Kekasih Palsu

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Aku jatuh hati pula hanya pada satu pria.
Kuserahkan jiwa dan ragaku pada orang yang buatku nyaman, buatku terkadang gundah, buatku tertawa dan bahagia.
Hidupku selamat saat pria yang membuatku jatuh hati adalah penyelamatku.
Di bawah rintik hujan kulihat wajahnya yang tampan nan rupawan.
Dulu saat di atap sekolah, kau nyatakan kata manis penuh makna.
Dulu banyak waktu yang kita habiskan berdua.
Dulu kita saling bercanda tawa.
Sekarang aku tak menyangka, orang yang kuanggap pintar, bijaksana, dewasa dan romantis itu seorang pengkhianat.
Di malam saat hujan lebat, saat dingin menusuk pori-pori dan saat raga kami terasa lelah.
Bodohnya aku menyerahkan mahkotaku padanya.
Pada orang yang ujung-ujungnya menyakiti perasaanku.
Iya, dia! Dia yang selama ini aku cinta!
Dia yang selama ini aku banggakan.
Tak mau sama sekali mendengarkan penjelasanku.
Inilah akhir cintaku. Cinta yang menusuk hati.
*
Suara hati Seila
***
Satu minggu sudah Seila dirawat di rumah sakit. Dia didiagnosa mengalami lupa ingatan. Seila pun melupakan semua masa lalu dan siapa saja orang yang dekat dengannya. Di malam yang sepi, hanya ada embusan angin yang melewati lorong sempit, aroma obat-obatan menyerbak. Raga-raga yang tengah berbaring di tempat tidur mereka diam dengan damai di alam mimpi. Tetesan infus jatuh seiring berdetiknya jam di dinding.
Satu raga di ruang mawar tiga terlihat berkeringat dan tidak bisa tidur tenang. Jiwa dari raga itu terbang tinggi meninggalkan raganya yang gundah gulana. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Keringatnya sudah membasahi kening dan bagian pipi. Hentakan-hentakkan kaki di kasur membuat orang yang tengah menunggunya pun terbangun.
“Seila …. Seila ….” panggil Surya sambil mengguncangkankan lengan Seila. Dia lihat wajah Seila sudah penuh dengan keringat dan terlihat pucat.
“Seila bangun, Nak.” Surya mencoba membangunkan dengan menghapus jejak keringat di wajah Seila dan sesekali menepuk pipinya. Malam ini dia hanya sendirian menemani Seila, biasanya berdua bersama Angga. Kebetulan Angga sedang ada urusan jadi tidak bisa menginap di rumah sakit. Biasanya juga Surya melarang pria itu, tapi Angga yang sering kekeh karena ia ingin melihat Seila.
Gadis cantik berlari kencang menuju bandara internasional Jakarta. Saat peluhnya sudah membasahi semua tubuh. Ia berdiri tegak sambil memandangi seorang pria yang tengah siap untuk pergi jauh.
“Tidak …. Tidakk …. Tidakkk …. Jangan tinggalkan aku. Ku mohonnn ….” teriak Seila dalam hati, dia membayangkan bahwa pria yang ia kejar pergi meninggalkannya sendiri.
“Seila ….” panggil Surya lagi sambil mengguncangkan tangan Seila. Sudah usaha sejak tadi membangunkan Seila tapi anaknya tidak kunjung membukakan matanya. Surya khawatir Seila terlalu mendalami mimpinya sehingga membuat ingatannya semakin buruk dan keadaan yang baru saja membaik jadi ikut buruk juga.
Seila menitikkan air matanya lalu kedua netranya pun terbuka. “Hu, ha, hu, ha. Ayah ….” Dada Seila kembang kempis memasukkan dan mengeluarkan oksigen begitu cepat. Debaran jantungnya juga begitu bergemuruh layaknya tabuhan drum. Seila memandang Surya sendu.
“Kamu mimpi buruk, Nak?” tanya Surya khawatir.
Kata dokter, jika pasien yang mengalami lupa ingatan seperti Seila, akan wajar jika mengalami mimpi buruk. Mimpi itu bisa jadi kilasan dari masa lalu yang terasa pahit, bisa juga mimpi indah yang manis. Mimpi bisa saja ketakutannya dan bisa juga petunjuk agar Seila sedikit demi sedikit bisa mengingat memori yang dulu telah hilang.
“Iya Ayah. Mimpinya buruk sekali.” Dia enggan menceritakannya saking mimpi itu membuatnya sakit hati. Seperti ada jarum yang menusuk hati Seila hingga mendarah daging dan sulit untuk disembuhkan.
“Sudah, jangan diingat-ingat jika membuatmu sakit.” Surya mengusap kening Seila.
“Ayah tenggorokanku kering. Aku ingin minum.” Mimpi itu menguras energi dan emosinya. Seila jadi merasa panik dan lelah.
“Ini sayang. Minumlah!” Surya sudah mengambilkan segelas air yang di atas nakas.
Pagi harinya, dokter pun datang untuk memeriksa Seila, semua keadaan membaik dan dalam tiga hari, dia akan diperbolehkan untuk pulang.
Angga hari ini tidak sibuk karena sudah mengurus pendaftaran kuliahnya. Pria ini pun datang membawakan setangkai bunga merah untuk Seila. “Apa kabar, Cantik?” tanyanya sambil mengusap pipi Seila.
“Baik.” Seila senang dikunjungi dan di temani Angga, tapi dia merasa asing dengan pria ini. Ayah dan Angga memang kompak mengatakan bahwa Angga itu adalah kekasih Seila, Seila percaya itu, tapi hatinya merasa kurang yakin.
Surya yakin dengan membuat Seila beranggapan bahwa Angga adalah kekasihnya, dia pun bisa lebih baik dan melupakan Aksara.
“Semalam tidur mu tidak nyenyak, ya?” tanya Angga yang sudah tahu bahwa Seila semalam mimpi buruk dari Surya. Angga khawatir Seila sudah mengingat semuanya.
“Iya. Mimpi buruk. Anehnya saat kamu tidak ada.” Seila sudah melupakan mimpi yang semalam, dia tidak bisa melihat sama sekali pria yang tengah ia kejar seperti apa.
“Ucchh …. Kasihan sekali. Bagaimana ini jika nanti kau sudah pulang ke rumah, aku tidak bisa menginap!” Angga memasang wajah sedih dan bersalah, dia tak mau berpisah dari Seila. Semenjak Seila di rumah sakit, Angga jadi bisa dekat dan selalu melihat wajahnya.
“Hahaha. Cukup tiap hari bertemu saja.” Seila pun mungkin akan bertemu Angga setiap pagi hingga sore hari selama penyembuhan kalau keduanya tidak ada kegiatan.
Angga melirik Surya, calon ayah mertuanya. Dia sudah berharap sekali nanti selesai kuliah bisa mempersunting Seila.
“Ayah …. Aku dan Seila boleh satu kampus dan satu jurusan yang sama, tidak?” Dengan jalan ini dia bisa bertemu Seila setiap hari. Kalau Seila tidak diawasi, nanti bisa mengingat masa lalu dan menghubungi Aksara bagaimana? Angga takut Seila dan Aksara kembali bersama.
“Boleh. Agar kamu bisa mengawasi Seila tentunya.” Surya satu pendapat dengan Angga, dia tidak bisa mengawasi Seila setiap waktu, maka dari itu menugaskan Angga saja.
“Yeay ….!” Keduanya pun gembira karena bisa tiap hari bersama. Seila juga tidak kenal siapa-siapa karena lupa ingatan.
Seila bosan sehari-hari hanya duduk, berbaring dan berdiri saja. Pemandangan yang ia lihat hanya rumput, taman dan pasien rumah sakit. Gadis ini ingin menghisup udara segar karena di sini hanya mencium aroma obat-obatan. “Aku bosan di rumah sakit saja. Nanti ajak aku jalan-jalan, ya!”
“Siap tuan putri!” Angga pun menjanjikan bisa menyenangkan hati kekasihnya sambil mengajak Seila berjalan-jalan.
Seila sudah lebih dari satu minggu ada di tempat ini, dia butuh dokumentasi untuk kenang-kenangan.
“Kita foto-foto dulu sebelum keluar dari rumah sakit, yuk!” Dia ingin ada foto kebersamaannya bersama Angga dan Surya. Mama Nia jarang berkunjung karena mengurus bisnis mereka.
“Untuk apa?” tanya Angga yang tidak biasa berfoto.
“Untuk kenang-kenangan.”
“Mana ponselku, ya? Aku punya juga bukan?” tanya Seila pada Surya dan Angga. keduanya panik karena ponsel Seila yang lama sudah mereka sembunyikan. Dugaan mereka berdua benar tentang Seila yang akan menanyakan keberadaan ponselnya. Untung Surya sudah membeli yang baru dan Angga sudah mengisi ponsel itu dengan foto-fotonya. Kontak di handphone Seila juga hanya ada Surya, mama Nia dan Angga saja. Aksara jika ingin menghubungi Seila mana bisa karena nomor ponselnya baru dan belum ada teman yang tahu.
“Ini! Ponselmu yang lama sudah rusak akibat kecelakaan itu.”

Komentar Buku (163)

  • avatar
    syerrelsyerra

    bestt novel ni

    01/05

      0
  • avatar
    BABY ELMR

    well

    10/04

      0
  • avatar
    Thanpicha Punthirawat

    อ่านสนุก

    20/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru