Sudah hampir dua jam lamanya Leo bersemedi di dalam studio miliknya. Pintu ruangan yang dibiarkan terbuka membuat Ann mampu mengamati secara langsung apa yang sedang dilakukan oleh manusia itu di dalam sana. Leo nampak duduk dengan kertas dan pulpen di tangannya. Sesekali ia meraih gitarnya dan memetiknya secara perlahan. Terlihat Leo sedang sibuk dengan lagu-lagu yang barunya. Meski hari ini kondisi Leo sudah lumayan membaik dibandingkan hari kemarin, namun lelaki itu masih saja dilarang untuk masuk kerja oleh Kiki sang asisten pribadi. Beberapa waktu lalu, Kiki memang menyempatkan diri untuk mampir di apartemennya lebih dulu sebelum berangkat ke tempat kerja, sembari membawa beberapa bingkisan makanan untuk di santap Leo dan juga Ann di waktu siang. “Udah Mas, nggak usah masuk kerja dulu. Ince juga udah ngosongin semua jadwal Mas Leo untuk tiga hari ke depan kok. Jadi untuk sementara Mas berdiam diri di apartemen aja sambil ngumpulin tenaga biar tidak tumbang lagi seperti hari kemarin,” jelas Kiki saat ia menemui Leo hari ini. “Tapi Dwi, jadwal aku kan lagi padat banget akhir-akhir ini karena sempat cuti pas ke Jepang kemarin. Kalau ngambil libur lagi, gimana nasib mereka? Pasti bakal numpuk dan terbengkalai.” Leo memang manusia paling gila kerja yang ada di dunia. Sehari saja berdiam diri di rumah, rasanya ia seperti kehilangan napas saja. Dan karena itulah Leo tidak pernah suka dengan kata libur. Kecuali ia libur karena memang benar-benar liburan. Sebab ia bisa melakukan hal yang ia sukai seperti melakukan hoby nya untuk memotret sekitar. Seperti yang ia lakukan saat ke Jepang beberapa waktu yang lalu. Sayangnya, liburan kali ini justru berbeda dari sebelumnya. Pasalnya liburan kali ini ia hanya bergelut dengan apartemennya saja. Tidak boleh berkeliaran ke mana-mana sebab ia sedang sakit. Beruntungnya hari ini Ann sedang libur kerja. Sehingga Leo tidak perlu merasakan yang namanya benar-benar hidup sendiri di dalam tempat tinggalnya yang sederhana itu. “Tolong ambilin minum dong Ann,” jelas Leo di dalam ruang studionya. Lelaki itu melirik Ann yang sedang asyik menonton drama korea sembari menikmati cemilan yang di bawa oleh Kiki untuknya tadi. “Ambil sendiri aja Leo. Lagi seru-serunya nih. Kayak nggak punya kaki aja,” Ann menjawab dengan pandangan yang tidak juga lepas dari layar TV. “Ann cepetan dong. Udah haus banget nih,” terdengar nada memelas Leo di balik sana. Tetapi, nada memelas saja tidak akan membuat Ann beranjak begitu saja. Ia malah makin serius saja menonton drama yang sedang berlangsung. Beberapa kali Leo berteriak memohon bantuan Ann namun tidak digubris juga hingga membuat Leo mendecakkan lidah beberapa kali. Dengan posisinya yang sudah sangat nyaman seperti ini membuat Leo enggan untuk beranjak. Dan karena itulah ia lebih senang menyuruh. “Ann, sebenarnya yang lagi sakit di sini itu siapa sih?” jelas Leo yang langsung mampu mengalihkan fokus Ann dengan cepat. “Kamu mau cemilan juga nggak sekalian?” tawar Ann yang langsung berdiri dari tempat duduknya tadi. Walau suaranya berusaha terdengar selembut mungkin namun raut wajahnya kali ini sungguh tidak mampu berbohong sama sekali. Raut wajah kesal, yang hanya terpaksa melaksanakan perintah dari sang atasan. Di dalam ruangan yang ramai dengan alat musik itu, Leo menyunggingkan senyum lebar. Puas rasanya ia mengerjai Ann hari ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Leo ingin berlama-lama sakit. “Minum aja Ann. Cemilannya biar buat kamu saja. Biar kuat kalau disuruh-suruh sama bos besar,” jawab Leo dengan nada suara yang mengejek kepada Ann. Langkah Ann sangat terburu-buru menuju dapur demi memenuhi keingin Leo yang sedang haus setengah mati itu. Ann memang sengaja bergerak cepat agar ia bisa cepat-cepat pula menikmati drama koreanya kembali. “Nih airnya.” Ann menyodorkan air itu, meski dengan wajah datar menghampiri kesal. Leo langsung menyambut gelas kaca itu, menyesap air minumnya lantas mengelus lehernya yang terasa sudah segar kembali. “terima kasih pembantu manis. Emang nggak salah Mama milih kamu sebagai istri. Paket komplik yang bisa memenuhi kemauanku setiap saat.” Mendengar kalimat-kalimat itu membuat raut wajah Ann berubah menjadi merah padam. Aura permusuhan pun berhasil Ann kibarkan sekarang. Jelas saja ia tidak setuju dengan ucapan Leo barusan. Ann ingin menanggapi, hanya saja ia sudah terlalu penasaran dengan kelanjutan cerita drama korea yang sedang ia tonton beberapa waktu lalu. Bergulat dengan Leo hanya akan membuang-buang waktunya saja. “Serah kamu deh, yang penting bahagia,” jawab Ann dengan langkah yang kini bergerak mundur untuk meninggalkan tempat itu. Buru-buru Ann kembali lagi ke depan TV, namun belum sempat pantatnya rapat ke sofa, bel apartemennya kembali berbunyi. Fokus Ann perlahan terbagi. Antara hendak merapatkan diri di sofa lalu menikmati tayangan yang sudah sejak tadi ingin ia lirik, ataukan berlari menuju pintu dan melihat siapakah yang sedang datang bertamu sore-sore menghampi malam seperti ini. “Kamu ada tamu lagi ya, Leo,” teriak Ann mencoba untuk memastikan. Di ujung sana Leo nampak berpikir sebentar ssebelum ia membalas pertanyaan Ann kepadanya. “Enggak kok. Tadikan Kiki udah datang ke sini. Emangnya saipa lagi yang bakal datang jengukin aku. Tahu sendiri kan sejak kemarin aku nggak update status soal sakitku ini. Orang mana ngeh dengan kondisiku sekarang.” “Terus siapa dong?” Ann balik bertanya lagi. “Mama kali,” jawab Leo ngasal. Kali ini ia benar-benar tidak tertarik dengan pertanyaan Ann. Sebab yang membuatnya tertarik hanyalah secarik kertas yang kini ada di hadapannya. “Mama apaan, kalau Mama ya nggak usah pake mencet bel segala. Sisa pencet password terus masuk deh. Gimana sih kamu.” Padahal baru semenit yang lalu Leo hendak melanjutkan kegiatannya namun lagi-lagi terpotong sebab Ann di ujung sana masih saja berteriak tanpa henti kepadanya. Bagaimana Leo bisa fokus. Malah ia terganggu dengan teriakan demi teriakan itu. “Iya juga sih. Kalau yang datang Mama atau Bunda mereka biasanya langsung nyosor aja. Emm paket kali.” “Paket apaan, orang aku nggak pesan apapun kok. Kamu kan tahu sendiri aku paling malas belanja-belanja.” “Terus apaan dong Ann?” kini Leo sudah mulai emosi. “Ya mana aku tahu. Kalau tahu, ya nggak mungkin aku nanya sama kamu Leo.” Leo menghembuskan napas pelan. Muak sudah dengan jawaban-jawaban Ann yang sama sekali tanpa jalan keluar itu. “Gimana mau tahu, kalau kamu cuman berdiri, bengong aja sepanjang waktu di situ,” terlihat Leo menunjuk Ann dengan menggunakan dagunya. “Harusnya buruan ke depan dong, terus bukain pintunya. Biar kamu bisa tahu siapa yang datang di sana.” “Harus aku banget? Aku kan nggak pernah ada tamu selain Bunda. Tamu kamu kali. Udah, kamu aja saja yang keluar.” “Ann,” terdengar intonasi Leo sudah berubah menjadi menakutkan. “Kamu nggak lagi kepengen liat macan ngamuk kan?” “Udah sering liat kok di film-film. Ngapain harus liat lagi,” jawab Ann dengan ngasal. Ia sama sekali tidak peka dengan kalimat Leo barusan. “ANNNN!!!!!!” Bola mata Ann mendadak membulat, diikuti mulutnya yang membentuk huruf O sempurna. Napasnya sempat menghilang sebelum akhirnya ia tiba di depan pintu apartemen miliknya. Jelas saja ia kaget, suara Leo yang diiringi dengan pukulan kencang pada drum yang ada di depannya, membuat Ann terlonjak dan hanya bisa berlari sekencang mungkin. Ia lupa jika kesehatan Leo sedang terganggu, dan hal itu bisa saja berpengaruh pada emosi Leo kali ini. Seperti yang terjadi sekarang. Ann yang sudah terlalu kaget tidak sempat lagi melirik monitor yang ada di dekat pintu apartemennya untuk memastikan siapa gerangan yang ada di depan sana. Ann hanya sibuk mengelus dada, sembari memegang gagang pintu agar bisa segera membukanya secara langsung. “DWI? Kamu ngapain ke sini,” jelas Ann dengan raut wajah yang begitu berantakan. “Kamu tahu dari mana alamat apartemen ini?” tanyanya lagi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
20/06
0bagus
10/08/2025
0bagus
21/06/2025
0Lihat Semua