Beranda/Om, I Love You!!/
Have Fun
Hari berlalu seperti biasa, tidak ada sehari pun dilalui Brisya tanpa Aji kecuali saat mereka sedang libur kuliah.
Sejak kejadian firstkiss itu, Aji selalu melakukannya lagi dan lagi dan tak pernah bisa Brisya tolak.
Namun dibalik sifat Aji yang kasar, ia adalah sosok yang penyayang. Mungkin karena Aji adalah putra tunggal dari keluarga kaya raya maka segala yang ia mau harus ia dapatkan. Ia menjadi egois dan brutal saat keinginannya tak terpenuhi.
" Aku laper, Briy. Berhenti makan dulu, yuk!" pinta Aji sambil membelokkan mobilnya ke sebuah cafe. Usai memarkir, ia segera berhambur keluar dan membukakan pintu mobil untuk Brisya.
"Yukk!" ajaknya halus seraya menggandeng Brisya masuk.
Brisya hanya menurut dan mengikuti Aji yang langsung memilih tempat duduk.
"Kamu mau makan apa, Briy?" tawar Aji saat pelayan membawakan menu untuk mereka berdua.
"Aku gak lapar, kamu aja yang makan ya, aku minum aja."
"Kan, kamu, kan! Nggak usah diet, kamu sudah sekurus tiang listrik!" potong Aji kesal, lalu memilihkan menu favorit Brisya dan segera mengembalikan menu tadi pada pelayan yang menunggu.
"Agak cepet ya, mbak, kami sudah laper."
"Baik, Mas Aji, " sahut pelayan itu sopan.
Brisya mengawasi Aji kaget, dari mana waitress itu tau nama Aji?
"Apa? Kok liatnya gitu?" tanya Aji heran.
"Kok dia kenal sama kamu?" selidik Brisya penasaran, mereka berdua baru kali ini makan di cafe ini.
Aji mengangkat kedua bahunya rileks, "Gak tahu, fansku kali.”
Brisya mencibir cepat, " Diih, fans apaan!” sungutnya terkekeh.
Aji tertawa, menarik tangan Brisya dan menggenggamnya.
"Bulan depan aku berkunjung ke rumah nenekku di Sidney, kamu ikut ya."
"Ngaco kamu!" potong Brisya kaget.
"Loh emangnya kenapa??" tanya Aji heran, "kamu kan cewekku?" lanjutnya.
Brisya menghembuskan nafasnya pelan, "Jangan mengada-ngada deh, kita kan sudah sepakat kalo hubungan kita berdua gak akan bisa lebih dari ini. Wanita yang akan kamu kenalkan pada keluargamu harusnya orang yang sudah mantap kamu pilih."
"Aku mantap kok milih kamu."
"Ajiii, jangan gitu!" potong Brisya mulai kesal.
Ia benci bila harus mengungkit masa lalunya di depan Aji, ia takut keluarga Aji tidak akan menerima seorang anak Panti Asuhan yang tidak jelas latar belakangnya. Terlebih keluarga Aji adalah keluarga kaya raya dan terpandang.
" Sejak awal kamu bilang suka sama aku,aku selalu bilang, kan, kalo masih banyak cewek di luar sana yang jauh lebih baik dari aku,"
"Terus? Kalo aku gak dapet?"
"Kamu bukan gak dapet, kamu cuma gak serius aja nyarinya!" tukas Brisya cepat.
Aji menunduk sedih, "Yauda kalo kamu nggak mau ikut ke Sidney gapapa, kita gak perlu bahas ini lagi, ya,” ucapnya lesu.
Brisya mengeratkan genggaman tangan Aji. "Maaf, Aji," desisnya sedih.
Tak berapa lama, pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan.
Sepiring nasi goreng tersaji cantik di depan Brisya. Makanan favoritnya adalah nasi goreng. Entah kenapa, makan di manapun yang ia pesan pasti nasi goreng. Mungkin karena di panti ia terbiasa makan seadanya, dan nasi goreng selalu jadi menu yang dalam seminggu bisa dimakan hampir setiap hari.
"Yuk makan!” ucap Aji saat Brisya hanya memandang piring di depannya terpaku.
Brisya mengangguk dan memungut sendok di piring lalu menyantapnya perlahan.
" Gak berasa, ya, tahun depan kita udah lulus aja." Aji mulai buka suara mengalihkan pembicaraan.
Brisya tersenyum dan mengangguk.
"Nanti rencananya kamu mau kerja di mana, Briy?" tanya Aji penasaran.
"Aku gak mikir sejauh itu, sih, yang penting dapet perusahaan aja dulu buat magang bulan depan."
"Oiya ya, kamu mulai magang bulan depan, mau aku bantu?" tukas Aji cepat.
Brisya menggeleng. "Gak usah, nanti aku cari sendiri aja, alumni panti banyak kok beberapa yang sukses dan punya perusahaan sendiri, mungkin aku akan minta bantuan ibuk buat menghubungi mereka,"sahut Brisya menolak halus, ia yakin bila Aji membantunya, pasti ia akan magang di perusahaan Papanya. Dan Brisya malu bila harus melibatkan dan memanfaatkan Aji.
"Yaah, aku bakal sering ditinggal kamu, nih!" rengek Aji sedih, meletakkan sendok makannya dan mengawasi Brisya.
"Ih apaan, sih, kan cuma 3 bulan aja, lagian kamu masih bisa main ke panti kan kalo kangen."
"Tapi gak bisa seharian bareng kamu lagi, kan," tukasnya.
"Ahhh, dasar bucin!! Cepet makan,” cibir Brisya terkekeh.
Kadang Brisya heran, apa yang membuat Aji begitu menyukainya?
Fisik Brisya memang sempurna, kecuali tubuhnya yang kurus kering. Namun rasa penasaran Brisya tidak pernah terjawab hingga sekarang. Awalnya ia berpikir Aji hanya merasakan cinta monyet, namun seiring berjalan waktu meski sudah ditolak berkali-kali pun Aji tidak pernah menyerah.
"Habis ini kita ke apartemenku, yuk!"
Brisya menolehi Aji, terakhir kali ke apartemen dulu hampir saja Aji kelewat batas. Karena sepi saat itu Aji menciuminya dengan ganas, bahkan hampir menidurinya. Jantung Brisya berdegub kencang.
"Aku ada janji dengan bu Rahmi hari ini, kapan-kapan aja, ya," tolak Brisya beralasan.
"Yaudah aku telpon bu Rahmi buat pamitin kamu, ya."
"Aji, no! Gak sopan kaya gitu," potong Brisya cepat.
Aji nampak kecewa, ia melahap suapan terakhir makanannya dengan tak berselera.
"Yaudah, kapan-kapan kamu gak boleh nolak, ya,” pintanya memohon.
Brisya diam, ia bahkan tak sanggup untuk mengangguk. Brisya takut, kejadian dulu akan terulang lagi. Bila hanya berciuman mungkin masih bisa ditolerir, karena Brisya pun menyukai Aji. Tapi bila lebih dari itu, maka ia akan menyesal seumur hidup.
Usai makan dan mengobrol ringan, Aji mengantar Brisya pulang ke panti. Sebelum turun dari mobil, Aji menyerahkan sebuah paper bag pada Brisya dan memintanya untuk membuka isi paper bag itu di dalam.
Brisya menurut. Ia turun dari mobil saat Aji membukakan pintu untuknya dan melambaikan tangan sampai mobil Aji pergi.
Saat hendak berbalik masuk ke panti, pandangan Brisya tak sengaja menangkap sesuatu yang janggal. Ada sebuah mobil sedan hitam yang bagus terparkir di depan ruko di sebelah panti. Brisya mengawasinya dari kejauhan. Ia tak pernah melihat mobil itu sebelumnya. Ia penasaran ingin mendekat namun Brisya ingat terakhir kali ke ruko itu ia dan Aji bertengkar hebat. Brisya mengurungkan niatnya. Ia melangkah masuk ke dalam panti dengan sedikit berlari. Ia penasaran apa isi paper bag yang diberi Aji tadi.
Belum usai Brisya menutup pintu kamar, ia mendengar bunyi nada asing. Brisya menajamkan pendengarannya dan mengawasi setiap sudut kamar. Tidak ada benda apapun yang berbunyi, hingga kemudian Brisya tersadar sumber suara itu dari dalam paper bag yang ia tenteng sedari tadi.
Brisya meletakkannya di meja dan mengeluarkan isi paper bag itu, sebuah kotak ponsel. Yang berbunyi di dalam berarti sebuah ponsel. Buru-buru Brisya membuka kotaknya dan benar saja, sebuah ponsel keluaran terbaru menyala menandakan ada panggilan masuk.
Brisya memungut ponsel itu dengan tangan bergetar, hanya sesekali ia memegang ponsel dan itu pun bukan miliknya.
Nada panggilan berbunyi lagi, Brisya terbelalak bingung.
Aji is Calling..
" Halo?" sapa Brisya takut, semoga ia menslide arah yang benar.
"Cieee, hape baru, cieeee.." goda suara Aji di ujung sana terkekeh.
Brisya menghembuskan nafasnya haru. "Aji, why?"
Aji tertawa di ujung sana." Biar kalo aku kangen sama kamu, aku bisa telefon kamu lah."
"Tapi kan kamu gak perlu sampe beliin aku hape yang terbaru, hape yang biasa aja cukup."
"Ahhh, biasa aja, apanya yang terbaru, sih! Aku malah udah pegang hape itu dari lama," potong Aji terkekeh.
"Yaudah, kamu mandi dulu deh, nanti aku telefon lagi, ya."
"Oke,” sahut Brisya pelan, lalu memutuskan sambungan telefonnya.
Brisya meletakkan ponselnya di meja dan buru-buru berhambur ke kamar mandi dengan perasaan berbunga-bunga. Diperlakukan dengan sangat spesial oleh Aji, membuat Brisya sedikit banyak jadi lupa pada trauma masa kecilnya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (112)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
nice
12/08
0aku sampe terharu membacanya... dan aku pemula membaca ini... dan ini sangat2 membuat aku menangis... gara2 membaca ini juga... kayak pengen ada kelanjutan... cuma... yahh... sayangnya ketagihan membaca jalan cerita yg satu ini... tidak pernah lagi aku membaca ini dengan bosan... sejak awal... aku kira hanya biasa2 saja... tetapi... lama kelamaan... aku jadi jatuh cinta dengan jalan ceritanya Si Birsya dan Haris... dan salam dari Malaysia... cerita ini membuatku terharu dan tersentuh hati🐇🤍
22/04
0bagus banget, sukaaaas
03/02
0Lihat Semua