Bab 16

Bab 16 KECURIGAAN META
“Kurang ajar sekali Meta. “ Alfan menggeram marah, ia tidak rela Meta menjadi milik pria lain. Alfan tidak sanggup melihat Meta bersama laki-laki lain, walaupun ia jahat, ia masih sangat mencintai Meta.
“Aku akan bantu kamu, Bang, “ Bujuk Aisha. Tangannya terus membelai dada Alfan, ia tak lagi peduli tentang harga diri. Ia masih sah istri Alfan, walaupun siri. Jadi ia tidak berdosa melakukan apapun dengan Alfan. “Berkas yang kamu cari dibawa Ayahnya Meta, mau aku bantu?” Imbuhnya.
Hati orang akan berubah, tidak ada yang selamanya baik. Pagi masih kedelai, sore sudah menjadi tempe, pepatah Jawa mengatakan itu. Hanya Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia, begitupun Aisha, karena hatinya sudah di penuhi cemburu, iri, dan dendam membuatnya lupa darimana ia berasal. Lupa siapa yang menolongnya.
“Aku akan bantu ngambil berkas itu, hasilnya bagi 2, Oke? “ Alfan mengernyit, masih memikirkan tawaran Aisha. Setelah Bella meninggalkannya begitu saja, baginya Bella sudah mati. Dia hanyalah alat pemuas nafsu Alfan. Tidak lebih. Alfan pun tidak ingin mencari kemana perginya Bella.
Ide Aisha sepertinya bagus, Alfan menganggukkan kepala, “ Baiklah, setelah kamu menemukan berkas itu cepat bawa ke sini, “ perintah Alfan, dijawab Aisha dengan anggukan.
Hati Aisha berbunga-bunga, akhirnya Alfan mau bekerja sama dengan dia, setidaknya ia akan melihat Meta menjadi miskin.
“Kamu bawa uang gak? ” tanya Alfan
“Kenapa memangnya? “
“G*bl*k banget sih kamu, semenjak kamu pergi dapat duit dari mana aku buat makan? “ hardik Alfan. Aisha terkejut, namun segera ia mengelus dada Alfan lagi dengan lembut.
“Sudah dong, Bang. Jangan marah kenapa sih. Kamu tenang aja. Tadi aku nyuri perhiasan Meta di kamar. Ambil ini. “ Aisha menyerahkan beberapa kalung pada Alfan, sepertinya akan terjual mahal, karena Aisha yakin itu mutiara asli.
“Kamu pintar sekali, Sayang, “ Seru Alfan seraya menciumi Aisha, tanpa ia duga Aisha membalasnya, lalu mereka lupa segalanya. Menikmati peluh berdua.
.
.
“Mbok, siapa yang masuk kamarku tadi? “ tanya Meta kebingungan, saat masuk kamar tanpa sengaja ia melihat lemari terbuka, ia sangat yakin sebelum keluar kamar tadi ia menutup semua lemarinya. Apalagi saat ia mengecek isinya, beberapa kalung pemberian Ibunya hilang.
Siapakah yang mencurinya? Sepertinya tidak ada yang masuk rumah hari ini. Jangan-jangan Aisha? Meta baru ingat tadi Aisha pamit ke supermarket, sudah hampir 3 jam belum kembali. Kemana sebenarnya Aisha?
“Assalamu’alaikum, “ terdengar suara Aisha mengucap salam, gegas Meta ke depan menemui Aisha.
“Darimana saja kamu? “ tanya Meta ketus
Aisha salah tingkah, ia gugup takut ketahuan. “ Saya dari supermarket Mbak, beli ini, “ Aisha menunjukkan tas kresek yang berisi belanjaannya. Meta hanya melirik sekilas, tanpa sengaja ia melihat bekas warna merah di lehernya. Semua orang yang sudah menikah pasti tahu itu apa.
Meta menaruh curiga pada Aisha, dengan siapa dia bercinta? Bukankah dia kabur dari Alfan, tidak mungkin Aisha kembali menemuinya.
“Yasudah, masuk kamu, “ perintah Meta.
Saat tangan Aisha akan membuka pintu, Meta kembali bertanya, “Oh iya, kamu tahu siapa yang tadi masuk kamarku? “
Aisha kembali salah tingkah, keringatnya sedikit deras membanjiri dahinya. Meta mengernyit heran, “ Kamu denger gak aku tanya? “
“Ah, iya mbak, saya denger. Saya gak tau siapa yang masuk kamar Mbak, “ jawab Aisha sedikit gugup. “Memangnya kenapa, Mbak? “
“Gapapa, ya sudah kamu masuk kamar, istirahatlah. Ibu hamil gak boleh terlalu capek, “ Meta segera berlalu.
Aisha menghembuskan nafas lega, setidaknya kali ini ia aman karena Meta tidak bertanya walupun sedikit curiga. Ia akan bersikap wajar, agar Meta tak lagi curiga.
.
.
“Adi, Lo ada temen yang bisa pasang CCTV gak? “ tanya Meta melalui telfon pada Adi.
“Ada, mau dipasang dimana? ” tanya Adi penasaran
Meta mendesah pelan, “Mau di pasang di rumah, maaf nih ya, gue sedikit curiga sama Aisha. “ Meta menceritakan kejadian kemarin pada Adi, juga tentang kecurigaannya pada Aisha.
“Lo yakin Aisha masih berhubungan sama Alfan? “ tanya Adi memastikan
“Ragu sih, tapi gak ada salahnya gue Jaga-jaga di rumah gue. Takutnya dia punya rencana yang macem-macem. Lo tau sendiri kan Alfan kalau nekat keg gimana, “ sungut Meta.
“Anggota gue yang berjaga di rumah lo harus di tarik atau tetep aja keg gitu? ”
“Gimana ya? Menurut lo gimana? “ tanya Meta
Setelah terdiam sejenak akhirnya Adi bersuara, “ Gue tarik anggota gue setelah CCTV di rumah ke pasang, nanti gue hubungi temen gue, trus kapan mau di pasang?”
“Hari minggu aja, nanti gue ajak mereka ke rumah nyokap, pas kosong baru di pasang, “ putus Meta akhirnya.
Setelah selesai menelpon, Meta melanjutkan pekerjaannya yang sedikit menumpuk. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, ia ingin segera pulang untuk beristirahat, kepalanya sangat sakit. Akhir-akhir ini banyak masalah yang terjadi dalam hidupnya, membuat fisiknya sedikit drop.
Tok tok
“Masuk, “ sahut Meta tanpa menoleh siapa yang datang.
“Halo Sayang, bagaimana kabarmu? “
Spontan Meta menoleh, ia sangat terkejut Alfan sudah di depannya. Bagaimana caranya ia masuk ke ruangannya?
“Jangan kaget dong, aku bisa ke sini menyamar sebagai siapapun, “ seru Alfan menjawab rasa ingin tahu Meta. Ia memperlihatkan wig dan kumis palsu yang ia pakai menyamar.
Meta memencet tombol darurat tanpa Alfan tahu. Karena ia memasangnya baru-baru ini. Tombol itu terhubung dengan ruang keamanan yang ada di depan gerbang kantor.
Hanya berjaga-jaga saja, ia tak tahu apa yang akan Alfan lakukan padanya.
“Wah, bagaimana kabarnya calon mantan suami? “ tanya Meta dengan senyum mengejek
Alfan menggeram, namun masih bisa mengontrol diri.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, “ jawab Alfan terlihat santai. Ia berjalan pelan mendekati Meta.
“Ada perlu apa ke sini? ” tanya Meta sinis. Ia menatap Alfan tajam.
“Tenang dong, Sayang. Aku datang ke sini ingin bicara baik-baik. “ Alfan berusaha membelai wajah Meta, namun ditepis. Meta terlihat sangat marah.
“Cepet bilang ada perlu apa kamu? “ hardik Meta,
“Oke oke, aku ke sini Cuma mau bilang sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu.”
Meta mendecih, “ Mimpi kamu, walaupun kamu gak akan menceraikan aku, tapi aku yang menggugat, Oke, “
Alfan berjalan mengelilingi seluruh ruangan, ia terlihat sangat santai, seolah tanpa beban.
“Biarpun kamu menggugat tapi selamanya kamu akan tetap menjadi milikku Meta,” Alfan mencoba memeluk Meta tepat saat pintu di buka dari luar. Nampak beberapa satpam datang dan segera membawa Alfan pergi dari ruangan Meta.
“Lihat saja Meta, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu kembali, “ teriak Alfan, ia terus meronta.

Komentar Buku (179)

  • avatar
    Sikakog Dekoyoasi

    menarik

    30/07/2025

      0
  • avatar
    BriaGisel

    aku cinta kamu

    23/07/2025

      0
  • avatar
    ziakilastefani

    baguss

    30/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru