Beranda/Pengembara Malam (Kumpulan Kisah Mistis dan Mencekam)/
Bab 10: Kebingungan dan Kepanikan
Hari-hari setelah kejadian malam itu menjadi mimpi buruk bagi Siti. Bukan hanya di malam hari, bahkan di siang hari pun ia mulai merasa ada sesuatu yang selalu mengawasi. Pikirannya dipenuhi kegelisahan, dan ia merasa semakin terasing di antara orang-orang di sekitarnya. Pagi itu, ketika ia bersiap untuk pergi ke sekolah, ia mendapati dirinya tidak sendirian di kamarnya. Di luar jendela, di bawah sinar matahari yang terang, bayangan sosok perempuan yang pucat itu terlihat jelas, berdiri mematung sambil menatap ke dalam. Mata perempuan itu kosong, seolah-olah memancarkan kesedihan yang dalam. Siti tidak berani bergerak, tubuhnya membeku oleh rasa takut yang mencekam. Ia mengedipkan mata, berharap sosok itu hanyalah bayang-bayang yang terbentuk dari pantulan cahaya. Namun, sosok itu tetap ada, tidak bergerak sedikit pun. Rasa dingin menjalari punggungnya meskipun matahari menyinari desa dengan hangat. Dengan tangan gemetar, Siti menutup tirai jendela dengan cepat dan berlari keluar kamar. Di sekolah, Siti tidak bisa fokus pada pelajaran. Pandangannya selalu tertuju pada jendela kelas, takut sosok perempuan itu akan muncul lagi. Ketika bel istirahat berbunyi, ia segera menghampiri Rian yang duduk sendirian di pojok kantin. “Rian, aku butuh bicara,” kata Siti dengan nada mendesak. Rian mengangkat wajahnya, terlihat enggan. “Ada apa lagi?” tanyanya dengan nada dingin. “Sosok itu... perempuan itu... aku melihatnya lagi pagi ini. Di luar jendela kamarku,” ujar Siti terbata-bata. Matanya berkaca-kaca, berharap Rian mengerti ketakutannya. “Kali ini di siang hari, Rian. Di bawah sinar matahari! Ini tidak masuk akal.” Rian menarik napas panjang, tampak tidak nyaman. “Siti, mungkin kamu hanya terlalu lelah. Kita sudah melalui banyak hal akhir-akhir ini,” katanya, mencoba meyakinkan Siti. “Mungkin kamu hanya perlu istirahat.” “Tidak, Rian. Aku yakin dengan apa yang kulihat!” Siti membantah, suaranya terdengar marah dan frustasi. “Kamu tidak percaya padaku?” Rian menghindari tatapan Siti dan menggeleng pelan. “Aku percaya kamu melihat sesuatu, tapi mungkin itu hanya pikiranmu yang mempermainkanmu. Kita terlalu terobsesi dengan Lela dan kalung itu.” Siti terdiam, hatinya remuk oleh sikap Rian yang seolah tidak mau mengerti. “Jadi, kamu tidak mau membantuku lagi?” tanyanya dengan suara lemah. Rian menunduk, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Aku... aku takut, Siti,” katanya jujur. “Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan aku tidak ingin terlibat lebih jauh. Ini terlalu berbahaya.” Siti tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar. Rian, sahabat yang selalu ada untuknya, kini memilih untuk mundur. “Baik,” ujarnya datar, suaranya bergetar menahan emosi. “Kalau begitu, aku akan melakukannya sendiri.” Ia berbalik dan meninggalkan Rian yang terdiam di kursinya. Sepanjang sisa hari itu, Siti merasakan beban di dadanya semakin berat. Tanpa dukungan Rian, ia merasa sendirian menghadapi misteri ini, namun tekadnya semakin kuat. Ia harus menemukan jawaban atas semua kejadian aneh ini, meski harus melakukannya sendiri. Sesampainya di rumah, Siti mencoba mencari distraksi dengan membantu ibunya di dapur. Namun, pikirannya terus melayang ke sosok wanita yang ia lihat di pagi hari. Perasaannya tidak tenang, dan beberapa kali ia merasa ada sesuatu yang mengintip dari balik jendela dapur. Setelah makan malam, Siti memutuskan untuk kembali ke kamarnya lebih awal. Saat ia masuk ke kamar, jantungnya berhenti berdetak sejenak. Di atas meja belajarnya, kalung perak yang hilang beberapa hari lalu kembali tergeletak di sana. Kalung itu terlihat sama seperti saat ia pertama kali menemukannya di hutan, bersinar redup di bawah cahaya lampu kamar. Siti terhuyung mundur, hampir menjatuhkan diri ke lantai. “Tidak mungkin... bagaimana bisa?” bisiknya tak percaya. Ia yakin kalung itu telah menghilang, tetapi sekarang kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ketakutan mulai menjalar lagi, namun Siti tahu bahwa ia tidak bisa mengabaikan ini. Dengan tangan yang gemetar, ia mengangkat kalung itu, memperhatikannya dengan seksama. Tiba-tiba, hawa dingin memenuhi kamar, dan suara-suara lirih kembali terdengar. Kali ini, bukan hanya satu suara, tetapi banyak—seperti paduan suara yang menggumamkan kata-kata dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Siti menutup telinganya, tetapi suara itu semakin keras, menusuk kepalanya hingga ia terpaksa menjatuhkan kalung tersebut ke lantai. Begitu kalung itu menyentuh lantai, suara-suara itu terhenti seketika, meninggalkan kesunyian yang begitu dalam. Ketakutan yang mencekam membuat Siti hampir tidak bisa berpikir jernih. Namun, di tengah kekacauan pikiran itu, ia teringat sesuatu. Buku harian yang ia temukan di hutan. Mungkin di sana ada petunjuk lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan tergesa-gesa, ia meraih tasnya dan mengeluarkan buku harian tersebut. Ia membukanya pada halaman pertama yang penuh dengan coretan aneh, berusaha memahami kata-kata yang tertulis di sana. Saat ia membaca, suasana kamarnya perlahan-lahan berubah. Udara menjadi lebih dingin, dan ia mulai merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Namun, Siti tidak berani menoleh. Ia terus membaca dengan suara gemetar, mencoba memahami kalimat-kalimat yang tertulis di buku itu. Di halaman ketiga, ia menemukan kalimat yang membuatnya merinding. Tulisan tangan itu berbunyi: "Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan. Dia terus mengikutiku, bahkan di siang hari. Jika kau membaca ini, hati-hati dengan kalung itu. Jangan biarkan dia mendekat." Siti menutup buku itu dengan cepat, jantungnya berdetak kencang. Kalimat itu seolah ditujukan padanya. Ia mulai menangis tanpa suara, merasakan ketakutan yang tak terbendung. Bagaimana bisa seseorang tahu apa yang sedang ia alami? Siapa yang menulis buku harian ini? Malam itu, ia tidur dengan lampu menyala, tetapi rasa takut membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Setiap suara, setiap gerakan kecil di dalam rumah membuatnya terlonjak. Ketika akhirnya ia bisa tertidur, mimpinya dipenuhi oleh sosok perempuan yang sama—menatapnya dengan tatapan memohon, tetapi juga penuh amarah. Pagi harinya, Siti bangun dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia memutuskan untuk mengabaikan sekolah hari itu dan fokus mencari jawaban. Ia harus tahu lebih banyak tentang Lela dan kaitannya dengan kalung ini. Dengan langkah berat, Siti menuju rumah salah satu tetua desa, Pak Waryo, yang dikenal sebagai orang yang tahu banyak tentang sejarah desa. Namun, ketika ia mengetuk pintu, Pak Waryo menolak untuk berbicara. “Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan terkubur, Nak,” kata Pak Waryo dengan wajah tegang. “Aku sudah tua, dan aku tidak ingin membawa kutukan itu kembali.” Siti mencoba memohon, tetapi Pak Waryo menutup pintunya dengan keras. Siti berdiri di depan pintu kayu itu, merasa putus asa. Namun, saat ia berbalik untuk pergi, seorang wanita tua, tetangga Pak Waryo, mendekat dan berbisik pelan. “Kamu cari tentang Lela, bukan?” tanyanya dengan suara serak. Siti mengangguk, terkejut bahwa wanita itu tahu. “Aku tahu sedikit, tapi tidak banyak. Lela adalah anak yatim piatu yang hidup di pinggiran desa, di rumah tua yang sekarang sudah ditinggalkan. Mereka bilang, dia sering terlihat di jendela saat magrib, menunggu sesuatu... atau seseorang.” Siti mengucapkan terima kasih dan segera pergi ke rumah tua yang dimaksud wanita itu. Rumah itu terletak di ujung desa, terlihat rapuh dan ditinggalkan. Pintu kayunya sudah lapuk, jendela-jendelanya pecah, dan rumput liar tumbuh tinggi di sekelilingnya. Namun, ketika ia mendekati rumah itu, ia merasa ada yang memanggilnya. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu masuk ke dalam rumah tua itu. Di dalamnya, udara terasa berat, dan setiap langkahnya menimbulkan suara derit yang menyeramkan. Siti berjalan menuju ruangan di ujung, di mana ia melihat sebuah cermin besar yang sudah kusam. Saat ia menatap ke cermin, bayangan samar sosok wanita muncul di permuka annya. Siti mundur dengan terkejut, tetapi bayangan itu tidak hilang. Ia menatap cermin itu dengan tatapan kosong, mulutnya bergerak seolah-olah berusaha mengatakan sesuatu. Siti mendekat, dan tepat saat ia hampir menyentuh permukaan cermin, suara keras terdengar dari balik punggungnya. Suara pintu kayu yang tertutup dengan keras membuat Siti menoleh. Ketika ia kembali melihat ke cermin, sosok itu sudah tidak ada, tetapi di permukaan cermin, terukir sebuah nama dengan garis-garis goresan kasar: LELA.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
senang sekali bisa membaca
24/06
0mantap coy
29/09
0bgusss
05/08/2025
0Lihat Semua