Sudah lima belas menit Wardana memperhatikan setiap gerak-gerik Zanna yang sampai detik ini belum menyadari kalu mereka pernah bertemu. Rasa kesal mulai mengusik hati Wardana karena sikap Zanna yang tidak peka atau memang tidak peduli akan kehadirannya. Hingga seorang lelaki dengan penampilan khas abdi negara masuk kedalam wartel lalu mendekat kearah Zanna. Gadis bertubuh tinggi sekal itu tampak terkejut lalu berdiri menjauh. Wajah Zanna terlihat pias. Raut ketakutan tampak jelas diwajah ayunya. “Bisa bicara diluar sebentar.” Ucap lelaki yang membuat Zanna ketakutan. “Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Tolong jangan pernah temui aku lagi. Semua sudah selesai!” bentakan Zanna terdengar bergetar. Tanpa aba-aba lelaki dengan jaket jeans biru itu menggandeng tangan Zanna keluar wartel. Sikap penolakan dan memberontak jelas terlihat dari gadis berkacamata tersebut. Tetapi kekuatan lelaki yang postur tubuhnya hampir sama dengan Wardana tentu lebih kuat. Tubuh Zanna agak tertarik paksa. Wardana reflek berdiri ingin membantu Zanna, tetapi teguran penjaga wartel yang ternyata teman dekat Zanna memperingatkan. “Maaf Mas, nggak usah ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu. Kalau lelaki itu bersikap di luar batas, teman saya pasti bisa mengatasi. Dia bisa beladiri kok,” ucapan penjaga wartel itu cukup membuat tenang hati Wardana. Tetapi tatapannya masih tajam mengarah pada dua manusia yang terlihat sedang berdebat. Entah apa yang diperdebatkan Zanna dengan lelaki yang Wardana taksir usianya tidak jauh beda dengan dirinya. Mungkin sedikit di bawahnya. Wajah Zanna semakin memerah menahan amarah yang terlihat jelas. Bahkan gadis yang seketika mengikat rambutnya itu menampar keras wajah lelaki yang berdiri di hadapannya. Cukup keras suara tamparan Zanna. Wardana memicingkan mata menanti reaksi lelaki tersebut dan perkiraan papa Ken benar. Zanna akan mendapat balasan, sigap Wardana berlari keluar lalu memegang tangan lelaki yang sudah terangkat untuk menapar Zanna. Kedua orang yang sedang berseteru itu sama-sama terkejut. “Anda siapa? Jangan ikut campur urusan kami!” bentakan langsung diterima Wardana dari lelaki yang merasa harga dirinya jatuh, karena Zanna ada yang membela. “Saya perlu ikut campur saat ada pengecut yang berani kasar pada perempuan. Terlebih perempuan itu calon istri saya,” jawaban tidak terduga dari Wardana sukses membuat orang yang mengenal Zanna terkejut. “Anda yakin dengan ucapan Anda?” tanya lelaki yang menyentakkan tangannya dari cekalan Wardana. “Ma—maksudnya apa ini?” Zanna memukul lengan Wardana karena tidak percaya dengan ucapan lelaki yang baru dikenalnya. Tetapi Zanna hanya mendapat tatapan Wardana yang seolah-olah meminta maaf. Dan dia terpaksa mengatakan itu demi Zanna juga. “Yakin seratus persen. Dan secepatnya kami akan menikah,” tegas Wardana memberi jawaban. “Oke kalau begitu, saya tunggu undangannya. Selamat Zanna, akhirnya ada yang mau menampung bekasku!” lelaki itu melangkah pergi sambil terkekeh. Seolah mengejek Zanna. Tetapi dipendengaran Wardana suara tawa lelaki itu justru penuh luka dan kecewa. “Brengsek kamu, Bang! Mampus saja kamu!” teriakan Zanna cukup mengundang perhatian orang yang berlalulalang di jalan depan wartel. Wardana menahan tubuh Zanna yang akan menyerang lelaki tersebut. Cukup kewalahan juga Wardana menghadapi Zanna yang memberontak. Hingga bentakan Wardana mengembalikan kesadaran Zanna dari kungkungan amarah pada lelaki yang baru saja meninggalkan tempat itu. Zanna melepaskan diri dari rengkuhan lengan kokoh Wardana. Tatapan memusuhi sangat jelas tersorot dari Zanna pada Wardana. “APA!” teriak Zanna pada Wardana setelah menjauh dari perwira muda itu. “Anda gila ya pakai bilang kalau saya calon istri Anda?” kembali suara Zanna menggema dalam ruangan wartel. Setelah gadis itu meminum habis air mineral yang dibawanya. “Cuma itu jalan satu-satunya untuk membuat lelaki tadi melepasmu,” Suara Wardana cukup lembut terdengar. “Omong kosong! Ini untuk pertama dan terakhir kali anda mencampuri urusan saya. PAHAM ANDA! Mbak aku pulang dulu, muak lama-lama di sini.” Zanna meninggalkan wartel dengan segala sumpah serapahnya yang entah ditujukan pada siapa. Wardana terduduk sambil menyugar rambutnya yang sudah mulai memanjang. Kepalanya terasa berdenyut nyeri. Dalam benaknya dipenuhi penyesalan. Salahkah dirinya yang berniat membantu Zanna, ‘Kenapa justru malah jadi runyam begini?’ rintih batin Wardana. Penjaga wartel yang ternyata bernama Nurmala memberikan sebotol air mineral pada Wardana. “Mas sudah kenal lama dengan Zanna? Perkenalkan saya Nurmala. Boleh dibilang saya sahabat Zanna,” Mala menjelaskan tenang hubunannya dengan Zanna. “Kami baru ketemu dua kali ini, Mbak. Tapi sepertinya Zanna tidak mengenali saya kali ini,” jawab Wardana sambil melihat aktifitas di jalan depan wartel. “Maaf Mas Naksir Zanna ya?” lumayan kaget Wardana dengan pertanyaan yang tepat sasaran. Lelaki yang senang bersepeda itu tersenyum sambil melihat kearah Mala. “Mbak cenayang, ya?” Wardana justru balik bertanya. “Berarti benar tebakanku, Mas naksir Zannakan?” jiwa wartawan Mala mulai memberontak. “Kalau iya, memang Mbak bisa bantu comblangin saya, biar bisa deket sama Zanna?” tantang Wardana. Sekalian aja nyebur, sudah ketahuan ini. “Tapi nggak gratis, gimana?” Mala balik menantang Wardana. “Oke, deal!” “Deal” Dua orang yang sama-sama menyayangi Zanna dengan cara yang berbeda telah membikin kesepakatan untuk membuat gadis yang sedang dalam patah hati berkepanjangan itu untuk menjemput bahagianya. Nurmala yang cukup lama mengenal Zanna jelas tahu bagaimana dan siapa Zanna. Wardana merasa mendapat secercah harapan untuk dapat lebih dekat dengan gadis impiannya. Semenjak hari itu setiap pulang kuliah Wardana menyempatkan diri mampir ke wartel tetapi sudah dua minggu dirinya tidak bertemu dengan Zanna. Nurmala bilang kalau gadis yang tempat tinggalnya tidak jauh dari wartel itu memang belum datang lagi semenjak keributan beberapa waktu yang lalu. Wardana menanyakan apakah Zanna punya ponsel. Nurmala memang menyimpan nomor telepon genggam sahabatnya itu, tetapi pemiliknya pernah berpesan untuk tidak memberikan pada sembarang orang. Wardana cukup kagum dengan prinsip dan sikap Zanna yang sangat menjaga diri. Tentara yang juga menjadi incara para wara dan staf perempuan yang masih gadis itu tidak kehilangan akal, dirinya meminta Nurmala menelpon Zanna dari wartel. Dengan begitu Wardana akan tahu angka berapa saja yang ditekan oleh Nurmala dan muncul di layar monitor. Begitu peremouan berambut pendek itu menekan angka-angka, Wardana fokus pada layar monitor yang menampilkan sederet angka. ‘Yes, dapat akhirnya!’ pekik wardana dalam hati penuh kegirangan. Nurmala menyampaikan kalau Zanna berada di Jakarta. Ada perkerjaan yang harus diselesaikan di sana. Mungkin satu sampai dua bulan. Dan Zanna juga minta untuk tidak diganggu dulu karena pekerjaannya kali ini berhubungan dengan tim audit dari pusat. Sehingga membutuhkan konsentrasi dalam mengerjakannya. Wardana cukup paham dengan pekerjaan Zanna yang memang tidak bisa ditinggalkan. Bekerjasama dengan Nurmala cukup membuat Wardana mendapatkan mendapatkan informasi yang dibutuhkan tentang gadis yang telah mebusik hatinya. Sudah dua hari wardana mengetahui kalau Zanna telah kembali ke Solo tetapi Wardana belum juga menghubunginya. Masih ada rasa ragu mengingat kemarahan Zanna saat terakhir bertemu secara tidak sengaja dulu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss mbgttt ceritanya
29/05/2025
0good
15/01/2025
0bagus banget
11/01/2025
0Lihat Semua