Beranda/Lakukan Perlahan/
Persaingan Angga dan Aksara
Seila berlari dengan kecepatan yang ia bisa sambil menaikkan gaun mahalnya itu ke atas agar tidak menyulitkan dirinya untuk bergerak. Ia memilih untuk bersembunyi di semak-semak terlebih dahulu sampai taksi yang dipesan tiba. Aksara pasti akan mengejarnya dan meminta alasan mengapa ia menolak lamaran pria itu. Seila hanya belum siap untuk bertemu dengan Aksara dan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan pria itu.
Seila bukannya tidak mencintai Aksara. Hanya saja menurutnya keputusan Aksara untuk melamarnya untuk ke jenjang pernikahan terlalu cepat untuknya. Hubungan mereka yang baru kembali terajut pun belum lama. Seila tidak ingin tergesa-gesa. Ia ingin menikmati momen kebersamaan mereka untuk waktu yang lama. Pelan-pelan dulu sambil mendalami karakter dan sifat masing–masing. Takut gagal lagi seperti dulu dan berakhir sakit hati.
“Seila …,” panggil Aksara dengan suara lantang yang membuatnya harus membekap mulut agar tidak ketahuan. Jarak dirinya dengan Aksara hanya beberapa langkah saja. Penerangan yang minim di sekitar taman restoran cukup membantu Seila untuk bersembunyi. Telihat sekali raut kebingungan yang terpancar dari wajah Aksara.
Dada Seila rasanya seperti diremas melihat Aksara dalam kondisi seperti itu. Namun, Seila juga butuh waktu sementara untuk memikirkan semua yang dirasa terlalu mengejutkan untuk dirinya. Meskipun Aksara tadi bilang kalau pria itu sama sekali tidak terusik dengan masa lalunya yang begitu hina sebagai mantan PSK dan Mucikari, tapi bagi Seila itu sangat menganggu dirinya.
Seila tidak mau menutup mata dengan fakta itu. Ia juga bukan orang yang munafik. Mungkin saja Aksara tidak memperdulikan kenyataan tersebut. Orang tuanya dan Papa Aksara sudah memberikan restu untuk mereka. Namun, bagaimana dengan lingkungan sekitar Aksara? Orang-orang itu pasti akan mencibir kekasihnya itu karena menjalin hubungan dengan seorang wanita hina. Orang-orang itu juga pasti mengubah pandangan mereka tentang Aksara karena dirinya.
Seila tidak ingin kejadian beberapa waktu yang lalu terjadi lagi. Bagaimana Aksara yang begitu kesetanan membela dia di hadapan klien yang ternyata mengetahui masa lalu Seila dan ingin menyewanya untuk alat memuaskan Hasrat di ranjang. Jejak digital di zaman sekarang terlalu menakutkan. Seila yakin di luaran sana masih banyak pria hidung belang yang mengenalinya.
“Maafkan aku,” lirih Seila yang masih mematung di tempatnya. Aksara yang dilihatnya begitu kebingungan mencarinya. Jas yang dipakai Aksara sudah lepas dan hanya menyisakan kemeja yang lengan bajunya di lipat hingga ke lengan.
Aksara pasti kecewa dengan Seila, dan wanita itu memakluminya.
Seila keluar dari persembunyiannya setelah melihat Aksara pergi dari sana setelah tidak menemukan keberadaannya. Secepat kilat Seila pergi menuju luar restoran lewat jalan belakang sebab taksi yang dipesannya sudah datang.
***
Setelah kejadian tadi malam, Seila memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama tiga hari. Ia belum siap untuk bertemu Aksara lagi di kantor. Selain itu ia memang memerlukan waktu untuk berpikir panjang sambil healing tipis-tipis. Ia sudah meminta izin kepada Aksara lewat pesan singkat dan email yang juga diteruskan kepada HRD perusahaan agar mereka tidak bersikap julid dan menggosipkan Seila yang tidak-tidak.
Aksara tidak membalas pesan singkat maupun emailnya dan Seila mencoba mengerti. Kekasihnya itu sejak tadi malam terus menghantuinya dengan teleponn hingga pesan singkat, tapi Seila tidak menggubrisnya sama sekali.
Pria itu pasti sangat kecewa dengan Seila. Pria mana sih yang tidak mengalami perasaan itu setelah dicampakkan dan ditolak lamarannya. Harusnya tadi malam Seila menahan diri sedikit lebih lama untuk tidak langsung menolak lamaran Aksara di depan umum. Harusnya ia mengajak pria itu berbicara dari hati ke hati saja.
Seila sudah mencoreng nama baik juga harga diri kekasihnya itu, dan sekarang ia menyesal. Ia memustukan untuk tidak pulang ke rumah. Melainkan menyewa hotel yang jaraknya jauh dari rumah serta kantor agar Aksara tidak bisa mengendus keberadaannya sekarang.
***
Kegiatan Angga setiap pagi sebelum memulai bekerja adalah membaca berita di portal berita online terpercaya. Dia juga mengecek ponselnya, apakah pesannya ada yang dibaca dan dibalas oleh mantan kekasihnya atau tidak. Dahi Angga langsung mengernyit ketika membaca salah satu headline berita yang berjudul ‘CEO MUDA DAN TAMPAN YANG SUKSES MENGGAET MEMBUAT IKLAN BAGUS DAN PRODUKNYA LARIS DI PASARAN’ dengan tulisan yang bercetak tebal dan huruf kapital. Mungkin kalau orang lain yang membaca tidak akan ngeh dan menganggap berita ini adalah hal yang biasa. Namun, tidak bagi Angga.
Rahang pria itu langsung mengeras. “Sialan!” umpatnya lagi sambil memukul meja ketika melihat beberapa foto yang diselipkan pada berita itu.
Foto tersebut memperlihatkan Aksara yang berdiri dengan para klien serta modelnya. Yang membuat Angga naik pitam adalah keberadaan Seila di samping Aksara sebagai sekretarisnya dan memamerkan senyum bahagianya.
“Jadi sekarang Seila bekerja dengan Aksara? Untuk apa?” Angga jelas marah. Ia tidak terima mantan kekasihnya yang hingga saat ini masih punya tempat di relung hatinya itu untuk bekerja bahkan berdekatan dengan Aksara, saingan sekaligus mantan sahabatnya itu.
Tidak ingin membuang waktu lama, Angga lantas menelpon Aksara dan meminta pria itu untuk bertemu dengannya.
***
“Apa tujuanmu memperkerjakan Seila sebagai sekretarismu, huh?” tanya Angga to do point saat ia menghampiri Aksara di tempat kerjanya.
Aksara yang sedari awal sedang dilanda galau dan perasaan yang tidak enak, langsung terpancing emosinya. “Itu bukan urusanmu.” Sudut bibir Aksara terangkat ke atas. Ia menatap Angga dengan pandangan sinis.
Angga berdecih. “Kalau menyangkut soal Seila, akan menjadi urusanku juga.”
Aksara tertawa sarkas. “Kalian sudah menjadi mantan. Kamu itu hanya seseorang di masa lalunya saja,”
“Iya, aku memang masa lalunya, tapi asal kamu tahu, aku masih cinta dengan Seila, Seila juga mungkin merasakan hal yang sama. Aku mungkin akan iklas jika ia bersama orang lain. Namun, melihat mu berada di sampingnya membuat aku akan menarik perkataanku itu. Akan akan menjauhkan Seila dari pria seperti mu, Aksara.” Angga mengancam.
“Aku masih ingat betul bagaimana kamu menyakiti Seila dan membuat wanita itu menangis dan bersedih setiap mengingatmu. Butuh waktu lama untuk Seila menata hati. Dan aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti dirinya lagi,” tukas Angga dengan nada dingin.
Aksara tahu Angga selalu serius dengan perkataannya dan itu mengusiknya. Permasalahan dirinya dengan Seila tadi malam belum selesai dan sekarang ditambah lagi dengan keberadaan Angga yang terang-terangan ingin merebut Seila lagi dalam hidupnya. Aksara jelas tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Seila mencintaku,” balas Aksara telak yang membuat mata Angga melebar sekian detik.
Sudut bibir Angga kemudian terangkat, “Tapi kamu jelas tidak bisa membuat dirinya bahagia. Kalian itu tidak sepadan, Aksara. Kamu itu tipe pemaksa dan Seila tidak suka pria seperti itu.” Angga juga tidak berkaca diri, dia juga seorang pria yang pemaksa.
Aksara masih bergeming di tempatnya. “Kamu mau bukti? Oke! Kita buktikan. Siapa diantara kita yang sanggup membahagiakan Seila, dialah pemenangnya.”
“Oh iya, asal kamu tahu, kami bahkan dulu sering bercinta dan dia memuji cara bermainku. Kami juga sempat putus nyambung. Coba … lebih unggul mana, aku atau kamu?” Angga menyombongkan dirinya, mentang-mentang dulu serin gena-ena dan Seila dulu sangat bucin padanya, tapi kan semua itu di dasari sebuah kebohongan, ya! Kebohongan Angga yang mengaku sebagai kekasih Seila satu-satunya dan Seila percaya saja karena dia sempat lupa ingatan.
Aksara menatap Angga tajam sambil memegang kerah baju kemeja pria itu. “Cih, hanya karena itu saja? Kamu sungguh percaya diri sekali. Cinta pertamanya Seila kan aku! Dan kamu penipu ulung yang mengambil kesempatan dalam kesempitan karena Seila lupa ingatan.”
Angga merasa tertampar. “Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang!”
Begitu menabuhkan gendera perang, Angga langsung meninggalkan ruangan Aksara.
***
Seila memutuskan untuk jalan-jalan ke luar hotel agar tidak suntuk. Suasana yang damai dan sepi dari hiruk pikuk perkotaan membuat pikirannya jadi lebih rileks. Seila menghirup udara dalam-dalam. Membiarkan pasokan udara yang masih bersih untuk memenuhi paru-parunya yang selama ini mungkin saja kotor karena terlalu banyak menghirup polusi.
Setelah itu, ia memutuskan untuk mengunjungi kedai kopi yang katanya enak di sekitar sini. Begitu masuk, ia langsung disuguhkan tempat yang nyaman dan didesain dengan gaya anak muda. Setelah memesan camilan dan kopi, Seila memutuskan untuk duduk di tempat duduk luar yang langsung mengarah pada pemandangan alam yang hijau.
Begitu ia menggeser kursi, Seila merasa kenal dengan pria yang duduk di sampingnya.
“Angga?” panggil Seila meski tidak yakin.
Pria yang dipanggil langsung mendongak. Kedua bola mata kedua anak manusia itu seketika melebar.
“Seila?”
“Tuh kan! aku nggak salah orang. Ternyata benar kamu, Angga!” seru Seila dengan wajah yang berseri-seri bertemu mantan.
Angga merasa mendapatkan durian runtuh. Ia bisa bertemu dengan Seila di sini. Di tempat yang tidak disangka-sangka setelah beberapa jam yang lalu ia bertemu dengan Aksara.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Seila memulai percakapan. Mereka kini sudah berbaikan, Seila tidak lagi membenci Angga setelah pria itu tidak mengejarnya lagi.
“Ada kerjaan sedikit. Kamu?” Seila menipiskan bibir. Ia tidak mungkin berterus terang kepada pria di depannya itu kalau tujuannya ke tempat ini untuk menghindari Aksara, kan?
“Healing,” jawab Seila sambil terkekeh.
Seila melihat Angga tersenyum dan itu membuat sesuatu di dalam dadanya bergemuruh kembali. buru-buru Seila memalingkan wajahnya yang mendadak memanas, jujur Seila juga sulit melupakan Angga, pria yang mengobati rasa sakitnya dan senantiasa ada saat susah maupun senang.
Angga sedari dulu tidak pernah berubah sama sekali. Senyum pria itu masih semanis dulu. Pembawaannya yang dewasa dan cenderung tenang menjadi sifat yang paling disukai oleh Seila dari pria itu. Dulu, saat mereka masih berpacaran, Angga selalu mengutamakan dirinya. Selalu memastikan kalau Seila merasa aman dan nyaman. Pundak lelaki itu selalu menjadi tempat Seila untuk bersandar ketika lelah atau hari-harinya sedang buruk.
“Seila …,” panggil Angga dengan suara rendah yang lantas membuat Seila mendongak. Bulu kuduknya merinding. Seila begitu merindukan suara itu.
“Asal kamu tahu, kalau hingga detik ini, aku masih mencintaimu.”
Perkataan Angga membuat jantung Seila berdetak dua kali lebih cepat.
‘Hah, apa dia bilang barusan?’Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (163)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bestt novel ni
01/05
0well
10/04
0อ่านสนุก
20/03
0Lihat Semua