Dia memang wanitaku, ia terlahir kembali dengan sosok jiwanya yang berbeda. Kata-kata itu selalu berputar di otak Kenzo, Lihatlah keadaan seorang Kenzo Albert yang terkenal kejam dan pengusaha muda sukses. Kini berubah menjadi sosok yang sangat menyedihkan. Saat ini, Kenzo sedang di rawat di Rumah sakit jiwa mawar di pusat kota z. Iya, seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup. Putus sudah harapannya dan keinginannya untuk membangun masa depan dengan seorang wanita yang serupa dengan wanitanya. "Kau milikku! Kau tetap Milikku! Dissa kau Milikku!" teriak Kenzo yang selalu ia ucapkan di dalam kamar rumah sakit yang merawatnya. "Ini tidak adil bagiku, mengapa hidupku berantakan seperti ini? Masih adakah orang lain yang mau menerimaku dan mencintaiku setulus jiwanya.hiks," gumam Kenzo menangis seraya duduk di atas lantai yang dipenuhi beberapa pecahan kaca lemari yang berhasil ia hancurkan dengan telapak tangannya. Telapak tangan kanan Kenzo, terus mengalir darah segar yang jatuh di atas lantai. "Tuan! Kau tidak apa-apa," pekik Nila, seorang perawat rumah sakit jiwa yang bertugas menjaga dan merawatnya. Nila berjalan menuju ke arah Kenzo dan ia membantu Kenzo untuk berdiri dari lantai. "Tuan, mari aku obati luka ini," ucap Nila yang berdiri di sebelah Kenzo. Kenzo menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha memberontak. Kenzo berteriak histeris dan membuat Nila kwalahan untuk membujuknya. "Tuan, jangan begini dan kalau tidak secepatnya luka itu tidak obati dan akan menimbulkan infeksi. Emang tuan mau tangannya tinggal satu," ucap Nila berusaha membujuk Kenzo walaupun menggunakan cara sedikit mengancam. Kenzo pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan ia menatap kedua bola mata Nila. "Jika Tuan, tidak ingin tangannya dipotong, mari aku obati lukanya," jelas Nila. Akhirnya, Kenzo pun menuruti kemauan perawat cantik dan masih muda itu. Kenzo duduk di pinggir ranjang tidur dan ia memperhatikan setiap perlakuan Nila yang selalu membuatnya nyaman. Nila mengobati luka di tangan Kenzo dengan hati-hati, dibersihkannya sisa kaca kecil yang menempel di tangan Kenzo. "Tuan, tolong tahan sebentar ini terasa sakit dan harus secepatnya dicabut dan akan aku obati dengan perban," jelas Nila dibalas anggukan oleh Kenzo. "Selesai," ucap Nila yang telah menaruh perban di tangan Kenzo. Nila memberikan senyuman manisnya begitupun dengan Kenzo ikut tersenyum. Terkadang, Nila merasa kasihan dengan keadaan Kenzo, saat ia divonis masuk penjara maka disitulah Kenzo merasa tekanan batin dan akhirnya jiwa dan mentalnya terganggu. Harta dan tahtanya hilang begitu saja, selama ia di penjara, ia mengalami kebangkrutan pada perusahaannya. Belum lagi, sisa warisan dan uang tabungannya pun habis di bawa lari oleh pekerja setianya. Sungguh menyedihkan kisah hidup seorang Kenzo Albert, tetapi bagaimana pun juga ia harus menanggung semua kejahatannya yang ia lakukan. Apa yang telah kau tanam, apa yang kau tuai. Itulah pepatah untuk dirinya, Nasi sudah menjadi bubur. Kenzo tidak bisa kembali ke masa lalu, ia pun tidak harus menyesal atas perbuatannya. Ia dapat menata masa kininya dengan catatan, ia tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. "Tuan, sepertinya kau perlu beristirahat dan jangan dipikirkan nanti lukanya akan sembuh dengan sedia kala." ucap Nila. Kenzo tersenyum tulus menatap kedua bola mata Nila. "Tuan, saya permisi dulu," lanjut Nila membalikkan tubuhnya dan ia mulai melangkahkan kakinya tetapi ia merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. Nila menoleh dan ia tersenyum saat ia melihat Kenzo yang menarik tangannya. "Terima kasih," ucap Kenzo dengan suara beratnya. "Iya Tuan, itu sudah menjadi tugas saya untuk membantu Tuan dan merawat semua kebutuhan yang tuan perlukan." jawab Nila menatap ke arah wajah tampan Kenzo. Kenzo melepaskan tangannya dari tangan Nila. "Maaf," ucap Kenzo menunduk. "Tidak apa-apa, baiklah saya permisi dulu," ucap Nila pamit undur diri di depan Kenzo. Kenzo menatap punggung mulus Nila yang berjalan mendekati ke arah pintu kamarnya. "Dia baik sekali," gumam Kenzo pelan. *** Keesokan harinya, Nila sudah berada di dalam ruangan rawat Kenzo. Ia melihat wajah lucu Kenzo yang sedang tertidur nyenyak. Nila yang berniat untuk memberikan makanan kepada Kenzo, ia pun mengurungkan niatnya saat melihat keadaan tenang yang ada apada diri Kenzo. Nila berjalan mendekati ke arah Kenzo dan kini wajahnya dan wajah Kenzo hanya berjarak dekat dan dielusnya wajah tampan Kenzo dengan kasih sayang. "Kau bisa hidup bahagia jika kau belajar untuk mengiklaskan sesuatu yang bukan ditardirkan untukmu," ucap Nila pelan. "Kau benar, aku harus belajar ikhlas agar bisa mendapatkan dirimu," ucap Kenzo yang langsung membuka kedua bola matanya. Nila yang mendengar ucapan dari Kenzo, sontak saja ia terkejut pake banget saat melihat Kenzo yang berpura-pura tidur. "Tuan, sudah bangun?" tanya Nila menunduk untuk menutupi wajah merahnya menahan malu. "Iya," ucap Kenzo menarik tangan Nila dan membuat Nila refleks memeluk tubuh Kenzo. Deg! "Rasa ini, seperti sudah lama aku rindukan. Nyaman, tentram dan aman. Itu semua ada di dalam dirinya," kata Kenzo dalam hati. Kenzo membalas pelukan Nila. Nila terkaget saat Kenzo memeluknya. Saat ini, posisi Nila duduk di pangkuan Kenzo dan sambil memeluk tubuh Kenzo. "Apa yang aku lakukan?" gumam Nila dalam hati. Nila menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Kenzo. wajahnya terlihat sedang memakai make up alami. Malu bercampur bahagia, itulah yang ia rasakan. Tapi, Seorang Nila yang notenya hanya perawat, ia sadar diri dan tidak ingin salah memilih. Ia tidak mau mempermalukan kedua orang tuanya hanya keinginannya semata yang nantinya akan berimbas kepada keluarganya. Kenzo melepaskan pelukannya dan pelan tapi pasti Kenzo langsung mencium bibir seksi milik Nila. Nila terkejut saat ia merasakan ciuman pertama kali yang dirasakannya. Nila dengan sigap langsung melepaskan ciuman itu. Plak! Tamparan keras tepat mengenai wajah tampan Kenzo. Nila menatap dalam ke arah Kenzo begitu pun dengan Kenzo. Nila tidak tahan lagi dengan kenyataan pahit yang dirasakannya. Nila langsung membalikkan badannya dan ia berdiri dari tempat duduknya. Nila berjalan cepat menuju pintu keluar kamar pasien. "Nila, maafkan aku. Nila tolong dengarkan aku!" teriak Kenzo keras dan tak dihiraukan oleh Nila. Kenzo pun mengejar Nila dan ia melihat sekitar ruangan rumah sakit untuk menemukan Nila. "Dia disana," gumam Kenzo pelan dan ia berjalan menuju sebuah taman belakang rumah sakit. "Kenapa hatiku terasa sakit saat melihatnya menangis?" kata Kenzo pada diri sendiri. Kenzo berjalan menuju ke arah kursi yang berada di taman dan ia mendudukkan dirinya di sebelah Nila. "Maafkanlah aku," ucap Kenzo menatap Nila yang menangis dalam diam.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
good
10d
0bisa ngilangin rasa gabut
27/08
0bagus👍
10/07
0Lihat Semua