Beranda/My Hot Sexy Dancer/
Chapter 42: The Ending
"Menurut saya masih belum cukup, Tuan. Mungkin Anda harus lebih tegas membatasi hubungan dengan Nona Danielle agar dia tidak lagi mengganggu Anda," ucap Darren.
Weylin terlihat berpikir sebentar, dia lalu berkata, "Menurutmu apa yang harus aku katakan?"
"Akan lebih baik jika Anda mengatakan saja jika Anda sudah memiliki orang yang menarik hati Anda, sehingga dia akan berpikir jika dia tidak memiliki kesempatan lagi," jelas Darren.
Weylin mengangguk mantap, "Baiklah. Akan aku lakukan. Aku tidak mau jika dia mengganggu hubunganku dengan Kelsey."
Darren, "..."
Weylin menggaruk telinganya yang tidak gatal, "Maksudku, hubunganku dengan Aiden."
Darren pun hanya bisa tersenyum.
Keesokan harinya, sebelum dia menjemput Aiden untuk mengantarkannya ke sekolah, Weylin benar-benar menemui Danielle setelah sebelumnya dia menghubunginya terlebih dahulu untuk mengetahui di mana posisi wanita itu.
Danielle langsung saja menyambut Weylin dengan senyum ramahnya, "Aku tahu kau pasti akan ke sini. Kau pasti merindukan aku kan, Weylin?"
Danielle berniat mencium pria itu tapi Weylin mundur ke belakang dan berkata, "Maaf, Danielle. Aku ke sini untuk memperjelas semuanya. Aku hanya ingin kau tahu jika aku aku benar-benar tidak bisa menemui lagi."
Danielle, "Weylin, apa yang kau katakan?"
"Danielle, aku ingin mengakhiri semuanya. Waktu kita bersama sangat panjang dan aku sangat menghargai hal itu. Kau telah menemaniku cukup lama dan maaf aku masih belum bisa memahamimu bahkan sampai detik ini," ujar Weylin.
Danielle terdiam membisu, air mata sudah jatuh dari pipinya.
"Kau bisa menyebutku brengsek karena aku memang brengsek. Aku tidak akan mengelak. Tapi yang perlu kau tahu, aku sangat senang menghabiskan waktu denganmu. Hanya saja, kita tidak bisa melanjutkan ini. Danielle, aku ...."
Danielle menatap Weylin dengan wajah basah, Weylin jadi tak tega dan dia mengeluarkan sapu tangan bersih berwarna putih untuk diberikan pada Danielle.
Danielle mengambilnya dan menghapus air matanya tapi tak berkata apa-apa.
"Danielle, aku memiliki anak," ujar Weylin yang langsung membuat Danielle terbelalak kaget.
Mulutnya sedikit terbuka, seolah ini pengakuan Weylin ini sebuah kenyataan yang mengagetkan.
"Mungkin kau ingat jika aku pernah hampir menikah dengan wanita pilihan ayahku. Ya itu anakku dengan dia. Situasinya sangat rumit saat itu dan sekarang aku baru kehadiran anak itu," ucap Weylin.
"Aku. Aku hanya mau menjadi ayah yang baik untuk anakku dan menebus segala kesalahanku pada anakku dan juga ibu dari anakku," lanjut Weylin.
Selama Weylin menjelaskan hal itu, Danielle tak mengalihkan matanya dari memandang Weylin. Dia pun tahu pria itu jujur.
Danielle menghela napas panjang, "Kau benar-benar brengsek, Weylin."
"Maafkan aku," ucap Weylin lagi.
Danielle menggeleng dengan tegas, "Kau bodoh. Kau tak perlu meminta maaf padaku, kau bersalah pada wanita itu dan anakmu. Kau harus meminta maaf padanya, Weylin. Bukan kepadaku."
"Aku sudah melalukannya tapi yah dia sangat membenciku," ucap Weylin jujur.
"Tentu saja dia membencimu, kau sudah membuat hidupnya berantakan. Kalau jadi dia, aku juga akan membencimu. Tapi bertahanlah, dia pasti akan memaafkanmu. Menerimamu. Dia belum menikah kan?" tanya Danielle.
"Belum. Tapi dia memiliki kekasih," ujar Weylin tak suka.
Danielle tertawa, "Astaga, kau cemburu? Jadi dia ya wanita yang tak bisa membuatmu membuka hatimu untukku?"
Weylin terkejut tentu saja, "Aku? Cemburu? Yang benar saja. Dia..."
Danielle menyelanya, "Jangan membantah. Kau menyukainya, meskipun kau tak sadar. Dan melihat dia belum menikah mungkin juga dia menyukaimu."
"Kelsey? Menyukaiku?" Mata Weylin membola tak percaya.
"Ya, Weylin. Dia jelas menyukaimu. Maka kejar dia dan dapatkan maafnya. Aku yakin kalian bisa bersama," ucap Danielle tulus.
"Danielle, kau..."
Danielle kembali menyela, "Aku akan menjauh darimu. Jangan khawatir, aku tidak sejahat itu sampai merebut seorang ayah dari putranya. Kembalilah pada Kelsey dan hiduplah bahagia bersama dengannya dan juga putramu."
Weylin tertegun mendengarnya dan akhirnya pun dia bisa bernapa dengan lega. Kini tinggal bagaimana caranya dia mengambil hati Kelsey dan juga mengatakan pada orang tuanya mengenai Aiden.
Pagi itu Weylin harus memasang wajah kesal lantaran saat menjemput Aiden, ada Gerald How yang juga berada di sana.
"Jaga Aiden dengan baik. Oh iya, nanti malam aku akan mengajak Kelsey dan Aiden menemui orang tuaku. Jangan telat untuk membawa Aiden pulang," ucap Gerald.
Dengan ketus Weylin mengatakan, "Aku pasti menjaga anakku dengan baik."
Weylin pergi dengan muka masih masam sementara Kelsey berbicara, "Gerald, kau yakin ini waktu yang baik?"
"Ya, Sayang. Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Mereka pasti akan menyukaimu dan Aiden," ujar Gerald.
Kelsey mengangguk. Sayangnya, di dalam hatinya diliputi dengan keraguan. Gerald sendiri sudah siap menerima jika Weylin akan sering menemui Aiden. Dia tak bisa menolaknya karena memang itu hak dari Weylin sebagai ayah Aiden.
***
Malam pun tiba, Aiden sudah diantar kembali ke rumah dan di sana Gerald How dan Kelsey bahkan sudah bersiap-siap.
Dengan tidak rela Weylin berjongkok di depan Aiden, "Nak, jika ada masalah di sana. Kau tahu harus berbuat apa kan?"
"Ya, Paman. Aiden harus menghubungi Paman kan? Pakai ponsel yang sudah Paman berikan kn?" tanya Aiden.
"Benar, bagus. Anak pintar. Kemarilah," ucap Weylin yang langsung memeluk putranya begitu anak kecil mendekat ke arahnya.
"Paman sayang menyayangimu, jaga diri dan mamamu baik-baik ya? Paman mengandalkanmu," ucap Weylin mengusap rambut anak itu dengan lembut.
Aiden merasa aneh karena setiap Weylin memeluknya, dia pasti selalu merasa aman. Dia merasa memiliki seorang pelindung.
Dari depan pintu Gerald berkata, "Kapan kau akan memberitahu Aiden jika Weylin itu ayahnya?"
"Kalau sudah saatnya," ucap Kelsey yang hatinya merasa hangat melihat keakraban Weylin dan juga Aiden.
"Kels, aku pergi," ujar Weylin kemudian.
Setelah Weylin pergi, ketiganya berangkat ke rumah orang tua Gerald.
Hati Kelsey sudah berdenyut sakit begitu melihat pandangan tak ramah dari ibu Gerald, "Malam, Nyonya How."
"Malam, masuklah!" ucap Kristen How, ibu Gerald.
"Silakan masuk!" ujar Damian How, ayah Gerald yang sudah berumur cukup tua dibanding ayah Kelsey.
Tiba-tiba saja dia teringat akan ayahnya sendiri. Bohong sekali jika dia tidak merindukan ayahnya.
Tidak bertemu selama lebih dari lima tahun tentu saja membuatnya sangat rindu pada kedua orang tuanya itu.
"Gerald, Ayah mau bicara!" ucap Damian ketika Kelsey baru saja duduk di sofa ruang tamu mereka.
Gerald pun dengan kening mengerut mengikuti ayahnya tapi menyempatkan diri berkata pada Kelsey "Aku akan segera kembali."
Kelsey mengangguk paham.
Begitu mereka menghilang ke sebuah ruangan, Kristen How langsung bersuara, "Aku tidak akan basa basi ya, Nona Lieven. Aku tidak bisa menerima hubungan kalian. Anakku masih single, sudah seharusnya dia mendapatkan seorang wanita yang masih single juga."
Kelsey meremas tangannya dan Aiden kecil yang melihat itu menyentuh lengan mamanya seolah menyalurkan sebuah ketenangan.
"Tapi saya dan Gerald..."
"Tidak perlu kau jelaskan, pokoknya sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengizinkan kalian menikah. Kau seharusnya sadar diri, Nona. Kau sudah memiliki anak, jelas tak pantas untuk putraku yang memiliki karir bagus dan masa depan yang cemerlang. Tolong jangan hancurkan semuanya. Kau bisa kan?" ucap Kristen tanpa merasa bersalah.
Kelsey langsung bangkir dari tempat duduknya dan menggandeng Aiden, "Kalau begitu saya permisi dulu."
Kristen pun tak mencegahnya pergi, malah tersenyum senang karenanya.
Lima menit kemudian, Gerald keluar dan tak mendapati Kelsey dan Aiden di sana, dia langsung berkata, "Di mana Kelsey dan Aiden, Mama?"
Kelsey sedang linglung berjalan di jalan raya sambil menggandeng tangan mungil Aiden.
Wanita itu pun mengajak Aiden untuk duduk di halte bus tanpa mengetahui bus akan datang.
Aiden kecil tidak berani bertanya, dia hanya menebak jika mamanya dan orang tua Gerald tadi bertengkar.
Aiden bahkan hanya bisa menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi mamanya tanpa banyak bertanya.
Anak kecil yang dua hari lagi akan segera berusia lima tahun itu menatap wajah sang mama yang mulai terlihat pucat.
Dan semakin kaget ketika melihat tubuh mamanya roboh dan jatuh ke lantai. Kelsey tak sadarkan diri.
Aiden berteriak, "Mama. Mama kenapa? Mama, bangun, Ma. Mama."
Aiden melongok ke semua arah dan tak ada orang yang kebetulan lewat sana. Aiden langsung saja meraung-raung sambil masih berusaha membangunkan mamanya.
"Kenapa Mama tak mau bangun? Mama, bangun. Aiden takut, Ma," ujar Aiden dengan terisak-isak.
Tiba-tiba saja, dia teringat tentang pesan Paman Weylin dan langsung mengambil inisiatif untuk melakukan panggilan terhadap Weylin.
Baru pada nada dering ketiga, telepon itu langsung diangkat, "Aiden, Nak. Ada apa? Apa ada masalah?"
"Papa. Mama, Pa. Mama pingsan," ucap Aiden dengan suara bergetar.
Weylin membeku di tempatnya. 'Papa?' Putranya baru saja memanggilnya dengan sebutan 'Papa'? Apa dia sedang berhalusinasi?
Weylin terdiam untuk beberapa saat sampai dia kembali mendengar Aiden berbicara, "Papa. Kenapa Papa diam saja?"
Sebutir air bening langsung saja terjatuh dari mata Weylin. "I-iya, Pa-pa akan segera ke sana. Jangan matikan teleponnya ya Sayang. Papa berangkat sekarang."
Weylin dengan cepat menyambar kunci mobilnya dan mengabaikan panggilan Darren yang berteriak kepadanya.
Weylin mengemudi dengan kecepatan cukup tinggi menuju lokasi Kelsey dan putranya berada. Beruntung Weylin memasang GPS pada ponsel yang telah dia berikan pada putranya itu.
"Aiden, Sayang. Kau dengar Papa, Nak?"
"Ya, Pa," sahut Aiden masih dengan isakan yang membuat hati Weylin nyeri.
"Jangan takut, Sayang. Mama baik-baik saja, sebentar lagi Papa akan sampai. Aiden jangan berbicara dengan orang asing ya Nak?" ucap Weylin dengan kecemasan luar biasa.
"Ya, Pa. Aiden tunggu," ucap Aiden patuh.
Sekitar lima menit kemudian, Weylin tiba di tempat itu dan langsung menggendong Kelsey masuk ke dalam mobilnya.
"Aiden duduk di depan ya?" ucap Weylin dengan lembut.
Aiden kecil menurut. Weylin memilih rumah sakit terdekat dari sana.
Sambil menunggu Kelsey diperiksa, Weylin juga menghubungi Adriana Lieven untuk mengabarkan kondisi Kelsey.
Aiden tak pernah lepas dari genggaman tangannya.
"Papa, Mama nggak apa-apa kan?" tanya Aiden.
Weylin sontak menggendong putranya itu dan mendekapnya dengan erat, kedua tangan kecil Aiden melingkar ke leher Weylin.
"Mama tidak apa-apa, Sayang. Kita tunggu dokter ya?" ucap Weylin.
Dan tak lama kemudian, Aiden tertidur di gendongan Weylin.
***
"Apa kau sudah mengatakannya?" tanya Weylin begitu Kelsey sudah sadar.
"Mengatakan apa?" tanya Kelsey balik.
Weylin mengerutkan dahinya bingung tapi dia tak berani bergerak lantaran saat ini Aiden masih tertidur di pangkuannya.
"Mengatakan ke Aiden tentang aku," ujar Weylin.
Kelsey malah kaget, "Aku belum mengatakannya, Weylin."
Mata Weylin melebar, "Kau yakin? Lalu, dari mana dia tahu? Dia sudah memanggilku 'Papa', Kels."
Kelsey mengernyit heran, Weylin terlihat berbinar-binar seolah sebuah pancaran cahaya tengah bersinar di matanya.
"Aku belum mengatakannya. Well, Aiden anak yang cerdas. Jadi, mungkin dia menebak sendiri. Tapi aku tahu dia bisa menerimamu," jelas Kelsey tanpa melihat Weylin.
Dia tidak tahan melihat Weylin yang saat ini tampak aneh di mata Kelsey.
"Ya, dia menerimaku. Aku-"
Kata-kata Weylin terputus ketika seseorang menerobos masuk, "Kels, maafkan aku. Aku tidak tahu jika orang tuaku-"
"Maafkan Bibi, Kels. Bibi sudah berusaha mencegahnya," ucap Adriana tampak menyesal.
"Tak apa, Bibi," sahut Kelsey tanpa menatap Gerald How yang dimaksud oleh Adriana.
Weylin menyela, "Kels, apa boleh aku bawa Aiden pulang ke apartemenku dulu?"
"Ya, tentu saja," ujar Kelsey tanpa ragu sedikit pun.
"Oke, silakan kalian bicara," ucap Weylin yang masih menahan diri untuk tidak ikut campur dengan kehidupan pribadi Kelsey.
Weylin menggendong Aiden dan pergi dari rumah sakit.
"Kita putus, Gerald," ucap Kelsey tenang.
"Tapi, Kels. Aku tidak mau," bantah Gerald.
"Orang tuamu benar, aku tidak pantas untukmu. Aku akan menambah beban buatmu. Kau lebih pantas bersama dengan orang lain yang sesuai dengan tipe orang tuamu," ucap Kelsey.
Gerald menggeleng dan menggenggam Kelsey, "Tidak, Kels. Aku tidak bisa menerimanya. Aku tahu orang tuaku mungkin sudah menyakitimu tapi aku akan tetap mempertahankanmu, Kels."
"Dan membuat mereka semakin membenciku? Tidak, Gerald. Aku tidak akan melakukannya. Pernikahan itu bukan soal aku dan kamu tapi juga menyatukan keluarga kita. Jadi, maaf aku tidak bisa," pungkas Kelsey.
"Tapi Kels-"
"Pergi, Gerald!" ucap Kelsey lagi.
Berat bagi Gerald untuk menerima keputusan Kelsey tapi dia sangat mengenal Kelsey, wanita itu bukan tipe wanita yang gampang goyah pendiriannya jadi akan percuma jika dia memaksanya.
Gerald dengan terpaksa pergi dari sana dengan rasa sesal yang dalam.
Kelsey sendiri tidak merasa berat berpisah dari Gerald, hanya saja kata-kata yang diucapkan oleh Mama Gerald begitu membekas di hatinya. Dia jelas tidak mungkin akan bisa dekat dengan mereka jadi untuk apa memaksakan diri?
"Semoga ini yang terbaik," ucap Kelsey.
***
"Jadi Aiden punya kakek dan nenek, Pa?" tanya Aiden kecil dengan wajah cerianya.
"Tentu saja, Sayang. Kau bahkan punya dua kakek dan nenek serta tiga paman dan dua sepupu kecil," jawab Weylin.
Weylin pada akhirnya bisa membujuk Kelsey untuk kembali ke Manchester dan menikah dengannya.
Awalnya Kelsey memang belum sepenuhnya yakin pada Weylin tapi setelah pria itu berulang kali mencoba meyakinkan dirinya jika dia akan bertanggung jawab penuh pada keluarga kecilnya, Kelsey akhirnya setuju.
Namun, ada satu hal yang masih dirahasiakan oleh Kelsey, yakni tentang pertemuan dirinya dengan Weylin saat malam itu.
Di luar dugaan, keluarga Malachy menerima dengan tangan terbuka kehadiran Kelsey kembali.
Namun, Zuria Malachy tak henti-hentinya mengatai anaknya bodoh lantaran tak tahu tentang Kelsey yang hamil.
Keluarga Lieven pun tak jauh berbeda. Mereka dengan lapang menerima kembali, justru Andrew Lieven terlihat menyesal karena bersikap keras pada Kelsey kala itu.
Pernikahan pun digelar dengan begitu meriah, Kelsey dan Weylin bagaikan pasangan yang dimabuk cinta kala itu.
"Aiden bahagia Mama dan Papa bisa tersenyum bahagia," ucap Aiden sambil memeluk keduanya.
"Kami yang sangat memilikimu, Sayang," ujar Weylin.
"Kamu yang paling berharga untuk kami, Sayang," sahut Kelsey.
Di saat pesta sudah selesai digelar, Kelsey berkata dengan suara pelan pada suaminya, "Weylin, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Apa?" tanya Weylin lembut.
"Apa kau masih mencari wanita itu?"
"Wanita itu? Siapa?" tanya Weylin balik.
"Wanita yang kata Darren kau ambil kehormatannya itu," jawab Kelsey.
Weylin mengumpat, sialan Darren.
"Tidak. Kenapa kau bertanya soal itu?" tanya Weylin.
"Ingin tahu. Jika kau sudah menemukan dia, apa yang ingin kau katakan padanya?" tanya Kelsey.
Weylin dengan mantap berkata, "Aku ingin meminta maaf karena sudah mengambilnya dan berkata aku sudah menikah jadi hanya bisa bertanggung jawab kepadanya untuk soal materi."
Kelsey tersenyum, "Baiklah, kau sudah menemukannya."
Dahi Weylin mengerut, "Apa yang kau maksud, Kels?"
"Weylin, itu aku. Aku yang tidur denganmu waktu itu. Aku tahu identitasmu saat itu. 'M'. Topengmu terbuka saat kau tertidur maka aku pergi secepat mungkin saat itu," jelas Kelsey.
Weylin tak bisa berkata-kata.
"Iya, ini aku. Gadis yang kau ambil kehormatannya waktu itu, gadis yang kau selamatkan dari para pria mabuk kala itu," lanjut Kelsey.
Weylin langsung menatap dalam wanita yang telah resmi menjadi istrinya, "Maafkan aku. Aku waktu itu sudah mengatakan hal-hal buruk-"
"Sst, tidak apa-apa. Semuanya hanya salah paham," ucap Kelsey maklum.
Weylin, "Aku cinta kamu, selalu," ucap Weylin dengan sepenuh hati.
"Aku juga cinta kamu, My Hot Sexy Dancer," balas Kelsey.
Keduanya tertawa kecil dan saling berpelukan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (210)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
bagus banget
22/07
0matap
13/06
0wajip di coba
07/03
0Lihat Semua