Jamuan makan malam di rumah mewah milik Aditya Saguna cukup meriah. Tak kurang dari lima puluh orang berkumpul, baik kerabat dekat maupun jauh. Terdapat dua orang pemandu acara agar malam lebih interaktif. Ada juga yang berkaraoke dengan diiringi band kecil yang sengaja didatangkan untuk lebih menyemarakkan suasana. Adam sudah duduk bergabung di meja tempat para keluarga inti Saguna. Di sana ada Tuan Adyaksa, Nyonya Wursita, Tuan Aditya, Nyonya Padmana, dan Gita. Akan tetapi, masih ada dua kursi yang kosong dan seharusnya itu tempat Desmon, sepupu Adam. "Desmon lama sekali," keluh Nyonya Padmana. "Memangnya kakak ke mana, Ma?" tanya Gita. "Jemput pacarnya," jawab Nyonya Padmana bangga. Baru saja wanita itu hendak menelepon putranya, dari kejauhan muncul seorang pria bertubuh tinggi atletis dengan bentuk wajah khas seperti Adam dengan menggandeng seorang gadis cantik berambut panjang. "Ah, itu mereka datang," sahut Nyonya Padmana menunjuk sang putra, Desmon Anggara Saguna. "Kamu sudah datang, Dam," tegur Desmon. "Iya," jawab Adam singkat. Kemudian Desmon memperkenalkan perempuan yang datang bersamanya. "Semua, kenalkan ini Laura Parmita, teman dekatku." "Selamat malam, Om, Tante," sapa Laura kepada orang tua Desmon dan juga Tuan Adyaksa beserta Nyonya Wursita. "Hai, Kak Laura." Gita menyalami kekasih Desmon. "Kamu Gita?" "Betul. Dan ini Kak Adam." Giliran Gita memperkenalkan Adam kepada Laura. Mereka bersalaman. "Gimana calon mantuku? Cantik, bukan?" ucap Nyonya Padmana dengan percaya diri. Laura tersipu malu karena mendengar pujian akan kecantikannya dan juga pengakuan akan statusnya sebagai calon menantu. "Iya, cantik," jawab Nyonya Wursita. "Gita juga cantik," sambungnya seraya mengedipkan sebelah mata kepada Gita. Semua yang duduk di meja itu tersenyum. Tak ada detik yang terlewati tanpa persaingan antara dua wanita paruh baya itu. "Selain cantik, Laura ini putri Hartono Salim. Pemilik GM grup," ujar Nyonya Wursita. "Mbakyu pasti kenal, kan?" lanjutnya dengan nada mengejek. Nyonya Wursita yang merasa sedang ditantang menunjukkan ekspresi wajah kurang nyaman. "Oh, ya. Tentu aku kenal. Laura, kamu anak istri pertama atau kedua?" tanyanya kepada kekasih Desmon. Gadis itu terkejut, begitu juga dengan Nyonya Padmana. Sepertinya dia belum mengetahui fakta bahwa Hartono Salim memiliki dua istri. Nyonya Padmana menatap tajam ke arah Desmon, lalu beralih ke Laura. "I-istri kedua, Tante," jawab Laura terbata-bata. "Ayo, Pa. Kita kenalkan Laura ke kerabat kita," ajak Nyonya Padmana pada suaminya. "Gita, kamu ikut juga," tambahnya. Ini adalah satu-satunya jalan bagi wanita itu untuk menyelamatkan muka dari hadapan Nyonya Wursita, saudara iparnya. "Sebentar, aku mau terima telepon dulu," pamit Tuan Adyaksa. "Aku juga mau nyapa yang lain. Kamu ikut, Dam?" ajak Nyonya Wursita. Adam menggeleng. Untuk beberapa saat, ketika pria itu sedang menikmati hidangan di meja, seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya dan menyapa. "Halo, Mas Adam." Adam menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menoleh heran ke gadis yang telah menegurnya. "Mm … siapa ya?" "Dia Luna Maheswari, Dam. Anaknya Dimas Ageng Waskita. Kerabat jauh kita," ujar Nyonya Wursita jalan beriringan dengan seorang pria seusia ayahnya. "Dimas, ini putraku, Adam," kata Nyonya Wursita saling memperkenalkan kedua lelaki itu. Adam berdiri menyambut tangan pria itu kemudian menyapa kembali Luna. "Luna belum seterkenal itu mungkin, Tan. Jadi Mas Adam nggak bisa mengenaliku," rajuk Luna. Nyonya Wursita tertawa, "Jangan salahkan dirimu, Sayang. Siapa di negeri ini yang tidak mengenalmu? Ini memang kekurangan anakku, dia kurang suka dunia hiburan. Jadi, dia mana tahu nama-nama artis," jelas ibunda Adam. "Eh, katanya kamu baru rilis single terbaru, Luna?" "Iya, Tan. Single keduaku tahun ini." "Wah, kamu produktif sekali, ya," puji Nyonya Wursita. "Luna sangat beruntung, Mbakyu. Setelah main satu film, datang tawaran berikutnya. Belum selesai shooting, sudah datang lagi tawaran rekaman. Kata saya, ambil saja. Mumpung masih muda. Biar banyak pengalaman," ungkap Tuan Ageng. "Nah, betul itu. Adam juga begitu. Lebih suka bekerja daripada santai-santai. Padahal asisten pribadi sudah banyak, masih saja nggak mau ninggalin tanggung jawab. Maklum, Adam ini anaknya perfeksionis," ujar Nyonya Wursita seperti sedang mempromosikan sang putra. Adam hanya mengulas senyuman tipis. Baginya saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk membantah atau bersikap kurang sopan dengan mengoreksi perkataan dari ibunya. "Adam, katakan sesuatu, dong. Kamu nggak lagi sariawan, kan?" celetuk Nyonya Wursita. "Selamat untuk single terbarunya," ucap Adam kepada Luna. "Terima kasih, Mas. Dalam waktu dekat mau bikin video klipnya. Tadi karena dengar Mas Adam orangnya perfeksionis, boleh, ya, besok Luna mampir ke kantor Mas untuk diskusi tentang konsepnya. Siapa tahu Mas Adam ada ide bagus," harap Luna dengan menatap lekat Adam. Adam terkejut mendengar rencana sepihak dari Luna. Lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya, "Saya tidak bisa janji. Mungkin lebih baik hubungi saya dulu sebelum ke kantor." Adam menyerahkan kartu namanya kepada Luna. "Iya, Luna sayang. Jadwal Adam ini tidak bisa diprediksi. Semua baru akan ter-up date setiap paginya. Memang lebih baik hubungi dulu, ya," terang Nyonya Wursita. "Oke. Besok Luna telepon ya, Mas." "Iya." Adam menyunggingkan senyum. "Luna sayang, ayo dong kamu nyanyi satu lagu buat kami," pinta Nyonya Wursita. "Tentu saja, Tante. Dengan senang hati," jawab Luna. Namun, gadis itu kembali menatap Adam, "Mas Adam mau dinyanyikan lagu apa?" tanya Luna tanpa malu. Tertegun dengan pertanyaan Luna, Adam merasa lucu kemudian tersenyum. "Apa saja yang kamu bisa," jawab Adam. "Oke. Luna akan nyanyi lagu ini buat Mas Adam," tutur gadis itu kemudian berjalan ke arah panggung kecil di sisi lain taman itu. Adam bersiap diri untuk mendengar seperti apa suara Luna yang begitu percaya diri. ***** Advance Advertising menempati sebuah gedung dengan lima lantai di salah satu kawasan perkantoran di Jakarta. Bianca merasa lebih segar setelah menghabiskan akhir pekan berlibur bersama sahabatnya di Samarinda. Setelah memarkirkan motor di parkiran, Bianca menuju pintu masuk utama. Baru saja akan menempelkan kartu identitas agar bisa masuk gedung, seseorang dari meja resepsionis memanggilnya. "Iya, Wik?" Bianca menanyakan maksud mengapa dirinya dipanggil perempuan yang bernama Wiwik itu. "Ada kiriman bunga, Bu. Ini dia," ujar Wiwik dengan memberikan sebuah bunga anggrek bulan ungu lengkap dengan potnya. Bianca menampilkan ekspresi terkejut. "Dari?" tanyanya. "Ada kartunya, Bu," kata Wiwik yang bukan jawaban dari pertanyaan Bianca. Perempuan yang telah bekerja di tahun kelima pada perusahaan itu tak pernah sekali pun mendapat kiriman bunga yang unik seperti sekarang. Bukan bunga-bunga segar yang dirangkai dengan cantik kemudian dibalut kertas atau berpita. Akan tetapi, kali ini bunga utuh beserta media tanamnya. Ada enam kuntum yang telah mekar berderet di sebuah tangkai panjang yang menjuntai. Dengan ragu, Bianca menyeret pot yang terbuat dari tanah liat tersebut mendekat. Lalu dia mengambil sebuah kartu yang terselip di antara helai daun anggrek itu. Ada sepotong kertas di dalam amplop kecil tersebut, kemudian Bianca membaca isinya. ~Saya tidak diizinkan mendekat. Jadi bunga ini saja yang menggantikan saya. Boleh? ~A Pada bagian akhir hanya tertulis inisial, yaitu A. Bola mata hitam Bianca bergerak seperti memindai ingatannya, apakah dirinya memiliki kawan, kenalan, atau relasi dengan nama depan berinisial A. Nihil. Kertas berisi kata-kata yang tidak dia pahami itu diketuk-ketuk di atas meja resepsionis. "Ini tadi siapa yang antar, Wik?" tanya Bianca. "Kurir, Bu. Apa ada masalah, Bu?" tanya Wiwik karena melihat Bianca gelisah. "Oh, enggak. Ya sudah, saya bawa, ya. Terima kasih, Wik," ujar Bianca. "Sama-sama, Bu. Apa perlu bunganya diantar OB ke ruangan Ibu?" Kali ini Wiwik yang bertanya. "Nggak usah. Biar saya sendiri saja," tolak Bianca sopan. Tali tas kerja yang bertengger di bahu kanan Bianca pindahkan ke kiri. Dengan menyelempangkan tas maka Bianca berharap bisa membawa pot bunga itu dengan lebih mudah. Bianca biasanya lebih suka memakai tangga daripada lift. Namun, kali ini dia terpaksa karena benda tak terduga yang diterimanya pagi ini. Dia berdiri di belakang beberapa karyawan yang mengantre untuk menggunakan fasilitas pengangkut manusia itu. "Selamat pagi, Bianca," sapa suara seorang pria tertangkap dari arah kiri perempuan yang tengah menggendong pot anggrek dengan kedua tangannya. Bianca memandang pria itu dan menarik kedua ujung bibirnya untuk menciptakan sebuah senyuman indah. "Selamat pagi, Pak Fahar."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (16)
EcaSelsa
novel bagus dan berkualitas sehingga tidak ada komentar untuk artikel ini terakhir diubah padahal aku sudah tidak ada komentar qada dan gw ga ada yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar kulit cepat putih berikut patut Anda coba untuk nya di sekolah dasar negeri ini yang paling banyak di antara mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari merek
novel bagus dan berkualitas sehingga tidak ada komentar untuk artikel ini terakhir diubah padahal aku sudah tidak ada komentar qada dan gw ga ada yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar kulit cepat putih berikut patut Anda coba untuk nya di sekolah dasar negeri ini yang paling banyak di antara mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari merek
21/03/2025
0bagusss bgt
20/03/2025
050000
13/10/2024
0Lihat Semua