"Stick to the plan?" tanya Lucky dengan tatapan penuh arti ke arah sang bos. Adam tahu apa maksud pertanyaan Lucky yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban darinya. Dia menyandarkan punggung dan tertawa lirih menanggapi ide nakal dari bawahannya tersebut. "Hubungi Hassan untuk menunda semua agenda sampai lusa. Kalau tidak bisa ditunda, saya akan handle dari sini." Adam memberikan instruksi kepada Lucky yang masih duduk di depannya. "Siap," respons Lucky singkat. "Ya sudah, atur sana. Saya kembali ke kamar." Adam berdiri dan berjalan meninggalkan restoran. Pria itu mendadak berhenti dan berbalik arah memberikan tambahan petunjuk kepada Lucky. "Oh ya, atur dengan low budget," titahnya seraya tersenyum tipis. "Serius, Bos?" tanya Lucky tidak yakin, sedangkan Adam sudah berjalan menjauh. Lucky terkesima dengan keputusan Bosnya. "Well, siapa kamu sebenarnya Bianca?" gumam Lucky penasaran. Pulau Beras Basah adalah salah satu destinasi wisata pantai dengan hamparan pasir putih di Kalimantan Timur. Lokasinya ditempuh sekitar tiga jam dari pusat kota Samarinda. Lucky secara khusus mencari tahu sekaligus menyesuaikan rencana dengan agenda manajemen Indira untuk mencapai tempat wisata. Setelah keluar dari hotel sore itu, Adam dan Lucky segera terbang ke Balikpapan. Seperti yang sudah Adam minta, Lucky mengambil tiket kelas ekonomi, sesuatu yang tidak pernah Lucky lakukan selama menjadi asisten Adam. Dia sempat takut jika suatu saat akan diketahui oleh nyonya besar. "Kalian pengganti saya selama bekerja dengan Adam. Jaga dia. Jika kalian berbuat yang tidak selayaknya saya lakukan untuk Adam, jangan diteruskan. Saya akan tahu dan saya akan menghukum kalian jika terjadi kesalahan sedikit pun. Mengerti?" Peringatan dari Nyonya Wursita kepada mereka berlima kembali terngiang oleh Lucky. Saat Lucky menyerahkan tiket pesawat, dia sempat menahannya dan berujar, "Bos, apa tidak sebaiknya saya ganti dengan kelas bisnis?" "Memangnya kalau kelas ekonomi pesawatnya merangkak? Tidak terbang?" sahut Adam, "sama saja!" lanjutnya seraya merebut tiket dari tangan Lucky dan pergi meninggalkan sang asisten. Benak Lucky berkata bahwa dirinya tak akan selamat jika soal tiket ekonomi ini sampai ke telinga nyonya besar keluarga Saguna. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk merahasiakan ini bahkan dari asisten lainnya. Low budget artinya Adam menginap di hotel yang sangat jauh dari yang biasa dia sewa. Baik Adam maupun Lucky hanya mengenakan celana pendek dan kaus oblong, serta menyandang ransel sederhana. Low budget artinya lainnya bahwa Adam tidak ingin terlihat mencolok. Saat itu Adam dan Lucky berdiri agak jauh dari rombongan artis yang mau menyeberang ke Pulau Beras Basah di dermaga. Pewaris keluarga Saguna itu hanya mengamati Bianca dari jauh. "Bos, kenapa kita masih di sini? Kita ikut kapal mereka saja," ajak Lucky. "Nggak. Lokasinya nggak tepat," jawab Adam. Lalu terlihat Bianca menjauhi rombongan dan pergi ke arah lain. Adam melepas kaca mata hitam yang dikenakan dan memastikan bahwa apa yang dilihat memang benar. "Hey, ke mana dia?" gumamnya. "Siapa, Bos?" Lucky yang semula memerhatikan layar ponsel tertegun mendengar kata-kata Adam. Rombongan manajemen Indira sudah menaiki kapal dan pergi berlayar. Sementara Bianca tak juga muncul lagi. Adam bergerak menuju ke dermaga, diikuti Lucky masih dengan wajah keheranan. Kemudian dari balik sebuah truk yang sedang terparkir, Bianca muncul dan berjalan ke arah yg sama Adam menuju. Pengemudi kapal kecil bermesin itu terlihat bernegosiasi dengan beberapa orang yang hendak turut menyeberang. "Ayo-ayo naik, biar kita segera berangkat!" seru nakhoda kapal kepada para calon penumpang. Bianca terlihat mempercepat laju jalan agar segera mencapai bibir dermaga. Lalu dia pun naik ke kapal. Adam dan Lucky menyusul. Kapal kecil bermesin itu berisikan seorang pengemudi bersama seorang asisten, lalu delapan penumpang duduk di dua bangku panjang yang saling berhadapan. Adam duduk di paling ujung. Berhadapan dengan Bianca. Wanita itu hanya sekilas memandang para penghuni kapal dan mengalihkan fokus menikmati gelombang tenang yang menabrak badan kapal. Di balik kacamata hitam yang dikenakan, Adam mengamati Bianca. Sesekali melempar pandang ke laut jika wanita itu meliriknya tanpa sengaja. Perjalanan tanpa hambatan itu berlangsung selama lima belas menit saja. Penumpang satu per satu keluar dari kapal. Adam mengantre di belakang Bianca. Salah satu kaki Bianca sempat terpeleset saat menaiki dermaga. Untunglah dengan sigap Adam menyambut tubuh Bianca yang kehilangan keseimbangan. Salah satu tangan Adam menahan pundak Bianca dan tangan lainnya memegang lengan atas wanita tersebut. "Aw!" pekik Bianca spontan. Wajah wanita itu sedikit menoleh ke arah orang yang menopangnya. Adam hanya tersenyum tipis membalas. Waktu seperti berhenti sepersekian detik. Mereka bertatapan. Lalu keheningan pecah saat pengemudi kapal berseru, "Hati-hati, Kak." Adam melepaskan tangannya dari tubuh Bianca, "Oh, maaf," ucapnya. "Tidak apa-apa. Terima kasih," kata Bianca. Adam lebih dulu naik ke dermaga, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Bianca naik agar tidak lagi terpeleset. Bianca menyambut tangan Adam. "Terima kasih," ucap Bianca sekali lagi. Adam hanya melempar senyum sebagai jawaban. Dari kejauhan seseorang memanggil Bianca, "Kak Bi! Cepat sini!" Indira berseru dengan sekuat tenaga. Bianca yang merasa sudah cukup dengan berterima kasih, pergi meninggalkan Adam. Adam yang memakai celana pendek dan kaus biru tua berjalan dengan kedua tangan di saku celana. "Ada kabar apa dari Jakarta?" tanya Adam kepada Lucky. "Ya ampun, Bos. Baru juga romantisme dimulai, kenapa tiba-tiba tanya kerjaan, sih?" protes Lucky. "Itu namanya dedikasi. Kau tak pernah mendengarnya?" Adam meledek asistennya. "Bos, jangan pecat saya, ya," ucap Lucky dengan kedua tangan menyatu sebagai tanda permohonan. Adam menyunggingkan senyum dan melanjutkan langkahnya. "Jadi? Ada laporan apa?" Adam bersuara dengan cukup keras agar menyadarkan Lucky yang masih terpaku di tempatnya berdiri. "Ah!" Lucky seketika mengambil tablet dari dalam tas punggungnya dan mengecek sesuatu di sana dan segera mengejar langkah kaki sang bos yang sudah berada agak jauh. Lucky menjelaskan beberapa hal terkait pekerjaan dan Adam sesekali memberikan respons. Pria itu kemudian berhenti di ujung dermaga, lalu melepas kacamata hitam dari wajah. Kedua mata memindai ke sekeliling pulau dan terhenti saat melihat sekumpulan orang yang setelah diamati, itu adalah rombongan Indira. Dan sudah bisa dipastikan Bianca juga di sana. "Oke, Indira. Kita ada photo shoot sebentar. Setelah itu waktu kamu bebas." Sang manajer memberikan instruksi kepada gadis model itu. "Kak Bi, aku tinggal dulu, ya," pamit Indira. Bianca hanya mengangguk. Wanita itu tiba-tiba merasa mengenali wajah orang yang tadi menolongnya saat terpeleset di dermaga. Akan tetapi dia ragu karena melihat penampilan mereka berbeda. Bianca membandingkan pria tadi dengan orang yang terjebak bersamanya di dalam lift. Sesekali dia menggulirkan bola matanya ke sepanjang sudut pandangnya. Mencari-cari sosok itu dan ingin memastikan sekali lagi. Bianca merasa Pulau Beras Basah tidak seluas itu sehingga menyulitkan dirinya untuk menemukan seseorang. Kemudian dia memutuskan untuk jalan berkeliling saat Indira masih sibuk pemotretan. Namun, Bianca mengambil arah yang berlawanan dengan lokasi Adam berada. Adam memilih sebuah gazebo yang berada tak jauh dari posisi Bianca. Pria itu melihat Bianca berjaan menjauh sendirian. "Aku heran, apa dia tidak mengenaliku?" gumam Adam. "Saya tahu dari Hassan juga Trias tentang kejadian di rumah sakit. Jadi dia itu wanita yang Bos tolong?" tanya Lucky menegaskan. Adam menjawab setelah meneguk isi botol untuk mengobati rasa dahaganya. "Aku yakin dia memang perempuan itu. Tapi kalau dia tak mengenaliku padahal aku duduk di depannya, aku jadi ragu," kata Adam menjelaskan. Lucky mengernyitkan alisnya karena ikut merasa heran, "Benar juga, ya, Bos." Dia terdiam sejenak, "kecuali …." Adam menoleh, "Kecuali apa?" tanyanya. "Kecuali kalau dia tidak ingin dikenali. Jadi dia berpura-pura nggak kenal, Bos," terang Lucky. Bos Lucky itu termenung. Apa yang asistennya katakan itu bisa menjadi salah satu kemungkinan. Akan tetapi, dia kembali berpikir mengapa Bianca tidak ingin dikenal? Bukankah dirinya bisa dikatakan telah menolongnya karena insiden lift macet itu. Ponsel pribadi Adam berdering. Nyonya Wursita meneleponnya. "Iya, Bu," sapa Adam. [Kamu kenapa belum balik ke Jakarta?] hardik Nyonya Wursita. Adam melirik Lucky. Ternyata kabar dirinya menunda kepulangan telah sampai di telinga sang ibu. "Aku masih ada urusan, Bu," jawabnya. [Bisa ditinggal? Atau diwakilkan? Ibu ada tugas lebih penting buat kamu] Suara Nyonya Wursita terdengar serius dan tidak ingin didebat. Adam menelan ludahnya. "Tugas apa, Bu?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (16)
EcaSelsa
novel bagus dan berkualitas sehingga tidak ada komentar untuk artikel ini terakhir diubah padahal aku sudah tidak ada komentar qada dan gw ga ada yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar kulit cepat putih berikut patut Anda coba untuk nya di sekolah dasar negeri ini yang paling banyak di antara mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari merek
novel bagus dan berkualitas sehingga tidak ada komentar untuk artikel ini terakhir diubah padahal aku sudah tidak ada komentar qada dan gw ga ada yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar kulit cepat putih berikut patut Anda coba untuk nya di sekolah dasar negeri ini yang paling banyak di antara mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari mereka yang tidak bisa di download di sini adalah salah satu dari merek
21/03/2025
0bagusss bgt
20/03/2025
050000
13/10/2024
0Lihat Semua