"Apa? Hamil?" Rama sangat terkejut seakan jantungnya akan terlepas dari rongganya. "Iya, aku hamil dan ini anak kamu, anak kita." Air mata Karin terus saja mengalir di pipinya. "TIDAK... INI TIDAK MUNGKIN." Rama mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Kabar tersebut cukup membuatnya sangat syok. "Apanya yang tidak mungkin, Ram? Ini memang anak kamu." "Bagaimana bisa? Kamu kenapa bisa hamil? Aarrgghh.." "Kamu tanya kenapa aku hamil? Tanya sama diri kamu sendiri, sudah berapa kali kita melakukan itu. Sekarang kamu harus bertanggung jawab." "Tapi aku sudah hati-hati melakukan itu." Rama masih saja ingin menolak kenyataan. Dia baru saja ingin serius menjalin hubungan dengan Tania, dia tidak bisa terima begitu saja jika niatnya terhalang karena kehamilan Karin. "Buktinya sekarang aku hamil, aku mau kamu nikahin aku secepatnya." Ucap Karin sambil menghapus air mata di pipinya. "Aku tidak percaya, bisa saja kamu melakukan itu dengan pria lain juga." Ucap Rama. Plakk... Tamparan keras mengenai pipi Rama. "Keterlaluan kamu, Ram. Kamu pikir aku wanita apa? Kamu sendiri tahu kalau aku cinta sama kamu, aku tidak pernah punya hubungan dengan pria lain." "Oke, tapi tidak percaya juga kalau kamu hamil, kalau kamu hamil, kenapa kamu baru bilang sekarang?" Ucap Rama sambil memegang pipi bekas tamparan dari Karin. "Aku beneran hamil, tadi kamu tuduh aku punya hubungan dengan pria lain, sekarang kamu tuduh aku bohong? Jahat kamu, aku baru tahu kalau kamu ternyata br*ngs*k.." Ucap Karin sangat marah, air matanya tak lagi menetes, dia menatap Rama dengan sangat tajam. "Sudahlah, lebih baik kita buktikan saja. Kamu hamil atau tidak." Rama lalu menarik tangan Karin namun Karin langsung melepaskan tangannya. "Aku gak mau pergi." Tolak Karin. "Kenapa? Oh.. jangan-jangan kamu memang mau menipu aku yah." "Bukan itu..." Ucap Karin terbata. "Kalau begitu, Ayuk kita pergi. Awas kamu kalau kamu berani bohongi aku soal kehamilan mu itu." Rama kembali menarik tangan Karin keluar dari rumahnya sementara Karin tak lagi bisa menolak, dia tak tahu alasan apa yang harus dia katakan untuk menghentikan keinginan Rama yang ingin membuktikan dirinya benar hamil atau tidak. Rama memaksa Karin masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan rumahnya. "Halo, Bu Alesha. Saya melihat Pak Rama sama Bu Karin keluar dari rumah, sepertinya ada masalah, Pak Rama memaksa Bu Karin masuk ke dalam mobilnya." Ucap orang suruhan Alesha yang sedari tadi memata-matai rumah Rama. Dia menelepon Alesha untuk melaporkan apa yang baru saja dia lihat. "Baik, kamu ikuti mereka, jangan sampai kehilangan jejak." Jawab Alesha dari seberang sana. Dengan sigap pria itu langsung melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil Rama. Mobil tersebut menuju ke sebuah rumah sakit. Tepat saat mobil tersebut parkir di parkiran rumah sakit, orang suruhan Alesha kembali melaporkan hal tersebut pada Alesha. Terlihat Rama masih menarik Karin untuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut, sementara Karin ingin menolak tapi tak bisa. Setelah melakukan registrasi, Rama dan Karin menunggu di depan ruang pemeriksaan dokter kandungan. Karin merasa cemas menunggu namanya di panggil, berbeda dengan Rama yang masih merasa yakin kalau Karin tidak hamil. Tak lama kemudian, Karin di panggil untuk masuk ke dalam. Rama dan Karin pun masuk dan duduk di kursi depan dokter tersebut. "Saya ingin tahu, dia hamil atau tidak, dok." Ucap Rama tanpa basa-basi. "Baik, silahkan Bu Karin berbaring di sana, saya periksa dulu." Jawab dokter tersebut lalu berdiri dan berjalan mengarah ke sebuah bed dalam ruangan tersebut. Karin mengikuti dokter dan dia berbaring di sana. Dokter melakukan pemeriksaan pada Karin. Karin yang nampak sangat cemas memberanikan dirinya untuk bicara. "Dok, ada yang ingin saya katakan." Ucap Karin khawatir. "Ada apa?" Tanya dokter. Belum sempat Karin mengatakan sesuatu, handphone dokter itu berbunyi. "Sebentar yah, Bu. Saya angkat telepon dulu. Siapa tau penting." Ucapnya. "Baik, dok." Ucap Karin. Dokter tersebut kemudian mengangkat telponnya, sepertinya telepon dari seorang temannya namun seakan ada hal penting yang mereka bicarakan. "Baik, sudah selesai pemeriksaannya, silahkan kembali duduk di sana." Pinta dokter setelah menutup teleponnya. "Tapi, dok. Saya ingin mengatakan sesuatu dulu."Ucap Karin perlahan. "Maaf, Bu. Tapi saya tidak punya banyak waktu, pasien saya masih banyak." Tolak dokter tersebut lalu kembali ke tempat duduknya. Sementara Rama masih duduk di sana dan tak beranjak sedikitpun. Karin dengan gugup bangun lalu turun dari bed tersebut. Dia melangkah perlahan dengan rasa takut dalam hatinya. "Bagaimana dok?" Tanya Rama yang sudah tidak sabar mendengarkan hasilnya. "Selamat Pak, istri bapak sedang hamil muda, usia kandungan baru 4 Minggu jadi tolong di jaga baik-baik."Ucapnya dokter tersenyum. "Apa? Karin benar hamil dok?" Tanya Rama lagi memastikan. Sementara Karin yang masih berdiri tak jauh, langsung mempercepat langkahnyadan duduk di samping Rama. Karin juga merasa terkejut mendengar bahwa dirinya benar-benar hamil. Awalnya dia hanya ingin membohongi Rama agar Rama tak meninggalkannya. Dia tak menyangka kalau ternyata dia kebohongannya menjadi kenyataan. "Iya, dia sedang hamil. Jadi jangan lupa untuk mengkonsumsi makanan bergizi, sayur dan buah. Hindari dulu fastfood untuk sementara waktu." "Baik terima kasih, dok." Dengan perasaan terkejut, Rama dan Karin berdiri lalu keluar dari ruangan dokter tersebut. Seolah keadaan sedang berpihak padanya, Karin menghembuskan nafas lega karena Rama pasti tak bisa berkutik lagi. Sementara Rama masih terdiam dan seolah kehilangan tenaga. "Kamu dengar sendiri kan kalau aku benar-benar hamil, puas kamu sekarang?" Ucap Karin dengan lantang. "Aku tidak tahu, Karin. Kasih aku waktu untuk memikirkan semuanya." Ucap Rama dengan lemas tak bertenaga. "loh, kamu tanggung jawab, ini anak kamu, Ram. Kamu pernah janji kalau kamu akan nikahi aku, sekarang bahkan saat aku hamil, kamu malah masih mau mikir dulu. Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus nikahin aku." "Aaarrgghh... Aku tidak tahu, aku bingung." Ucap Rama kesal dan langsung pergi begitu saja. "Ram, kita belum selesai bicara. RAMA..." Teriak Karin, namun tak di hiraukan oleh Rama tapi Karin tak mengejarnya, dia membiarkan Rama untuk berfikir dan dia sangat berharap Rama akan bertanggung jawab. "Aku ternyata benar-benar hamil, kenapa bisa seperti ini? Padahal niatku hanya untuk membohongi Rama agar dia tidak bisa lepas dari aku. Sekarang aku harus apa?" Keluh Karin dengan nada lemas. Karin berjalan menuju sebuah pangkalan taksi dan ojek tak jauh dari rumah sakit, namun tiba-tiba dua orang pria bertubuh kekar memegangnya. "Siapa kalian? Lepaskan..." Teriak Karin ketakutan. Namun dua orang pria tersebut memasukkan Karin ke dalam sebuah mobil. "Alesha?" Ucap Karin terkejut. Alesha hanya tersenyum, sementara mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. "Apa maksud kamu culik aku, Alesha?" Tanya Karin "Culik? Siapa bilang aku mau culik kamu." "Lantas kenapa orang suruhan kamu memaksa aku masuk ke mobil ini dan untuk apa?" "Kamu juga akan tahu nanti, aku cuma akan ajak kamu ke suatu tempat." Ucap Alesha tersenyum. "Aku gak mau, aku mau keluar dari sini." Karin langsung berusaha ingin membuka pintu mobil tersebut. "Silahkan saja kalau kamu mau pergi, tapi kalau kamu pergi sekarang, aku pastikan kamu akan menyesal. Aku bisa saja akan benar-benar menculik kamu nanti." Karin mulai takut setelah mendengar perkataan Alesha, dia akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi. Mereka hanya saling terdiam, sampai akhirnya mobil tersebut berhenti di depan sebuah hotel mewah. "Turun..!" Pinta Alesha. "Kita mau ngapain di sini? Kamu gak berniat jual aku kan?" Tanya Karin ketakutan. Alesha tertawa, "Hahaha, sorry aku bukan orang sejahat itu, tapi kalau kamu tidak mau ikuti aku, aku bisa saja berubah fikiran." "Kamu benar-benar keterlaluan yah." "Sekarang kamu pilih, kamu mau di paksa atau mau ikut tanpa bicara? Kamu bisa bicara sepuasnya nanti di dalam." Ucap Alesha tersenyum. Karin akhirnya mengikuti setiap langkah Alesha dengan perasaan takut, khawatir dan juga marah karena tak bisa berbuat apa-apa, mereka masuk ke dalam hotel tersebut dan berhenti di depan sebuah kamar. Tak lama kemudian, seorang wanita membuka pintu kamar tersebut. Alesha dan Karin langsung masuk ke dalam. "Dia siapa?" Tanya Karin setelah pintu kamar tersebut di kunci. "Tania." Jawab Alesha. "Tania?? Mantannya Rama? Kamu berniat mengganggu Rama dan merebut dia dari aku yah? Ucap Karin dengan marah. Tania hanya tersenyum merespon perkataan Karin. "Hei, kamu tenang dulu." Pinta Alesha. "Alesha sengaja bawa kamu ke sini, kamu tahu kenapa Rama berubah sama kamu? Itu karena aku." Ucap Tania tersenyum. "Rama cinta sama aku, aku gak percaya sama kamu." Ucap Karin jutek lalu memalingkan wajahnya. "Gak percaya? Ini buktinya... Kamu bisa lihat, hampir tiap saat dia chat aku." Tania memperlihatkan layar handphonenya pada Karin. Karin merasa semakin sesak dan sakit hati mengetahui bahwa ternyata Rama memang mengkhianati dirinya. "Jadi, aku di bawa ke sini supaya kamu bisa pamer kalau Rama cinta sama kamu, gitu?" Ucap Karin dengan sangat kesal. "Tunggu dulu, sepertinya aku harus menjelaskan semuanya dari awal. Aku sengaja bawa kamu ke sini, aku berniat baik, aku tidak mau kamu di sakiti sama Rama. Kamu mungkin tidak tahu, kamu tidak hamil. Aku yang menelpon dokter itu dan memintanya bilang kalau kamu hamil, untung saja dokter itu temanku jadi dia mau membantu. Kalau dia mengatakan kamu tidak hamil, bisa-bisa Rama langsung menghajar kamu karena kamu membohongi dia." Ungkap Alesha. "Jadi? Aku tidak hamil?" "Iya, kurang baik apa aku? Tapi tetap saja, aku bawa kamu ke sini agar mata dan hati kamu terbuka lebar. Apa yang kamu lihat dari pria seperti Rama?" Tanya Alesha. "Aku cinta sama dia." Jawab Karin singkat. "Sejak awal, aku sudah katakan sama kamu, Rama bisa meninggalkan aku untuk kamu, dia juga bisa meninggalkan kamu untuk wanita lain. Sekarang ada Tania, kamu sudah lihat bagaimana Rama berubah? Itu semua karena dia mulai tertarik dengan Tania." Ucap Alesha lagi. "Iya, Karin. Aku juga awalnya tidak percaya. Tapi aku rasa, Rama bukan pria yang pantas untuk di perjuangan, dia bukan pria yang baik dan dia tidak setia." Lanjut Tania. "Kamu sengaja kan bilang begitu supaya aku mau melepaskan Rama untuk kamu? Tidak akan." Balas Karin yang masih dengan keras kepalanya. "Ya ampun, Aku mana mau sama pria yang jelas-jelas tidak setia seperti Rama." Ucap Tania. "Kalau kamu tidak cinta sama Rama, kenapa kamu mau mendekati dia?" Tanya Karin. "Aku cuma mau kamu sadar, Rama itu bukan pria yang baik, dia tidak pantas di cintai. Aku akan buktikan, sekarang kam dia taunya kamu hamil, jika dia pria yang baik, dia pasti akan bertanggungjawab, tapi kamu lihat saja nanti." Ucap Tania. "Aku sangat yakin, Rama pasti akan mempertahankan hubungan kami karena dia tidak mungkin mengabaikan soal kehamilan ku." Jawab Karin. "Ya sudah, Kalau kamu memang sangat yakin dengan Rama kesayanganmu itu, aku pastikan kamu akan menyesal. Lihat saja nanti." Ucap Alesha dengan serius.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (185)
PujiantiFitri
bener gita harus tegas.. laki2 seperti rama tK pantas di pertahankan 😠
bener gita harus tegas.. laki2 seperti rama tK pantas di pertahankan 😠
23/06/2022
1bagus
01/06
0suka banget
10/01
0Lihat Semua