Bab 28

Wajah tampan nan dewasa Atnan tertekuk sempurna, merasa kesal dengan apa yang barusan ia lihat, tapi kenapa harus kesal? apa itu bertanda bahwa Atnan telah merasakan rasa cemburu pada Ambar? entahlah hanya Atnan yang dapat menjelaskan nya.
Ambar hanya diam dengan duduk tenang di meja makan sambil menunggu Atnan memindahkan bubur yang telah di belinya ke mangkuk kaca yang telah ia ambil dari dalam lemari.
'' Makanlah,'' ucap Atnan menggeser mangkuk ke hadapan Ambar.
'' Kakak enggak ikut makan?'' Atnan hanya menggelengkan kepalanya dan duduk dengan ponsel di tangannya.
Raut wajah Atnan saat ini tidaklah sedap di pandang, alis mata nya mengkerut dengan bibir yang mengerucut.
'' Kakak?''
''Apa''
'' Kakak kenapa?'' tanya Ambar yang tidak mengerti dengan sikap Atnan yang tiba-tiba jutek setelah pulangnya menyusul Ambar di penjual bubur.
'' Kakak kenapa?kenapa tiba-tiba jutek kayak gitu?'' tanyanya dengan mulut yang terus diisi nya dengan bubur yang dia sendok dari mangkuk.
'' Bubur nya enggak enak ya?'' tanya Ambar lagi.
'' Mas tidak lapar,'' sahut singkat Atnan.
'' Enggak lapar bagaimana, jelas-jelas kakak belum juga makan dari pagi,''
'' Selera makan mas hilang karena kamu genit sama si tukang bubur itu,'' celetuk Atnan tanpa sadar dan membuat Ambar terbatuk-batuk karena tersedak bubur yang dia makan.
'' Ambar genit? genit apanya?'' tanya Ambar yang tidak terima dengan apa yang Atnan tuduhkan kepada nya.
'' Sudahlah, adek lanjutkan saja makannya, mas mau tidur saja.'' Ucapnya dengan melangkah menjauh ke arah anak tangga yang akan membawanya ke kamarnya.
Ambar kembali memanggilnya namun panggilan Ambar tidak sama sekali di gubris Atnan, tapi Ambar tidak menyerah. Ia terus saja memanggil-manggil Atnan tapi tetaplah tidak ada jawaban dari Atnan.
Sampai suatu ketika Atnan sudah akan melangkah ke anak tangga yang ke lima, Ambar berteriak memanggil nya dengan sebutan yang membuat Atnan menghentikan langkahnya.
'' Mas Atnan! berhenti! Ambar belum selesai bicara!'' teriak Ambar yang juga tidak menyadari kalau panggilan untuk Atnan berubah, yang awalnya terus memanggil nya dengan nama Kakak tiba-tiba berubah menjadi Mas Atnan.
Atnan menoleh dengan cepat dan langsung berlari ke arah Ambar yang masih berdiri di dekat meja makan.
Wajah Ambar tergambarkan kekesalan karena panggilan nya yang sedari tadi tidak di gubris Atnan, menggemaskan, ya hanya itulah yang cocok untuk menggambarkan expresi Ambar saat ini.
'' Tadi adek panggil mas, dengan sebutan apa?''tanya- Atnan dengan sangat excited.
Alis mata Ambar mengkerut merasa bingung dengan pertanyaan Atnan. '' Apa?'' tanya Ambar sebaliknya.
'' Tadi-, tadi kamu panggil mas dengan sebutan apa?''
'' Kakak?''
'' Bukan, bukan itu. Yang terakhir,''
Ambar terdiam, mengingat-ingat yang telah ia katakan terkahir kalinya itu, tapi saat ia telah mengingat nya, pipinya tiba-tiba blush-ing merah.
Ia menunduk dengan tangan yang dia taruh di belakang tubuhnya, entah apa yang telah ia pikirkan kenapa bibirnya malah terucap memanggil Atnan dengan sebutan Mas?
Atnan meraih dagu runcing Ambar untuk membuat Ambar mengangkat kepalanya dan menatapnya.
'' Adek?'' panggil Atnan dengan suara yang mendayu-dayu.
'' Panggil mas sekali lagi dengan panggilan yang tadi? please,'' pinta Atnan dengan wajah yang memohon.
'' Enggak,'' jawab Ambar dengan suara pelan.
'' Mas mohon,''
'' Iihhh apa sih kak, awas ah,'' Ambar berniat untuk pergi namun dengan cepat Atnan meraih tangan mungil istri kecilnya itu.
'' Sekali saja, ya?'' pintanya lagi.
'' Adek lapar mas, lepas,'' lirih Ambar dengan suara manjanya tanpa berbalik menatap Atnan. Sungguh suara yang menggemaskan itu membuat Atnan berbunga-bunga, bibirnya tersenyum lebar dan langsung menarik tangan Ambar untuk kembali duduk di kursi dan dia pun meraih bubur milik nya yang masih utuh itu.
'' Kita makan bareng ya,'' ucap Atnan yang memakan bubur milik nya dan Ambar pun memakan bubur miliknya juga.
Sepasang suami istri terpaut jauh usia itu memakan bubur nya masing-masing dengan hening, sesekali Atnan melirik Ambar yang tengah melahap buburnya dengan wajah yang masih memerah itu.
Hari berjalan dengan cepat, tidak terasa Atnan tidak lagi mengingat-ingat mendiang istrinya entah sejak kapan itu berlangsung, yang dia tau hanya Ambar, Ambar dan Ambar istri kecilnya itu.
Setiap kerja pun selalu ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan gadis cantik berhijab itu, di tambah dengan perut yang sedikit membuncit dari balik pakaian longgar nya, itu yang membuat Atnan sering sekali ingin cepat-cepat ke waktu pulang nya.
Hari ini Atnan memutuskan untuk pulang cepat karena tidak ada lagi pekerjaan yang harus ia urus terlebih ia telah mendapatkan sekertaris barunya pengganti sekertaris sebelumnya yang membuat dia kecewa dengan tingkahnya.
'' Hardi, saya pulang dulu ya, kamu urus klien-klien kita, berkas-berkas nya sudah saya siapkan untuk kamu presentasikan menggantikan saya.'' Ucap Atnan pada sekertaris barunya berjenis kelamin laki-laki karena ia trauma dengan sekertaris pribadi yang sebelumnya bekerja padanya.
'' Siap Pak,'' sahut seorang pria dengan hormatnya.
Atnan berjalan dengan rasa tidak sabar nya menuju mobilnya, ponselnya berdering menampilkan nama
my little wife.
Dengan cepat Atnan menggeser ikon hijau pada layar ponselnya dan langsung menempelkan ke daun telinganya.
'' Ya Dek?''
'' Iya mas sudah ingin pulang, kamu butuh sesuatu?''
'' Siap tuan putri,''
Setelah mendengar kan apa yang di katakan istri kecilnya itu, dan sudah tidak lagi tersambung di telpon, Atnan segera masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya membelah ramainya jalanan ibu kota.
'' Oke, ibu hamil itu sedang menginginkan buah kesemek, dimana aku mencari buah genit itu,'' gumam Atnan yang terus berpikir untuk pergi kemana dia mencari buah yang diinginkan istri kecilnya.
'' Aku cari di minimarket depan sana dulu, siapa tau ada. Bismillahirrahmanirrahim.'' Ucapnya dengan tulus.
Setelah sampai di minimarket tujuannya, Atnan segera menuju dimana tempat buah-buahan terpajang rapih di lemari kaca, matanya ia lebarkan mencari satu persatu buah yang bernama kesemek.
'' Aahhh, ketemu!'' ucapnya dengan senang karena mendapatkan apa yang di carinya.
Namun berbarengan saat ia ingin mengambil buah itu, sebuah tangan pun ikut memegang buah yang berbungkus plastik itu.
'' Eehhh?'' ucapnya berbarengan dengan seseorang itu.

Komentar Buku (276)

  • avatar
    Amoy Santy Arsya

    saya suka sekali dengan cerita novel ini🥰

    07/05/2022

      1
  • avatar
    Nevi

    wah, udah terbit ternyata.🤗 ceritanya bagus, semangat kak.💪🥰

    01/05/2022

      6
  • avatar
    Muhayati LestariRini

    bagus

    02/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru