logo text

Chapter 36: Terungkap

Dengan kemarahan yang tengah bergumul di dadanya, Kelsey mengarahkan mobilnya menuju sekolah tempat putranya juga dititipkan.
Entah kenap, dia merasa Weylin tetap akan memulangkan anaknya di sana.
"Awas saja kau, Weylin. Aku akan membunuhmu jika kau macam-macam," ucapnya kesal luar biasa.
Begitu dia memarkirkan mobilnya, dia langsung saja disambut oleh Raven yang berdiri dengan tenang di sana. Dia berkata, "Aiden sudah ada di sini, Bu."
Kelsey mengangguk, "Dia di mana?"
Raven menjawab dengan tidak enak, "Di taman bersama dengan Pak Weylin, Bu."
Sungguh Raven merasa canggung setelah mengetahui fakta tentang Weylin yang ternyata adalah ayah kandung Aiden.
Dia merasa tidak pantas mengethui rahasia orang sehingga dia pun berucap, "Bu, Kelsey. Saya mohon maaf."
"Ah, tidak apa-apa Bu. Ini bukan salah Anda," ucap Kelsey tak ingin membuat sikap canggung di antara mereka.
"Saya temui mereka dulu dan bisakah Anda ikut saya sebentar?" tanya Kelsey.
Meskipun Raven tidak paham kenapa dia harus ikut, dia tetap saja mengangguk.
Kelsey berjalan dengan jantung yang berdebar-debar tidak karuan. Dan saat dia melihat putranya terlihat asyik bermain bola dengan Weylin, hatinya semakin kacau. Mendadak dia membeku di tempatnya.
Wajah anaknya begitu cerah dan terlihat sekali dia menikmati waktunya bersama dengan Weylin. Anak itu terlihat dekat sekali dengan Weylin bahkan tak canggung sama sekali.
Apa lagi ketika Weylin mengusap kepala Aiden pelan, Aiden tak menolak. Padahal, biasanya Aiden tidak suka dipegang kepalanya selain oleh dirinya.
Bibinya saja tak diizinkan memegang kepalanya. Namun, yang dia lihat sekarang justru menunjukkan betapa Aiden membiarkan Weylin melakukan hal itu berulang kali.
Kenapa bisa begini? Padahal Weylin baru di sini tidak kurang dari dua minggu. Sejak kapan anaknya begitu cepat akrab dengan orang asing?
"Aiden," panggil Kelsey kemudian.
Aiden menoleh dengan cepat, "Mama. Mamaku."
Anak kecil itu berlari menuju Kelsey dan memeluknya. Kelsey balik memeluknya erat sambil mengecup puncak kepala Sang Putra.
Kelsey lalu menangkap jika Weylin ikut mendekat ke arah mereka.
Setelah melepaskan pelukannya, Kelsey berkata, "Aiden ikut dengan Bu Raven dulu ya?"
Aiden kecil langsung mengerutkan dahinya, "Kenapa, Mama? Apa Mama mau marah pada Paman Weylin?"
Kelsey berucap dalam hatinya, Paman? Jadi dia belum mengatakan pada Aiden tentang dia ayah kandungnya?
Kelsey dengan cepat menjawab, "Tidak, Sayang. Mama hanya perlu berbicara sebentar dengan Paman Weylin."
Aiden terlihat ragu, Raven pun ikut mendekat, "Aiden ikut Ibu dulu ya? Mama kan cuma sebentar berbicara dengan Paman Weylin."
Merasa sedikit bimbang, Weylin ikut berbicara, "Aiden ikut Bu Raven dulu aja. Setelah ini nanti Paman antar pulang sama Mama, oke?"
Kelsey, "..."
Raven tersenyum canggung, "Nah, ka? Paman Weylin dan Mama hanya berbicara sebentar, Nak."
Aiden kecil lalu meraih tangan Raven dan berkata, "Baiklah kalau begitu. Mama, jangan marah sama Paman Weylin ya? Paman Weylin sangat baik padaku. Paman Weylin itu teman Aiden."
Kelsey terkejut, teman?
Anaknya tadi bilang 'Teman'?
Ini sangat langka sekali. Setahu dirinya, anaknya ini bisa dibilang bukan tipe anak yang mudah bergaul dan tidak mudah menganggap orang lain menjadi temannya.
Ibarat kata, orang yang dianggap putranya sebagai seorang teman sudah pasti adalah orang begitu spesial untuk anaknya itu.
Kelsey kemudian dia mendengar Weylin tertawa kecil. Dia langsung melongo.
Sejak kapan Weylin bisa tertawa seperti itu? Dia bahkan bisa melihat tatapan lembut pria itu pada anaknya.
Ini seperti bukan Weylin yang biasa dikenalnya. Weylin yang dia tahu tidak seperti itu.
Weylin yang dikenalnya itu memiliki sikap super dingin yang bisa mengalahan hawa dingin di antartika.
Sungguh tak bisa dipercaya saat ini dia melihat Weylin yang tampak sangat berbeda dari biasanya.
"Ya, kita teman," sahut Weylin dengan wajah bahagia.
Kelsey menaikkan alisnya bingung. Dan begitu anaknya dan Raven pergi dari taman itu.
Dengan tidak sabar, Kelsey langsung saja berkata, "Apa yang sudah kau lakukan?"
Weylin menjawab dengan tenang, "Bermain dengan putraku."
Kelsey langsung menelan salivanya dengan kasar, "Kau ...."
"Aku tahu dia anakku. Kenapa kau menyembunyikan ini?" tanya Weylin blak-blakan. Dia tak mau berbasa-basi.
"Bukan urusanmu," jawab Kelsey ketus.
Weylin menghela napas panjang, "Ini urusanku, Kels. Kau harusnya mengatakan kepadaku jika kau hamil? Kenapa kau malah lari dari pernikahan kita?"
Kelsey mengertakkan giginya, "Apa hakmu mengaturku? Kalau aku tidak mau mengatakannya, kau bisa apa? Aku yang mengandung Aiden. Aku sendiri yang memutuskan apakah aku harus memberitahumu atau tidak. Ini hakku."
"Tapi dia juga anakku, Kels. Aku berhak atas dia," ucap Weylin tak mau kalah.
Kelsey langung tertawa dingin, dia lalu berujar, "Kau itu hanya penyumbang sperma saja, Weylin Malachy."
Rahang Weylin mengeras. Dia berusaha mati-matian agar dia tidak mencekik wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu karena sangat kesal.
Dan ketika Kelsey melihat wajah Weylin yang sudah berubah merah itu kemudian dia berkata, "Kau itu tak ingat jika kau tidak menolak mati-matian untuk menikah denganmu? Bukankah kau harusnya senang karena aku menjauh darimu. Kau bisa bebas dan aku hidup tenang bersama dengan anakku. Lalu kenapa kau sekarang bertingkah seolah aku yang tidak mau menikah denganmu?"
Weylin tak bisa menjawab. Tentu saja mana bisa dia membantahnya?
Semua yang dikatakan oleh Kelsey itu tepat sasaran karena memang itulah yang terjadi. Weylin memang tak berniat untuk menikahi Kelsey.
Dia masih terobsesi untuk mengejar gadis yang telah dia renggut kesuciannya kala itu.
Melihat Weylin yang bungkam itu, Kelsey kembali tertawa dingin.
"Kenapa kau diam? Tak bisa menjawab?" ucap Kelsey sinis.
Weylin mendongak, dia kemudian mulai berbicara lagi, "Ya. Aku memang dulu tak mau menikahimu. Tapi tetap saja aku berhak tahu. Kau tidak bisa menyembunyikn fakta jika Aiden itu anakku. Lagi pula dia membutuhkan seorang ayah, Kels. Kau tahu itu."
Kelsey kali ini tersenyum sinis, "Hei, kau lupa. Siapa yang membuatnya tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah? Dan jangan lupa, dia sudah hidup bersamaku sendirian sejak dia lahir. Dia bisa hidup tanpa ayah."
Weylin mulai tak sabar, "Kels. Kau mau berniat membuatnya hidup selamanya tanpa ayah?"
"Apa maksudmu?" ucap Kelsey marah.
"Dia butuh aku," ucap Weylin dengan penuh tekad.
"Lalu apa yang mau kau lakukan? Mendekatinya? Memberinya uang? Memberinya perhatianmu? Begitu?"
"Well, kalau itu, kau tidak perlu melakukannya. Dia sudah cukup mendapatkannya dariku," ujar Kelsey keras kepala.
"Tidak. Bukan itu," ujar Weylin sambil menggeleng.
"Oh, aku tahu. Kau berniat mengakui Aiden secara resmi? Iya?"
Weylin mendesah, "Bukan."
Kelsey semakin kesal jadinya, dia menatap Weylin dengan aura permusuhan yang cukup kental.
Weylin kemudian melanjutkan, "Menikahlah denganku!"

Komentar Buku (210)

  • avatar
    Bokir Hayam

    bagus banget

    22/07

      0
  • avatar
    FaisalBahri

    matap

    13/06

      0
  • avatar
    Smart7Infinix

    wajip di coba

    07/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru