"Ya kan Min?" tanya Novi pada Mini. "I-iya," jawa Mini. Dengan takut karena Kak Rangga pun menatap kearah dirinya dengan tajam. "Woi bro, apa kalian tahu kalau dua wanita ini sudah punya suami?" tanya Rangga dan langsung menggeser pria yang disebelah Mini dengan satu tangan. Kini Rangga duduk di samping Mini dengan melihat menuju pria yang kini duduk disebelahnya. Novi yang tahu kalau Diki sedang marah pada kedua pria tersebut, langsung menyuruh mereka untuk pergi. Namun pria yang disamping Novi tidak peduli, pria tersebut justru berani menatap kearah Diki dengan tajam. "Kalau sudah punya suami memangnya kenapa? Kalian hanya Bule nyasar di negara kami. Jadi, pergilah!" usir pria tersebut dengan tegas. Diki yang sudah mulai emosi, berusaha memukul pria yang tadi berbicara sombong kepadanya. Namun Rangga dan Novi langsung mencegahnya, Rangga yang sudah lebih berpengalaman pada masalah yang seperti ini. Langsung membawa ke dua pria tersebut menjauh dari Diki. Setelah lima menit, Rangga pun berjalan kembali ke arah Novi, Mini dan Diki. "Kau apakan mereka?" tanya Novi dengan setengah berbisik. "Mereka sudah aku --" belum sempat dijawab oleh Rangga. Diki sudah menarik tangan Novi dan membawanya pergi menuju tempat parkiran. Rangga yang melihat Diki dan Novi pergi, langsung ikut berjalan. Namun langkah kakinya terhenti dan menengok kearah belakang. "Kenapa kau masih berdiri di sana?" bentak Rangga. "Cepatan jalan!" perintah Rangga dengan tatapan tajamnya. Mini pun langsung berjalan kearah Rangga setelah tergesa-gesa dan sampai di parkiran. Langkah Mini terhenti karena merasa binggung harus pulang dengan Kak Rangga atau meminta Kak Leo yang menemuinya. Rangga yang melihat Mini berhenti, langsung menarik tangan Mini dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Kita mau kemana Kak?" tanya Mini, dengan menyukai mata yang lurus ke depan. Mini masih belum berani menatap pada wajah suaminya. "Kita ke kantorku." jawab Rangga dengan singkat. Lalu melirik sekilas pada Mini. Dan lagi-lagi pikiran kotornya selalu Rangga jika sedang didekat Mini dan Rangga pun langsung melajukan mobilnya menuju Apartemennya. Sementara itu, Diki yang masih marah karena sikap Novi yang terlalu dekat pada pria, tidak bicara sepatah kata pun didalam mobil. Novi yang tahu suaminya sedang marah, berusaha mengajaknya bercanda. Namun Diki tetap diam tidak menanggapinya sama sekali. "Kita mau kemana?" tanya Novi, yang tahu arah yang ditujunya bukan ke Mansion utama. Namun lagi-lagi Diki tidak menjawab pertanyaan Novi. "Begini nih kalau punya suami yang dingin." gerutu Novi tidak merekam ucapannya. "Yang apa?" tanya Diki menatap sekilas pada Novi. Novi tidak menjawab pertanyaan Diki dan asik bernyanyi dengan menyindir Diki. Aku makin cantik kau marah, maunya kamu aku diam tak kemana mana Bagai burung dalam sangkar seperti itu Jadi buah simalakama Aku cinta tapi terkekang Maunya kamu aku diam tak boleh bersolek Jangan sampai tambah cantik seperti itu maumu tak mungkin bahagia Seperti itu cintamu mama papa tolong aku Hempaskan cinta! nyanyi Novi, sembari mendorong bahu Diki karena terbawa lagu yang dinyanyikannya. Diki yang merasa bahunya di dorong, langsung membalas menjewer telinga Novi hingga membuat Novi merasa kesakitan. Diki yang masih berusaha berkonsentrasi menyetir, menatap sekilas pada Novi yang marah karena telinganya dijewer olehnya. Dengan menghela nafasnya, Diki berusaha bersabar menghadapi sikap Novi yang susah diatur dan suka seenaknya. Sementara itu, Mini yang kini berada di parkiran, turun dari mobil dengan merasa binggung. Karena kini dirinya berada disebuah Apartemen terlihat dari tulisan yang dibacanya. "Kak Rangga, kamu bilang kita mau ke kantormu?" tanya Mini. "Sudah jangan banyak bertanya!" Rangga langsung menarik tangan Mini masuk kedalam lift. Novi yang masih marah pada Diki karena menjewer telinganya, kini menatap keheranan pada bangunan yang ada di depan matanya. "Kau bilang kita ke kantormu?" tanya Novi dengan merasa binggung, karena kini dirinya berada di depan sebuah rumah sakit. "Aku berubah Pikiran!" seru Diki, dengan menggenggam tangan Novi dan masuk kedalam rumah sakit. "Tapi kenapa kita kerumah sakit? Apa kamu sakit?" tanya Novi dengan khawatir. "Bukan aku yang sakit, tapi kau." jawab Diki dengan datar. "Aku sakit? Tapi aku merasa sedang tidak sakit?" Novi memegang keningnya dengan tangan yang satunya. "Tidak panas," ucap tangan yang satunya. "Tidak panas," ucap Novu kembali. "Sudah jangan berisik," ujar Diki, dengan intensnya menatap pada Novi yang terlihat binggung. Diki langsung membawa Novi kedalam lift khusus di rumah sakit tersebut. Dan setelah sampai, mereka pun langsung masuk kesebuah ruangan. Ada seorang Dokter pria yang sedang duduk dengan wajah yang terkejut melihat kedatangan dirinya dan juga Novi. "Tuan Diki Richard!" Dokter Antoni, saat pria dan wanita yang masuk ke dalam ruangannya tanpa pintu terlebih dahulu. "Antoni, bisa kau bawa bawa Dokter Spesialis Obgyn kemari..!" Perintah Diki pada Dokter Antoni yang usianya lebih muda tiga tahun darinya. Dokter Antoni langsung terdiam dan menatap pada Novi dengan sejuta pertanyaan yang berputar di otaknya. Siapa wanita yang disebelah Tuan Diki dan mengapa Tuan Dikj meminta seorang Dokter Spesialis Obgyn. "Jaga matamu!" bentak Diki, saat tahu Antoni menatap Novi tanpa berkedip. "Ma-maaf aku hanya.." Antoni menimpanya yang tidak gatal, lalu berjalan kesisi tuan Diki. "Apa kau menghamili gadis muda ini?" bisik Antoni pada anak dari kawan baik papanya. "Jaga bicaramu ! Atau aku akan memecatmu sekarang juga." ancam Diki dengan suara yang tegas. "Aku hanya becanda bro," ujar Antoni dengan menyenggir kuda. "Tidak papaku tidak selalu membawakan saja kamu dan papa," gumam Antoni. Yang tak lain papa putra dari Dokter Ricardo kawan baik papa Dedi. Dokter Antoni pun langsung kembali ke tempat duduknya lalu menghubungi Dokter Spesialis Obgyn untuk datang ke ruangannya. Diki yang masih terdiam dengan wajah datarnya, langsung merasa kesal saat melihat Novi menatap Antoni tanpa berkedip sedikit pun. Dengan reflek Diki menjewer telinga Novi, karena berani menatap pria lain saat berada disisinya. "Diki sakit!" pekik Novi dengan kesal sembari mengelus telinganya yang panas. "Jangan macam-macam jika sedang bersamaku!" bisikkan Diki dengan kesal. "Aku tidak macam-macam, aku hanya melakukan satu macam. Yaitu melihat wajah tampannya," ucap Novi dengan jujur. Membuat Dokter Antoni langsung tertawa keras, karena merasa lucu dan kagum pada sosok wanita disebelah Tuan Diki yang berani berbicara seperti itu. "Kau mau aku pecat!" bentak Diki pada Antoni. Membuat Antoni langsung terdiam dengan menahan tawanya. Dan tak menunggu lama, Dokter Spesialis Obgyn pun masuk kedalam ruangan Dokter Antoni. Dan langsung berdiri disamping Direktur Rumah sakit tersebut. "Kau periksa istriku, dan cari cara agar dia cepat hamil!" Perintah Diki to the point pada Dokter wanita yang baru saja datang keruangan tersebut. "Jadi dia istrimu?" tanya Antoni yang sangat terkejut, karena tahu dirinya Dili belum menikah. "Kenapa kau tidak mengundangku?" protes Antoni. "Untuk apa aku mengundangmu?" ujar Diki dengan menatap sinis. "itu benar-benar keterlaluan," sindir Antoni dengan mengelengkan kepalanya. "Oh ya, kenalkan namaku Antoni." ujar Antoni memperkenalkan dirinya pada Novi. "Novi," ucap Novi ingin mengarahkan tangannya. Namun dengan cepat Diki meraih tangan Novi, membuat Antoni langsung tertawa. "Kau itu posesif sekali!" gerutu Antoni. Namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Diki. "Cepat kau periksa istriku!" perintah Diki dengan tegas pada Dokter wanita itu. Membuat Dokter tersebut menjadi gugup dan jaringan. "Bisakah Istri tuan ikut kedalam ruangan saya?" tanya Dokter wanita itu yang bernama Maya. "Tentu saja," jawab Diki dengan cepat. Lalu berdiri dari duduknya dengan mengenggam tangan Novi. "Kau disini saja!" seru Diki saat melihat Antoni hendak berdiri dari duduknya. "Okey Tuan Diki Richard," ujar Antoni dengan menahan rasa gelinya. Karena melihat sikap posesif teman menjaganya. Diki, Novi, dan Dokter Maya pun langsung berjalan menuju ruangan khusus Obgyn, dan setelah beberapa saat di periksa oleh Dokter Maya. Novi pun langsung kembali duduk di sebelah suaminya. "Bagaimana?" tanya Diki. "Semuanya sehat dan tidak ada flek atau apa pun yang menahan kehamilannya." jawab Dokter Maya. "Lalu kenapa istriku belum hamil lagi?" tanya Diki dengan wajah yang serius.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
good
10d
0bisa ngilangin rasa gabut
27/08
0bagus👍
10/07
0Lihat Semua