Meta, ada yang mau ibu bicarakan dengamu,” ucap Bu Vera seraya menggandeng tangan Meta, membawanya menuju ruang keluarga. Mbok Nem pergi ke dapur mengambilkan minum untuk semuanya.
Meta mendudukkan bokongnya ke atas kursi, tubuhnya sangat lelah. Tapi semangatnya membara untuk menemukan siapa dalang yang menculik Fitra, dan yang membakar rumahnya. Sebenarnya ia tidak sayang dengan rumah itu, ia hanya tidak menyangka harus kehilangan rumah yang menjadi saksi perjuangannya dengan cara seperti itu. Sungguh ia tidak ikhlas. Selama perjalanan pulang tadi, Meta bertekat akan mencari dalangnya sampai ke Liang kuburnya.
“Tadi bu Sarah, memberikan rekaman CCTV yang berada di depan rumahnya, Ta. Kebetulan kamera itu menyorot mobil yang menculik Fitra. Mungkin itu bisa menjadi petunjuk untukmu mencari pelakunya.” Bu Vera menyerahkan flashdisk yang berwarna hitam kepada Meta.
Meta mengernyit, ia tidak percaya begitu cepat Tuhan memberinya petunjuk. Baru tadi ia bersemangat mencari pelakunya, sekarang Tuhan sudah mempermudah jalannya.
Dengan cepat Meta menyambar flashdisk dari tangan ibunya, lalu berlari masuk kamar. Segera ia menyalakan laptopnya, sambil menunggu Meta terus menggenggam bukti itu dengan erat, seolah takut benda itu akan hilang.
Bu Vera dan Mbok Nem datang dan berdiri di belakang Meta, turut mengamati Meta yang akan membuka video dari CCTV itu. Setelah menyala, segera Meta menancapkan flashdisk itu, dengan harap-harap cemas ia mencari rekaman yang terjadi pada saat Fitra diculik.
Meta membuka beberapa file dan mengeceknya satu persatu, hingga akhirnya ia menemukan rekaman saat mobil itu berhenti di depan rumah Meta. Segera Meta memperbesar gambar mobil, matanya menyipit memastikan plat nomor mobil itu.
Segera Meta mencari kertas dan bolpoin, ia mencatat nomor itu dan akan meminta karyawannya mengecek siapa pemilik mobil itu.
“Alhamdulillah, plat nomor mobil penculik itu keliatan, semoga cepet tertangkap,” ucap Bu Vera senang.
Meta tahu penculik itu sudah tertangkap, tapi ia yakin ada dalang di belakang mereka yang memiliki kekuasaan lebih besar. Masalah kebakaran rumahnya, akan ia selidik besok pagi.
“Iya, Nyonya. Alhamdulillah, semoga masalah yang menimpa nonton Meta segera berlalu.” Mbok Nem ikut menimpali ucapan Bu Vera.
“Baiklah, kami keluar dulu. Kamu segeralah tidur, istirahat. Jangan terlalu kamu pikirkan maslah yang terjadi. Yakin Tuhan selalu bersama kita.” Bu Vera memeluk dan mencium pipi Meta sebelum keluar dari kamar.
Blam!
Setelah pintu tertutup, Meta merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan. Dalam hati ia terus beristighfar sampai akhirnya ia tertidur.
---
Weekend telah tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tapi Meta masih bergelung dengan selimut. Semalam ia tidur terlalu malam, bukan, pagi malah. Baru jam 3 pagi ia bisa memejamkan mata. Bukan apa-apa, sebelumnya ia sudah meminta salah seorang karyawannya untuk melacak plat nomor itu, sayangnya, mobil itu yang dilaporkan beberapa waktu yang lalu telah dicuri oleh segerombolan preman.
Tubuh Meta menggeliat, perlahan ia membuka mata. Beberapa menit kemudian, ia bangun, duduk di atas ranjang. Tiba-tiba Meta memikirkan lagi, bagaimana cara agar ia menemukan penculik itu. Pikirannya saat ini buntu, tidak ada petunjuk lain, atau mungkin saja Meta melewati beberapa hal? Entahlah.
Ceklek!
“Ibu... “ teriak Fitra yang membuka pintu kamar Meta, Fitra memeluk Ibunya, seraya mencium pipi Meta.
“Sayangku, jagoan Ibu udah harum,” puji Meta menoel hidung Fitra, gemas. Wajah Fitra sangat lucu, penuh dengan taburan bedak sampai semua terlihat putih merata.
“Sudah dong, tadi mandi sama Mbok Nem.” Fitra tersenyum, ia mengencangkan pelukan di tubuh ibunya.
“Fitra mau apa?” Tanya Meta, ia tahu, Fitra akan memeluknya erat sebelum meminta sesuatu.
Fitra menatap Meta penuh harap, ia takut permintaan nanti ditolak oleh ibunya.
“Fitra ingin jalan-jalan ke mall sama Ibu, mainan di sana. Di rumah bosen!” pinta Fitra, wajahnya ia buat se memelas mungkin.
Meta tersenyum, lalu berkata,” Oke bos, siap! Ibu mau siap-siap dulu. Tanyain Nenek dan mbok Nem ya, mereka mau ikut atau tidak.”
Fitra mengangguk lalu berlari keluar dari kamar Meta. Setelah yakin Fitra pergi, Meta bergegas mandi dan bersiap-siap. Dari kasus penculikan itu, Meta mulai meluangkan waktunya untuk Fitra. Ia tidak ingin Fitra tumbuh tanpa kasih sayang dan perhatian darinya.
“Gimana Jagoan? Nenek dan Mbok Nem ikut atau tidak?” tanya Meta, ia sudah rapi menggunakan tunik berwarna dusty ungu, celana jeans, dan pasmina berwarna senada.
Fitra menggeleng,” Mereka ingin istirahat, tidak ingin jalan-jalan katanya.”
“Baiklah, let's Go, Jagoan!”
Meta dan Fitra masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil Meta sudah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Tak henti-hentinya Fitra bertanya ini dan itu, membuat Meta sedikit kewalahan. Fitra sangat ingin tahu. Meta tersenyum menatap Fitra yang terus mengoceh tiada henti, dalam hati ia bersyukur Tuhan masih memberikan ia kesempatan untuk bersama Fitra.
Tak lama kemudian, mereka sampai di mall yang berada di tengah kota, karena hanya mall inilah yang memiliki Timezone paling lengkap, karena itulah Meta memilih tempat ini.
Setelah memarkir mobil Meta dan Fitra keluar, dan berjalan menuju Timezone di lantai 4. Meta terus menggandeng tangan Fitra, ia takut kehilangan Fitra lagi. Lagipula hari ini mall sangat ramai, maklum weekend. Banyak orang yang memiliki pikiran sama seperti Meta.
Meta dan Fitra terus bercanda, sampai tidak menyadari ada orang di depannya. Dan....
Bruk!
Meta menabrak seorang laki-laki yang tengah menelepon membelakangi Meta, membuat ponsel laki-laki itu terjatuh di dekat kaki Meta.
“Maafkan saya, Pak. Saya tidak melihat jalan!” ucap Meta seraya mengambil ponsel laki-laki itu yang ternyata sudah membalikkan badan berhadapan dengan Meta.
Laki-laki itu nampak terkejut melihat siapa yang menabraknya, tak lupa ia menerima ponsel yang Meta sodorkan.
“Kamu Meta?” tanya laki-laki itu hati-hati.
Meta mengernyit, matanya menyipit menatap laki-laki itu, ia mencoba mengingat siapa gerangan? Sayangnya ia tidak menemukan siapa pemilik wajah laki-laki itu.
Hayooo.. Siapa kira-kira laki-laki yang ditabrak Meta? Nantikan jawabanya di bab selanjutnya... Staytune ya.. 😘😘😘
Terimakasih sudah setia mengikuti cerbung receh ku 😍😍Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (179)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
menarik
30/07/2025
0aku cinta kamu
23/07/2025
0baguss
30/06/2025
0Lihat Semua